Akhirnya

1349 Kata
Siang ini Cindy tampak lebih segar dari sebelumnya. Senyum manisnya sudah mulai sering terlihat di antara obrolan kita. Meski senyuman dia tetap menggambarkan ada rasa sakit yang masih tertahan. Sudah hampir 2 hari aku belum pulang dan aku juga menggunakan baju yang sama dari awal aku masuk tempat ini. Aku sudah tidak terlalu peduli lagi dengan penampilan saat ini, yang terpenting adalah kesembuhan Cindy. Malam hari Agus tiba-tiba datang ke sini karena diberi tahu oleh Devi kalau aku di rumah sakit menjaga Cindy sendirian, karena saat ini Devi memang sedang cukup sibuk banyak tugas dan harus membantu mengerjakan tugas Cindy yang sedang sakit. Agus datang dengan tujuan menjenguk Cindy dan menemaniku menjaga Cindy supaya aku bisa pulang untuk ganti baju atau sekedar istirahat, tapi aku tidak ingin meninggalkan Cindy di sini dengan siapapun, bahkan dengan Agus teman dekatku. Sebisa mungkin aku akan terus menemani Cindy sampai sembuh, karena mungkin ini adalah kesempatan aku untuk lebih dekat dengan dia. “Man.. ayo cari sarapan,” ajak Agus sembari bangun dari tidurnya. “Sarapan apa? Ini udah siang Gus,” jawabku dengan meledek. “Owalah yaudah ayo makan siang Man,” ajak Agus yang sepertinya kelaparan. Kami keluar menuju parkiran, di sana banyak sekali orang-orang yang berjualan menjajakan dagangan. Di sekitar parkiran juga disediakan banyak tempat duduk, mungkin sekalian dijadikan ruang tunggu karena tempatnya yang rindang terdapat banyak pohon-pohon besar membuat orang bisa sejenak mengistirahatkan hatinya setelah merawat orang sakit. Aku mencoba menanyakan ke Agus tentang kejadian semalam apakah saat dia datang ada cowok yang bersama Cindy, tetapi saat Agus datang sekitar jam 1 malam dia hanya melihat aku saja yang tertidur pulas di lantai depan kamar perawatan Cindy sedangkan di dalam kamar hanya ada Cindy dan 1 pasien lagi yang juga tertidur cukup pulas. Aku mencoba menanyakan tentang siapa yang menyelimuti badanku dengan jaket Cindy, ternyata yang menyelimuti adalah Agus. Dia melihat aku sedang tertidur tanpa jaket atau selimut, melihat aku kedinginan Agus berinisiatif untuk mengambil jaket Cindy yang tergeletak di sudut tempat tidur lalu menutupi badanku dengan jaket itu. Sungguh aku sudah terlanjur kebawa perasaan, aku kira itu adalah bentuk perhatian Cindy kepadaku tapi ternyata bukan. “Kenapa emang Man?” tanya Agus penasaran setelah mendengar ceritaku. “Aku kira itu Cindy Gus yang nyelimuti kemaren,” jawabku dengan sedikit kecewa. “Owalah Man.. Mann.. kasian sekali kamu, cuma aku di sini yang perhatian sama kamu,” ucap Agus meledek. "Haahahah..," sahut kami tertawa bersama. Sungguh menyedihkan emang, aku yang sudah mulai belajar berharap ternyata masih bodoh saja untuk memahami arti harapan. Aku memilih makan di warung dengan Agus supaya kami bisa ngobrol lebih lama, karena aku pikir Cindy mungkin akan tidur siang. Aku berbicara banyak hal dengan Agus dan yang paling banyak adalah tentang hubungan Agus dan Devi. Agus menceritakan pengalamanya menjalani hubungan dengan Devi yang hampir berjalan 4 minggu, ini adalah pertama kalinya dalam 19 tahun Agus hidup merasakan pacaran. Agus menceritkan pengalamannya menjalain hubungan yang sungguh benar-benar semuanya indah tidak ada masalah sama sekali. Agus merasa kalau Devi benar-benar memberikan perhatian yang baik sehingga membuat Agus sangat senang dan merasa nyaman. Sebenarnya aku iri dengan Agus kenapa semudah itu mendapatkan pasangan, padahal saat datang ke Malang dia sama sekali tidak minat tapi sekarang malah Agus yang paling antusias dalam menghadapi keseharian di Malang. Setelah selesai makan siang, aku dan Agus bergegas kembali ke kamar perawatan Cindy sembari membawa beberapa camilan dan minuman untuk Cindy nanti. Di tengah perjalanan di sekitar tempat parkir aku melihat cowok keluar dari mobil, sepertinya itu adalah David. Jarak yang cukup jauh membuat aku tidak berminat untuk menyapa , mungkin karena aku juga takut kalau ternyata salah orang. “Gus itu David yang barusan ceritakan,” ucapku sambil menunjuk. “Yang mana Man namanya David?” tanya Agus. “Yang pakai baju biru dan mobil merah itu,” jawabku sambil menujuk ke arah David. “Wiiiih.. Ganteng Man,” jawab Agus dengan heran. “Iya..,” ucapku singkat. “Wihh mobilnya juga keren Man,” ucap Agus. “Iya Gus,” jawabku dengan lemas. Aku berinisiatif untuk mengawasi David dari belakang, meski aku tahu kalau David ke sini hanya untuk ketemu Cindy. Aku penasaran saja dengan apa yang dia bawa, David masuk ke kamar perawatan Cindy di sana aku melihat David sedang berbicara santai dengan Cindy. Cara mereka berbicara benar-benar menujukkan kedekatan yang lebih dari sekedar teman, itu yang membuat hati ini rasanya seperti bergejolak. Aku tidak mau menyebutnya cemburu, karena percuma cemburu terhadap orang yang tidak tahu perasaanmu. Aku memutuskan duduk di depan bersama Agus, aku tidak berani masuk karena aku takut mengganggu mereka. Aku hanya mencoba mendengarkan dari luar saja mereka bercanda dan tertawa. Hampir 1 jam aku hanya bisa mendengar dan melihat Cindy dan David ngobrol. Pemandangan ini benar-benar menyakitkan dan menyedihkan. Aku memilih untuk kembali ke kos untuk ganti baju atau sekadar mandi. “Gus ayo balik ke kos,” ucapku ke Agus. “Ngapain Man?” tanya Agus dengan wajah bodohnya. “Ganti baju,” jawabku dengan berjalan menjauh ke kamar perawatan Cindy. “Iya Man,” ucap Agus sembari berjalan di belakangku. Sungguh benar-benar menyakitkan, melihat ini semua. Sepanjang jalan aku terus menggerutu dan Agus terus meledek, dia membandingkan aku dengan David yang jauh lebih segalanya dari aku. Dia meledek dengan berkata bahwa David adalah pacar Cindy, sungguh kelakukan Agus kali ini bikin aku jengkel. “Sepertinya pacarnya Cindy ya Man? Cocok banget,” ucap Agus dengan santainya. “Apa sih man,” jawabku sewot. Agus terus menggodaku sepanjang jalan pulang, sesampainya di rumah aku mandi dan ganti baju lalu tidur, berharap saat bangun tidur saya melupakan tentang adanya David diantara hubunganku dengan Cindy. Suara ponselku membangun aku dari tidur yang sangat singkat, mungkin hanya sekitar 10 menit aku tertidur. "Mann.. kamu dimana?" tanya Cindy via telephone. "Mmmm...." jawabku sembari berfikir. "Dimana Man? Kamu gak apa-apa kan?" tanya Cindy dengan penasaran. "Di kos Cind," jawabku dengan singkat, “Loh.. kamu ninggalin aku Man?” tanya Cindy sedikit kesal. "Diiiiaaaa sedang cemburu Cinn," sahut Agus dari belakang, yang mungkin bisa didengar oleh Cindy. "Haahh.. Apa?" tanya Cindy dengan bingung. "Enggak kok Cind," jawabku sedikit kaget. Setelah di hubungi oleh Cindy aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, karena Cindy bilang kalau dia saat ini sendirian di rumah sakit. Tanpa sadar aku tadi pergi tanpa berpamitan ke Cindy, mungkin karena terlalu emosi. "Man tolong balik ya!" ucap Cindy dengan manja. "Iya bentar ya Cind aku siap-siapn dulu," jawabku dengan panik. "Cepet Man aku takut," ucap Cindy masih dengan manja. "Kan ada David?" tanyaku ke Cindy. "Sudah pulang kok Man," jawab Cindy memelas. Aku bergegas menuju rumah sakit, kali ini Agus tidak ikut karena merasa capek. Agus menyuruh aku untuk langsung bertanya kepada Cindy tentang siapa cowok itu, supaya aku juga bisa menentukan keputusan selanjutnya. Aku sedikit terkejut saat Agus menyuruhku seperti. Sungguh menjalin hubungan selama 3 bulan dengan Devi membuat Agus terlihat lebih pintar dan bijaksana. Sesampainya di rumah sakit aku meihat Cindy di depan kamar perawatanya lengkap dengan selang infus yang masih menempel. "Kok keluar, ayo masuk Cind," ucapku membujuk Cindy. "Aku takut tau Man kalau disini sendirian," ucap Cindy memelas. Aku juga merasa takut memang kalau di posisi Cindy, karena memang kamar perawatan Cindy di ujung dan cukup rindang dengan banyak pohon besar disekitarnya. Aku mencoba menanyakan terkait David, kenapa Cindy bisa sangat dekat dengan David. Ternyata David adalah saudara jauh Cindy yang tinggal di Malang. Hanya David saja yang tahu kondisi Cindy, itu juga Cindy sendiri yang menghubungi. Mendengar pernyataan Cindy benar-benar membuat hatiku semakin semangat dan termotivasi untuk semakin dekat dengan Cindy. "David itu saudara jauh dari Ayahku Man yang tinggal di Malang," ucap Cindy menjelaskan. “Alhamdulillah..,” ucapku setelah mendengar cerita Cindy. "Kenapa Man emang? Kamu gak suka sama David?" tanya Cindy ketika aku bertanya tentang David "Suka kok Cind," jawabku dengam gugup. "Loh Man masak kamu suka sama cowok, David udah punya pacar loh Man," ucap Cindy sembari ketawa. "Hahaha.. Bukan begitu Cind," jawabku sembari tertawa. Aku tertawa dengan sangat lepas, merasa telah memperoleh kemenangan. Meskipun sejatinya aku belum merdeka dari perasaan yang terpendam dan mulut yang terbungkam oleh zona pertemanan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN