Senyuman Meresahkan

1283 Kata
Pagi hari ini aku bangun cukup pagi, sesuatu yang sederhana tapi sulit aku lakukan beberapa minggu ini. Bukan karena aku malas, tapi aku saja pulangnya kadang-kadang sudah hampir larut pagi. Aku melihat Agus masih tertidur pulas. Aku tidak berani membangunkan dia untuk menanyakan gimana acara makan malam sama Devi apakah sesuai dengan rencana. Aku pergi keluar untuk mencari sarapan. Kali ini aku lumayan jauh mencarinya sambil jalan-jalan mencari udara segar di pagi hari. Aku berhenti di sebuah warung pecel yang cukup rame di sekitar kampus UB. Aku penasaran apa yang membuat warung ini rame. “Mannn…!!!” terdengar suara sapa seorang dari belakang. Aku menoleh dan mencoba mencari tahu siapa orang yang memanggilku, ternyata dia adalah Cindy. “Hayy.. Cin,” jawabku sembari tersenyum. “Jauh banget man cari sarapan?” tanya Cindy sembari memukul pundaku. “Iya Cin, sambil jalan-jalan sekalian main ke tempat kosmu,” jawabku bercanda. “Waahhh.. yang bener Man, yaudah dibungkus aja Man kita makan di kos,” ucap cindy antusias. Cindy memang anak yang sifatnya periang hampir sama seperti Devi, tapi yang membuat berbeda Cindy jauh lebih kalem tidak seramai Devi. Cindy termasuk cewek yang tidak terlalu ribet dan terkesan sederhana, dilihat dari awal aku mengantar dia pulang yang tidak banyak komentar tentang kondisi motor buntutku. Dan hari ini pertemuan yang kedua dia keluar dengan baju tidur panjangnya tanpa make up dan, dia tidak malu untuk menyapa aku terlebih dahulu. “Masuk Man,” seru Cindy membuka pagar kos. “Cowok boleh masuk?” tanyaku ragu. “Boleh, tapi hanya sampai teras,” jawab Cindy. Kami makan bersama di teras, sembari membicarakan banyak hal yang rata-rata tidak ada yang penting. Aku bukan orang yang pandai membuat topik dalam obrolan, tapi pagi ini aku merasa banyak sekali yang kita bahas. “Eh.. Man katanya kemaren Agus nembak Devi ya?” tanya Cindy dengan antusias. “Iya Cin, kamu dikasih tahu Devi ya?” ucapku ke Cindy. “Iya semalam Devi cerita, katanya romantis banget,” jawab Cindy dengan senangnya. “Iya parah itu Cin, masak nembak Devi habis 1.200.000,” ucapku dengan heran. “Iya namanya juga cinta Man, butuh pengorbanan,” jawab Cindy dengan bangga. “Kamu pernah dapat kejutan kayak Devi?” tanyaku ke Devi. “Belum pernah,” jawab Cindy memelas. “Gak pengen kayak gitu?” tanyaku “Yaaaa.. pengen, tapi gak ada yang ngasih,” jawab Cindy. Dari obrolan kita yang hampir 2 jam lamanya, aku baru tahu ternyata Cindy tidak punya pacar atau pasangan bahkan dia sama sekali tidak pernah berpacaran. Suatu yang mengejutkan terlebih Cindy lumayan cantik, tapi memang dari ayahnya yang bener-bener melindungi pergaulan Cindy. Setelah makan dan ngobrol panjang lebar aku pamit untuk pulang. “Cin aku balik dulu,” ucapku pamit. “Mau jualan Man? Kok buru-buru,” tanya Cindy. “Nanti malam Cind jualanya,” jawabku singkat. “Siang ini mau kemana Man?” tanya Cindy lagi. “Yaah mungkin sampai kos tidur lagi, atau kalau tidak mendengarkan cerita Agus,” jawabku menjelaskan. “Ayo Man kita nonton,” ajak Cindy tiba-tiba. “Dalam kosmu?” tanyaku dengan kebingungan. “Hush.. Bukan Man,” jawab Cindy sewot. “Laaahh.. Terus?” tanyaku masih bingung. “Di bioskop Man,” jawab Cindy sedikit kesal. “Kapan?” tanyaku dengan semangat. “Nanti siang aja yuk?” ucap Cindy antusias. “Oke deh Cin, tapi aku balik dulu ya buat persiapan,” jawabku ke Cindy. “Oke Man, hati-hati ya,” jawab Cindy dengan senyum. Aku pulang dari kos Cindy membawa perasaan yang berbeda, aku merasa ada yang menarik dari Cindy dan dalam setiap obrolan aku merasa menyenangkan saat harus mendengar cerita dia. Aku dan Cindy akan nonton bareng, dia akan menjadi orang pertama dalam hidupku yang mengajakku nonton di bioskop. Ahhh.. aku mencoba menghilangkan imajinasiku, mencoba sadar bahwa status social kita berbeda dan kembali ketujuan awal aku di sini. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa memang Cindy itu mengganggapku hanya sebatas teman saja. Sampai di kos aku masih melihat Agus tertidur dengan pulasnya, mungkin tidur dia kali ini bermimpi jauh lebih indah. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan cerita Agus tentang acara malam kemarin tapi dia sangat sulit untuk dibangunkan . “Guss.. Gus… Bangun Gus,” ucapku sambil memukul kasur. “Hahh apa Man?” jawab Agus masih dalam kondisi merem. “Kamu kemaren diterima sama Devi?” tanyaku dengan antusias. “Diiiterima.. Man,” agus menjawab sambil tetap memejamkan mata. Syukurlah Agus diterima, jadi Devi tidak mengingkari janjinya. Setelah memastikan Agus diterima, aku mulai bersiap-siap untuk keluar dengan Cindy. Aku menggunakan baju terbaikku, tidak tahu kenapa aku merasa harus berpenampilan semenarik mungkin. Adzan dhuhur sudah berkumandang setelah ini aku akan berangkat menjemput Cindy, setelah sholat tentunya. Aku bingung mau berdoa apa, aku ingin berdoa tentang Cindy tapi takut belum yakin. Memang benar, sulit menyatukan hati, pikiran dan keinginan. Aku berangkat dan sampai kos Cindy tepat waktu, aku melihat Cindy sudah duduk di teras kosnya menungguku. “Cin…!!!” teriakku memanggil. “Iya Mann,” jawab Cindy menghampiriku. “Lama Cin?” tanyaku basa-basi. “Enggak, baru aja aku keluar kos,” jawab Cindy sambil naik motorku. Kami berangkat ke salah satu pusat perbelanjaan di kota Malang yang jaraknya cukup dekat, yaitu di antara kampus UB dan UM. Aku merasa sangat gugup sebenarnya, bukan karena keluar dengan Cindy tapi lebih karena aku tidak pernah nonton di bioskop. Aku takut kalau sampai aku terlihat bodoh di depan Cindy. “Man mau nonton apa?” tanya Cindy ketika sampai di mall. “Lah terserah, kan kamu yang ngajak,” jawabku menyembunyikan kebodohanku. “Kamu gak pengen nonton apa gitu?” tanya Cindy dengan santai. “Enggak Cin, aku ngikut aja kamu pengen nonton apa,” jawabku mulai bingung. “Conjuring mau ya?” tanya Cindy lagi. “Boleh tuh,” jawabku antusias. Ada sebuah kesalahan saat aku menjawab dengan antusias, Cindy mengganggapku mengerti dengan apa yang diceritakan tentang film itu. Aku hanya menggangguk dan tersenyum saat Cindy bercerita tentang film-film yang dia suka. Kali ini aku tidak bisa mencari topik yang lain, karena jujur aku tidak paham sama sekali dengan film. Mungkin film yang paling sering aku tonton adalah WARKOP dan itu tidak bisa aku jadikan pembahasan film dengan Cindy, karena dari tadi yang Cindy bahas adalah film luar negeri dengan kisah percintaan. Aku sangat antusias untuk masuk pertama kalinya ke bioskop, ternyata sangat megah dan luar biasa bagus. Mungkin kalau di kampung bioskop ini seperti layar tancap, tapi dengan tampilan lebih modern. Film dimulai dan lampu dimatikan, tiba-tiba di layar muncul hantu yang sangat menyeramkan, sontak aku kaget dan beteriak, Cindy juga sama saat itu dia langsung memegang tanganku. Aku baru tahu ternyata Cindy mengajak aku nonton film horror terbaru. Hampir semua adegan menyeramkan Cindy pasti akan memegang tangan atau bahuku, itu membuat perasaanku campur aduk antara senang dan takut. Aku tidak peduli lagi dengan alur cerita film, aku hanya mengalihkan perhatian mataku agar tidak melihat layar dan akhirnya aku juga takut melihat film itu. Aku ingin terlihat berani saja, meski sejatinya juga takut. Hampir 2 jam lebih kita nonton dan akhirnya selesai, kita habiskan sisa waktu sebelum malam untuk makan dan nongkrong. “Man.. sudah mau magrib, ayo balik!” ajak Cindy. “Kenapa Cin?” tanyaku kaget. “Looh kan kamu habis ini jualan?” tanya Cindy. “Oh iya Cin, ayook deh…,” jawabku sambil mengajak pergi. Sampai di kos Cindy, ada satu kata yang benar-benar membuat hati merasa menerima suplay oksigen bersih. “Terimakasih ya Man untuk hari ini, semangat ya kerjanya,” ucap Cindy sambil melambaikan tangan. Sungguh 1 hari ini menjadi hari yang sangat menyenangkan menurutku, seharian bisa tertawa bersama dan melihat senyuman Cindy yang membuatku resah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN