Tidur untuk Bermimpi

1115 Kata
Suara telephone membangunkan pagiku. Aku bergegas mengangkatnya dengan mata terpejam. “Man bisa ketemu hari ini?” Ucap Cindy di awal telephone. “Kapan?” tanyaku kaget. “Sekarang ya! Ada yang mau aku omongin,” jawab Cindy dengan gugup. “Iya Cin,” ucapku singkat. Aku bergegas bersiap-siap untuk menuju tempat kos Cindy, sesampainya di tempat kos Cindy aku melihat dia sedang duduk di teras dengan dandan yang sudah siap. Aku membunyikan klakson untuk memberi tanda kehadiran aku, Cindy melihatku lalu berdiri sambil tersenyum. Dia tampak begitu ceria dan semangat, Cindy langsung menghampiri motorku lalu duduk dibelakang dan memegang pinggangku. “Ayo Man kita ke Café biasanya,” ucap Cindy dengan semangat. “Iya Cind,” jawabku singkat. Aku merasa gugup karena baru kali ini saat membonceng Cindy dia memegang pinggangku, kami mulai ngobrol dan tanpa sengaja dagu Cindy menyentuh pundaku. Sungguh momen itu adalah momen yang paling menegangkan. Aku beberapa kali menghela nafas untuk menghilangkan rasar gugup ini, sampai akhirnya kami sampai di café yang kita tujuh. Cindy turun dan langsung menghadap di sebelahku, dengan manjanya dia meminta aku untuk membuka helm yang dia pakai. Aku membuka helm yang Cindy yang pakai dengan tangan gemetar yang tidak bisa terkontrol, aku berfikir apakah ini gejala tremor. Mana mungkin di usiaku yang masih 19 tahun aku sudah tremor. Kami masuk bersama lalu duduk dan memesan menu yang ada di café ini. “Man aku mau ngomong,” ucap Cindy dengan malu-malu. “Ngomong apa Cindy?” tanyaku menanggapi manjannya. “Aku suka sama kamu Man,” jawab Cindy dengan tersenyum. “Aaa.. aa.. apaa Cin?” tanyaku terkejut. “Aku suka sama kamu Man…,” jawab Cindy mengulang. “Haaa.. aku juga aa.. akkuuu juga.. aaa,” ucapku dengan gugup. Aku benar-benar tidak menyangka Cindy bisa ngomong seperti itu, hatiku dia buat terbang melayang oleh ucapan Cindy. Aku ingin menyelesaikan ucapanku ini, aku ingin bilang kalau aku juga suka sama dia. Tapi seolah-olah sangat sulit aku mengucapkan itu, aku ingin teriak sekencang-kencangnya kepada Cindy kalau akau juga sangat suka sama dia. Tapi belum sempat aku mengucapkan kalimat itu tiba-tiba Cindy berdiri lalu menamparku dengan sangat keras. “Wooiii Man kamu kenapa?” tiba-tiba suara Agus terdengar. “Maaannn… bangun Maaann!!!” suara Agus semakin jelas aku dengar. “Istigfar Mann.. istigfar Mann,” teriak Agus yang membuat aku terkejut. Aku membuka mataku dan di depan mataku sudah ada Agus yang memegang pundak aku dengan wajah yang cukup panik. “Kenapa Man?” tanya Agus dengan kaget. “Hahh apanya?” jawabku bingung. “Kamu kenapa melotot sambil megap-megap gitu Man?” tanya Agus menjelaskan. Sejenak aku seperti orang bingung, perasaan aku tadi sedang sama Cindy kenapa tiba-tiba ada disini di depan Agus. Apa yang sebenarnya terjadi? ahhh.. jangan bilang kalau aku tadi hanya mimpi, sungguh itu adalah mimpi yang sangat aku dambakan. Agus benar-benar menyebalkan, seharusnya dia tidak perlu membangunkan aku dari mimpi yang sempurna. Aku menceritakan apa yang aku alami dalam mimpiku ke Agus, tetapi dia malah tertawa terbahak-bahak mendengar mimpiku. Agus berkata bahwa aku jangan hanya bermimpi tapi aku harus bangun dan mewujudkan mimpi. Sungguh benar-benar luar biasa, beberapa hari ini ucapan Agus benar-benar berkwalitas tidak seperti Agus yang aku kenal. Beberapa saat setelah aku menceritakan tentang mimpiku ke Agus, tiba-tiba suara telephoneku berbunyi. Aku segera mengangkatnya dan berharap bahwa itu adalah Cindy, dengan harapan mimpiku akan segera terwujud. Aku melihat layar handphone ternyata itu bukan nomor Cindy dan nomor itu tidak aku kenal, aku jawab untuk memastikan siapa yang menghubungi. “Selamat pagi Bapak Wagiman?” suara cowok yang aku dengar. “Iya Pak,” jawabku singkat. “Bapak bisa datang ke kantor BMI kami besok pagi untuk interview?” tanya bapak-bapak di telephone. “Oh iya Pak baik,” jawabku dengan antusias. Baru kali ini dari beberapa lamaran yang aku kirim ke beberapa perusahaan akhirnya sampai pada tahap interview, aku benar-benar antusias akan itu. Sore hari aku berangkat dengan rutinitas yang sama yaitu berjualan nasi goreng membantu Pak Sholeh dan untungnya hari ini aku pulang lebih cepat karena ramainya pembeli membuat dagangan kami cepat habis, syukurlah aku jadi bisa istirahat lebih awal untuk menyiapkan interview besok. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan saat interview karena memang ini adalah interview pertamaku, aku mencoba bertanya kepada Agus dan sesuai dengan prediksi dia tidak tahu tentang interview karena memang dia juga tidak pernah interview kerja. Agus menyarankan aku untuk bertanya kepada Cindy, itu adalah saran yang cukup bagus. Akhirnya aku mecoba menghubungi Cindy. “Cin.. pernah interview kerja?” tanyaku setelah basa-basi menanyakan kabar. “Pernah saat masuk kuliah,” jawab Cindy. “Hahh.. kuliah pakai interview?” tanyaku seolah tidak percaya. “Ada Man soalnya aku kan progran beasiswa,” jawab Cindy. “Sama enggak seperti interview kerja?” tanyaku mencari tahu. “Mungkin sama ya Man, aku gak pernah kerja soalnya Man,” jawab Cindy sedikit bingung. “Oh gitu ya Cind,” jawabku singkat. “Kenapa emang Man?” tanya Cindy. “Aku dapat panggilan interview kerja Cind,” jawabku menjelaskan. “Waaaahh.. selamat ya Man, semoga lolos dan diterima kerja,” ucap Cindy dengan antusias. Cindy menceritakan bagaimana dia interview saat kuliah, ada beberapa pertanyaan yang harus aku jawab dan beberapa ada latihan soal yang aku selesaikan. Cindy memberikan aku beberapa nasehat untuk menghadapi interview kerja, aku hanya bisa menyimak dan mencatat apa saja yang disampaikan oleh Cindy. Mendengar nasehat dan saran Cindy sepertinya rumit tapi cukup menantang, karena saat aku lihat kantor BMI ini cukup bagus megah pasti sebuah kebanggaan saat aku bisa kerja di sana. Aku berangkat pagi dan menjadi orang pertama yang datang di kantor BMI untuk interview, beberapa orang datang silih berganti sampai akhirnya semua terkumpul. Aku mendapatkan kesempatan menjadi orang yang pertama untuk interview, jujur sangat gugup saat aku melangkah masuk ke ruangan HRD. Di dalam ruangan yang mungkin berukuran 4x5 meter aku menghadap HRD. Di dalam sana aku mendapatkan beberapa pertanyaan dan soal, sampai akhirnya aku mendapat pertanyaan masala gaji. Kata HRD di BMI aku akan diberikan gaji 500 ribu setiap bulan, gaji yang menurutku tidak begitu banyak. Karena saat aku membantu berjualan nasi goreng dengan Pak Sholeh aku bisa membawa pulang uang setiap hari rata-rata 20 sampai 30 ribu ditambah dengan sebungkus nasi goreng yang bila di hitung setiap bulan mungkin gajiku di Pak Sholeh bisa mencapai 800 ribu. Aku cukup dilema saat ternyata gaji yang ditawarkan cukup kecil dan lebih kecil dari pekerjaan aku sekarang, aku mencoba untuk berfikir dengan maksud supaya mendapatkan ilmu baru di sini akhirnya aku mengiyakan gaji dengan nominal itu. Setelah semua tahapan selesai aku berpamitan untuk pulang dan HRD berkata akan menghubungi aku mungkin 2 atau 3 hari apabila aku diterima oleh BMI.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN