"Ay... ayo bangun, sayang. Sudah pagi," kata Sophia. Tangannya mengusap wajah Ayana dengan lembut, merasa iba pada Ayana karena tidak bisa tidur dengan tenang. Sepanjang malam Ayana merasa gelisah, bahkan gadis itu sampai mengigau dalam tidurnya. Sophia harus terjaga dari tidurnya. Baru kali ini Sophia melihat putrinya sampai seperti itu. Anak gadisnya bahkan membawa kesedihannya di dalam tidurnya. Hal itu membuat Sophia semakin iba. Rasanya tidak tega jika harus memaksa Ayana untuk tetap berada di sisi Rasya, sementara hati Ayana menolak keberadaan pria itu di dekatnya. "Ayana... ayo bangun, nak." Ayana menggeliat gelisah. Perlahan dia membuka mata, meskipun tubuhnya masih bergelung di dalam selimut. "Ay, ayo bangun. Bukankah hari ini kau harus bekerja?" kata Sophia dengan hati - hat

