▪️Chap 13▪️

2143 Kata
-Kerja sama adalah kunci keberhasilan- ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️ Edrea menatap ke arah jendela yang menyuguhkan pemandangan pepohonan rindang dari Hutan Criveus. Sebenarnya ia tak hanya memandang pepohonan yang menjulang tinggi. Melainkan ada pemandangan lain yang ia saksikan sedari tadi. Dua sosok yang tengah duduk santai di bawah sebuah pohon dan tampak sangat asyik berbincang ria. Ia tak tahu pasti apa yang dibicarakan oleh kedua sosok itu. Namun, ia sedikit terkejut saat melihat ada sosok lain di sana. Sosok dengan tiga pasang mata berdiri tak jauh dari mereka. "Bagaimana bisa dia masuk ke area akademi?" gumamnya sembari menekan sebuah jam tangan yang dapat berfungsi sebagai alat telekomunikasi antar penyihir Casnia Academy. Tujuannya adalah Klein—salah satu dari dua sosok yang ia amati sejak tadi. Namun, sosok itu tampak langsung bergegas bangkit dari tempatnya semula tanpa mempedulikan panggilan Edrea. Klein bersama dengan sosok yang menjadi kawan berbincangnya sejak tadi—Zealin—tampak tengah memusatkan energi mereka. Sebenarnya tak ada yang perlu dirisaukan jika Klein melawan Hex tingkat dua itu sendirian. Namun, yang menjadi target bukanlah Klein. Melainkan Zealin. Edrea yakin, Hex yang datang itu adalah suruhan dari Dark Master. Mereka datang, karena menjalankan tugas untuk memusnahkan Zealin karena Zealin adalah salah satu senjata terbaik para penyihir untuk melawan Dark Master. "Tenang. Aku percaya padamu, Klein. Jaga Zealin dengan baik." Edrea bermonolog sebelum akhirnya menekan tombol berwarna merah yang terhubung ke pusat keamanan. "Aktifkan sihir pelindung. Ada Hex yang berhasil masuk ke area akademi," ucapnya setelah panggilannya terhubung ke pusat keamanan. ▪️▪️▪️▪️▪️ "Karena aku tak bisa menggunakan sihir pelindung, kau masuklah ke gedung akademi. Di sana lebih aman." Klein memunggungi Zealin berusaha untuk menutupinya dari Hex. "Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu melawan Hex itu sendirian." Klein menoleh dan menatap Zealin dengan senyuman miring. "Dia mengincarmu. Apa kau siap mati?" Ucapan Klein berhasil membuat debaran jantungnya berpacu cepat. Keringat dingin mulai bercucuran namun tekadnya untuk membantu Klein tak pernah luntur. "Aku tidak akan mati." "Baiklah. Aku dari sisi kanan, kau dari sisi kiri. Hati-hati, para Hex ada yang mampu menggunakan sihir dan anti sihir. Bahkan sihir pemusnah tanpa melukai dirinya sendiri. Dia juga mampu beregenerasi dengan cepat. Karena dia ... bukan manusia. Melainkan kutukan." Klein menghentakkan kaki kanannya dan terbentuklah sebuah dinding tanah yang menjulang tinggi di antara mereka. "Dengan begini, Hex takkan bisa melarikan diri." Tampaknya Hex itu tak mempedulikan apapun yang dilakukan Klein. Terjebak di antara dinding tanah yang menjulang tinggi membuat Hex itu langsung bergerak dengan cepat. Dia berlari ke arah Zealin. Mengeluarkan cahaya merah senja dari kedua tangan dan mengayunkannya seolah sedang mengayunkan pedang. Makhluk bermata tiga pasang itu terus mengejar Zealin yang berusaha menghindari setiap serangan. Sebuah cahaya kemerahan itu menyambar dengan ganas. Klein berusaha menghentikan pergerakan sang Hex dengan meretakkan beberapa tanah yang dipijak oleh Hex. Namun, semua itu gagal karena pergerakan Hex lebih cepat dari manusia biasa. Sebuah pertarungan yang terjadi berlangsung dengan sengit. Kemampuan sihir Zealin yang masih sebatas elemen air sihir dasar membuatnya kuwalahan. Apalagi setiap serangan yang ia layangkan dan berhasil mengenai sang Hex tak mencetak luka pada tubuh makhluk itu. "Sial, bagaimana caraku menumbangkannya?" Dalam tertatih melayangkan berbagai sihir pada si Hex, Zealin memutar otak untuk mempersingkat pertarungan. Ia mendadak kalang kabut saat memikirkan cara. Hingga akhirnya datu serangan berhasil mengenai bahu kirinya. Seperti goresan pedang, luka itu mengeluarkan darah hingga membuat Zealin tersungkur menahan sakit. Dalam keadaan terdesak, ia berusaha menggunakan sihir penyembuh. Makhluk bermata tiga pasang itu mendekati Zealin yang mulai lengah. Posisi Klein yang berada beberapa meter dari Zealin langsung mengambil langkah seribu. Klein menggumamkan sesuatu, hingga tanah-tanah di sana bergetar hebat dan membuat pergerakan Hex terhambat. Hambatan yang didapatkan sang Hex justru membuatnya beralih menyerang Klein. Sebuah sambaran cahaya kemerahan hampir berhasil mengenai d**a Klein. Namun, dengan sigap Klein langsung membentuk perisai yang terbuat dari tanah. Meski tak mampu bertahan lama, perisai itu akhirnya hancur setelah terkena serangan. Pergerakan Hex yang terlampau cepat terkadang membuat mata terkelabui. "Klein! Di belakangmu!" teriak Zealin yang berusaha untuk bangkit kembali setelah lukanya berhenti mengeluarkan darah. Tampa basa-basi pun Zealin langsung bergegas menyusul Klein yang sudah berada di genggaman Hex. Leher Klein tercekik dan Klein tak mampu untuk sekadar bernapas. "Gíino plásma! Thanatifóro krátima!" Sosok makhluk tanah tiba-tiba terbentuk. Dengan wujud yang sedikit berbeda dari milik Klein, Zealin berhasil membangunkan makhluk tanahnya sendiri. Serangan Zealin yang betubi-tubi itu akhirnya berhasil melepaskan Klein dari genggaman sang Hex. Kini sang Hex tersungkur ke tanah, sebuah percikan seperti abu mulai keluar dari tubuh sang Hex. Zealin tak mengerti apa yang terjadi. Hingga saat Klein mendekatinya, Klein menjelaskan apa yang membuat sang Hex yang terkapar di tanah mengeluarkan butiran abu dari tubuhnya. "Dia mulai musnah setelah terkena sihirmu." Tak lama kemudian, sang Hex kembali bangkit. Meski butiran abu itu masih terus keluar dari tubuhnya, sang Hex menatap Zealin dengan amarah yang menjalar. Tangannya terangkat menghadap Zealin. Cahaya kemerahan keluar dari telapak tangan itu. Zealin berusaha bersikap tenang. Menutup kedua matanya dan memusatkan energinya pada satu titik—kedua telapak tangan. Tampak cahaya biru kehitaman tersalurkan pada makhluk tanah buatannya. Seolah menggabungkan energi elemen air dan tanah menjadi satu. Melihat itu, Klein tersenyum tipis. Sembari menunggu energi Zealin terkumpul menjadi sihir yang hebat, Klein menghentak tanah hingga sebuah sebuah tanah berujung lancip perlahan muncul menuju sang Hex. Ia tak tanggung-tanggung mengeluarkan semua energinya hanya untuk membantu dan melindungi Zealin. Karena gadis itu, target utama yang berusaha dimusnahkan oleh sang Hex. Beberapa detik kemudian, Zealin membuka kedua mata. Saat tangan kanannya terayun dan makhluk tanah mengikuti gerakan Zealin, Klein mundur beberapa langkah. Ia merasakan energi yang kuat muncul dari gadis yang ada di sisinya. "Gíinos díni!" gumam Zealin bersamaan dengan sebuah getaran hebat dari tanah akibat ayunan tangan dari si makhluk tanah. Dan tanah yang dipijaki oleh sang Hex mendadak terbelah dan berputar seperti pusaran air. Namun, kali ini berbeda. Tanah lah yang berpusar dan di bawah kendali Zealin. Untuk pertama kalinya, Zealin memodifikasi elemen yang ia kuasai. Tanah dan air. Dalam sekejap, sosok aneh bermata tiga pasang itu menghilang. Dia lenyap. Seperti tertelah oleh bumi tanpa bekas sedikitpun. Seketika itu, Zealin ambruk dan makhluk tanah kendalinya runtuh kembali menjadi butiran pasir. "Zealin!" ▪️▪️▪️▪️▪️ "Seperti kemarin, dia hanya kehabisan energi. Apa dia terlalu memaksakan diri?" Klein yang tengah diobati oleh Edrea pun meringis kesakitan. Hex itu beberapa kali melukainya dengan cahaya kemerahan yang terasa seperti sayatan pedang. Energi yang dikeluarkan oleh Hex memang berbeda. Meskipun ratusan kali mereka diserang dan dilukai, regenerasi mereka akan lebih cepat dari sihir penyembuh. "Lukamu cukup dalam. Kau terlalu gegabah, Klein. Entah sudah berapa kali aku mengatakan ini padamu." Klein tersenyum mendengar ocehan Edrea. Wanita itu memang tampak fokus menyembuhkannya, namun Klein merasakan perhatian lebih dari sana. "Ehem?" Dehaman seseorang mengalihkan perhatian Klein. Padahal dia tengah asyik memandangi Edrea meskipun yang dipandang tak menyadarinya. "Hei, Ly? Mau menjengukku atau Zealin?" ucap Klein sembari menaik-turunkan alisnya—menggoda. Lalu melirik Zealin yang masih diberi sihir penyembuh oleh petugas klinik akademi. Lyan hanya membuang tatap dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Bukan urusanmu." "Jangan malu-malu, Ly." Klein terus menggoda juniornya itu. Hingga membuat Edrea menekan lukanya dan membuat Klein merintih pelan. Lalu menatap Edrea yang memasang wajah datar sembari terus mengurus luka Klein. "Sengaja? Itu menyakitkan, Ed." "Tidak. Lukamu yang terlalu dalam." "Pembohong." Edrea menahan tawanya. "Sudah. Istirahatlah. Jangan banyak bergerak dulu karena goresanmu bisa terbuka kembali." Cahaya biru yang keluar dari telapak tangan Edrea berangsur memudar. Wanita itu berjalan mendekati Zealin yang masih tertidur. Sepertinya gadis itu memulihkan energi dengan cara tidur. "Sepertinya sudah cukup membaik. Kau bisa beristirahat, Ve." "Baik, Nona. Terima kasih." "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Karena kau sudah membantuku memulihkan Zealin." Ve—petugas klinik—langsung meninggalkan ruang kesehatan. Membiarkan Edrea bersama dengan Klein, Lyan, dan Zealin di sana. "Dia sudah banyak berkembang. Kurasa perkembangannya cukup pesat. Tapi, penggunaan energinya masih belum stabil. Karena itulah, dia akan selalu kehabisan energi saat pertarungan." Lyan mengangguki ucapan Edrea. "Saat dia berada di pertarungan besar dengan kurun waktu yang lama, Zealin akan kalah di tengah pertarungan." "Betul." "Dia sempat memikirkan cara untuk mempersingkat pertarungan. Tapi karena kelengahannya, dia jadi diserang," sahut Klein. Dia berusaha bangkit dari ranjang dan menyenderkan punggungnya ke bantal. Edrea menatap nanar ke arah Zealin. "Dia memiliki semangat untuk maju tapi tubuhnya masih belum mampu mengatur energi sihir dengan baik." "Bukankah kau bisa memberinya arahan?" tanya Lyan setelah mengingat bahwa Edrea merupakan salah satu penyihir yang sangat tenang setiap kali berada di pertarungan. Namun, energinya terekspos dengan hebat dan dahsyat. "Itu bisa kuatur. Sekarang, dia hanya perlu mengetahui elemen apa saja yang bisa dikuasainya." ▪️▪️▪️▪️▪️ "Apa tadi itu dinding pelindung?" tanya Caroline tak percaya. Mereka—para siswa akademi—menyaksikan adanya dinding pelindung yang menyelimuti area akademi. Namun, mereka tak tahu pasti alasan dinding pelindung itu terbentuk. "Apa kau tahu mengapa akademi mengaktifkan dinding pelindung?" tanya Mel yang masih penasaran akan apa yang telah terjadi. "Kudengar, mereka sedang melindungi Klein dan Zealin. Mereka sedang diserang oleh Hex tingkat dua di belakang gedung Saphire." Seorang lelaki dengan tubuh jangkung dan proporsi tubuh yang pas menyahut percakapan keduanya. Caroline sempat terkesima lada pandangan pertama. Namun ... "Tapi, kenapa kalian begitu kampungan saat melihat dinding pelindung seperti tadi?" Perasaan kagum seorang Caroline mendadak sirna setelah mendengar hinaan itu. "Cih! Aku tidak mengenalmu dan kau tiba-tiba datang dengan hinaan itu?" kesal Caroline. "Car, tenanglah. Abaikan saja dia. Ingat pesan Nona Edrea? Kita harus tetap singkirkan rasa amarah dalam diri karena itu juga sebuah kutukan. Ingat?" Mel berusaha menenangkan. Meredakan amarah yang hampir menyelubungi perasaan Caroline. Ya, saat pertama kali masuk ke dalam lingkaran akademi penyihir bernama Casnia Academy, Edrea sebagai petinggi di akademi akan memberi satu peraturan yang harus dituruti oleh semua siswa. Peraturan itu adalah menjaga emosi. Setiap kali amarah menguasai diri, maka kutukan akan sangat mudah untuk masuk dan mengganggu hati pikiran manusia. "Ah, bagus. Kau ... cantik. Siapa namamu?" tanya lelaki itu pada Mel. Mel hanya diam dan tak merespon apapun. Sebab, ia menganggap lelaki itu hanya akan menyulut emosinya saja. "Aku pernah melihatmu di kelas pemusnah. Kenapa gadis secantik dirimu memiliki sihir pemusnah? Itu sangat tidak sinkron." "Itu aku. Bukan dia." Suara nyaring kembali menyambar percakapan mereka. Sontak si lelaki itu langsung menoleh ke asal suara. Tak hanya di lelaki, Mel, bahkan Caroline, melainkan beberapa siswa yang berada di sana pun ikut menatap sosok gadis yang baru saja datang. "Waw, kalian kembar? Aku baru tahu jika di akademi ini ada gadis kembar yang cantik." "Cih! Hei, jaga ucapanmu. Sebenarnya siapa kau? Aku tak pernah melihatmu ada di tingkat tiga." Caroline benar-benar tak sabar menghadapi sosok lelaki yang masih saja menggoda Mel dan Bel. "Ah, maafkan aku. Aku lupa memperkenalkan diri." Tiba-tiba sosok itu membungkuk sekilas seperti seorang penari yang selesai mempersembahkan tariannya. Kemudian, kembali menatap Mel dan Bel secara bergantian. "Namaku, Paul Gerd. Senang bertemu dengan kalian, para gadis yang cantik." "Gerd? Apa kau anak dari Couch Gerd?" tanya Mel penasaran karena nama marga sosok itu—Paul—sama dengan marga pelatihnya. Sosok itu menepukkan tangannya dan tersenyum lebar. "Selain cantik, ternyata kau juga jeli, Emh—siapa namamu?" "Mel Darren. Dia, Caroline. Dan kembaranku, Bel Darren." Mel memperkenalkan dirinya lalu kedua sosok gadis yang ada di dekatnya. "Oh, jadi nama gadis cerewet itu adalah Caroline. Siapa margamu?" "Untuk apa kau tahu? Itu juga bukan urusanmu," ketus Caroline. Lagi-lagi Mel hanya menenangkan Caroline. "Tunggu, jika kau anak dari Couch Gerd, apa kau adalah seorang pengguna sihir pelindung?" tanya Bel menebak-nebak. Ya, karena ia sangat mengenal Couch Gerd yang merupakan seorang pengguna sihir penyembuh sekaligus pelindung. Selain itu, Couch Gerd adalah ketua pengaman di akademi. Jadi, sosok yang menciptakan dinding pelindung tadi adalah Couch Gerd. "Tepat. Hanya aku, siswa pengguna sihir pelindung di tingkat tiga." Smirk yang muncul di wajah Paul benar-benar membuat Caroline kesal kali ini. Tanpa basa-basi, gadis itu pun langsung berbalik dan melangkah pergi. "Caroline! Tunggu aku!" pekik Mel saat melihat Caroline menghentakkan kakinya pergi. "Bel! Aku pergi dulu. Bye!" Bel hanya mengangguk. Kini tinggal dia dan Paul yang berada di koridor lantai dua gedung Saphire. Hanya ada beberapa siswa di sana yang masih bertahan di tempat sembari sibuk dengan urusan mereka masing-masing. "Bel, jadi ... kau pengguna sihir pemusnah?" tanya Paul tanpa basa-basi. Bel mengangguk. "Ya, jadi .... jika kau macam-macam dengan Mel, aku takkan mengampunimu." Paul terkekeh. "Aku takkan menganggunya. Hanya sedikit bermain." Mendengar jawaban Paul, sontak Bel langsung melotot kesal. "Aku hanya bercanda." "Aku mengawasimu." Lagi-lagi Paul tertawa renyah. "Kau lebih menarik daripada Mel, jadi ... bisakah kita bicara empat mata sekarang?" "Tentang apa?" ▪️▪️▪️▪️▪️ Footnote : ▪️Makhluk tanah = Gíino plásma ▪️Genggaman mematikan = Thanatifóro krátima ▪️Pusaran tanah = Gíinos díni
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN