“Hehehe... Bercanda ya Man,” ucap Cindy sambil tertawa.
“Hehehe.. Iya Cind,” jawabku dengan senyum yang mulai berubah.
Lucu sekali cara bercandamu Cindy, membuat mulutku tertawa dan hatiku menangis.
Kalian mungkin tahu rasanya suka dengan seseorang yang memperlakukanmu dengan baik, tapi kalian tidak yakin bahwa kebaikan itu hanya ditujukan untukmu. Bisa saja memang dia bersikap baik ke semua temannya. Ingin sekali nekat mengungkapkan perasaan agar lega tidak ada beban dalam hati, tapi banyak pertimbangan yang menghantui. Aku tidak takut untuk ditolak oleh Cindy, yang membuat aku takut adalah ketika Cindy tahu bahwa aku memiliki harapan khusus dalam pertemanan ini yang membuat Cindy berubah menjauh karena merasa tidak nyaman.
“Man... Mann,” tegur Cindy mengacaukan lamunanku.
“Ohh.. iy... iya Cin,” jawabku dengan kaget.
“Are you oke?” tanya Cindy.
“Haahh apa itu?” jawabku bingung.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Cindy sembari memegang tanganku.
“Iya.. baik aku iya baik banget emang,” jawabku dengan gugup.
Astaga.. Cindy memegang tanganku. Aku benar-benar tidak menyangka. Ada dua masalah besar yang saat ini Cindy lakukan, yang pertama Cindy menggunakan bahasa Inggris, yang mana aku tidak paham bahasa Inggris. Karena saat di sekolah aku lebih akrab dengan bahasa tubuh yang biasa aku gunakan buat contekan bareng temen-temen. Yang kedua Cindy berbicara sambil memegang tanganku, ketika tangan disentuh oleh Cindy rasanya jauh berbeda dengan sentuhan Agus. Tangannya memang sama, tapi perasaan setelah itu yang jauh berbeda, setelah disentuh Cindy hidupku seperti ada manis-manisnya.
Tidak terasa waktu sudah hampir mau malam, tidak ada teman atau saudara Cindy yang datang untuk menjenguk Cindy di rumah sakit. Aku juga dilarang untuk menghubungi orang tuanya, karena Cindy takut orang tuanya khawatir. Meski tinggal di Surabaya tetapi orang tua Cindy lebih sering menghabiskan waktu di Kalimantan untuk keperluan pekerjaan. Jadi Cindy tidak mau kalau sampai orang tuanya jauh-jauh dari Kalimantan untuk menjenguk dia. Cindy benar-benar anak yang mandiri menurutku. Dia bercerita kalau semenjak SD memang dia sering ditinggal orang tuanya di rumah bareng pembantu. Jadi saat ada masalah apa saja selagi dia bisa selesaikan sendiri maka dia akan selesaikan sendiri.
“Man kamu gak jualan?” tanya Cindy tiba-tiba.
“Enggak Cind,” jawabku singkat.
“Libur?” tanya Cindy lagi.
“Iya Cin,” jawabku sambil tersenyum.
“Libur kenapa? Gara-gara jagain aku?” tanya Cindy dengan memelas.
“Enggak kok, emang Pak Sholeh capek jualan terus waktunya libur buat ngitung uang,” jawabku bercanda.
Mendengar jawabanku Cindy tertawa lepas. Kami sering tertawa bersama, mentertawakan sesuatu yang tidak jelas seolah-olah setiap cerita dan obrolan yang kita lakukan itu adalah lucu. Padahal menurut aku sendiri ceritaku tidak ada yang lucu, memang Cindy aja yang memiliki selera humor yang sangat rendah. Bahkan mendengar lelucon sederhanaku dia bisa tertawa sampai menangis. Sedangkan aku tertawa karena merasa bangga bisa melihat dan membuat dia tertawa.
“Permisi..,” suara ketukan pintu terdengar memecah bercanda kami.
“Cindy..?” suara cowok masuk ke dalam ruangan kami.
“Eh.. David,” jawab Cindy mengarah ke cowok itu.
Aku tidak tahu dia siapa, seorang cowok tiba-tiba masuk dan memanggil nama Cindy. Apa mungkin dia pacar Cindy?
“Dav kenalin ini temenku Giman,” ucap Cindy memperkenalkan aku ketemannya.
“Giman,” sahutku sembari menguluran tangan.
“Aku David,” jawabnya sembari menyambut uluran tanganku.
Mereka berdua saling bertegur sapa dan menanyakan kabar, seolah-olah mereka kenal dekat. Aku hanya diam saja menyimak semua obrolan mereka yang terkesan sangat hangat dan seru. Aku tidak berani bertanya atau sekedar menyimpulkan kalau David adalah pacar Cindy, karena selama kenal ini kita jarang atau bahkan tidak pernah membahas masalah pasangan. Apabila dilihat dari penampilanya yang tinggi, putih dan styles tidak salah kalau Cindy memilih dia sebagai pasangan. Di antara obrolan mereka aku merasa menjadi vas bunga, ada dan terlihat tapi tidak terlalu berguna. Aku hanya bisa tersenyum tipis melihat obrolan mereka berdua, setipis harapanku dapetin Cindy.
Aku ingin pamit pulang, tapi aku juga tidak mau kalau Cindy berduaan dengan David di sini. Aku merasa tidak nyaman lama-lama di tempat ini, mata ini pedih sekali melihat mereka sangat akrab, mungkin ini yang dinamakan cemburu buta. Aku tidak tahu David ini siapa tapi aku sudah merasa tersisihkan dengan adanya dia.
“Mmmm.. aku permisi dulu cari makan,” ucapku memotong obrolan mereka.
“Oh.. iya makan dulu Man,” jawab Cindy.
“Kamu mau makan apa? Biar aku belikan di luar,” tanyaku ke Cindy.
“Enggak usah Mas, ini Cindy udah aku bawakan makanan kesukaannya,” jawab David memotong obrolan kami.
“Waahh.. kamu bawa sate Dav,” jawab Cindy dengan senang.
Aku keluar dari ruangan perawatan Cindy dengan bayang-bayang suara ketawa mereka berdua yang terdengar sangat jelas di telinga. Siapa David ini sampai dia tahu makanan kesukaan Cindy, aku tadi juga sempat mendengar David menanyakan kabar orang tua Cindy, yang seolah-olah mereka sangat akrab.
Aku mencoba mencari makan di sekitar rumah sakit yang ternyata cukup banyak dan berjejer aneka warung makan. Aku berusaha berfikir untuk tahu siapa David ini, akhirnya aku mencoba mengubungi Devi.
“Hallo Dev,” ucapku mengawali telephone.
“Iya Man ada apa?” tanya Devi.
“Kamu gak ke rumah sakit?” tanyaku basa-basi.
“Belum bisa Man masih ada kuliah, tapi Cindy baik-baik aja kan?” tanya Devi balik.
“Alhamdullilah sudah mulai baik Dev,” jawabku singkat.
“Bagus deh kalau gitu, besok pagi mungkin aku ke sana,” ucap Devi.
“Dev kenal David gak?” tanyaku ke Devi.
“Enggak tahu, emang siapa dia?” tanya Devi balik yang membuat aku bingung.
“Oh.. enggak apa-apa Cuma tanya aja,” jawabku sembari mengakhiri telephone.
Devi yang dekat dengan Cindy saja tidak tahu siapa David ini, apa jangan-jangan emang David ini pacar Cindy. Hampir 1 jam aku berada di tempat makan. Aku sudah sampaikan ke Cindy kalau butuh bantuan silahkan hubungi tapi nyatanya hampir 1 jam Cindy aku tinggal dia tidak menghubungi. Aku berfikir mungkin David masih ada di sana menemani Cindy. Aku memilih memesan kopi dan duduk lebih lama lagi di warung ini berharap Cindy segera menghubungi.
Aku meninggalkan Cindy dari jam 7 malam sampai sekarang jam 9 malam. Cindy belum memberi kabar apapun. Akhirnya aku memutuskan kembali ke ruang perawatan Cindy, sepanjang lorong rumah sakit banyak sekali orang-orang yang tidur di depan pintu kamar pasien untuk menjaga kerabatnya. Sesampainya di depan ruangan perawatan Cindy aku tidak mendengar suara apapun, mungkin David sudah balik pikirku. Aku masuk ke kamar dan ternyata David masih ada. Mereka sepertinya membicarakan hal yang serius sampai mereka tidak sadar kalau aku sudah datang. Aku memutuskan keluar dari ruangan dan duduk di teras depan kamar Cindy, dengan harapan supaya saat David pulang aku tahu. Aku baru sadar ternyata udara di luar dan di dalam sama-sama dingin, yang membedakan cuma angin.