Pagi sekali Tuan Adhiaksa tengah bersiap untuk berangkat ke bandara. Liliana telah menyiapkan segala keperluan suaminya itu. Sementara pak Danang, supir yang setia bekerja padanya delapan tahun ini, sudah menunggu di pintu depan dengan kondisi mesin mobil menyala.
"Berangkat sekarang pa?" Rasya menghampiri Tuan Adhiaksa yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya. Kamu langsung ke kantor saja, tidak perlu mengantar papa."
Lelaki tua itu menarik kopernya menuju pintu depan.
"Papa ingin kamu yang handle rapat direksi hari ini. Juga kontrak dengan klien kita, jangan sampai gagal Ray. Papa percayakan semua sama kamu." Tuan Adhiaksa menepuk bahu putra sulungnya.
"Kalau ada masalah, langsung kabari Rasya." Ucapnya saat memeluk sang ayah, melepas kepergiannya pagi itu.
"Papa tau kalau kamu mampu," katanya sesaat kemudian masuk ke dalam mobil yang segera melaju dengan pesat. Mengejar jadwal penerbangan yang tak mungkin di tunda lagi.
"Kalau begitu, Rasya juga berangkat sekarang ya ma..."
"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Liliana sembari duduk di sofa. "Rasya buru - buru ma. Nanti saja di kantor setelah selesai rapat," sahutnya. Rasya menyambar tas kerja yang tadi diletakkan di sofa ruang tamu.
"Tunggu sebentar..." ujar Liliana mendekati putranya sembari membenarkan posisi dasinya yang belum sempurna.
"Lihatlah, memakai dasi saja belum benar. Kalau kamu sudah menikah, istrimulah yang akan memperhatikanmu. Bukannya mama lagi," kata wanita itu sambil tersenyum.
"Ma...sudahlah! Jangan mulai lagi." Rasya terlihat gelisah. Dia tidak senang jika Liliana membicarakan hal itu lagi.
"Baiklah, sudah selesai." Liliana menepuk pelan stelan jas putranya.
"Aku berangkat." Rasya mengecup kening Liliana lalu pergi dengan mobilnya.
Seperti biasanya, pagi itu Liliana menghabiskan waktunya bersama Putri, cucu semata wayang mereka, di ruang tengah. Gadis kecil itu terus saja mengoceh. Liliana dengan sabar menyuapkan makanan ke mulut kecil Putri.
Tampak empat buah gigi kecil di gusi depannya. Saat ini Putri akan langsung menggigit dengan gemas setiap kali ada benda yang masuk ke dalam mulutnya. Mungkin gusinya sedang gatal, karena masih ada gigi kecil lain yang tampak nongol disana, seperti berebut ingin keluar.
"Mama..." Kalina muncul di belakang Liliana.
"Hai sayang, apa kamu mau berangkat sekarang?"
"Iya ma. Titip Putri ya ma."
"Iya...kamu tenang aja ya."
"ASInya sudah aku siapkan di frezer ya ma, seperti biasa."
Kalina meraih Putri, menggendong gadis kecilnya dalam pelukannya. Pipi tembemnya yang seperti kue bakpao itu sungguh menggemaskan. Kalina meninggalkan bercak lipstik tiap kali mencium pipi gembul gadis kecilnya itu. Anak itu hanya tertawa girang tiap kali Kalina menggodanya.
"Hahh...Andai saja Rasya mau menerima perjodohan waktu itu, pasti sekarang mama sudah tenang. Bisa melihat kalian semua bahagia bersama anak - anak kalian." Liliana menarik napas panjang.
"Sudahlah ma, jangan seperti itu. Mas Rasya memang belum menginginkannya, jadi kita tidak bisa memaksanya."
Kalina meletakkan Putri kembali di kursinya, lalu mengusap lembut punggung Liliana. Dia tahu beban di dalam hati ibu mertuanya itu.
"Rasya sudah dewasa, cukup umur dan sudah mapan. Tapi sampai sekarang belum memiliki istri ataupun pacar. Menurutmu apa ada yang salah dengannya, Kal?"
"Sudahlah ma, jangan berpikiran aneh begitu. Mungkin saat ini mas Rasya hanya ingin fokus pada perusahaan aja. Oiya, sebelum ke butik, Kalina berencana ke toko bunga Ayana."
"Untuk apa?" Liliana mendelik bingung.
"Kan kita udah sepakat supaya Ayana mengantar bunga ke kantor papa." Kalina mencoba mengingatkan.
"Apa harus sekarang? Kan papa sedang keluar kota, Kal?"
"Ya ampun ma, justru bagus kan kalau papa sedang pergi..." Kalina mengerlingkan matanya. Bibirnya tersenyum penuh arti.
"Maksud kamu?"
"Sekarang di kantor hanya ada mas Rasya. Jadi, Ayana pasti akan bertemu langsung dengan mas Rasya, bukannya papa."
"Kalau Rasya tanya, bagaimana?" tanya Liliana. Tampak sedikit kekhawatiran di wajahnya.
"Apa mama sudah bicara sama papa?" Tanya Kalina memastikan.
"Sudah. Tapi mama gak tau kalau rencana itu dimulai hari ini..."
"Itu cuma inisiatif Kalina aja kok ma, kita bisa manfaatin saat ini untuk membuat mereka bertemu di kantor," jelasnya.
"Setelah itu bagaimana?" Liliana penasaran rencana apa yang sedang dipikirkan menantunya.
"Kalina akan ketemu sama Ayana hari ini. Kalina akan minta Ayana mengirim bunga ke kantor papa mulai besok. Jadi kita masih punya waktu sampai malam ini, untuk memberitahu papa tentang rencana kita. Jadi, papa bisa langsung kasih kabar ke mas Rasya sebelum mas Rasya tanya tentang pengiriman buket itu. Menurut mama gimana?" Kalina berharap Liliana menyetujuinya.
"Ya udah, mama setuju sama kamu." Kedua wanita itu pun tertawa bersama. Putri yang melihat mereka pun ikut tertawa kencang, seakan mengerti apa yang mereka tengah bicarakan.
**********
Pukul tujuh pagi ini_
"Ayo bangun...udah pagi. Kau jangan sering bangun kesiangan, nanti rejeki keburu dipatok ayam, Ay..."
Pukul delapan pagi ini_
"Bangun Ay...ayo bantu ibu buka toko."
Pukul sembilan pagi_
"Ayana...cepetan bangun. Bantu ibu jaga toko dulu di bawah, ibu mau masak."
Sudah pukul sembilan lewat tiga puluh menit_
"Ya ampun, Ay...masih belum bangun juga. Ayo sarapan..."
Dan sekarang sudah hampir pukul sepuluh pagi menjelang siang. Masih dihari yang sama_
"Ayana Dimitri, ayo bangun sudah siang..." Sophia mengguncang kuat tubuh Ayana yang masih tertidur lelap. Matanya begitu sulit untuk dibuka, seperti ada lem yang dioles di kelopak matanya.
"Ay...ayo bangun, sekarang hampir pukul sepuluh. Hari ini kau harus mengantar bunga ke butik Nyonya Kalina." Ibunya berkata dengan nada kuat sambil terus mengguncang tubuh mungil Ayana.
Ayana langsung tersadar, ya sebenarnya masih separoh sadar sih, saat nama itu disebutkan. Dengan kelopak mata yang masih terbuka separoh, gadis itu melompat dari kasurnya, mencari handuk dan lari ke kamar mandi.
Sophia segera beranjak turun ke lantai bawah. Menyiapkan buket bunga yang akan dibawa Ayana ke butik. Jika menunggu Ayana turun baru mengerjakannya, maka akan terlambat dikirim. Nyonya Kalina pasti akan marah nanti.
"Ibu...kenapa baru bangunkan aku sih?" Ayana teriak dari tangga di dekat lantai bawah.
Dengan baju kaos longgar yang dipuntir di bagian pinggangnya, celana pendek dan juga sepatu butut andalannya, Ayana turun menemui Sophia yang tengah merangkai bunga. Kali ini rambutnya sengaja digerai karena masih basah. Sementara wajahnya dibiarkan polos tanpa sapuan bedak. Meskipun begitu, Ayana tetap terlihat cantik. Mungkin sudah bawaan orok kali ya.
"Ibu sudah bangunkan kau dari pukul tujuh pagi tadi. Jadi jangan salahkan ibu," sahutnya sedikit kesal.
"Iya, tapi kan ibu bisa bangunkan aku lagi kalau tau aku belum bangun." Ayana memonyongkan bibirnya.
"Ibu sudah bagunkan sampai beberapa kali, sampai kaki ibu pegal harus naik turun tangga terus. Lagian kenapa sih, susah banget bangunnya? Apa kau tidak tidur tadi malam?"
Ayana menarik kursi dan duduk di seberang ibunya. Tangannya ikut merapikan rangkaian buket bunga.
"Aku tidur kok...tapi lewat tengah malam." Ayana memelankan suaranya.
"Kenapa? Apa yang kau lakukan tadi malam?" Sophia meliriknya dengan sorot mata tajam.
"Ah..gak ada. Cuma gak bisa tidur aja. Perasaan ku cuma agak aneh dari semalam."
Ayana gak mungkin cerita kalau ia ragu untuk nganterin pesanan bunga Adhiaksa. Bukan ragu karena takut tidak dibayar. Tapi ragu karena saat itu ia pasti ketemu lagi sama cowok nyebelin itu. Cowok dingin, kasar, dan gak punya empati sama cewek lemah seperti Ayana.
"Huh...gak habis pikir, kenapa aku harus terjebak dengan situasi seperti ini," sungut Ayana jauh di dalam hati.
"Ya sudah, gak usah dipikirkan. Kau harus cepat pergi, Nyonya Kalina pasti sudah menunggumu." Katanya sambil menyerahkan buket bunga ke dalam pelukan Ayana.
"Iya, aku berangkat ya bu..." Ayana bangkit dan segera berlari ke luar toko.
"Ay...." panggil Sophia.
"Ya bu," Ayana menoleh ke belakang.
"Cepat pergi, cepat kembali ya...kau belum sempat sarapan tadi. Hati - hati di jalan." Katanya mengingatkan Ayana.
"Baik bu..." Ayana mengangkat jempol tangannya sambil tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya.
Gadis itu segera berlari menjauh, menghilang di antara lalu lalang kendaraan di persimpangan depan. Setiap hari ia melalui jalan yang sama dengan cara berlarian. Ayana harus melakukan itu, mereka tak memiliki kendaraan apapun, termasuk sepeda butut, untuk membantu Ayana mengantarkan pesanan bunga.
Ayana dan ibunya sepertinya harus sedikit bersabar. Jika nanti usaha mereka semakin ramai, mau tak mau mereka pasti membelinya. Apa lagi sekarang sudah ada yang mengajak mereka untuk bekerja sama. Walaupun kecil, tapi harapan itu sudah tumbuh di hati Ayana dan ibunya.
**********
Sebuah mobil sedan berhenti di depan toko bunga Dimitri. Nyonya Sophia beringsut maju untuk melihat siapa yang datang. Sampai saat seorang wanita turun dari balik kemudi, dengan gaun di atas lutut dan high heel warna senada, serta kacamata hitam yang disematkan di atas kepalanya.
"Nyonya Kalina..." Sophia menyambutnya dengan senyum.
"Nyonya Sophia, saya hanya mampir sebentar. Apakah Ayana ada?"
"Oh...dia baru saja pergi ke butik untuk mengantar bunga. Saya minta maaf karena hari ini dia telat mengantarkan bunga - bunga itu." Sophia menunduk berulang kali.
"Ah tidak apa - apa. Saya ke sini bukan karena itu.. " sahutnya cepat. Ia tak enak hati melihat Nyonya Sophia melakukan itu padanya.
"Lalu...apa ada urusan lain?" Sophia menegakkan tubuhnya dan memandang Kalina. Sebelum terjadi kesalahpahaman lain, sebaiknya dia segera mengatakannya.
"Tentang permintaan pengiriman bunga ke kantor Tuan Adhiaksa. Saya ingin Ayana mengantarnya mulai besok."
"Mulai besok?" Sophia mengerjapkan mata. Mungkin salah dengar, pikirnya.
"Iya bu. Mulai besok saja, dikirim dua hari sekali ya bu, kecuali hari minggu."
Kalina lalu mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat, berisi tumpukan uang kertas ratusan ribu.
"Maaf bu Sophia, ini uangnya. Saya berikan sekarang untuk satu bulan ke depan ya bu. Ini untuk pengiriman tiga buah buket ke kantor papa dan dua buah buket yang dikirim ke rumah. Sesuaikan aja dengan jumlah uangnya," lanjutnya.
Sebentar saja amplop itu sudah berpindah ke tangan Nyonya Sophia.
"Trus, bunganya harus dikirim kemana ya? Apa Ayana sudah tau tempatnya?" Tanyanya gugup.
Sophia masih merasai keterkejutannya. Mulutnya sedikit bergetar saat ini, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Oiya...besok pagi pukul sembilan, saya akan menjemput Ayana dan mengantarnya langsung ke kantor papa, juga ke rumah." Kalina tersenyum lebar. Begitu semangat saat membayangkan Rasya akan sering bertemu dengan Ayana.
"Ooh..," Sophia menganggukkan kepalanya.
"Oiya, hampir saja lupa. Gimana dengan bunganya? Bunga apa yang ingin dipesan?" Tanya Sophia kemudian.
Karena begitu senang, ia hampir melupakan hal yang paling penting.
"Kalau itu, terserah ibu saja gimana bagusnya. Bunga mawar di mix juga bagus. Ibu atur aja gimana yang cocok untuk di kantor dan yang cocok untuk mempercantik rumah."
"Baiklah..." Sophia mengulas senyumnya sebab Kalina begitu mempercayainya.
"Kalau begitu saya permisi ya bu, saya masih ada pekerjaan lain." Seusai mengatakan itu, Kalina kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Sophia.
Nyonya Sophia baru saja membalikkan tubuhnya hendak kembali ke dalam toko. Tak melihat Ayana yang berjalan berjingkat di belakangnya.
Gadis itu, pasti ingin berulah lagi. Lalu tiba - tiba menepuk pundak ibunya sambil berteriak.
"Ibu..!!" Ayana tertawa terbahak - bahak.
Sophia nyaris melompat sebab terkejut. Amplop coklat di tangannya hampir terlepas.
"Ayana!!! Dasar anak nakal. Jangan seperti itu." Sophia mencubit lengan putrinya yang masih terpingkal.
"Auw!! Maaf bu..." Ayana memeluk ibunya. Meredakan emosi Sophia karena ulahnya tadi.
"Ibu dari mana tadi?" Tanya Ayana saat mereka berjalan masuk.
"Ibu habis bertemu Nyonya Kalina di depan toko," sahutnya.
Wanita itu duduk lalu meletakkan amplop coklat di atas meja.
"Apa ini, bu?" Ayana menatap benda itu. Cukup penasaran untuk bertanya kenapa ibunya membawa amplop itu.
"Ini uang dari Nyonya Kalina," kata Sophia menjelaskan.
"Uang? Uang untuk apa bu? Ini banyak banget loh," Ayana merabai amplop itu.
"Untuk pembayaran buket bunga selama satu bulan ke depan."
"Hah? Satu bulan?" Ayana mengulangi perkataan ibunya.
"Iya. Mulai besok kamu akan mengirim bunga ke kantor Pak Adhiaksa dan juga ke rumah mereka. Dua hari sekali, kecuali hari minggu," Nyonya Sophia mengatakan kembali apa yang didengarnya dari Kalina.
"Oiya, bsk pagi kau akan dijemput oleh Nyonya Kalina. Dia sendiri yang akan mengantarkanmu ke sana," sambung Sophia lagi.
"Hah? Mati aku..." rutuk Ayana dalam hati. Dia memejamkan matanya. Menghembuskan napasnya kuat - kuat, seperti orang yang lagi kekurangan oksigen.
"Kau kenapa lagi, Ay?" tanya Sophia heran.
"Ah.. gak apa-apa bu. Cuma kaget aja." Ayana memaksakan senyumnya.
"Ya sudah, ibu harus pergi sekarang. Kau jangan kemana - mana lagi, jangan lupa makan. Kau itu harus banyak makan, badanmu itu terlalu kecil untuk gadis dewasa seumuranmu."
Ayana mencebik kesal, raut wajahnya berubah cemberut.
Sophia membawa amplop itu naik ke lantai dua.
"Ibu mau kemana sih?" Teriak Ayana kuat dari lantai bawah.
"Mau belanja bunga, stok bunga kita tidak cukup buat dikirim ke sana besok."
"Tapi bu, bunga kita kan masih banyak..." Ayana coba menahan ibunya.
"Iya, tapi ibu mau beli bunga yang baru, masih fresh, biar mereka suka sama bunga kita." Sahut Sophia dari atas.
"Apaan sih ibu. Padahal bunga yang ini juga masih bagus, masih fresh.." Ayana ngedumel sendiri.
Tak lama, Sophia turun sudah dalam keadaan rapi sambil menyandang tas kecil.
"Kau jaga toko yang benar ya. Ibu pergi sekarang, jangan lupa makan."
Sophia melenggang meninggalkan Ayana yang masih tertegun menatapnya hingga menghilang di balik keramaian orang di jalan.