Siapa Disana ?

1813 Kata
Ayana memaksa dirinya untuk bangun. Sangat sulit baginya untuk tidur nyenyak sekarang. Hidup sudah tak setenang dulu, sejak dia tanpa sengaja menabrak seorang pria hingga terjatuh. Pertemuan yang tak diharapkan itu, sekarang menyeretnya pada situasi yang bikin kepala pusing. Memang pada saat itu, pria itulah korbannya. Tapi sekarang, yang jadi korban adalah dirinya. Ya, Ayana Dimitri lah korbannya sekarang. Ayana mendapati ibunya tak berada di kamar bersamanya. Ia menoleh ke arah jam dinding. Masih pukul lima pagi, ibunya sudah bangun. Ayana bangkit, berjalan malas mengitari ruangan di lantai atas. Sang ibu tetap juga tak dapat dijumpainya. Ayana akhirnya memutuskan untuk turun. Siapa tahu, ibunya memang sedang berada di bawah. Tapi untuk apa? Ini masih terlalu pagi untuk membuka toko. Samar - samar Ayana mendengar suara dari arah depan. "Bu...." panggilnya pelan. Tak ada jawaban "Bu...apa ibu di depan?" Ayana memanggil kembali ibunya. Masih tak ada jawaban. Tapi suara - suara itu kian jelas. Jantungnya kini berdegup kian kencang. Rasa kantuk yang tadi masih terasa sekarang sudah lenyap, terganti dengan sikap waspada. Ayana mengambil sapu ijuk yang tersandar tak jauh dari pintu belakang. Mencekal gagangnya dengan erat, siap untuk menyerang, sambil berjalan berjingkat agar langkahnya tak di dengar. Matanya membelalak waspada, mendengar dengan seksama suara grasak - grusuk dari arah tempat penyimpanan. Ayana seketika melotot saat melihat semua bunga yang baru dibeli ibunya siang kemarin tampak terserak di lantai. Seperti ada orang yang sengaja melakukan itu. Tapi siapa? Masa ibu sih? Gak mungkinlah, pikir Ayana. "Siapa sih yang serakin bunganya? Apa gak tau kalau bunga ini tuh pesanan orang? Mahal tau harganya." desis Ayana hampir menangis, lalu berjongkok hendak memungut bunga - bunga itu kembali. "Ay...kamu sudah bangun?" Ayana terkejut saat tiba - tiba ibunya memegang pundaknya dari arah belakang. "Ibu...dari mana aja sih? Aku panggil dari tadi kok gak dijawab?" Ayana tampak kesal. Segera dihapusnya air mata yang mulai menumpuk di sudut matanya. "Ibu gak kemana - mana, dari tadi ibu di sini." "Tapi aku gak liat ibu di sini..." "Ibu baru dari gudang. Habis milihin bunga buat di mix untuk kau antar pagi ini," jelas Sophia. Wanita itu lalu berjongkok, memilih beberapa tangkai bunga yang masih berserak di lantai. "Trus ini, kenapa berserakan gini sih bu?" Ayana melotot sebal. "Gak berserakan kok. Ibu hanya letakin di bawah biar gampang," sahutnya. "Tapi nanti bunganya jadi rusak bu! Napa gak di masukin aja sih dalam pot?" Ayana buru - buru ngumpulin semua bunga jadi satu, lalu meletakkannya dalam ember kecil yang di isi air. "Maaf deh...soalnya ibu bingung," "Tempatnya gak cukup." sambungnya lagi. "Ibu kan bisa minta tolong aku," jawab Ayana cepat. "Gimana mau minta tolong, kau saja susah buat dibangunin." Sophia mencebik. " Ya udah, sekarang kau harus tolong ibu. Bunga - bunga itu tidak bisa merangkai dirinya sendiri. Ini harus selesai sebelum jam delapan pagi ini." Katanya saat menyerahkan bunga itu ke tangan Ayana. "Butuh berapa banyak sih bu? Aku lihat kali ini ibu begitu semangat. Ada apa?" Ayana menyipitkan matanya, melirik ibunya dengan curiga. "Hanya lima, tapi harus cantik. Nyonya Kalina mengeluarkan banyak uang untuk ini semua. Dia langganan setia kita, jadi jangan sampai kecewa. Ibu mau semua orang yang melihat bunga kita nanti merasa senang, siapa tau bakal jadi langganan baru kita." Ayana hanya bisa ikut tersenyum saat melihat ibunya bahagia. Ia tau, dulu ibunya jarang tersenyum saat mereka hanya bisa menjual beberapa tangkai bunga dalam seminggu. Ada kalanya saat mereka bahkan tak menjual satupun dalam satu bulan. Saat itu mereka harus hidup seadanya. Itulah sebabnya Ayana memutuskan untuk tak melanjutkan studinya seperti teman - temannya yang lain. Ia harus puas dengan ijazah sekolah menengah atas miliknya dan juga ijazah kursus komputer. ********** Hari sudah terang, sinar mentari menelusup masuk dari balik jeruji atas pintu toko. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Dari arah luar sudah mulai terdengar suara bising orang yang lalu lalang di depan toko mereka. Suara deru knalpot sepeda motor dan mobil mulai menguasai jalan di depan sana. Ayana dan ibunya sudah mulai membereskan sisa bunga ke tempat penyimpanan. Rangkaian buket bunga sudah tersusun di atas meja. Sudah terikat rapi lengkap dengan pita besar yang menghiasi buket itu. Ayana menarik kedua tangannya ke atas, merenggangkan otot - ototnya yang lelah sejak subuh tadi. Mulutnya menguap lebar, matanya sangat lelah setelah tak bisa tidur tadi malam. Ayana melangkah gontai ke lantai atas. Masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur dan juga bantal empuk kesayangannya. Ahh...enaknya, gumamnya. Setelah duduk selama dua jam dan berkutat dengan bunga dan pita. Akhirnya dia bisa istirahat sekarang. Ayana mulai memejamkan matanya, kantuk mulai menguasainya. Sementara Nyonya Sophia masih saja menyibukkan diri. Suara bising dari arah dapur menandai kalau wanita itu tengah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Kepalanya mengintip di balik pintu kulkas yang hanya dibuka setengah, sementara jemarinya memilih bahan-bahan yang ada di dalamnya. Tak banyak yang bisa didapatkannya, sebab kulkas itu memang belum di isi dengan bahan makanan. Hanya ada beberapa butir telur, tomat, dan daun bawang. Juga sebungkus kentang olahan dan nugget di dalam freezer. Wanita itu menarik napas panjang. Dia lupa membeli bahan makanan kemarin, sebab terlalu bersemangat membeli bunga baru. "Huhh...sepertinya pagi ini hanya bisa masak nasi goreng dan omelet telur," desahnya pada diri sendiri. Dengan cepat tangannya mengolah semua bahan itu. Dan segera menyajikannya di meja makan. "Ay...ayo sarapan!" Tak ada jawaban. Sophia memalingkan wajahnya ke arah kamar tidur. "Ay...apa kau sedang tidur?" Sophia nelangkah cepat ke dalam kamar. Dia mendapati putrinya tengah tidur sambil mendengkur pelan. "Ayana, bangun!!" Sophia meneriakinya berharap gadis itu tersadar. "Ayana, kamu sudah terlambat. Sebentar lagi Nyonya Kalina akan datang menjemputmu!" Sopha sengaja menarik lengan Ayana agar gadis itu segera membuka matanya. "Aahh...ibu, aku ngantuk sekali. Ibu saja yang pergi, biar toko aku yang jaga." Sahutnya sambil membekap wajahnya dengan bantal. "Ayana...jangan buat ibu malu. Ayo bangun, mandi trus sarapan. Cepatlah! Ibu mau membuka toko dulu." Sophia beranjak meninggalkan Ayana yang masih manyun di ranjangnya. Pukul tujuh lewat empat puluh menit. Hah, setidaknya aku bisa tidur nyenyak walaupun cuma setengah jam, pikir Ayana. Lalu berjalan malas dengan handuk tersangkut di bahunya. Ayana memutuskan untuk menikmati sarapannya lebih dulu. Kemudian melesat menuju kamar mandi. Waktu yang dia punya hanya tinggal beberapa menit saja, tetapi Ayana tidak terlalu memikirkannya. Baru saja Ayana masuk ke dalam kamar dengan handuk yang melingkar di tubuhnya, saat wajah Nyonya Sophia tiba-tiba muncul dari balik pintu lemari, berhasil membuat Ayana terkejut. Gadis itu merabai dadanya yang masih berdebar hebat. "Ya ampun...ibu!! Apa yang sedang ibu lakukan di situ?" Pekik Ayana sesaat setelah menyadari kalau itu adalah Nyonya Sophia. "Kenapa?" Tanya wanita itu heran. "Ibu membuatku terkejut. Ibu sedang apa di situ?" "Ooh...ini, ibu sedang memilihkan pakaian untuk kau pakai nanti," sahutnya sambil terus memilah kain dalam lemari. "Untuk apa? Aku akan pakai baju yang biasanya aku pakai bu," jawab Ayana merasa keberatan. "Jangan! Kau akan ke kantor Tuan Adhiaksa, jadi kau harus pakai pakaian yang bagus. Jangan buat ibu malu. Nah pakai ini saja," Nyonya Sophia menurunkan sebuah gaun lama berwarna hijau bermotif floral dari hanger dan menyodorkannya ke tangan Ayana. "Ibu apa - apaan sih! Aku bukan mau ke pesta. Aku hanya akan mengantar pesanan bunga mereka. Sudahlah, ibu keluar dulu biar aku bisa memakai baju ku." Katanya sambil mendorong Nyonya Sophia keluar dari kamar. "Baiklah, tapi kau harus berpakaian rapi supaya jangan malu saat kau sampai di sana nanti, Ay." "Iya!" Sahut Ayana cepat lalu menutup pintu. Ayana mengenakan celana jeans panjang berwarna hitam dari rak. Dan sebuah kemeja berlengan panjang berwarna coklat s**u motif kotak - kotak dari sebuah merk fashion terkenal yang tergantung di hanger. Ya, salah satu pakaian terbaik Ayana yang pernah dibelinya di butik Kalina. Sudah pasti menggunakan uang tabungannya. Lalu dengan cepat memakainya. Ayana sengaja melipat bagian lengan bajunya. Ayana hanya memakai bedak tabur di wajahnya supaya tidak kelihatan kusam, dan memoles tipis lipbalm warna pink lembut. Untuk sentuhan akhir, Ayana menyemprotkan parfum di leher dan lengannya. Rambutnya hanya dikuncir ekor kuda. Aku memang cantik, pujinya dalam hati. Tapi itu benar, Ayana memang gadis yang cantik alami. Klakson mobil berbunyi nyaring hingga dua kali. Kalina sengaja menunggu di dalam sedan tunggangannya. Ayana bergegas membawa lima buah buket bunga yang kemudian diletakkan di bangku belakang. Sementara ia sendiri duduk di depan, di samping Kalina yang menyupiri sendiri mobilnya pagi ini. "Selamat pagi Ayana," sapanya ramah. "Selamat pagi juga Nyonya," balasnya dengan senyuman di bibir. "Kita berangkat sekarang. Apa semuanya sudah lengkap? Tidak ada yang tertinggalkan?" Tanyanya memastikan. "Iya Nyonya," sahutnya sambil mengangguk pelan. Mobil itu mulai bergerak perlahan, meninggalkan tempat kediaman Ayana dan juga ibunya yang masih berdiri di depan sambil melambaikan tangan. Kalina mulai menambah kecepatannya saat sudah memasuki jalan raya. Sesaat Ayana menoleh ke arah Kal's Boutique yang baru saja mereka lewati. Tempat itu masih belum buka. Mungkin pegawai Nyonya Kalina baru akan datang pukul sembilan nanti, pikir Ayana. Tetapi lelaki tua yang sering bertegur sapa dengannya itu sudah terlihat di sana. Apakah bapak itu sudah berjaga di sana sejak tadi malam? Apakah dia tidak lelah kalau harus berjaga hingga sore nanti? Ah entahlah, semoga dia baik - baik saja, bisik Ayana dalam hati. "Kenapa Ay, kok melamun?" Kalina menangkap kegelisahan di wajah Ayana. "Oh itu, tadi saya lihat butik masih tutup tapi kok bapak penjaganya sudah ada di sana ya sepagi ini? Apa dia berjaga semalaman? Kasihan banget kalau harus berjaga lagi sampai sore..." desah Ayana. Kalina hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Ayana. "Kau itu polos banget sih, Ay. Saya gak mungkinlah sekejam itu sama pegawai saya. Mana ada orang yang sanggup berjaga semalaman sampai besok sorenya. Jangan khawatir, itu bapaknya baru datang pagi ini kok. Pas butik tutup ya bapaknya juga ikut pulang." Kalina mencoba menjelaskan. "Oooo.... " Ayana mengangguk. "Oya, Ay...kita akan langsung ke kantor papa, jadi kamu harus ingat tempatnya ya. Karna saya hanya akan mengantarmu hari ini aja. Setelah ini, kau akan pergi sendiri ke sana. Kau ngertikan?" "Iya Nyonya," sahutnya dengan satu anggukan pelan. Sementara jantungnya mulai berdegup cepat. Rasanya tidak siap jika harus bertemu dengan pria itu di sana sebentar lagi. Apa yang akan katakannya nanti jika pria itu bertanya padanya? Mungkin pria itu akan mulai mencari masalah lagi dengannya. Atau, pria itu mungkin akan bersikap dingin dan cuek seperti yang biasa dia lakukan saat mereka bertemu di butik Nyonya Kalina tempo hari? Mungkin berpura - pura tidak mengenalnya bukan ide yang buruk, pikir Ayana. Ah entahlah, pikiran Ayana makin kacau. Rasanya menyesal telah menerima tawaran Nyonya Liliana waktu itu. Bagaimana kalau pria dingin itu berniat mempermalukan Ayana nanti? Aduh...Ayana jadi serba salah memikirkan nasib yang masih entah. Ayana memejamkan matanya, menarik napas dalam - dalam dan mulai menata detak jantungnya agar jangan terlihat gugup. "Kita akan tiba sebentar lagi, jadi bersiaplah..." Kalina mengerling padanya dengan senyuman yang terus tersungging di bibirnya. Bola mata Ayana membulat demi mendengar ucapan Kalina. Kali ini dia tak dapar meredam jantungnya yang malah makin menyentak kuat. Ayana harus siap menerima apapun yang akan terjadi padanya nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN