Tuan ? : Kepanikan Ayana

1577 Kata
"Kenapa kau lama sekali?" Seorang wanita menyambut Ayana di depan toko bunga, sambil tangannya merapikan pajangan bunga di bagian depan toko mereka. "Ah...iya, maaf bu..." Ayana memeluk ibunya. "Apa yang kau bawa itu?" Tanyanya, matanya melirik bungkusan di tangan Ayana. "Oh, ini pemberian dari Nyonya Kalina." Ayana menunjukkan bungkusan itu pada ibunya. "Siapa itu? Ibu sepertinya pernah mendengar nama itu. Tapi dimana ya?" "Tentu saja, ibu mengenalnya. Dia langganan toko bunga kita. Nyonya itu pemilik Kal's Boutique, toko besar yang ada di depan sana bu.." Ayana menujuk ke arah jalan besar menuju tempat itu. "Ooo....iya ibu ingat. Dia wanita yang sangat baik." Nyonya Sophia menerawang jauh, mengingat semua kebaikan dari wanita kaya itu. "Ya, ibu benar..." sahut Ayana. "Lalu, apa yang kau bawa itu?" Nyonya Sophia merasa penasaran dengan benda yang tadi dibawa anak gadisnya. "Aku juga tidak tahu, bu." "Ayo masuk, aku akan menunjukkannya pada ibu." Ayana menarik lengan ibunya. Menuntun wanita itu berjalan ke bagian dalam toko mereka, yang setengah bagiannya mereka pakai sebagai tempat tinggal mereka. Toko mereka memiliki dua lantai. Lantai dua digunakan sebagai tempat tinggal mereka. Ada sebuah kamar tidur, kamar mandi, ruang tv, dan dapur. Sementara di lantai bawah, seluruhnya digunakan sebagai tempat usaha mereka. Ayana dan Nyonya Sophia hanya tinggal berdua saja di tempat itu. Ibunya tak pernah berniat untuk menikah lagi, dia hanya ingin fokus membesarkan Ayana. Karena itu, Ayana sangat menyayangi wanita itu dan tak ingin mengecewakan hatinya. Ayana nyaris tak pernah berbohong, atau menyimpan suatu rahasia dari sang ibu. "Apa saja isinya?" Tanya sang ibu tak sabar. Ayana membuka bungkusan itu satu persatu. Ada sebuah gaun berwarna gading yang tadi telah dicobanya. Baju itu sangat bagus, Ayana sendiri sering meliriknya setiap kali mengantar buket bunga ke tempat itu. Tapi dia malu untuk menanyakan harganya. Lalu ada sepasang sepatu berwarna coklat yang heelnya tidak terlalu tinggi. Dan sebuah tas tangan branded berwarna senada dengan desain tali disalah satu sisinya. Ayana begitu menyukainya, sangat simpel dan cantik. "Pasti ini sangat mahal..." gumam Nyonya Sophia. "Kenapa bu?" Ayana heran melihat ekspresi ibunya yang terkejut melihat putrinya menerima barang itu. "Untuk apa Nyonya itu memberikan barang - barang ini padamu?" "Mm...Nyonya Kalina mengundang ku untuk makan malam bersama keluarga mereka. Sepertinya mereka juga mengundang orang lain, bu." "Makan malam?" Tanya ibunya heran. "Nyonya itu bilang, hari ini adalah Wedding Anniversary mertuanya. Dan mereka mengadakan jamuan makan malam bersama." "Oh...kalau begitu kau harus istirahat agar nanti bisa bersiap - siap. Biar toko ibu saja yang urus," wanita itu mendorong tubuh putrinya agar segera naik ke lantai dua. "Baiklah bu. Apa ibu sudah makan?" Tanya Ayana cemas. "Sudah. Ibu sudah menyiapkan makananmu di dapur. Makanlah yang banyak. Tubuhmu butuh banyak nutrisi untuk tumbuh, kau terlalu kurus Ayana..." sahut ibunya dari bawah. "Baiklah." Ayana tertawa mendengar perkataan sang ibu. Jam dinding berdetak pelan mengikuti irama detik jarum jam. Detik berganti menit. Jarum panjang itu terus berputar mengitari angka - angka yang tercetak diatasnya. Semakin dekat waktunya, Ayana semakin gugup. Dia ragu untuk pergi, tapi dia juga merasa tak enak hati dengan Nyonya Kalina yang sudah memberinya barang - barang itu. Dia tak ingin mengecewakan wanita baik hati itu. "Ayana..." suara ibu memanggil dari tangga bawah. Wanita itu berjalan naik ke lantai atas. Matanya mengitari ruangan lantai atas yang sebenarnya tidak begitu luas. "Dimana anak itu..." gumamnya. "Kau sedang apa?" Tanya Nyonya Sophia saat melihat Ayana masih tiduran. "Ibu...aku bingung. Apa aku harus pergi?" "Kau harus pergi. Jangan mengecewakan Nyonya Kalina. Dia sudah baik memberikan barang mahal itu untukmu." "Tapi...aku pasti sangat malu berada disana, bu. Tamu - tamu mereka pastilah orang kaya. Trus...aku harus jawab apa jika mereka bertanya nanti?" Ayana menegakkan duduknya di samping ibunya. "Kau bisa jujur pada mereka. Jangan malu, setidaknya mereka akan jadi pembeli baru kita nanti." Nyonya Sophia mencoba memberi semangat pada putrinya. "Apa ibu yakin? Mereka pasti mengejek kita..." Ayana menghembuskan nafasnya berat. Tiba - tiba saja dia jadi rendah diri, memikirkan bakal dikelilingi orang-orang berduit disana. "Setidaknya kau sudah memenuhi janjimu pada Nyonya Kalina. Cepatlah bersiap. Mungkin sebentar lagi orang yang menjemputmu akan datang. Ibu menunggumu di bawah." Wanita itu bangkit, lalu berjalan turun menyusuri anak tangga dengan perlahan. Ayuna berdiri, meraih handuk dan berlari ke kamar mandi. Dia harus cepat. Dibersihkannya seluruh tubuh dengan sabun. Mengeramas rambut panjang bergelombangnya secepat mungkin. Menyikat giginya yang berbaris rapi, lalu berkumur dengan larutan penyegar nafas. Handuk membelit tubuhnya saat dia berjalan ke arah kamar tidur. Lemari pakaiannya ada di dalam sana. Dia tak memperdulikan hal itu, karena tak ada orang lain disana yang akan melihatnya seperti itu. Hanya ada dia dan ibunya saja. Ayana sudah biasa mondar - mandir hanya dengan mengenakan handuk. Dia melepaskan handuk itu dari tubuhnya. Memakai pakaiannya, gaun berwarna gading itu tentunya. Memoles wajahnya dengan bedak dan perona pipi merah muda. Menorehkan lipstik warna senada di bibir mungilnya. Dan membubuhkan eyeshadow setipis mungkin pada kelopak matanya. Lalu untuk sentuhan akhir, Ayana menyemprotkan sedikit parfum pada bagian leher serta pergelangan tangannya Rambutnya segera disisir rapi seperti biasanya. Tetapi malam ini, Ayana sengaja menggerai rambut panjangnya. Gadis itu hanya memberi sebuah penjepit rambut berhiaskan manik - manik yang berkilauan diterpa sinar lampu, disatu sisi kepalanya.. Diambilnya tas tangan dan sepatu dari dalam bungkusan tadi. Lalu berjalan perlahan menuruni anak tangga. Jika tak hati - hati, dia bisa saja terjatuh. Karena tak biasa memakai high heel. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan toko mereka. Seorang pria berumur turun dari balik kemudi. Memakai seragam lengkap dengan topinya. Pria itu segera membukakan pintu belakang untuk Ayana. "Aku berangkat bu, doakan aku ya..." Gadis itu memeluk ibunya dan segera masuk ke dalam mobil. "Semoga malammu menyenangkan." Nyonya Sophia berseru sambil melambaikan tangannya. Mobil melaju, berbelok ke arah jalanan kota besar. Meninggalkan Nyonya Sophia yang masih terpaku menyaksikan peristiwa yang terjadi dihadapannya malam itu, yang mungkin terjadi sekali seumur hidup mereka. Anak gadisnya seperti cinderella di dalam cerita dongeng anak - anak, yang dulu sering di ceritakannya saat Ayana masih kecil dulu. Ayana tampak gugup. Gadis itu merasa gelisah, tidak bisa duduk dengan tenang selama di perjalanan. Sesekali kepalanya memutar ke arah jendela mobil. Memandangi kendaraan yang lalu lalang di sekitar mereka, sambil melihat - lihat deretan bangunan yang menjulang tinggi yang baru saja mereka lewati. Pak supir hanya memandangi gadis itu dari spion depan. "Ada apa nak?" Pak supir membuka percakapan, memecahkan keheningan mereka. "Ah..tidak apa-apa, pak." Ayana tersenyum, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya. "Kita pergi kemana, pak?" Tanya Ayana ingin tahu. "Ke hotel.." jawabnya singkat. Deg..deg..deg... Jantung Ayana serasa melompat dari tempatnya, lalu merosot turun hingga ke rongga perut. Wajahnya menjadi pucat. Dan mulai merasa takut, tepatnya. Untuk apa Nyonya Kalina mengundangnya ke hotel malam ini? Apa sebenarnya yang direncanakan wanita itu padanya? Sehingga dia memberi Ayana barang-barang mahal begitu saja? Apa mungkin wanita baik itu sedang merencanakan hal gila untuknya? Ayana memijat kepalanya yang mulai terasa pusing. Dia tak bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya. Yang pasti, mobil itu terus melaju dan sang supir akan mengantarkannya ke tempat itu. Pak sopir terus saja memperhatikan Ayana dari spionnya. "Apakah tempatnya masih jauh, pak?" Tanya Ayana. Kali ini dia sudah pasrah. Mungkin ia akan memikirkan cara untuk lari setelah sampai disana. "Sebentar lagi kita akan sampai. Hanya perlu memutar di persimpangan depan sana." "Oh...Bagaimana dengan keluarga Nyonya Kalina?" "Mereka sudah sampai disana dan sedang menunggu kedatangan nak Ayana," jawab pria tua itu ramah. "Oh ya?" Ayana sudah mulai sedikit merasa tenang. Setidaknya dia tidak sendirian disana. Ada Nyonya Kalina yang akan menemaninya, meskipun belum tau apa yang sedang menunggunya disana sekarang ini. Kring...kring... Suara dering ponsel. Pak supir menghentikan laju mobilnya. "Ya hallo," sahutnya pada si penelpon. "Kami akan segera sampai, tuan..." jawabnya pada orang itu. Ayana mendelik karena terkejut. Tuan? Apa maksudnya? Siapa yang dipanggilnya tuan? Apakah itu suami Nyonya Kalina? Atau, seseorang yang memang sedang menunggu kedatangannya di hotel itu? Ahh...kepala Ayana semakin pusing. Sakit kepalanya bertambah parah. Pertanyaan sebelumnya masih belum terjawab. Sekarang malah harus bertambah lagi dengan teka-teki baru. Sosok tuan itu benar - benar membuatnya sakit kepala. Sebenarnya sakit kepalanya juga dikarenakan perut Ayana yang mulai merasa lapar. Gadis itu merebahkan kepalanya pada sandaran kursi belakang. Memejamkan matanya karena sudah tak ada tenaga untuk dipakai berpikir. Perutnya sudah mulai merasa lapar sekarang. Mobil mulai bergerak maju kembali, menyusuri jalan yang begitu sesak dengan beragam kendaraan yang sedang lalu lalang. Tepat seperti yang dikatakan sang supir tadi padanya, mobil itu mulai bergerak memutar. Ayana dapat merasakannya meskipun matanya sedang terpejam. Sebab tubuhnya bergerak mengikuti alur putaran mobil yang sedang ia naiki. Tak lama, mobil itu pun berhenti bergerak. Mesinnya dimatikan, lalu terdengar suara pintu tertutup. Ayana membuka matanya. Melihat sang supir sudah tak berada ditempatnya semula. Buru - buru gadis itu membuka pintu dan keluar dari mobil sedan yang ia tumpangi. Pak supir sudah berdiri tepat di samping Ayana. Mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Ayana hanya berdiri terkagum - kagum melihat bangunan yang berdiri kokoh tepat di hadapan mereka saat ini. Supir tua itu ternyata tidak berbohong padanya. Tempat yang mereka tuju itu memanglah sebuah hotel. Tapi untuk apa? Ayana masih bingung. Sejauh ini, dia belum menemukan jawaban apapun dari pertanyaan yang menumpuk di otaknya saat ini. "Silahkan masuk. Kita sudah ditunggu di dalam," sang supir membuyarkan lamunan Ayana. Ayana mengikuti supir tua itu masuk ke dalam. Dia hanya mengantar Ayana sampai di loby hotel. "Tunggu di sini, sebentar lagi akan ada orang yang menjemput. Saya permisi dulu." Setelah mengatakan hal itu, sang supir undur diri dan segera keluar dari hotel menuju mobil yang mereka naiki tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN