Terimakasih David

1057 Kata
“Selamat ya mbak Cindy hari ini sudah bisa pulang,” kata dokter setelah memeriksa kondisi Cindy. Tepat di hari ke empat kami diperbolehkan untuk pulang, aku bingung antara senang atau sedih. Aku senang karena Cindy sudah sembuh tapi aku juga sedih karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama lagi dengan Cindy. Cindy mengganti baju dibantu dengan Devi sedangkan aku hanya di luar saja bersama David, kali ini aku tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran David karena aku sudah tahu siapa dia. Aku mulai mengenal beberapa hal tentang David, mulai dari dia yang kuliah di Universitas Brawijaya Malang sampai dia yang kuliah mengambil jurusan managemen bisnis. Ketika tahu kalau David kuliah di Universitas Brawijaya membuat aku langsung teringat akan sosok Sari, aku mencoba menanyakan David sekarang sudah semester berapa dan ternyata sama satu angkatan dengan Sari. David ternyata memang anak yang menyenangkan saat aku ajak ngobrol dia tidak hanya sekedar menjawab lalu diam, tapi David juga tidak ragu untuk bertanya balik sehingga membuat obrolan berasa akrab. Hampir satu jam aku menunggu Cindy dan Devi beres-beres untuk pulang, akhirnya Cindy keluar dari kamar dengan baju parka dan celana hitam. Sungguh dia terlihat sangat cantik meski tanpa make up dan belum mandi selama 3 hari. Aku dan David bergegas mengambil tas Cindy, lalu kami bawa ke tempat parkir untuk dimasukan ke mobil milik David. Kami masuk bersama ke dalam mobil, aku terpaksa ikut kedalam mobil dan meninggalkan motorku di tempat parkir. Aku hanya ingin memastikan kalau Cindy sampai dengan selamat di tempat kosnya. Disepanjang perjalanan kami terus bercanda untuk menambah semangat Cindy, David memiliki banyak cara untuk membuat obrolan kami benar-benar hidup. Aku merasa sepertinya harus banyak belajar bagaimana cara bergaul dengan David yang benar-benar menyenangkan dalam berkomunikasi. "Cin Giman kemaren jaga sampai malam, udah bilang terimakasih belum?” tanya David sembari bercanda. “Iya nih Cin, sampai dibela-belain gak kerja loh demi kamu,” sahut Devi mengikuti. “Terimakasih ya Man,” jawab Cindy dengan malu-malu mengikuti perintah teman-teman. “Heheheh..,” aku hanya bisa tersenyum karena merasa salah tingkah. Kita sampai di kos Cindy dan aku mengantarnya sampai ruang tamu, Cindy dan Devi masuk sedangkan aku dan David hanya di teras menunggu Devi keluar setelah membantu Cindy. Rencananya aku akan menyuruh Agus untuk menjemput, tetapi ternyata David malah menawari kami untuk ikut di dalam mobilnya dan akan mengantar aku dan Devi sampai kos. “Ayo Man aku antar,” ucap David. “Tidak usah Vid nanti ngerepotin,” jawabku menolak. “Halah.. Man santai,” ucap David. Kami bertiga masuk ke dalam mobil dan menuju tempat kos kami yang kebetulan berhadapan. Sepanjang jalan kami terus saling melempar cerita, sampai akhirnya David entah disadari atau tidak dia menceritakan tentang masa lalunya dengan Cindy. David dan Cindy memiliki hubungan sepupu dari nenek, cukup sulit untuk menjelaskan kondisinya. Yang membuat mereka dekat adalah saat mereka berada dalam 1 sekolah di salah satu SMA di Surabaya, tentunya selama 3 tahun bersama pasti banyak sekali ceritanya sampai akhirnya mereka sama-sama kuliah di Malang meskipun berbeda kampus. David menceritakan kalau saat sekolah dulu banyak sekali cowok yang suka dengan Cindy, terlebih teman-teman David. Selain memang memiliki paras yang cantik dan pembawaanya yang ramah, Cindy juga terkenal karena prestasinya yang banyak. Sampai dia bisa kuliah di Universitas Negeri Malang juga karena beasiswa bukan karena biaya pribadi, meskipun orang tuanya cukup kaya tapi Cindy tetap ingin berjuang sendiri. Sampai di bangku kuliah juga Cindy mendapat uang saku dari pemerintah lewat program beasiswa. Masalah asmara kata David dia tidak begitu tahu banyak, karena memang Cindy seperti tidak pernah pacaran. Mungkin hanya sebatas teman, karena sifat dia yang ramah pasti banyak memiliki teman baik cewek atau cowok, tapi David tidak tahu Cindy pernah punya cowok atau tidak. Sungguh mendengar cerita David membuat aku benar-benar merasa beruntung bisa kenal dengan Cindy. Tidak terasa kami sudah sampai di kos, aku menyuruh David untuk mampir tetapi dia sedikit kebingungan untuk memarkir mobilnya. Karena memang jalan di depan kos ini cukup sempit hanya bisa di lewati satu mobil dan motor bersamaan. “Mampir dulu Vid ngopi!,” ucapku ke David. “Enggak deh lain kali aja,” jawab David sambil menoleh kiri-kanan karena bunyi klakson motor dibelakang yang bersautan. “Oh iyaa, terimakasih ya,” ucapku dengan Devi hampir bersamaan. “Man Cindy kemarin cerita tentang kamu,” ucap David sembari berlalu. Menyebalkan juga ternyata David, dia pergi meninggalkan rasa penasaran kira-kira apa yang Cindy ceritakan ke David. Aku melihat Devi masih membuka kunci pagar kos, aku mencoba untuk mencari tahu tentang cerita itu Devi. “Dev Cindy pernah cerita tentang aku ke kamu?” tanyaku sembari berteriak. “Rahasia Man!” jawab Devi sembari masuk kos. Kenapa orang-orang ini sungguh menyebalkan, mereka hanya cukup memberikan kejelasan tentang cerita apa yang Cindy bahas tentang aku. Supaya aku bisa mengambil keputusan untuk hubungan aku dengan Cindy. Ditengah aku berfikir handphone aku berbunyi dan ternyata itu adalah Pak Sholeh. “Assalamuallaikum Pak,” ucapku mengawali. “Wallaikumsallam Man, nanti masuk gak Man?” tanya Pak Sholeh di telephone. “Masuk Pak,” jawabku dengan yakin. Aku lupa kalau harus bekerja kembali, karena selama 3 hari kemaren aku izin 2 hari sedangkan yang 1 hari aku lupa tidak memberi kabar Pak Sholeh. Sore hari aku berangkat untuk berjualan nasi goreng, terhitung mungkin aku hanya istirahat 1 jam saja setelah datang dari rumah sakit. Pak Sholeh bercerita selama beberapa hari aku tidak kerja beliau kewalahan melayani pembeli yang banyak, sampai-sampai dia harus mengajak istrinya untuk membantu dan Pak Sholeh senang sekali saat aku akhirnya bisa masuk lagi. Pak Sholeh juge bercerita kalau kemarin lusa ada cewek cantik yang menanyakan aku. Pak sholeh tidak tahu siapa dia. Pak Sholeh hanya memberi tahu aku bahwa cewek ini cukup cantik dengan kulit putih dan rambut lurus serta diantar menggunakan mobil bagus warna hitam. “Pak anak yang biasa bantu bapak itu namanya siapa ya?” ucap Pak Sholeh menirukan ucapan cewek tersebut. “Namanya Wagiman,” jawab Pak Sholeh. “Kemana ya Wagiman sekarang?” ucap Pak Sholeh menirukan. Setelah bertanya tentang itu semua, cewek ini langsung pamit untuk pulang tanpa ada kata-kata lain, bahkan saat Pak Sholeh menanyakan apakah ada pesan, si cewek ini hanya menggelengkan kepala lalu pergi. Pak Sholeh bilang kalau cewek ini sepertinya bukan langganan nasi gorengnya karena tidak pernah melihat sebelumnya. Siapa ya kira-kira cewek itu, dari cerita Pak Sholeh membuat aku penasaran siapa cewek itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN