Bertemu Lagi

2284 Kata
Ini adalah pencapaian terbesarnya. Mengerjakan pesanan buket dengan jumlah banyak, dalam waktu yang benar-benar mepet seperti sekarang. Lelah memang, tapi Ayana bangga. "Iya. Rejeki buat kita hari ini." Nyonya Sophia tersenyum lebar. Ayana menggandeng lengan Sophia saat kembali masuk ke tokonya. "Ay..." "Ya bu..." "Sudah jam berapa sekarang?" "Kenapa? Apa ibu sudah lapar?" "Sepertinya begitu..." "Ini sudah jam satu siang bu." "Benarkah? Ibu lupa sesuatu," "Lupa apa?" "Ibu lupa bilang padamu," "Bilang apa bu?" "Tadi Nyonya Kalina memintamu datang ke butiknya siang ini..." "Hah? Kenapa baru bilang sekarang?" Ayana menoleh pada ibunya. "Ibu lupa. Tadi kita kan sedang sibuk." "Kapan dia bilang begitu?" "Tadi pagi. Nyonya itu datang untuk mampir sebentar, lalu pergi..." "Untuk apa aku kesana?" "Ibu juga tidak tau." Ibu dan anak itu saling menatap. "Aku harus segera mandi." Katanya pada ibunya. Ayana berlari cepat naik ke lantai atas. Buru - buru mandi dan berpakaian. Kali ini Ayana hanya menggelung rambutnya, seperti hari - hari sebelumnya, saat dia sedang bekerja mengantar semua pesanan bunga. Ibunya mengikutinya dari belakang.. "Kau kenapa Ay?" "Aku sedang buru-buru bu. Aku tak ingin membuat Nyonya Kalina menunggu terlalu lama..." Ayana memakai sepatu bututnya. "Gak makan dulu?" "Nanti saja bu. Ibu makan saja duluan. Ayana berangkat...." Ayana mencium kening wanita yang melahirkannya itu, kemudian berlari turun dengan tergesa - gesa. "Hati-hati, awas jatuh..." Sophia meneriakinya dari atas. "Iya, jangan khawatir bu..." Ayana segera berlari ke persimpangan jalan raya. Lalu menyambung naik angkutan umum supaya lebih cepat. Toko Kal's Boutique sebenarnya tidak begitu jauh dari sana. Hanya berjarak kira-kira satu kilometer saja dari toko bunga mereka. Biasanya, Ayana hanya berjalan kaki. Tapi kali ini, ia tak ingin membuat Nyonya Kalina terlalu lama menunggu. ********** Sepasang kaki dengan sepatu sneaker butut yang menempel padanya, terlihat menuruni sebuah angkutan umum. Seorang gadis berbadan mungil adalah pemiliknya. Dia memakai kaos oblong longgar serta celana jeans buluk yang ada robekan kecil di kedua bagian lututnya. Wajahnya polos, hanya memakai sedikit bedak bayi yang ditepuk-tepuknya pelan saat memakainya. Rambutnya sengaja digulung ke atas. Sudah seperti anak abg alias anak baru gede, yang masih duduk di bangku sekolahan. Gadis itu berlari kecil memasuki sebuah gedung, yang terlihat mewah saat dipandang dari luar. Seluruh bagian depan bangunan ini terbuat dari dinding kaca tebal, begitu juga dengan pintu masuknya. Tampak beberapa buah patung manekin tengah bergaya berbaris berjejer disisi kanan dan kiri pintu masuk. Seorang lelaki tua berumur kira-kira pertengahan lima puluh tahunan, memakai seragam lengkap dengan topinya. Wajahnya kelihatan ramah dan juga berwibawa. Dengan setia dia berjaga di pintu masuk dan membuka pintu bagi semua orang yang ingin masuk ataupun keluar, dengan senyum tulus yang selalu mengembang di wajahnya. "Selamat siang pak," sapa Ayana ramah, lengkap dengan senyuman tulus mengembang di wajah mungilnya. "Selamat siang juga nak," "Gimana kabarnya hari ini?" "Kabar saya baik," "Bagaimana hari ini, apakah butik ramai?" "Yah...seperti biasanya," "Apakah Nyonya Kalina masih ada di dalam?" "Ya. Sepertinya begitu. Dan sepertinya juga beliau akan pergi?" "Benarkah? "Saya dengar seperti itu nak," jawabnya. "Baiklah, itu artinya saya harus segera masuk sekarang." Ayuna tersenyum padanya. "Ya tentu saja, silahkan masuk." Tangannya membukakan pintu untuk Ayana. "Terima kasih pak." Ayana melangkah masuk. Ayana melihat Nyonya Kalina tengah duduk di kursi kerjanya. Wanita itu sepertinya sedang sibuk memeriksa beberapa lembar berkas yang sedang dipegangnya. Ayana menghampirinya dan duduk di kursi kosong di seberang Kalina. "Selamat siang Nyonya..." Kalina menoleh padanya, sesaat kemudian pandangannya turun kembali. "Ha Ayanai...selamat siang juga." "Apakah Nyonya masih sibuk?" "Ya...ini akan selesai sebentar lagi." Tak lama kemudian, Kalina mulai merapikan semua berkas itu dan menyimpannya kembali ke dalam laci. "Bagaimana, apakah kau baik-baik saja? Ibumu bilang, kau sangat kelelahan tadi malam." Kalina menegakkan duduknya, menatap Ayana dengan cemas. "Ah..tidak. Aku baik-baik aja." "Benarkah?" Tanyanya penuh selidik. "Iya benar. Aku hanya tidak biasa tidur terlalu malam." "Kau tidak sedang berbohong kan? Ibumu juga bilang kalau kakimu itu terluka." Ujarnya merasa tidak yakin akan jawaban yang Ayana berikan. "Ah..tidak Nyonya. Aku tidak mungkin berbohong. Aku memang terbiasa tidur jam sembilan malam, karena pagi sekali aku harus membantu ibuku. Jadi...karena tidak sanggup menahan kantuk, aku sampai tersandung beberapa kali saat berjalan," Ayana tersenyum kikuk, berharap Kalina mempercayainya. "Apa itu benar? Kau yakin?" Kalina memicingkan sebelah matanya. "Ya tentu saja aku yakin. Aku bahkan sampai ketiduran di depan pintu saat menunggu ibu membukanya. Kalau tidak percaya, tanyakan saja langsung pada ibu...." Ayana berusaha meyakinkan wanita itu. Ayana berpikir, dia tidak mungkin menceritakan kejadian semalam pada Kalina. Gadis itu tak ingin merusak hubungan keluarga mereka. Cukup ia sendiri saja dan cowok galak itu yang tahu. Yang penting, dia baik-baik saja sekarang. "Oya, apakah Rasya mengantarmu sampai di rumah tadi malam?" "Iya..." Ayana mengangguk pelan. "Bagaimana, apakah dia baik padamu?" Ayana melotot. Apanya yang baik? Pria galak itu bahkan memaksanya untuk turun di tengah jalan. Bagaimana ini? Apa yang harus dikatakannya? Ayana dilema. "Oh itu...aku tidak tahu." Suaranya sedikit bergetar. "Tidak tahu? Apakah dia tidak mengatakan apapun padamu?" Kalina mendelik ingin tahu. "Tidak. Dia tak mengatakan apapun. Kami hanya diam saja. Dia hanya tanya dimana rumahku." "Trus?" "Terus... ya dia mengantarku sampai depan. Membuka pintu untuk ku, lalu pergi." "Hanya itu saja?" "Mmm...." Ayana mengangguk. "Hahh...." Kalina menghembuskan nafasnya kasar. "Rencana ku gagal lagi.." rutuknya dalam hati. Lelaki itu memang sangat kaku. Sayang sekali, wajah tampan dan tubuh atletis saja tidak bisa diandalkan untuk mencarikannya pasangan. Kakak iparnya itu memang dingin dan kaku pada wanita. Pasahal Kalina sudah berusaha keras untuk menjodohkan mereka. Sengaja mendandani Ayana jadi wanita yang anggun, lalu memperkenalkan mereka berdua. Kalina juga sengaja memerintah supirnya untuk pulang duluan, supaya Rasya punya kesempatan untuk mengantarkan Ayana pulang. Sengaja menciptakan moment untuk mereka bisa berduaan. Tapi itu pun masih gagal juga. Sebuah mobil sedan silver memasuki halaman untuk parkir tepat di depan Kal's Boutique. Seorang pria tampan dengan stelan jas warna dark silver dan juga dasi panjang dengan warna senada serta pant shoes hitam mengkilat, terlihat turun dari balik kemudi. Berjalan masuk dengan angkuh tanpa menghiraukan pria tua yang membukakannya pintu. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah bungkusan plastik putih transparan, dengan merek toko yang tercetak jelas dibagian depan. Pria itu menyodorkannya ke atas meja, dimana Kalina dan Ayana sedang duduk berbincang. Kedua wanita itu spontan melihat ke arahnya. "Mas Rasya..." Kalina tersenyum lebar melihat pria itu datang. Hahh, pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru aja dibicarakan, eh sekarang orangnya udah muncul di depan mereka. "Ini aku belikan makanan. Apa kamu sudah makan siang?" Katanya tanpa basa - basi. Pria itu lalu menarik kursi kosong di samping Ayana lalu mendudukinya. Ayana sengaja memalingkan wajahnya. Ia tak ingin pria itu menyadari kehadirannya di sana. "Aahh...baik banget sih mas. Pake beliin aku makan siang segala," Kalina tersenyum. "Aku gak ingin kamu sakit. Nanti Raka bakal marah padaku karena tak bisa menjagamu dengan baik." Jawabnya tanpa tendeng aling-aling. "Makasih ya mas. Apa Raka sudah berangkat ke bandara?" "Sepertinya belum. Tadi dia telpon aku, katanya masih di rumah." Sahut Rasya. "Benarkah? Kalau gitu, aku balik duluan ya mas...aku ingin ikut mengantar Raka ke bandara." Kalina langsung bangkit mengambil tasnya. "Ay...ini buat kamu aja. Kamu pasti belum makan kan?" Katanya saat menyodorkan bungkusan itu ke tangan Ayana setengah berbisik. "Apa? Tapi Kal, itu aku beli untukmu..." pekik Rasya keberatan. "Iya aku tahu, tapi aku harus segera pergi mas. Nanti bisa ketinggalan..." Kalina langsung meninggalkan mereka yang menatapnya dengan perasaan yang entah bagaimana. "Oya mas, aku minta tolong dong, antarkan temen ku pulang ya. Please....." teriaknya dari pintu sambil tersenyum lebar. Tangannya ia katupkan di depan d**a. Kedua orang itu hanya bisa melotot pada Kalina, yang sesaat kemudian menghilang di balik pintu. Sepertinya wanita itu sengaja meninggalkan mereka di sana. Kebetulan sekali momentnya sangat pas. Kalina bisa menjadikan akitu sebagai alasan untuk meninggalkan mereka berdua. Rasya berbalik, memutar kursinya menghadap ke arah Ayana. Matanya menatap gadis itu dengan seksama. Dari rambut hingga kaki, tak luput dari pandangannya. "Apa aku mengenalmu?" "A-apa?" Ayana salah tingkah. "Apa aku mengenalmu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" "Ke-kenapa?" Wajah Ayana memucat. Jantungnya berdebar gak karuan. "Wajahmu itu, sepertinya aku pernah melihatnya. Siapa namamu?" "A-aku...." Ayana merasa terpojok. "Kenapa? Apa kau tak bisa bicara dengan benar? Lihat aku jika aku sedang bicara." Perintahnya. Ayana hanya menunduk. Ia tak berani menatap wajah pria itu. Ahh, kenapa ia harus terjebak dengan laki-laki menyeramkan ini? Ada begitu banyak tempat di kota ini, kenapa dia harus datang ke tempat ini? Sekarang? Ayana menelan salivanya. Kerongkongannya terasa begitu kering. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Ayana berharap pria itu tak mengenalinya. "Ah sudahlah....aku tidak ada waktu untukmu. Aku harus pergi sekarang." Rasya bangkit, merapihkan letak jasnya. Dan Ayana masih saja tertunduk. Ia tak berani menoleh. Tangannya terus saja mencekal bungkusan plastik di atas meja dengan gemetar. Jika pria ini berada disini lebih lama lagi, mungkin ia bakalan pingsan. "Kau bisa pulang sendiri kan?" Rasya mulai menunjukkan kekesalan. "Apa kau bisa mendengarku?" Pria itu mulai meninggikan intonasi suaranya. "I-iya..." Ayana manggut-manggut. "Baiklah." Rasya memandang gadis itu sebentar, lalu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Ayana sendirian. Ayana mulai mengatur kembali nafasnya. Detak jantungnya masih belum stabil. Pria itu begitu menakutkan baginya. Kasar, tukang bentak, egois, juga tak punya empati. Tampan sih, tapi percuma saja, gerutu Ayana. Ayana memalingkan kepalanya. Memastikan kalau pria itu benar-benar sudah pergi. Ayana pun berdiri dan ikut pergi meninggalkan butik Kalina. Tangannya terus saja mencekal bungkusan plastik dari Kalina tadi. ********** Hari sudah beranjak sore, Ayana berjalan dengan malas. Kakinya berulang kali menendang bebatuan kecil yang dekat dengannya. Ia tak habis pikir, kenapa dia bisa bertemu dengan cowok nyebelin seperti Rasya. Matanya memperhatikan bungkusan plastik di tangannya. Kalau dipikir-pikir lagi, Rasya itu begitu perduli pada iparnya. Buktinya, dia sampai repot - repot membelikan makan siang dan mengantarnya sendiri pada Kalina. Itu artinya, pria itu sebenarnya orang yang baik. Tapi, kenapa dengannya begitu berbeda? Bagaimana dengan pacar pria itu? Apakah dia juga bersikap seperti itu padanya? Dingin dan kaku? Juga galak? Pasti wanita itu orang yang baik dan juga sangat sabar. Lamunan Ayana buyar saat mendekati toko mereka. Ia melihat beberapa orang tengah berkumpul di depan toko bunga mereka. Ada apa ini? Apa yang terjadi? Siapa mereka? Ibu, dimana ibuku? Apakah sesuatu terjadi padanya? Ayana berlari menghambur ke dalam toko, air matanya hampir jatuh. Ia sangat panik. Tapi langkahnya terhenti saat melihat ibunya baik-baik saja. Ya, Nyonya Sophia bahkan terlihat sangat baik-baik saja. Wanita itu sedang berbincang sambil tertawa, bersama beberapa orang yang kelihatannya berasal dari level di atas mereka. Ada apa sebenarnya? Siapa mereka? Ayana menyeka sudut matanya. "Ibu..." panggilnya sedikit kesal. "Oh..kau sudah pulang?" Sophia menatap putrinya. Wanita itu menarik tangan Ayana untuk mendekat padanya. "Ibu, ada apa ini? Siapa mereka?" Bisik Ayana, dia tidak ingin mereka mendengar suaranya. Sophia tersenyum. "Kenalkan ini putri saya, Ayana. Dialah yang bantu saya mengurus toko ini, termasuk mengantar pesanan bunga." Ayana mengangguk memberi hormat. "Mereka ini adalah keluarga pengantin yang memesan bunga kita tadi pagi," terang Sophia. "Itu benar," sahut seorang wanita seumuran ibunya. Ia tersenyum ramah. "Kami hanya mampir untuk berterima kasih. Bunga kalian sangat cantik." Sambungnya lagi. Ayana hanya mengangguk, ia menatap ibunya haru. Baru kali ini ada orang yang begitu menghargai hasil tangan mereka. Mereka bahkan mampir hanya untuk mengatakan itu, walau sebenarnya tidak perlu. "Terima kasih atas pujiannya," Ayana tersenyum padanya. "Mungkin kita bisa lanjut untuk berbisnis," sahut pria di sampingnya. Sepertinya pria itu adalah suaminya. "Berbisnis?" Ayana melirik ibunya. "Putri kami yang menikah hari ini adalah seorang perencana pesta. Mungkin kalian bisa bekerja sama." Jelas pria itu padanya. "Maksudnya?" Ayana masih belum mengerti. "Ya, menyediakan kebutuhan bunga untuk setiap acara yang akan mereka adakan tentu saja. Apakah kau setuju?" "Tapi, bagaimana bisa? Kita bahkan baru saling mengenal." Tidak mungkin Ayana mempercayai mereka begitu saja. "Ya, sebenarnya putri kami Helena sudah memiliki pensuplai bunga sendiri dan selama ini mereka sudah bekerja sama dengan baik. Tapi entah kenapa saat Helena membutuhkannya di hari terpenting dalam hidupnya, mereka malah mengecewakannya. Sehingga Helena dengan yakin memutuskan kontrak kerjasama mereka. Dan dia sendiri yang meminta kami untuk datang menemui kalian untuk berterima kasih." Jelas wanita di depan mereka. "Jadi bagaimana? Apakah kalian mau menerima tawaran dari putri kami?" Tanyanya kemudian. Ayana terkesiap. Baru kali ini ada orang yang menawarkan kerjasama dengan toko bunga mereka. Toko bunga Dimitri bukanlah usaha besar. Persediaan bunga mereka juga tidaklah banyak. Ayana melirik ibunya, meminta pendapat. "Kau tidak perlu khawatir. Kalian akan menerima harga yang pantas. Dan pembayaran akan dilakukan di depan secara penuh. Jadi kalian tidak akan rmerugi, bila acara tiba-tiba di undur atau dibatalkan sepihak." Jelas suami dari wanita itu. "Bagaimana bu?" Ayana memalingkan wajahnya, menatap Sophia lekat mengharapkan persetujuannya. "Terserah padamu. Toko ini adalah milikmu. Ibu hanya menjalankan amanah ayahmu untuk mengelolanya." Sophia menjawab sebijak mungkin. "Baiklah. Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?" Selidik Ayana. Netranya memandang suami istri itu bergantian. Meskipan ia tahu, mereka adalah orang yang baik. Tapi ini hanya untuk berjaga-jaga. Suami istri itu kemudian saling berpandangan, lalu mengulas senyum puas kepada gadis itu. "Baiklah nak. Kau bisa membuat surat perjanjiannya, dan kami dengan senang hati akan menandatanganinya untukmu." Katanya untuk meyakinkan Ayana. Sebuah perjanjian di atas kertas putih sudah ditulis oleh Ayana. Kedua suami istri itu, Ayana, juga ibunya sama - sama menorehkan tanda tangan mereka di atas nama mereka masing - masing. Setelah pembicaraan selesai, mereka pamit undur diri. Ayana dan ibunya lalu saling berpelukan. Tak menyangka mereka akan mendapatkan tawaran sebesar ini. Mungkin setelah ini, hidup mereka akan jauh lebih baik. Tak perlu lagi menunggu pembeli selama berhari-hari. "Bu...." Ayana melerai pelukannya. "Ya. Ada apa Ay?" Sophia menatapnya bingung "Apa ibu sudah makan tadi?" tanya Ayana. "Ibu sudah makan. Kenapa kau tanyakan itu?" Sophia mengernyitkan dahinya. "Sebab aku membawakan makanan enak untuk ibu." "Makanan? Kapan kau membelinya?" "Bukan aku yang membelinya," sahut Ayana jujur. "Lalu siapa? Apakah Nyonya Kalina membelikannya untukmu?" Ayana menggeleng, "Bukan dia juga." "Lalu siapa? Dari mana kau mendapatkannya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN