Berhak Khawatir

1450 Kata
Cindy, nama yang mulai akrab di telingaku dalam beberapa hari ini. Ada peran Agus yang tidak terlihat dalam hubungan aku dengan Cindy. Semenjak Devi berpacaran dengan Agus jelas Devi lebih sering keluar dan main dengan Agus, padahal dulu Cindy dan Devi sering menghabiskan waktu bersama. Cindy beberapa kali minta tolong untuk diantar ke beberapa tempat. Karena memang di Malang ini dia tidak membawa kendaraan. Dulu dia sering minta tolong ke Devi untuk mengantar. Setelah Devi punya pasangan, Cindy merasa tidak enak kalau mau merepotkan temannya yang sedang kasmaran. Kalau aku sih tidak keberatan selagi bisa, apa lagi itu adalah kesempatan aku untuk bisa lebih dekat dengan Cindy. Cantik, pandai dan sederhana adalah gambaran singkat untuk Cindy. Apakah dia seperti Sari? Aku pikir mereka memiliki banyak persamaan, hanya ada satu yang membuat berbeda. Cindy orang yang sangat ramah dan mudah akrab, sedangkan Sari cenderung tertutup dan pendiam. Suara telephone membangunkan aku di pagi hari. Aku tidak tahu jam berapa? yang jelas matahari belum muncul sepenuhnya. “Assallamualaikum Man.. bisa minta tolong?” suara cewek yang tidak asing di telinga menyapaku via telephone. Sesaat aku lupa siapa cewek yang menghubungi sepagi ini, aku berfikir beberapa detik sebelum sadar bahwa itu adalah suara Cindy. “Wallaikumsalam, iya Cin,” jawabku dengan mata tertutup. “Tolong anterin aku ke rumah sakit Man,” ucap Cindy terdengar lirih. “Kamu kenapa Cin?” tanyaku sedikit panik. “Sakit Man,” jawab Cindy singkat. “Oke tunggu ya Cin, aku ke sana!” jawabku sembari bergegas keluar kamar. Aku langsung keluar dari kamar dan berganti baju lengkap dengan jaket, aku melihat Agus masih tertidur pulas di ruang nonton televisi. Aku mengeluarkan sepedah motor dan terlihat langit masih gelap, yang artinya mungkin saat ini masih jam 5 atau 4 pagi. Aku langsung menuju kos Cindy dengan kecepatan penuh. Sampai di kos Cindy aku sudah melihat dia sudah berada di ruang tamu lengkap dengan jaket. “Ayo… Cin naik,” ucapku langsung ke Cindy. “Iya Man,” jawab Cindy singkat sembari naik. Cindy terlihat sangat pucat dan lemas. Aku tidak berani bertanya apa-apa ke Cindy karena aku takut dia marah. Beruntung kos Cindy hanya berjarak 2 km dari rumah sakit. Jadi sangat cepat buat Cindy untuk diberikan pertolongan pertama. Sesampainya di rumah sakit aku diajak untuk ikut masuk oleh Cindy, karena Cindy merasa takut saat harus masuk sendiri. Tapi ternyata tidak diperbolehkan oleh dokter untuk ikut masuk kecuali suami. Ingin rasanya aku bilang kalau aku suaminya tapi apa daya hati ini masih tahu diri. Setelah diperiksa oleh dokter, aku dipanggil untuk masuk mendengarkan penjelasan dari dokter. “Gini mas, pacarnya ini sakit gejala demam berdarah jadi harus dirawat inap di rumah sakit,” ucap dokter dengan santainya. Sebenarnya saat dokter menganggap aku adalah pasangan Cindy hati ini bener-bener ingin membuat banner yang bertuliskan “AMMIIINN” tapi urung terlaksana karena masih pagi. “Gimana Cin,” tanyaku ke Cindy yang terbaring lemas. “Pusing Man,” jawab Cindy dengan lemas. “Mikirin apa emang Cin?” tanyaku dengan bercanda. “Mikirin kamu man,” jawab Cindy dengan tersenyum. Aku baru 2 bulan kenal dengan Cindy, tapi baru seminggu ini bener-bener sering berkomunikasi. Sungguh hati ini rasanya seperti diuji. Ingin sekali hati menganggap serius semua bercandaan Cindy tapi otak ini terus memberi peringatan bahwa aku tidak sederjarat dengan Cindy. Dia anak orang kaya yang berpendidikan. Sedangkan aku hanya anak pedagang yang ke kota Malang untuk bekerja dan kuliah. Supaya bisa mengubah derajat keluarga di kampung. Aku melihat Cindy tertidur lemas. Dia nampak sangat lelah. Aku tidak tahu harus berbuat apa, apakah harus menunggu dia sampai sembuh atau seperti apa. Karena aku tidak tahu orang tuanya, tidak kenal dengan teman dekatnya. Eeeh.. tunggu aku baru sadar kalau Devi sahabatnya Cindy. Aku mencoba menghubungi Devi untuk memberi kabar kalau Cindy masuk rumah sakit. “Hallo Dev,” ucapku mengawali telephone. “Iya Man ada apa?” tanya Devi yang sepertinya baru bangun tidur. “Cindy masuk rumah sakit Dev,” jawabku dengan gelisah. “Hahh.. Serius? Jangan bercanda?” tanya Devi balik yang seolah tidak percaya karena kebiasaan kita bercanda. “Iya beneran buat apa aku bercanda sepagi ini, ayoo.. cepat ke sini!!!” jawabku sedikit memaksa. “Ohh.. iyyaa Man, kamu kirim alamat rumah sakitnya ya,” ucap Devi yang mulai panik. Cukup lama aku sendiri menunggu Devi datang. Aku tidak tahu harus seperti apa. Hanya ada 1 pasien di samping tempat tidur Cindy yang terbaring dari kapasitas keseluruhan 4 pasien. Mereka semua sama-sama tidur, baik yang sakit ataupun yang jaga. Aku sangat gelisah, apakah aku harus mendekat ke Cindy atau menjauh. Terakhir aku menjaga orang sakit itu Agus, gara-gara jatuh dari motor. Aku tidak merasa panik saat itu, meski kondisi Agus cukup parah sampai-sampai aku tidak diperbolehkan untuk melihat langsung. Tapi kali ini menjaga Cindy yang sakit aku benar-benar merasa panik, aku takut terjadi apa-apa dengan Cindy. “Man gimana Cindy?” tanya Devi yang tiba-tiba ada di belakangku. “Hahh… masih tidur,” jawabku yang terkejut. “Sakit apa dia?” tanya Devi dengan panik. “Demam berdarah Dev, mana Agus?” jawabku sambil bertanya balik. “Gak tahu aku hubungi gak bisa dari tadi, mungkin masih tidur,” jawab Devi dengan singkat. “Ya mungkin masih tidur, biasanya dia bangun jam 12 an Dev,” ucapku memberi tahu kebiasaan Agus. “Iya Man mungkin kecapekan, semalam dia bantuin aku ngerjain tugas sampai larut malam,” jawab Devi dengan tersenyum. Devi menceritakan selama 2 minggu menjalin hubungan dengan Agus, dia sangat bahagia dan merasa bahwa Agus benar-benar selalu ada untuk dia. Saat Devi bercerita tentang Agus aku mencoba bertanya tentang yang lainnya. “Dev kamu sudah putus sama cowokmu yang di Surabaya?” tanyaku memotong pembicaraan. “Hahh? Su..sudah Man,” Devi tampak terkejut dengan pertanyaanku. “Bagus deh kalau gitu,” jawabku singkat sembari dibalas senyuman oleh Devi. Tidak lama Devi menemaniku mejaga Cindy, lalu dia pamit untuk ke kampus katanya ada ulangan harian yang wajib dia ikuti. “Yaudah aku tinggal dulu ya Man, ada ulangan ini,” ucap Devi sembari berjalan pergi. “Ohh.. oke,” jawabku singkat. Aku sendiri lagi menjaga Cindy, meski di samping ada orang tapi kami terpisahkan dengan kain penutup. Waktu sudah hampir sore terdengar suara adzan ashar berkumandang, tapi Cindy masih saja belum bangun. Badan ini terasa lelah sekali karena bisa dibilang 2 hari aku hanya tidur 1 jam saja. Dalam posisi duduk tidak terasa aku tertidur cukup pulas, sesaat aku memejamkan mata ternyata langit sudah mulai gelap. Aku melihat tidak ada Cindy di tempat tidur, aku berdiri dan mencoba mencari di mana Cindy. Beberapa menit aku mencari, tiba-tiba dia datang dengan membawa infus di tangan tentunya. “Dari mana Cin?” tanyaku sedikit marah. “Keluar cari udara segar Man,” jawab Cindy lirih. “Kalau kamu butuh apa-apa kasih tahu aku, kamu gak tahu gimana paniknya aku nyari kamu,” ucapku dengan nada cukup tegas. “Iya maaf,” jawab Cindy singkat sambil menunduk. Sempat hening beberapa saat, aku tersadar bahwa apa yang aku lakukan salah. Tidak seharunya aku membentak Cindy dengan alasan khawatir. Aku bukanlah orang yang berhak mengkhawatirkan dia, kita hanya sebatas teman. Aku mencoba untuk mengembalikan suasana agar kembali ceria. “Cin maaf ya,” ucapku memecah keheningan. “Iya Man,” jawab Cindy singkat. “Aku belum berhak marah dan mengkhwatirkanmu,” ucapku singkat. “Terus siapa yang berhak Man?” tanya Cindy. “Yang berhak ya orang yang sayang sama kamu,” jawabku dengan bingung. “Kamu gak sayang Man?” tanya Cindy. Mendengar pertanyaan Cindy aku hanya bisa diam, aku bingung harus menjawab apa. Dalam pikiranku, aku takut salah bicara karena ini bukan sedang dalam konteks bercanda. “Kamu pulang aja Man!!!” ucap Cindy dengan marah. “Kenapa?” tanyaku terkejut. “Tidak apa-apa, sudah malam kamu istirahat aja!” jawab Cindy dengan jutek. “Oh.. iyaa..” ucapku sambil berlalu pergi. Aku bingung kenapa Cindy mengusir aku, sebesar apa kesalahan aku sampai dia semarah ini. “Mann.. kamu beneran mau pulang?” ucap Cindy dengan jutek. “Iya kan kamu suruh,” jawabku yang bingung. “Aku menyuruh kamu pulang karena aku khawatir kesehatanmu,” ucap Cindy masih dengan marah. “Iya Cin,” jawabku yang masih bingung. “Kamu gak paham maksud aku?” tanya Cindy tiba-tiba. “Apa?” aku berbalik tanya. “Artinya aku mengkhawatirkanmu!!!” bentak Cindy. “Hahhh..???” aku masih mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh Cindy. “Kalau kamu gak berhak mengkhawatirkan aku, aku yang berhak mengkhawatirkanmu Man!!!” ucap Cindy dengan jengkel. “Heheheh…,” aku baru bisa tersenyum setelah paham apa yang dimaksud oleh Cindy dan Cindy juga membalas senyumku. Apakah itu artinya kami sama-sama sepemikiran?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN