-Emosi adalah segala bentuk dari yang tertanam di hati-
▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️
"I'm okay."
Lyan mengangguk paham. Namun, wajah pucat seorang gadis yang baru saja terbangun itu tampak menyedihkan. Hanya saja, setelah melihat perkembangannya, Lyan merasa ada semangat yang menggebu-gebu. Sufah pasti saat ini gadis itu berusaha keras tanpa mempedulikan batas kemampuan energinya.
"Tapi ... kau cukup mengagumkan. Aku jadi ingin bertarung denganmu."
Zealin—gadis itu—terkekeh pelan. "Jangan mengada-ada, Ly. Aku akan kuwalahan jika melawanmu."
"Ternyata kau sudah bangun?" sahut Edrea yang baru saja datang bersama Klein.
"Bagaimana keadaanmu, Ze?" tanya Klein.
Zealin pun berusaha untuk mengubah posisinya. Ia terduduk di ranjang dan menampilkan senyuman di wajah pucatnya.
"Aku merasa lebih baik. Terakhir kuingat, rasanya semua tubuhku pegal dan mataku berkunang."
Edrea sudah mengira jika Zealin akan mengatakan itu. Gadis berambut pirang pucat itu memang mudah mengusai sebuah hal. Sihir elemen air dan tanah telah mampu ia pegang dengan kendali. Akan tetapi, ada satu hal yang masih sulit dikendalikan oleh sosok Zealin. Yaitu ... mengendalikan energi. Gadis itu masih belum mampu menyeimbangkan energi dengan sihir yang dia gunakan. Penggunaan energi yang tidak efektif akan membuat si pemakai sihir kuwalahan menghadapi pertarungan yang ada. Jika dalam pengendalian energi sang penyihir masih tak mampu diatur, maka hal itu akan sangat beresiko. Apalagi dalam pertarungan besar dan dalam kurun waktu yang lama. Sudah dipastikan penyihir tanpa kendali energi yang baik akan tumbang terlebih dulu. Beruntung saat Zealin bertarung dengan Hex bersama Klein, dia bisa menggunakan sihir tanah dengan kuat sehingga waktu pertarungan mereka selesai lebih cepat. Jika terlambat sedikit, sudah pasti Zealin akan tumbang dan Klein lah yang akan kuwalahan menghadapi Hex tingkat dua itu.
"Ada satu hal yang perlu kau tahu, Ze. Energi juga butuh dikendalikan. Apa kau ingat tabung energi yang kau sentuh saat itu? Dari sana, aku sudah menebak kau akan sangat sulit mengatur energi yang kau punya."
Penjelasan Edrea membuat Zealin menuai tanya. "Lalu, aku harus bagaimana?"
"Bukankah sudah jelas? Kau hanya perlu berlatih mengatur penggunaan energimu." Klein menyambar percakapan antara Edrea dan Zealin.
"Lagipula ... cepat atau lambat kau pasti akan berada di pertarungan besar. Melawan Dark Master bukanlah pertarungan singkat seperti saat kau melawan Hex tadi." Sosok lain ikut menimpali percakapan mereka. Hal itu membuat Zealin paham. Bahwa kelemahannya hanya berada di penggunaan energi. Singkatnya, dia terlalu boros energi dan membuatnya kuwalahan akibat dirinya sendiri.
"Bagaimana caraku belajar penghematan energi?" tanya Zealin dengan polos. Membuat Edrea terkekeh pelan.
"Fokus saja untuk menguasai elemen sihir. Setelah itu, kau akan kubimbing untuk menghemat penggunaan energi dalam pertarungan," titah Edrea sembari mendudukkan diri di sofa.
"Siap, Nona Ed."
"Ah, satu lagi," sambar Klein. Semua mata pun tertuju padanya. "Kau ... besok akan bertemu dengan pengguna sihir pelindung. Belajarlah dengan baik."
▪️▪️▪️▪️▪️
Mentari berposisi tepat di atas kepala. Namun, sinarnya tak secara langsung menyambar kulit karena area hutan yang cukup rindang. Sehingga dedaunan yang membentang dengan lebat akan menyaring sinar hingga terasa nyaman di kulit.
Kini Bel tengah duduk di sebuah bangku. Di hadapannya ada seorang lelaki bertubuh jangkung dan setia menatapnya dengan tatapan yang membuat Bel merasa tak nyaman.
"Katakan saja apa yang ingin kau tahu. Aku ada keperluan lain setelah ini." Bel pun tanpa basa-basi langsung mengatakan kegelisahannya.
"Bisakah kau mengajariku sihir pemusnah?"
Pertanyaan itu sontak membuat Bel menatap Paul—sosok lelaki jangkung—tak percaya. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tertarik dengan sihir pemusnah. Padahal, untuk menggunakannya saja harus mempertaruhkan nyawa. Ya, meskipun kehebatannya luar biasa menakutkan, namun taruhannya tetaplah nyawa. Tidak ada seorangpun yang rela menyakiti dirinya sendiri demi memiliki kekuatan yang abadi. Kecuali orang-orang serakah di luar sana.
"Kau gila?" tanya Bel dengan heran. "Untuk menggunakan sihir pemusnah, kau juga harus merelakan tubuhmu tersiksa."
"Tak apa. Aku bosan dengan sihir pelindung. Tugasku hanya melindungi. Dengan tubuh lemahku ini, aku tak bisa turun langsung ke pertarungan. Itu sangat membosankan, kau tahu?"
Mendengar keluhan Paul, Bel tersenyum miring. "Ternyata kau benar-benar gila. Dengan sihir pelindung yang kau kuasai, kau hanya perlu duduk diam tanpa menggantungkan nyawamu. Tapi, kau justru ingin mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya karena bosan?"
Paul terdiam. Ia hanya menatap Bel yang mulai bangkit dari duduknya.
"Sudahlah. Tak ada waktu untuk menanggapi orang gila sepertimu."
"Tunggu." Baru saja Bel akan mengangkat kaki dari tempat, Paul sudah menahan lengannya. Namun, Bel menyeka tangan itu dengan pelan.
"Apa lagi?"
"Aku akan mengajarimu sihir pelindung. Jika kau mau mengajariku sihir pemusnah. Bukankah itu yang kau inginkan? Bukankah kau ingin bisa melindungi semua orang dan diagungkan seperti Mel?"
Bel tak menyangka jika Paul akan aangat tepat sasaran. Namun, dengan barter seperti itu akan menyulitkannya juga. Mengajari seseorang untuk mampu menggunakan sihir pemusnah adalah hal terburuk yang takkan pernah ia lakukan. Sebab, ia tak ingin orang lain merasakan deritanya.
"Sekali tidak tetap tidak." Ia pun kembali melangkah meninggalkan Paul. Meski beberapa kali Paul mencegahnya dan terus meracau tidak jelas.
"Maafkan aku, Paul. Tapi ... sihir pemusnah bukanlah sihir untuk main-main karena bosan."
▪️▪️▪️▪️▪️
"Dasar, bodoh." Suara itu menggema mengerikan. Seisi ruangan sontak menunduk dan tak ingin menatap mata yang menyorot berwarna merah Jade. Seolah kedua manik mata itu akan mampu menyihir mereka menjadi batu dan akan mudah dihancurkan menjadi abu.
"Apa dia sekuat itu? Hingga kalian selalu gagal memusnahkannya? Hah?!" Amarahnya terluapkan. Sebuah vas bunga yang berdiri tanpa dosa tiba-tiba pecah berkeping-keping. Bahkan takkan mampu disusun kembali.
Beberapa sosok yang berada di sana masih terus membisu tanpa ingin membalas perkataan atau menjawab pertanyaan. Satu kata terucap, mulutnya sudah akan lebur terbakar api. Begitulah yang pernah mereka lihat sebelumnya.
"Musnahkan dia. Bagaimanapun caranya. Karena sebentar lagi, Supermoon akan tiba."
▪️▪️▪️▪️▪️
Energinya sudah kembali penuh. Ia pun kembali mengitari koridor gedung Saphire meski sirine pengingat sudah terdengar beberapa menit lalu. Satu hal yang ingin ia temui adalah gadis bermata Amber yang baru saja ia kenal. Bel Darren. Namun, ia tak menemukan gadis itu di tempat kemarin.
Zealin pun terduduk di sebuah bangku yang berada di dekat lapangan gedung Saphire. Menatap langit malam yang mulai memperlihatkan indahnya gemerlap bintang. Pertarungan tadi siang dengan Hex tingkat dua telah membuatnya berhasil menggunakan elemen tanah. Setidaknya, ia sudah memiliki ikatan dengan tanah kemanapun dan bagaimanapun keadaannya. Sehingga setiap ada tanah, elemen sihirnya akan mampu dibangkitkan.
"Tapi mengundang makhluk tanah benar-benar menguras energiku. Bagaimana Klein mampu membangkitkan makhluk tanah dan melayangkan beberapa sihir dengan begitu tenang? Dia benar-benar hebat."
Dalam hening, Zeali menggumam seorang diri. Ia tak mempedulikan jam tidur yang sudah berlaku. Karena baginya, suasana akademi di malam hari akan sangat sia-sia jika tidak dinikmati secara langsung.
"Kau tuli?" tanya seseorang dari belakang. Zealin menoleh melihat sosok yang baru menegurnya dengan sindiran cukup kasar. Apalagi suara itu terdengar tidak familiar untuknya. Saat dia menoleh, sosok itu sudah berjalan mendekatinya dengan wajah datar. "Apa kau cukup hebat untuk melawan para Hex yang datang di malam hari? Hingga kau mengabaikan perlindungan kami? Eum?" Ironi sekali. Tapi sebenarnya bukan itu alasan Zealin.
Melihat sosok yang berdiri di depannya sembari melipat kedua tangannya ke d**a membuat Zealin bangkit dari bangku. Dari seragam yang dikenakan sosok itu, Zealin tahu jika dia adalah salah satu pelatih di akademi.
"Maaf, tapi saya hanya ingin menikmati suasana malam akademi."
"Masuklah. Kita tak tahu jika ada Hex yang berhasil menyelinap masuk."
Zealin terdiam. Sebenarnya ia masih sangat ingin berada di luar dan mengamati bintang secara langsung. Berada di balkon kamarnya akan sangat dingin dan itu tidak menyenangkan.
"Untuk sebentar saja, bolehkah saya di sini?" tanya Zealin dengan sedikit ragu. Namun, sudah pasti permintaan itu akan menerima penolakan dari si pendengar.
"Kau sudah tahu jawabanku. Lebih baik sekarang kau masuk dan beristirahatlah. Aku tidak menerima penolakan apapun lagi."
Mendengar jawaban itu, Zealin hanya menghela napas kasar. "Baiklah. Aku akan masuk."
Melihat gadis itu berjalan masuk dengan perasaan kesal pun membuat sosok itu menggeleng pelan. "Dia takkan bisa melindungi seseorang dengan emosinya yang seperti itu."
▪️▪️▪️▪️▪️