Buket Bunga

1386 Kata
Ayana menenteng sepatunya. Menyeret kakinya yang sudah mulai lecet di beberapa tempat, dengan perlahan menuju rumahnya. Toko bunga di depan gang yang jaraknya sekitar empat ratus meter dari persimpangan, tempat Rasya menurunkannya tadi secara paksa. Dia memang biasa melalui jalur itu setiap hari dengan berjalan kaki. Tapi itu saat matahari sedang bersinar, dan ada banyak orang yang lalu lalang di sana. Tapi sekarang, jalan itu gelap dan sangat sepi. Hanya ada lampu jalan yang jaraknya saling berjauhan. Kakinya entah sudah berapa kali tersandung batu. Hati Ayana sakit diperlakukan seperti ini. Ia sangat membenci pria itu. Wajahnya saja yang tampan, tapi sifatnya buruk sekali. Padahal, keluarganya begitu baik dan sangat ramah. Kok bisa sih Nyonya Liliana punya anak galak seperti itu. Tidak punya empati sama sekali. Gerutu Ayana kesal. "Aduhh... sakit banget!" Ayana terpekik kuat. Ia terjatuh saat kakinya tersandung batu pembatas tepian jalan. Karena mengantuk, ditambah sinar lampu yang redup, membuat Ayana jadi tidak fokus melihat jalan. Ada luka di kedua lututnya karena terantuk batu kerikil beukuran besar. "Ahh... sial banget sih aku malam ini!" Ayana menggerutu sambil menghentak kakinya. "Auhh..." Gadis itu meringis. Ayana mulai menangis. Kesal dengan semua yang dia alami sepanjang malam ini. Andai saja Rasya bersedia mengantarnya, mungkin kakinya tidak akan lecet. Bahkan dia tidak perlu sampai tersandung berulang kali karena jalanan yang gelap. Darah mulai mengalir dari luka di lututnya. Ayana semakin terisak kuat. Bukan karena darah yang mengalir itu, atau rasa sakit di seluruh kakinya. Ayana menangis karena dia lupa membawa kunci cadangan sewaktu pergi tadi. Ibunya pasti sudah tidur sekarang. "Ibuuu..." teriak Ayana dari luar. Dug... dug... dug.... "Ibuuu..." teriaknya lagi. Dug... dug... dug.... Ayana kembali memukul pintu dengan kepalan tangannya. Ia berharap ibunya mendengar suara gedoran pintu yang dibuatnya. Ayana terduduk lemas. Disandarkannya kepalanya di pintu. Entah sudah jam berapa sekarang. Seharusnya dia sudah tergolek nyaman di kasurnya malam ini. Bukannya terduduk di luar rumah seperti anak hilang begini. Ayana menghembuskan nafasnya kuat. Matanya mulai terpejam perlahan. Rasa kantuk mulai menjalar menguasai kesadarannya. Cekrekk... cekrekk... Suara pintu terbuka dari dalam. Nyonya Sophia menarik handle pintu kuat. Ayana terjatuh ke belakang bersamaan dengan terbukanya pintu itu. Kepalanya membentur lantai. "Aahhh... sakit." Ayana teriak kencang. Nyonya Sophia terlonjak kaget. Dia tak tahu jika putrinya sedang bersandar di sana tadi. Buru - buru dibantunya Ayana untuk bangkit. Lalu menggosok perlahan kepala anak gadisnya itu. "Apes banget sih malam ini..." rutuk Ayana kesal. Nabrak cowok galak sampai dua kali, pake dibentakin segala lagi. Trus duduk sendirian di pesta mewah hingga tiga jam seperti kambing congek. Perut kembung karena kebanyakan minum air es, entah sudah berapa gelas yang Ayana teguk. Pulang tengah malam, cuma diantar sampai simpang depan. Jalan gelap - gelapan, sendirian, kaki pada lecet gara - gara high heel, pake jatuh kesandung batu segala lagi. Itu batu apa gak bisa pindah tempat dulu, gitu? Mana lutut pada luka - luka. Giliran udah sampai di rumah, pake lupa bawa kunci cadangan, akhirnya tidur di luar kayak anak hilang. Pas pintu udah terbuka, eh... malah jatuh nimpuk lantai. Sekarang kepala jadi benjol begini kan? "Kau baik - baik saja kan? Apa yang sedang kau lakukan di luar? Kenapa sampai jatuh begitu?" Nyonya Sophia terdengar sangat khawatir. "Ibu...nanti saja ceritanya." Ayana beranjak dari sana. Nyonya Sophia kembali menutup pintu. Lalu ikut naik bersama Ayana. Begitu sampai di atas, gadis itu meletakkan sepatu dan tas tangannya sembarang tempat. Mengambil handuk, membersihkan tubuhnya di kamar mandi, lalu keluar hanya dengan lilitan handuk di tubuhnya. Ayana menuang segelas air dan meneguknya. Lalu melangkah masuk ke kamar, keluar lagi dengan baju tidurnya. Sophia hanya memandang heran pada putrinya itu. "Ada apa Ayana? Apa yang terjadi padamu?" "Aku mengantuk, bu. Besok saja ceritanya, ya.." "Ibu mau mendengarnya sekarang." "Aah...aku ngantuk bu. Besok saja ya. Aku lelah sekali malam ini." Sophia menuruti pemintaan gadis itu, saat Ayana mengajaknya untuk kembali tidur. "Selamat pagi bu Sophia..." Seorang wanita berkacamata hitam menghampiri Sophia, yang tengah sibuk merangkai bunga. "Ya, selamat pagi..." katanya saat menoleh. "Ternyata anda, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Sophia segera berdiri. "Ah tidak. Saya hanya mampir sebentar. Dimana Ayana? Kenapa ibu bekerja sendirian pagi ini?" Ia melepaskan kacamatanya. Pandangannya mengitari tempat itu. "Oh...anak itu masih tidur. Kelihatannya dia sangat lelah semalam. Saya tidak ingin mengganggunya." "Apa dia baik-baik saja?" Kalina bertanya heran. Bukankah semalam Rasya mengantarnya? Kenapa ibu ini bilang kalau Ayana kelelahan? "Sepertinya begitu. Tapi tadi pagi saya lihat kedua lututnya terluka. Saya tidak tahu kenapa, karena saya belum menanyakannya." Sophia kembali duduk melanjutkan merangkai bunga yang memang sedang dikerjakannya tadi. "Oh begitu." Kalina hanya manggut - manggut. "Kalau begitu, saya permisi dulu ya bu. Katakan pada Ayana untuk mampir ke butik saya siang ini." "Iya...baiklah," sahutnya. Kalina memakai kacamata hitamnya kembali. Berjalan anggun menuju mobil yang dia setir sendiri. Sophia hanya memandangi mobil itu pergi menjauh dari tokonya. Ibu..." Ayana menepuk pundak Sophia. Membuatnya tersentak sebab terkejut. "Ayana." Bentak ibunya. "Maaf bu. Apa yang ibu lihat?" Tanya Ayana. Dia tak melihat siapapun disana. "Nyonya Kalina," sahut Sophia. "Dimana? Tidak ada siapa - siapa," Ayana memutar kepalanya, lalu membuka matanya lebar - lebar. "Sudah pergi...." "Ah ibu..kenapa tidak bilang dari tadi?" Ayana menekuk bibirnya. "Kapan kau bangun? Apa kau sudah sarapan? Ibu sudah membuatkannya untukmu," katanya tanpa menoleh. "Sudah, aku sudah sarapan sebelum turun tadi." Ayana menarik sebuah kursi. Tangannya ikut merangkai bunga. "Kapan ini dikirim?" Tanya Ayana. "Tidak. Mereka akan mengambilnya sendiri siang ini," sahut Sophia. "Berapa banyak yang mereka pesan?" "Mawar merah dan mawar putih masing-masing dua buah buket ukuran sedang. Untuk tulip, lily dan anyelir. Semua masing - masing empat buah buket ukuran besar. Juga sebuah buket kecil untuk bunga tangan." Jelas ibunya. "Banyak banget bu. Siapa yang memesan?" Ayana mendelik, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Ibu juga tidak tau. Tapi, pagi-pagi sekali orang itu datang memesan. Katanya akan ada resepsi pernikahan, sementara pensuplai bunga belum mengantarkan pesanan bunga mereka. Padahal, mereka sudah membayar uang muka. Kasihan sekali." Sophia menjelaskan panjang lebar. "Lalu ibu bilang apa?" Tanya Ayana ingin tahu. "Ya mau gimana lagi. Ibu kasihan padanya, jadi ibu terima saja pesanan mereka. Lagi pula, mereka membayar penuh semua pesanan bunga itu." Sophia melirik putrinya sebentar. "Apa bu? Langsung membayar penuh? Pasti mereka itu orang kaya, ya bu..." Ayana mengeleng - gelengkan kepala. "Sudahlah...cepat bantu ibu. Masih banyak bunga yang harus dirangkai." "Siap boss..." katanya. Ibu dan anak itu pun tertawa bersama. "Jangan lupa, lily dan anyelirnya masih ada di dalam. Tolong ambilkan, biar langsung dirangkai. Yang ini, biar ibu saja yang selesaikan." Perintahnya pada gadis itu. Ayana dengan sigap berdiri. Mengambil bunga dari tempat penyimpanan khusus. Membawanya ke depan dan langsung merangkai bunga itu satu per satu. Dua jam lebih tangan ibu dan anak itu memilih dan merangkai bunga. Pesanan sudah hampir mereka selesaikan. Fokus mereka berubah saat dua buah mobil berhenti di depan toko mereka. Empat orang wanita cantik turun dari kedua mobil yang berbaris itu. Mereka tampak rapi. Masing - masing memakai gaun merah muda dengan model berbeda, dengan rambut yang dicepol rapi dan wajah yang sudah dipoles dengan make-up. Mereka tersenyum pada Nyonya Sophia dan putrinya. Sepertinya, orang itu yang memesan bunga pada mereka. "Bagaimana bu..apakah bunganya sudah selesai?" Tanya salah satu dari wanita cantik itu. "Sudah hampir selesai..." sahut Sophia gugup. "Bisa sedikit dipercepat bu, kami sedang buru - buru..." sahut wanita yang lain dengan ramah. "Iya..sebentar ya," jawabnya lagi. Tangannya terus merangkai dibantu oleh Ayana. "Ay...pergi ambilkan bunga yang sudah selesai tadi, tolong berikan pada mereka ya." Perintah Sophia pada putrinya. Ayana menurut. Gadis itu pergi mengambil bunga dari dalam toko diikuti keempat wanita tadi. Tak lama mereka keluar dengan beberapa buket bunga di pelukan masing - masing. Dua orang laki-laki berbadan tegap, keluar dari balik kemudi. Dengan sigap membantu keempat wanita itu membawa buket bunga masuk ke dalam mobil. "Tunggu sebentar....," Ayana berteriak untuk menghentikan mereka, saat melihat mobil itu akan segera pergi. "Ini... Kalian melupakan buket bunga tangannya. Ini sangat penting untuk pengantinnya." Kata Ayana saat menyerahkan bunga itu melalui jendela mobil. "Terima kasih...anda sudah menyelamatkan kami hari ini." Wanita itu tersenyum haru memandang ke arah Ayana dan ibunya. Kedua mobil itupun melaju pergi, meninggalkan Ayana dan ibunya yang masih berdiri disana, sambil melambaikan tangannya pada mereka. "Huuhh...akhirnya selesai juga ya bu," katanya sambil memeluk pundak ibunya. "Mudah-mudahan mereka puas sama bunga kita. Setidaknya kita udah usahakan yang terbaik," sambung Ayana lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN