-Kepribadian seseorang yang lemah akan sangat mudah teracuni oleh sebuah berita bohong-
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"Tanda kutukan?" Lyan mengulang kembali ucapan Edrea. Ada sedikit ketidakpahaman saat Lyan mendengar penjelasan itu.
"Sudah malam. Tidurlah. Jangan banyak memikirkan sesuatu." Sikap Edrea seolah tengah menyembunyikan sesuatu. Wanita itu akhirnya bangkit dan bergegas untuk pergi. Namun, pertanyaan terakhir Lyan menghentikan langkahnya.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Ed?"
Wanita dengan tinggi sekitar seratus enam puluh delapan itu pun menoleh dan tersenyum. "Nothing." Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkahnya. Namun, jawaban itu tak menjawab apapun dari pertanyaan Lyan. Lyan masih merasa jika ada rahasia yang disembunyikan oleh petingginya itu.
"Ahh! Rasa penasaran ini bisa membuatku gila." Lyan mengacak rambutnya frustasi. Ia tak bisa membayangkan jika selama belasan tahun ternyata masih ada yang belum ia ketahui tentang sosok Edrea. Apalagi, ia sudaj menganggap Edrea sebagai ibunya sendiri.
"Hey yo, Ly!"
"Astaga!" Tak bisa dipungkiri jika kali ini Lyan sangat terkejut dengan kehadiran Zinno yang selalu saja berlabel 'tiba-tiba'. "Bisakah kau tidak mengejutkanku?!" kesal Lyan.
Sedangkan sosok yang kena marah hanya terkekeh geli. "Sedang apa kau? Jangan melamun malam-malam begini. Apalagi di luar kamar. Para Hex bisa kapanpun menyerangmu secara tiba-tiba."
"Omong kosong. Bukankah kau yang suka mengerjaiku secara tiba-tiba seperti tadi? Eum?!"
"Ya begitulah. Ah, apa kau tadi bersama Edrea? Apa yang kau bicarakan? Ahhh! Apa jangan-jangan ... kau mencoba merebut Edrea dari Klein?" Alisnya bergerak naik turun untuk menggoda Lyan yang masih menatapnya kesal.
Terdengar suara helaan napas kasar dari sosok yang berusaha Zinno jahili. "Jangan bertingkah kekanakan, Zin. Ingatlah, kau sudah hampir berkepala tiga."
Zinno tertawa hambar. Sosok itu mendudukkan diri di samping Lyan. Di bawah rembulan yang kembali hadir menyinari tanpa awan kelabu menutupi, mereka tiba-tiba terdiam dan memberi kesempatan hening untuk merangkul keduanya.
"Apakah pengguna sihir waktu bisa mengetahui masa lalu dan masa depan seseorang?" Akhirnya sebuah pertanyaan terlontar dari Lyan dan memecah keheningan.
"Yap."
"Apa kau tahu tentang masa depanku?" tanya Lyan kembali. Kali ini, kedua netranya teralih menatap Zinno yang masih menengadahkan wajahnya menatap langit malam.
"Aku memang bisa melihatnya. Tapi, takdir tetaplah rahasia. Aku tak bisa memberitahu apa yang kulihat pada sang pemilik takdir. Lagipula, kau takkan bisa hidup tenang jika mengetahui takdirmu di masa depan. Ah, lagipula, ada takdir yang bisa berubah. Jadi, aku tidak bisa memastikannya."
Sebenarnya Lyan juga tak tertarik untuk mengetahui takdirnya sendiri. Ia hanya memancing Zinno agar mau berbicara tentang masa depan atau masa lalu seseorang.
"Bagaimana jika masa lalu seseorang?"
"Aku juga mengetahuinya."
"Termasuk Edrea?"
Pertanyaan terakhir Lyan berhasil menuai pandang dari Zinno. Dari tatapan ke arah langit, beralih menatap Lyan dengan penuh penasaran.
"Kenapa kau begitu tertarik dengan Edrea? Kau menyukainya? Kupikir kau menyukai Zealin."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Zin."
Zinno terkekeh melihat ekspresi Lyan yang terlampau serius. "Untuk apa kau ingin tahu tentang masa lalu Edrea?"
"Karena dia mengatakan jika dia memiliki tanda kutukan yang sama dengan Klein. Dan aku yakin, kau mengetahui sesuatu."
Zinno bangkit dari duduk. Meregangkan kedua tangannya dan menghidup udara malam yang kurang sehat. Kemudian, menatap Lyan dengan senyuman tipis menghiasi.
"Sudah malam. Tidurlah."
"Katakan padaku tentang Edrea. Kita sudah bersama belasan tahun, tapi ... mengapa hanya aku yang tidak mengetahui apapun tentang Edrea?" protes Lyan. Kini mereka tengah saling berdiri berhadapan. Menautkan kedua netra yang berbeda warna namun tetap indah saat tersinari rembulan.
"Kau hanya perlu tahu satu hal. Edrea itu istimewa. Semua penghuni akademi tahu tentang hal ini. Jadi, tak ada yang kau tidak ketahui." Zinno menaikkan sebelah alisnya sekilas dan tetap memasang senyuman. "Baiklah. Hari sudah malam. Good bye! Domátio metaforás."
Jentikan jari itu menghantar Zinno pergi entah kemana. Meninggalkan Lyan yang masih berdiri mematung di tempat dengan rasa penasaran. "Siapa kau sebenarnya, Ed?"
▪️▪️▪️▪️▪️
Kicau burung terdengar merdu. Dedaunan menari mendayu-dayu. Sepoi angin yang menyapunya dengan lembut. Dengan bantuan sinar mentari, pepohonan berfotosintesis dengan damai. Memberikan pasokan oksigen yang menjadi makanan penting untuk paru-paru makhluk hidup.
Siapa sangka jika di dalam Hutan Criveus masih banyak fauna dan flora yang terjaga dengan baik kelestariannya. Meski ratusan tahun yang lalu mereka sudah dinyatakan hampir punah, namun setelah bumi diserang pandemi yang hebat beberapa ratus tahun yang lalu, fauna dan flora yang hampir punah kembali terselamatkan.
Pandemi V20, pandemi yang meluluh-lantahkan ras manusia. Memberi traumatik yang masih tersisa di dalam diri anak-cucu yang masih bertahan hidup. Bukan hanya rasa traumatik yang tersimpan. Setelah pandemi itu berakhir, masih ada kutukan yang menyelimuti. Kepribadian para manusia teracuni oleh berita kebohongan. Menyulut rasa dendam bahkan menjadikan dendam itu turun-temurun hingga sekarang. Semua berubah, ketamakan merajalela dan menguasai hati manusia. Namun, seleksi alam yang merenggut nyawa ribuan bahkan puluhan ribu manusia di bumi akibat pandemi V20 membuat fauna dan flora terselamatkan. Sampah berkurang dan polusi mereda. Terkadang, sikap teledor dan boros dari manusia membuat bumi marah hingga akhirnya bertindak melalui alam. Peringatan itu terkadang hanya diabaikan, namun tanpa sadar manusia yang lalai akan musnah beriringan dengan peringatan yang terus muncul.
"Selamat pagi. Semoga bumi selalu berpihak pada manusia yang menjaganya."
Sapaan Couch Gerd membuat para siswa memperhatikannya dengan seksama. Setelah kejadian Mel dan Caroline yang terkena hukuman, tak ada lagi siswa yang berani berbicara tanpa diminta. Mereka hanya fokus pada setiap kata yang terlontar dari mulut Couch Gerd.
Setelah berbicara cukup panjang tentang materi yang sudah disampaikan, Couch Gerd tampak mengeluarkan beberapa lembar kertas yang distaples menjadi satu. Sebandle kertas itu ditaruh di meja dan Couch Gerd menatap para siswanya dengan datar seperti biasa.
"Di sini ada hasil evaluasi saya dari setiap kalian latihan untuk kelas saya. Saya sudah memilih beberapa siswa untuk menjalani tes minggu depan. Tes itu untuk melihat apakah kalian pantas mengikuti ujian kenaikan tingkat atau tidak. Baiklah ... sekian pertemuan kita di pagi hari menjelang siang ini. Semoga kalian memahami materi yang saya sampaikan dan silakan dilihat nama kalian pada daftar ini."
Kepergian Couch Gerd membuat para siswa langsung berkerumun melihat sebandle kertas yang ditinggalkan oleh Couch Gerd. Melihat para temannya berdesakan melihat nama mereka, Mel hanya diam dan menunggu mereka untuk selesai.
"Mel! Kau terpilih!" teriak Caroline yang berusaha keluar dari kerumunan para siswa kelas penyembuh. "Wah! Mereka mengerikan," gersah Caroline setelah berhasil keluar dari kerumunan.
Mel terkekeh melihat Caroline menata kembali seragamnya yang sedikit tersingkap karena usahanya untuk meloloskan diri dari para siswa. "Bagaimana denganmu?"
"Aku ... juga terpilih!" Senyuman merekah lebar di bibir Caroline. Gadis itu merangkul Mel dan bergelayut manja pada gadis bernetra Amber itu. "Semoga kita bisa ikut ujian kenaikan tingkat dan menempati gedung Amethys!"
"Aku tak berharap lebih. Karena itu akan menyakitkan."
Caroline mengulum bibirnya dan tersenyum melihat Mel. "Kenapa kau sangat menggemaskan, Mel? Berbeda dengan Bel yang menyeramkan."
Ucapan Caroline membuat Mel terdiam sesaat. Ia merasa jika para siswa memandangnya dengan Bel dengan pandangan yang berbeda meskipun wajah mereka sangat identik. Setiap kali para siswa menyanjungnya namun merendahkan Bel, saat itu pula ia berpikir bahwa ada ketidakadilan di sana. Akan tetapi, setiap orang memiliki hal berpersepsi. Mel berusaha untuk mengabaikan itu dan berusaha membuat Bel menulikan pendengarannya. Sebab, suatu saat akan ada saatnya, Bel disanjung penuh kasih atas segala pengorbanannya.
"Jangan katakan itu, Car. Karena Bel adalah saudariku. Dan aku tak suka jika ada yang menyinggung sikap kembaranku."
Meski tak ada raut dan nada marah dari Mel, Caroline menyadari jika Mel tak menyukai ucapannya beberapa detik lalu.
"Maafkan aku."
"Ya, tak apa. Bagaimana kalau kita makan? Aku lapar."
"Come on!"
▪️▪️▪️▪️▪️
Di saat yang sama, Zealin tengah berusaha dengan keras menggunakan elemen tanah. Secara personal, Klein diminta Edrea untuk mengajari Zealin menggunakan elemen tanah.
"Kau hanya perlu memusatkan energimu di telapak tangan dan pikirkan bahwa kau menyatu dengan tanah. Sama seperti saat kau menggunakan elemen air."
Ocehan Klein hanya membuat Zealin semakin membagi fokus. Ia tak bisa berkonsentrasi dan selalu gagal untuk memusatkan energinya.
"Ayolah, kau pasti mampu, Ze. Kurang sedikit lagi."
Lagi. Ocehan Klein membuat Zealin semakin tak bisa memusatkan fokusnya pada satu titik hingga akhirnya ia pun membuka mata dan melirik Klein tajam. "Diamlah."
Krakk!
Saat telapak tangan Zealun terayun untuk memberi isyarat agar Klein diam, tiba-tiba saja tanah yang ada di samping Klein terbelah dengan kedalaman yang cukup curam. Seperti usai terkena guncangan tektonik yang hebat.
Zealin melongo. Ia terus menatap retakan itu dan sesekali melihat ke arah tangan kanannya yang diduga penyebab retakan itu terbentuk.
"Waw." Hanya itu yang terlontar dari mulut Klein. Setelah tiga puluh menit berlatih, pada akhirnya Zealin mampu menggunakan elemen tanah meski hal itu juga secara tiba-tiba. Bahkan sang pengguna pun terkejut saat berhasil menggunakan elemen tanah tepat di hadapannya.
"Cukup dalam. Untung saja aku tak berada di tengah retakan ini."
Klein menyingkir dari tempat awalnya. Mendekati Zealin dan menepuk pundak gadis yang masih terkejut tak percaya. "Kau bisa. Kau hanya butuh dorongan dan tekanan untuk menggunakannya."
"Jadi, kau sengaja merecokiku agar aku bisa menggunakan elemen tanah ini?"
Jentikkan jari seolah menilai ketepatan berpikir Zealin. "Pandai! Tepat!"
"Tapi kau memang sangat berisik, Klein. Aku sampai tak bisa memusatkan pikiranku pada satu hal."
Tawa Klein pun pecah. Namun, seketika tawa itu terhenti karena terheran. "Kau bilang, kau tak bisa memusatkan pikiranmu pada satu hal. Tapi, mengapa kau mampu membelah tanah seperti itu?" heran Klein sembari melirik retakan tanah yang tampak mengerikan jika seseorang masuk ke dalamnya. "Isopedóno." Seketika retakan itu kembali menyatu dan kembali seperti semula saat Klein mengusapkan tangannya ke udara yang mengarah ke retakan.
"Emh, aku juga heran dengan itu. Sepertinya, aku masih belum bisa mengontrol sihir yang kumiliki." Tampak raut wajah gelisah terpancar dati wajah Zealin. Gadis itu menatap tangan kanannya dan mungkin berpikir bahwa dirinya telah gagal.
"Tenang saja. Latihan kali ini hanya untuk mengetahui elemen apa yang dapat kau gunakan. Setelah itu, kau akan mengikuti latihan untuk mengontrol sihirmu bersama Edrea."
Kebetulan sekali Klein menyebut nama Edrea di depan Zealin. Gadis itu pun langsung teringat dengan rasa penasarannya yang belum terjawab oleh Lyan. Karena ada target yang membuatnya penasaran berhadapan dengannya secara langsung, Zealin pun meluncurkan aksinya.
"Oh ya, tentang Edrea. Aku boleh mengajukan beberapa pertanyaan padamu?" tanya Zealin dengan harapan jika Klein memperbolehkannya.
"Boleh. Hanya tiga pertanyaan saja."
"Setuju."
"Pertanyaan pertama."
Zealin mengetukkan jarinya ke dagu sembari memikirkan matang-matang pertanyaan apa saja yang akan ia haturkan pada Klein.
"Duduklah. Sembari berpikir, kita juga harus berteduh dari terik matahari."
Entah sejak kapan Klein sudah berada di bawah pohon rindang dengan akar yang dapat dijadikan sebagai bangku untuk duduk. Zealin pun mendekati Klein dan duduk di sampingnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Edrea?" Pertanyaan pertama Zealin akhirnya terucap.
"Baik."
"Hei, bukan itu jawaban yang kuinginkan!"
Kleim tertawa sekilas. Pertanyaan Zealin memang mengarah ke satu titik. Namun, Klein sengaja membelokkannya.
"Jawab dengan benar, Klein."
"Aku dan Edrea berhubungan dengan baik. Lalu apa lagi masalahnya?"
Daripada harus berdebat, Zealin akhirnya melontarkan pertanyaan kedua.
"Luoakan pertanyaan pertama yang terlalu ambigu. Pertanyaan kedua, kenapa kau dan Edrea tidak menikah saja?"
Kali ini pertanyaan Zealin yabg terlalu frontal membuat air muka Klein berubah total. Sendu mendominasi. Senyuman yang terlukis pun tanpa arti.
"Hal itu takkan terjadi."
"Kenapa?"
"Edrea tidak normal."
"Kau gila?" Zealin membulatkan kedua manik matanya saat mendengar jawaban nyeleneh dari Klein.
Ekspresi itu membuat Klein tertawa renyah. Rasanya puas sekali menjahili sosok gadis yang duduk di sebelahnya itu.
"Huft, oke lanjut. Pertanyaan ketiga."
"Bukankah kau sudah memberiku tiga pertanyaan?"
"Hm?" Zealin menatap Klein penuh tanya sembari mengingat apa yang sudah ia katakan sebelumnya.
"Pertanyaan pertama, bagaimana hubunganku dengan Edrea. Kedua, kenapa aku dan Edrea tidak menikah saja. Ketiga, kenapa," jelas Klein mengulangi ucapan bertanda tanya dari Zealin.
"Sial," umpat gadis itu kesal yang justru membuat Klein tertawa dengan puas.
"Sudahlah. Jangan pikirkan hubunganku dengan Edrea. Karena ... ada yang lebih penting sekarang."
Zealin mengikuti arah pandang Klein ke sebuah tempat. Kali ini ... matanya membulat total saat melihat sosok yang menatap mereka dari kejauhan.
▪️▪️▪️▪️▪️
Footnote :
▪️Ruang perpindahan : Domátio metaforás
▪️Ratakan : Isopedóno