Keluarga Adhiaksa

1935 Kata
"Selamat malam.  Dengan nona Ayana?" Seorang wanita muda mendekati Ayana dan menunduk hormat. "Ya, itu saya..." jawab Ayana. Situasi ini benar - benar aneh buatnya. "Nona Ayana sudah ditunggu di Ballroom Hotel, oleh keluarga Tuan Adhiaksa." Wanita itu menjelaskan padanya lalu berjalan mendahului Ayana. "Baiklah...." Ayana mengikutinya dari belakang. Matanya tak berhenti memandang tempat itu. Ia mengedarkan pandangannya, berdecak kagum pada kemewahan yang tampak di depan matanya. Lampu - lampu hias yang tergantung di tengah area loby begitu berkilauan. Begitu juga lampu - lampu hias lain yang ukurannya lebih kecil, sangat cantik. Juga beberapa buah koleksi lukisan yang tergantung di dinding ikut menghiasi interior hotel. "Silahkan masuk, nona sudah ditunggu di dalam." Kata wanita muda itu, yang Ayana yakin adalah seorang staff hotel, saat mereka sampai di depan sebuah ruangan yang sangat luas. "Ah, iya." Ayana mengangguk pelan.  Wanita tadi meninggalkan Ayana sendirian di sana. Mungkin dia masih punya pekerjaan lain yang masih harus dikerjakan, pikir Ayana. Kali ini, Ayana tak dapat menyembunyikan rasa gugupnya. Tangannya mulai terasa dingin. Entah bagaimana ekspresi wajahnya sekarang. Ia membuka tas tangannya. Mengambil sebuah cermin dari dalamnya, yang sudah dipersiapkannya sejak dari rumah. Gadis itu memperhatikan wajahnya. Masih sama. Polesan bedaknya belum luntur. Sempurna. Disimpannya kembali cermin kecil itu. Lalu melirik pakaiannya, masih sama seperti tadi, hanya ada sedikit kerutan di bagian depan. Mungkin timbul saat dia duduk tadi, pikirnya. Ayana menarik nafasnya dalam - dalam. Jantung semakin berdegup kencang. Memegang handle pintu hendak membukanya, sambil memejamkan matanya. Saat pintu sudah terbuka.. Bruukkk....... Ya ampun, ada yang jatuh. Ayana pasti menabrak sesuatu tadi, sebab keningnya terasa sakit. Buru - buru Ayana membuka matanya, memastikan benda apa yang telah membuat keningnya terasa sakit. "Hahh....." mata Ayana terbelalak, tangannya menutup mulutnya yang sedikit menganga karena terkejut. "Apa yang kau lakukan, hah!!" Seorang pria terlihat sedang terduduk di lantai, membentak Ayana dengan keras. "Mati aku..." rutuk Ayana dalam hati. Baru saja ingin meminta maaf padanya, pria itu kembali membentaknya. "Aku tidak sengaja. Aku mi...." "Apa? Tidak sengaja?" Potongnya. "Tapi, aku....." "Tapi apa, hah? Apa kau tidak punya mata? Apa aku ini tidak kelihatan di matamu?" Wajah Ayana memerah menahan rasa malu, baru sampai sudah dibentak sama orang yang gak dia kenal. Apalagi dia hanya tamu disitu. Ayana menyesal telah menutup matanya tadi, sampai - sampai harus menabrak pria galak ini. "Apa sebenarnya yang kau lakukan di tempat ini? Sampai masuk saja harus menabrak orang. Buka matamu lebar - lebar." Pria itu terus saja mengomel, sambil menepuk - nepuk bagian belakangnya yang mungkin kotor saat terjatuh tadi. Ayana hanya memandanginya karna tak bisa berkata apapun, sebab tak diberikan kesempatan untuk bicara. Rasanya ingin sekali menangis. Tapi pria itu balik mempelototi Ayana, membuatnya tertunduk karena merasa takut. Tatapannya seperti macan yang ingin menerkamnya saja. Ayana langsung merinding melihat tatapan pria galak itu. Sudah tak tahan lagi dipandangi seperti itu, Ayana langsung berlari meninggalkannya di pintu masuk. Ayana menghentikan langkahnya disalah satu sudut ruangan. Tepat di depan sebuah meja panjang yang menyajikan aneka hidangan dan juga minuman. Gadis itu meraih sebuah gelas, meneguk isinya hingga habis tak bersisa. Jantung Ayana masih terus berdegup kencang tak beraturan. Nafasnya ngos-ngosan. Rasanya seperti habis melihat hantu saja. "Ah..kenapa sih pria itu? Terus saja membentak orang." Ayana menggerutu pada dirinya sendiri. Tangannya masih terasa dingin dan agak gemetaran karena takut. "Aku harap tidak akan melihatnya lagi di tempat ini," ucapnya sambil menarik nafas, menenangkan perasaannya. Ayana memutar badannya. Ia sudah mulai merasa tenang sekarang. Ternyata ruangan itu sangat ramai. Ada begitu banyak orang di tempat itu. Ayana mulai melayangkan pandangannya mengitari seluruh ruangan Ballroom Hotel. Netranya mencari - cari sosok yang telah memgundangnya untuk datang ke acara malam ini. "Dimana Nyonya Kalina?" Ayana terus mencari wanita itu di keramaian orang. Ternyata mereka mengundang banyak orang di acara ini, pikir Ayana. Tadinya dia mengira hanya acara makan malam biasa saja, ternyata mereka juga mengundang orang sebanyak ini. Mereka pasti keluarga dan rekan bisnis Tuan Adhiaksa. Penampilan mereka menggambarkan status sosial mereka. Pantas saja Nyonya Kalina memberinya barang - barang branded yang dijual di butiknya. Wanita itu ingin Ayana berpenampilan yang sama dengan mereka. Tapi, untuk apa? "Ayana...." seorang wanita terdengar memanggil namanya. Ayana menoleh, memandang sekeliling, tapi tak melihat siapapun. "Ayana...." suara itu terdengar lagi. Kali ini disertai dengan lambaian tangan. Ayana menoleh kesana. Ada seorang wanita berdiri disana bersama beberapa orang di sampingnya. Tapi, Ayana tidak mengenalinya. Wanita itu berjalan mendekati Ayana yang masih berdiri tegak diposisinya. Wajah gadis itu seperti orang bingung, mungkin sedang menerka - nerka siapa wanita ini. "Hai...Ayana," wanita itu sudah berdiri di depannya. "Hai...." sahutnya sambil tersenyum kikuk. "Ini saya, Kalina." Wanita itu menepuk pundak Ayana. Ayuna melotot sebab terkejut. Dia tidak mengenali wanita itu dalam balutan gaun panjangnya yang mewah. Rambutnya sengaja digelung ke atas, menampakkan lehenya yang panjang. Serta sapuan makeup nya yang tebal. Penampilannya benar - benar berbeda. "Oh...Nyonya Kalina." Kali ini senyum Ayana melebar. "Maaf, tadi saya tidak mengenali Nyonya..." katanya. "Tidak apa - apa. Saya sudah menunggumu dari tadi. Kenapa lama sekali?" Tanyanya menyelidik. "Ah...iya, tadi saya sempat berdiri di luar karena gugup." Jawabnya jujur. "Gugup kenapa?" "Ini pertama kalinya saya diundang ke acara seperti ini...." Ayana menunduk malu. "Oh....ya sudah. Saya ingin mengenalkanmu pada keluarga kami." Kalina menarik tangan Ayana. "Tapi...saya malu." Ayana menghentikan langkahnya. "Hahh? Kenapa lagi?" "Saya tidak membawa apa-apa, Nyonya." Jawabnya pelan, nyaris tak terdengar. "Hahaa...." Kalina tertawa, ternyata Ayana adalah gadis yang lugu. "Sudahlah...tidak apa-apa. Saya tidak menyuruhmu untuk membawa apapun, kan? Ayo...." Kalina menggandeng lengan gadis itu. Ayana mengikut saja kemana Kalina membawanya. Gadis itu mencoba tetap tersenyum ke arah orang - orang yang memperhatikan mereka. Mereka seperti kakak dan adik. Mereka terlihat begitu kontras. Kalina yang memiliki tubuh yang ramping serta tinggi bak model. Dan Ayana dengan wajah imut dan tubuh mungilnya, seperti anak sekolahan, padahal sudah berumur duapuluh tahun. Beruntung dia memiliki rambut panjang bergelombang, yang membantunya meyakinkan orang - orang kalau dia adalah gadis dewasa. "Perkenalkan, ini Ayana. Anak pemilik toko bunga yang saya ceritakan tadi." Kata Kalina memperkenalkan Ayana pada orang - orang yang bersamanya tadi. "Saya Ayana...." gadis itu tersenyum manis sambil menyalami mereka satu per satu. "Kenalkan, ini adalah mertua saya. Tuan Tamma Adhiaksa dan Nyonya Liliana," katanya sambil menunjuk kedua orangtua itu. "Selamat Hari Pernikahan ya Pak...eh, Tuan Adhiaksa." Ayana meralat perkataannya. Kedua orang itu hanya tertawa melihat Ayana. "Yang tampan ini adalah suami saya, Raka Adhiaksa. Dan putri kecil saya..." katanya lagi sambil mengambil putrinya dari gendongan suaminya. "Wah....cantiknya," Ayana memandang gemas pada gadis kecil itu. Jemarinya sesekali mengelus pipi tembemnya yang putih bersih. Anak itu tertawa pada Ayana, memancing reaksi gemas orang yang melihat mereka. "Dimana mas Rasya, ma?" Kalina bertanya pada mertuanya saat tak melihat orang bernama Rasya itu bersama mereka. "Ah...itu dia," tunjuk Raka saat melihat seorang pria mendekati mereka. "Ayana, kenalkan ini mas Rasya Adhiaksa. Dia kakak ipar saya yang paling tampan." Kalina menunjuk pria itu. Mata Ayana melotot, jantungnya kembali bertalu-talu. Badannya serasa panas dingin. Ia mengulurkan tangannya dengan sedikit gemetar. Rasanya ingin menghilang dengan segera dari situ, tapi sudah terlambat. "Saya Ayana," katanya sambil menunduk. "Oh...jadi namamu Ayana ya?" Pria itu meremas tangan Ayana dan tersenyum sinis padanya. Gadis itu meringis kesakitan. Kemudian melepaskan uluran tangannya. "Ckck...kenapa sih ketemu cowok galak ini lagi?" Rutuk Ayana dalam hati. Dia hanya menunduk menahan malu ditatapi seperti itu oleh Rasya "Kamu masih sekolah, nak?" Tanya Nyonya Liliana. Ayana menoleh, mengalihkan pikirannya sementara dari cowok galak di depannya. "Hahh? Ohh...tidak bu, eh..Nyonya. Saya sudah berumur duapuluh tahun." Ayana salah tingkah. Wanita tua itu hanya tersenyum melihat tingkah Ayana. Dan Rasya, pria galak itu terus saja memperhatikannya. "Sudah menikah?" Tanya Liliana lagi. Ayana mendelik kaget. "Ohh....belum Nyonya," katanya, tangannya melambai di depan d**a memberikan isyarat. "Panggil Tante saja...," sahut Liliana ramah. "Ah...iya, saya belum menikah bu." Ayana meralat perkataannya. "Bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Tuan Adhiaksa. "Mm...saya hanya punya ibu saja. Ayah saya sudah lama pergi meninggalkan kami. Hanya saya saja anak ibu, tidak punya kakak atau adik." Ayana menunduk sedih, ia jadi terbawa perasaan saat ditanya seperti itu. "Ooh...kamu jangan sedih. Yang penting kan kamu masih punya ibu yang menyayangi kamu." Nyonya Liliana mengelus pundak Ayana mencoba menguatkannya. "Ah, iya Nyonya, eh maaf, bu..." Ayana salah tingkah karena Rasya terus saja memandangnya dengan tatapan tajam. Mereka tersenyum melihat Ayana. Sepertinya gadis itu harus banyak belajar cara bicara yang benar. "Kau sudah makan, Ayana?" Kalina memotong pembicaraan mereka. Ayana hanya menggeleng. "Sebaiknya kau makan dulu, nanti kau bisa pingsan karna lapar. Saya tidak ingin ibumu marah karna tak memberimu makan." Ayana hanya tersenyum malu. Kalina membawa gadis itu ke meja prasmanan dan memintanya untuk duduk di sana. Sementara wanita itu menjamu tamu lainnya. Ayana mengelus dadanya beberapa kali. Kali ini Ayana selamat bisa menjauh dari cowok galak itu. Malam makin larut. Ayana sudah lama berada di tempat itu. Mulutnya sudah mulai menguap. Matanya semakin sayu. Dan acara itu masih belum usai. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya di jam segini, ia sudah berada di dunia mimpi. Namun sekarang, ia masih terjebak di pesta itu dan tidak bisa pulang. Masih belum bisa pulang, tepatnya. Satu per satu tamu mulai berpamitan dan undur diri. Hanya tinggal beberapa orang saja. Ayana terduduk lemas di kursinya. Dia hanya sendirian disana. Entah sudah berapa banyak minuman dingin yang dia teguk, perutnya sudah mulai terasa mual. "Ayana...." Kalina datang menghampirinya. "Oh....ya Nyonya," sahutnya. Ayana bangkit dari duduknya. Gadis itu melihat Kalina datang bersama pria galak tadi, Rasya. Yang mengekorinya dari belakang tanpa berkata apapun. "Maaf ya, saya tidak bisa menemanimu tadi." "Ah...iya, saya maklum." "Sepertinya supir saya tidak bisa mengantarkan pulang, kau tidak apa-apa kan?" "Hahh? Trus aku pulangnya gimana? Ini sudah larut malam, tidak ada lagi kendaraan umum saat ini. Apa aku harus pulang dengan berjalan kaki? Malam begini? Tega banget..." Ayana menggerutu pada dirinya sendiri, ingin menangis tapi malu. Gadis itu menatap Kalina dengan bingung, tangannya saling meremas. Kalina yang mengerti apa yang Ayana pikirkan saat ini, menggapai bahu Ayana. "Udah tenang aja. Saya udah bawa penggantinya kok...." Kalina tersenyum pada Rasya. "Maksudnya?" "Mas Rasya yang akan mengantarkan kau pulang, iya kan mas?" Kalina mengerling padanya. "Hahh? Cowok galak ini? Apa gak salah? Gimana dong?" Katanya dalam hati. Ayana menggigit bibir bawahnya. Gadis itu sangat takut padanya. Dia bisa kena serangan jantung kalau cowok itu terus menatapnya seperti itu. "Mas Rasya, tolong antarkan Ayana ya. Please...." katanya tersenyum lebar. "Antar dengan selamat ya mas, jangan di apa-apain loh...." sambungnya. Rasya hanya diam dan terus berjalan keluar. Ayana mengekor dari belakang sambil tertunduk. Bruukk...... Ayana menabrak pria itu lagi tapi kali ini dari belakang, saat dia tiba-tiba berhenti persis di depan Ayana. Rasya berbalik, menatap garang padanya. "Hei....ada mata gak sih? Apa aku gak kelihatan? Kamu tuh, emang hoby nabrakin orang ya?" Katanya ketus. "Maaf....." Ayana tertunduk. Ia tidak ingin ribut saat ini, sebab ia sudah sangat lelah dan mengantuk. "Dasar cewek aneh...." pria itu terus mengomel. Ayana sudah tak terlalu memperdulikannya. Yang penting dia bisa pulang dengan selamat. Hening. Mereka hanya diam. Tak ada yang memulai percakapan. Ayana trus saja menunduk, dia tidak berani menatap si cowok galak. Ia bosan mendengarnya terus mengomel. "Hei....dimana rumahmu?" "Nama ku bukan Hei. Ayana, itu namaku." "Terserah......." dia mendengus kesal. "Sana...belokan sebelah kanan. Rumah ku di depan gang sebelah sana." Ayana menunjuk ke depan. Mobil itu berhenti tepat di belokan yang Ayana tunjukkan tadi. "Sudah sampai. Turun sana...." pria itu mengusirnya turun. "Tapi....rumah ku masih di sebelah sana." "Jangan manja. Cepat turun!!" Rasya keluar dari mobil. Membuka pintu di samping Ayana dan menariknya keluar dari mobil. "Kamu tinggal jalan aja, kan udah dekat." Katanya. Tangannya mendorong tubuh Ayana menjauhi mobil. Pria itu segera masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan Ayana yang hampir menangis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN