Penasaran

1158 Kata
Suara berisik orang berlari membangunkan aku dari tidur, aku tidak tahu apa yang terjadi di depanku. Karena dalam setengah sadar aku hanya bisa melihat beberapa orang terlihat panic. Aku mencoba membuka mata sepenuhnya. Tapi malah aku melihat Agus tergeletak tidur di depan mataku. Sepertinya ini masih cukup pagi atau mungkin ini masih malam, aku belum melihat cahaya matahari saat ini. Saat aku mencoba bangun ternyata badanku terselimuti oleh jaket Cindy, mungkin ini yang membuat tidurku begitu nyenyak. Aroma parfum Cindy yang khas membuatku nyaman. Aku mencoba membangunkan Agus yang tertidur di depanku. “Gus bangun Gus,” ucapku sembari menggoyangkan badan Agus. “Hmmm..,” jawab Agus sambil memejamkan mata. Aku tidak tahu sejak kapan makhluk ini berada di sini. Aku mencoba mengingat malam hari aku tertidur mungkin sekitar jam 11 malam dan itu belum ada Agus, hanya ada David. Berarti bisa jadi Agus datang lebih malam dari itu. Setelah aku ingat bahwa aku tertidur gara-gara menunggu David keluar dari ruangan perawatan Cindy. Aku langsung terbangun dan menuju ruangan Cindy. Aku takut kalau David masih ada di dalam ruangan menemani Cindy sampai pagi. Di dalam ruangan aku melihat Cindy masih tertidur. Sungguh beruntung aku tidak melihat David atau bahkan pasien yang di rawat di sebelah Cindy. Aku mencoba melihat jam tangan dan ternyata masih jam 5 pagi. Tidurku cukup nyenyak sampai orang keluar masuk ruangan Cindy saja aku tidak mendengar. Aku bergegas membersihkan badan dan sembari mencari sarapan untuk kami bertiga. “Gus bangun Gus, kamu pindah ke dalam,” ucapku menyuruh Agus. “Hmmmm.. iya Man,” jawab Agus sembari meregangkan badannya. Setelah aku kembali dari kamar mandi dan mencari sarapan, aku tidak lagi melihat Agus di depan ruangan Cindy, mungkin Agus sudah masuk atau mungkin sudah di bawa oleh pamong praja karena dianggap gelandangan. Ketika masuk aku melihat Agus yang tertidur di ranjang sudut dan ada perawat serta dokter yang melihat kondisi Cindy. “Gimana dok perkembanganya?” tanyaku penasaran. “Alhamdullilah cukup baik, sudah ada peningkatan,” jawab dokter. “Kira-kira kapan ya bisa pulang dok?” sahut Cindy dari kasur. “Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang kalau progresnya bagus,” jawab dokter sembari tersenyum. “Pacarnya dimotivasi terus ya mas,” ucap dokter tiba-tiba. “Hahh.. iy.. iya dok,” jawabku dengan kaget. Sungguh mendengar ucapan dokter yang mengganggap aku adalah pacar Cindy seluruh unsur yang ada di dalam tubuh kompak berteriak amiin. Selang beberapa saat kemudian dokter dan perawat berpamitan keluar meninggalkan aku dan Cindy. Agus tidak perlu dihitung karena dia tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatan Cindy. “Ini Cin aku bawakan sarapan buat kamu,” ucapku sembari menyodorkan kresek. “Apa ini Man?” tanya Cindy penasaran. “Makanan kesukaan kamu,” jawabku singkat. “Pecel?” ucap Cindy. “Bukan pecel sih, tapi bubur,” jawabku dengan sungkan karena merasa salah menebak. “Kok kesukaan aku bubur sih Man?” tanya Cindy dengan cemberut. “Tadi pecel Cin, gara-gara kamu sakit aku minta penjualnya buat halusin semua biar kamu mudah makannya,” jawabku mengelak. “Hahahah.. pasti ada aja jawabannya Man.. Man,” ucap Cindy sembari tertawa. Di atas meja perawatan Cindy aku melihat beberapa makanan yang tergeletak, salah satunya adalah sate yang dibawakan oleh David. “Satenya kemarin gak kamu makan Cin?” tanyaku mencari tahu. “Iya rencana kemaren mau aku makan sama kamu, tetapi kamu malah pulang duluan,” jawab Cindy dengan nada jengkel. “Lohh aku gak pulang Cin?” ucapku mencoba menjelaskan. “Terus kamu kemana Man? Kok aku panggil beberapa kali gak ada?” tanya Cindy dengan cemberut. “Aku ketiduran di depan sana Cind,” jawabku sembari menunjuk sebuah tempat. “Kamu lihat David pulang berarti?” tanya Cindy. “Enggak Cind Hhehehe,” jawabku singkat sembari tersenyum. Cindy bercerita bahwa semalam dia ketiduran juga sampai-sampai David pulang dia tidak tahu. Cindy juga tidak keluar dari ruang perawatan. Jadi siapa yang tiba-tiba memberikan jaket Cindy untuk aku jadikan selimut. Apa mungkin Agus? Tapi aku berfikir Agus tidak mungkin seperhatian itu. “Kenapa Man?” tanya Cindy menghilangkan lamunanku. “Oh.. enggak apa-apa Cind,” jawabku dengan gugup. “Jaket aku kok di kamu Man?” tanya Cindy sembari mengambil jaketnya. “Lohh.. aku juga tidak tahu, aku bangun tidur sudah ada jaketmu Cin,” jawabku mencoba menjelaskan. “Owalah iya Man, kemaren aku pinjemin ke David untuk dia bawa pulang. Ternyata malah dititipkan ke kamu ya Man sama David?” tanya Cindy dengan santainya. Aku semakin penasaran dengan pernyataan Cindy yang terkesan sangat dekat dengan David, siapa David ini sebenarnya dan ada hubungan apa dengan Cindy. “Gus.. Gus.. Bangun sudah mau dhuhur” ucapku sembari mencoba membangunkan Agus dari ranjang rumah sakit. Setelah Agus terbangun dia bercerita kalau dia datang ke rumah sakit ini sudah hampir jam 2 malam. Dia memberi tahu bahwa ketika dia datang tidak ada satu orang pun yang menjaga Cindy jadi Agus hanya sebentar saja masuk dan keluar lagi dari ruangan Cindy dengan membawa jaket lalu diberikan jaket itu kebadanku. “Ada apa emang Man?” tanya Agus penasaran. “Semalam ada cowok yang jenguk Cindy lama banget,” jawabku. Siapa?” tanya Agus lagi. “David Man namanya, aku juga belum tahu lebih tentang David.” Jawabku dengan penasaran. Sungguh bayangan aku ini malu, aku berharap ketika aku tertidur semalam yang memberikan selimut adalah Cindy. Karena itu akan menjadi langkah awal aku untuk aku bisa lebih deket lagi dengan Cindy. Ternyata tidak ada sama sekali imajinasiku yang menjadi nyata “Cind aku boleh tanya?” tanyaku sembari melihat dia sarapan. “Iya Man silahkan aja tanya,” jawab Cindy dengan ramah. “David itu siapa ya Cind? Tanyaku lagi dengan sedikit sungkan. “Hmmm siapa ya Man Hhehehe,” jawab Cindy dengan bercanda. “Kenapa emang Man?” tanya Cindy berbalik. “Gak apa-apa kok Cind,” jawabku singkat. “Hayooo kenapa Man?” tanya Cindy sembari menggoda. “Aku takut kalau ternyata David marah tahu aku di sini sama kamu,” jawabku. “Owalah gak apa-apa Man, santai aja” ucap Cindy dengan manisnya. “Pacarkah?” tanyaku lagi mencoba mencari tahu. “Heheheh Man.. Mann.. ada-ada aja, oh iya Man terimakasih ya sudah mau jagain aku di sini,” jawab Cindy dengan senyuman dan memegang tanganku. “Oh.. iy.. iya Cind santai aja” jawabku singkat. “Kamu kalau mau kerja berangkat aja tidak apa-apa Man,” seru Cindy kepadaku. “Gampanglah Cind,” jawabku singkat. “Beneran Man, nanti biar aku hubungi Devi atau David untuk nemenin aku di sini” ucap Cindy dengan mudahnya. “Enggak Cind, aku mau nemenin kamu sampai sembuh,” jawabku dengan semangat setelah tahu kalau David akan disuruh ke sini. Cukup semalam saja David di sini, tidak usah datang lagi dia. Setiap pertanyaan yang aku berikan kepada Cindy, dia tidak pernah menjawab sesuai dengan yang semestinya. Cindy selalu menjawab pertanyaan aku tentang David dengan jawaban yang sebenarnya hanya untuk mengalihkan pertanyaan saja. Jadi siapa David ini sebenarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN