"Lalu siapa? Dari mana kau mendapatkannya?" ""Rasya yang sudah membelikannya." Nyonya Sophia menatap Ayana dengan ekspresi terkejut. Baru kali ini dia mendengar Ayana menyebut nama seorang pria di depannya. "Rasya? Apakah dia temanmu?" "Dia bukan teman ku, bu. Aku saja baru mengenalnya." "Lalu?" "Dia anak Tuan Adhiaksa, kakak ipar Nyonya Kalina." "Baik sekali dia mau membelikanmu makanan." Ucap Sophia dengan senyum mengejek. "Iya, dia memang baik." Ayana menekuk bibirnya. Kalau saja ibu tahu siapa itu Rasya Adhiaksa, mungkin ibu tidak akan pernah bilang begitu tentangnya pikir Ayana. "Sudah sore bu, ayo kita tutup tokonya. Sudah tidak ada pembeli lagi sekarang." "Baiklah," sahut Sophia. Kedua ibu dan anak itu mulai menyimpan kembali semua bunga mereka.Menyusunnya di rak-rak lemari penyimpanan, untuk menjaga bunganya tetap segar hingga esok hari. Jika tak di simpan dengan baik, bunga-bunga itu akan layu dan tak bisa dijual lagi. Terpaksa mereka harus keluar modal untuk memesan bunga yang baru. ********** Sementara itu, di waktu yang sama namun tempat yang berbeda. Tuan Tamma Adhiaksa bersama istri, menantu, serta cucunya baru saja pulang dari perjalanan mengantarkan Raka ke bandara. Suami Kalina itu harus kembali untuk melanjutkan pendidikannya. Hanya tinggal satu tahun lagi, maka mereka dapat berkumpul kembali. "Kal...pergi antar anakmu ke kamarnya. Kasihan, dia pasti lelah." "Iya ma..." "Jangan lama, kita akan makan malam bersama." "Baiklah." Kalina membawa putrinya ke kamar. Mengganti pakaiannya lalu menidurkannya. Gadis kecil itu masih menyusu pada mamanya, Kalina merasa kasihan bila menyapihnya terlalu cepat. Sementara itu, Tamma Adhiaksa dan istrinya sudah berada di meja makan, masih menunggu kedatangan Rasya dan juga Kalina. Suara langkah kaki menggema dari arah ruang tamu. "Hai ma, pa..." Rasya memeluk memeluk sekilas mamanya. "Kapan sampai?" Tanya Rasya. "Kami baru saja sampai," sahut Liliana. "Dimana Kalina?" Tanya Rasya. Ia memposisikan diri di samping Tuan Tamma sambil memandang sekeliling. "Dia ada di kamarnya, sedang menidurkan bayinya," jawab Liliana. "Apa dia juga pulang bersama kalian?" Tanya Rasya ingin tahu. "Iya..tadi Kalina menyusul kami ke bandara. Kenapa?" Tanya Liliana heran. "Tadi siang aku mampir ke butiknya. Tapi dia malah meninggalkanku begitu saja." Rasya tampak kesal. Tapi air mukanya tak berubah sedikit pun, tetap dingin tanpa ekspresi. "Untuk apa kamu ke sana?" Tanya Tuan Tamma. "Papa kan tau...menantu kesayangan papa itu, kalau sedang sibuk pasti lupa pada dirinya sendiri." Jawab Rasya. "Jadi aku membelikannya makan siang. Tapi karena terburu-buru ingin menyusul kalian, dia malah memberikannya begitu saja pada orang lain." "Orang lain? Maksudnya?" Liliana mulai bingung. "Ya, tadi temannya ada di sana bersama kami." "Mungkin itu hanya customernya Kalina, Ray..." sahut Tuan Tamma. "Entahlah...aku rasa bukan. Kalina bilang kalau itu temannya." "Pria atau wanita?" Liliana jadi penasaran. "Wanita," jawab Rasya dingin. "Sepertinya ada yang sedang membicarakan aku, ya..." Kalina tersenyum melirik Rasya. Mereka tak menyadari kedatangannya. Kalina menarik kursi dan duduk di samping Liliana. "Maaf ya ma, aku sedikit lama. Soalnya anak ku baru aja tidur." "Ya sudah, nanti saja bicaranya. Ayo makan dulu. Papa sama mama sudah lapar." Malam itu mereka makan bersama, seperti biasanya. Tak ada yang boleh bicara disaat makan. Dan sesibuk apapun kegiatan mereka, semua anggota keluarga harus tetap berkumpul saat makan malam. "Papa sama mama masuk duluan ya. Mama mau istirahat." "Ya ma. Setelah ini aku juga mau langsung istirahat," sahut Kalina. "Papa juga, besok pagi ada rapat penting. Oya Ray...jangan lupa, besok pagi kamu harus mendampingi papa, besok seluruh pemegang saham akan hadir dalam rapat direksi. Apa semuanya sudah dipersiapkan?" "Papa tenang aja... semuanya sudah aku persiapkan." "Pastikan jangan sampai ada kesalahan, Ray." Tamma Adhiaksa mencoba mengingatkan. "Baiklah, pa." Tamma Adhiaksa dan istrinya Liliana pun segera beranjak dari meja makan. Meninggalkan putra sulung dan menantu mereka di ruang makan, kemudian menuju ke kamar mereka yang berada di bagian depan, bersebelahan dengan ruang tamu. "Aku juga mau masuk duluan ya mas," kata Kalina saat hendak berdiri meninggalkan Rasya. "Bentar Kal," Rasya menghentikan langkah Kalina. "Ya, ada apa mas?" Kalina kembali duduk. "Siapa perempuan yang bersama mu tadi di butik?" "Perempuan yang mana? Hari ini banyak perempuan yang datang ke butik ku." Kalina menautkan alisnya, menatap Rasya dengan pandangan bingung. "Perempuan yang bersamamu saat aku datang tadi." "Perempuan? Tadi siang? Maksudnya Ayana?" Kalina mencoba menebak orang yang dimaksud oleh Rasya. "Ayana? Apa itu memang namanya?" Rasya melipat tangannya di d**a, sudut bibirnya terangkat. "Iya. Ada apa mas?" Kalina melirik curiga padanya. "Oya, tadi siang aku meminta tolong mas Rasya untuk mengantarnya pulang kan?" "Oh itu, ya...tadi aku ada kerjaan, jadi aku meninggalkannya di sana." Rasya menjawab tanpa rasa bersalah. "Ya ampun mas...tega banget sih?" ucap ketus Kalina pada Rasya. Kalina benar-benar tak habis pikir dengan pikiran pria kaku di depannya ini. Hatinya terbuat dari apaan sih? Masa sih dia tega ninggalin Ayana sendirian disana? Kalina menatap Rasya sinis. Rasanya ingin memukul kepala manusia di depannya ini biar otaknya bisa bekerja maksimal, bukan cuma dipakai buat mikirin kerjaan aja. "Kenapa? Dia juga bisa pulang sendiri kan?" Sahutnya enteng. Kalina tertawa menahan marahnya sedangkan kedua tangannya menutupi wajahnya. Entah raut wajah yang bagaimana yang harus dia tunjukkan pada Rasya. Geram sekali rasanya mendengar pria ini mengatakan hal itu. Bagaimana mungkin ada perempuan yang tertarik padanya bila dia bersikap seperti itu? Kalina merasa putus asa menjodohkan kakak iparnya itu dengan sahabat juga customernya, yang unjung-ujungnya Kalina sendiri yang merasa malu. Pilihan terakhir Kalina jatuh pada Ayana. Dan gadis itu adalah harapan terakhirnya. Gadis muda yang cantik, baik hati, lugu, dan juga pekerja keras. Itulah alasan Kalina mengundangnya di acara Wedding Anniversary mertuanya kemarin malam. Dan satu hal lagi, Kalina masih sangat penasaran apa yang terjadi pada Ayana kemarin malam. Apa benar Rasya mengantar Ayana sampai di rumahnya? Kalau iya, kenapa Ayana bisa sampai tersandung berulang kali? Ingin rasanya menanyakan hal itu langsung pada Rasya. Tapi Kalina yakin Rasya tidak mungkin jujur padanya "Kal...kenapa kau diam?" Pertanyaan Rasya membuyarkan lamunannya. "Kenapa mas?" Tanya Kalina bingung, matanya mengerjap. "Ada apa denganmu?" Rasya menatapnya khawatir. "Ah....tidak ada apa-apa. Mmm...oya mas, ada yang ingin aku tanyakan sama mas Rasya," kata Kalina ragu. "Apa?" Tatapnya serius. "Mas ingat gak, pas acara kemarin malam, aku juga mengundang temanku?" "Hemm..." "Apa mas masih ingat padanya? "Hemm..." "Aku juga meminta tolong sama mas untuk mengantarnya pulang kan?" "Hemm...trus kenapa?" "Apa mas benar-benar mengantarnya sampai di rumah?" "Iya. Kenapa? Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Rasya menegakkan duduknya, menyandarkan dadanya di tepi meja. "Ah tidak. Aku hanya ingin memastikan saja." Kalina tersenyum hambar. "Mm....Teman mu tadi, apakah pernah datang ke butik mu sebelumnya?" "Iya, dia sering datang kesana." "Untuk apa? Apa dia customer di butik mu?" "Bukan. Dia hanya mengantar pesanan bunga ke butik ku." "Ooo...jadi dia itu hanya pengantar bunga?" Rasya memutar bola matanya. Dari nada bicaranya, sangat jelas kalau dia menganggap remeh gadis itu. Kalina terlihat begitu kesal mendengar pertanyaan Rasya. Ya ampun, apa sih yang dipikirkan kakak iparnya ini? Kedengarannya picik sekali. Gerutu Kalina sebal. "Bukan mas, dia itu anak pemilik toko bunga langgananku," sahut Kalina. "Ooh...Tadi siapa namanya?" Tanya Rasya seperti ingin memastikan sesuatu. "Ayana, namanya Ayana." Jawab Kalina ketus. "Ayana? Sepertinya aku pernah dengar nama itu. Tapi dimana?" Rasya mencoba mengingat sesuatu di kepalanya. Tangannya bersedekap di d**a. "Di acara kemarin." Sahut Kalina ketus. "Acara kemarin?" Rasya mengulangi ucapan Kalina. "Gadis yang aku undang di acara kemarin malam. Namanya Ayana. Apa mas gak ingat?" "Maaf, aku lupa namanya...." sahut Rasya sambil menggaruk kepalanya. "Pantes saja aku seperti pernah melihatnya. Tapi aku gak yakin, karena penampilannya sangat berbeda kemarin malam." Sambungnya lagi, pria itu tersenyum dingin. Ternyata...cewek ceroboh dan aneh itu rupanya, gumam Rasya. Pantes aja dia memalingkan wajahnya. "Mas...." panggil Kalina. "Ya...." lamunannya kacau. "Aku masuk duluan ya mas, anak ku menangis..." Kalina beranjak dari meja makan meninggalkan Rasya yang masih tenggelam dalam pikirannya. "Baiklah." Rasya tersenyum penuh arti. Sepertinya, Rasya akan mengingat nama gadis itu untuk waktu yang lama.********** "Selamat pagi, ma..." Kalina mencium kening mertuanya yang sedang duduk di meja makan. "Selamat pagi sayang. Ayo sarapan dulu," Liliana menepuk kursi di sebelahnya. Sangat kelihatan kalau Liliana sangat menyayangi menantu satu-satunya ini. "Mama udah selesai sarapan?" Tanya Kalina saat duduk di sampingnya. "Baru aja selesai. Biar Putri sama mama aja." Liliana mengambil bayi itu dari pangkuan Kalina. "Iya kan sayang. Putri cucu oma, kita mamam dulu ya sama oma..." Liliana dengan telaten menyuapi cucu perempuan satu-satunya. "Papa mana, ma?" "Udah berangkat pagi-pagi tadi sama Rasya," sahutnya sambil terus menyuapi si kecil. "Gak sarapan dulu?" "Katanya mereka sarapan di kantor aja. Takut telat, soalnya pagi kan sering macet." "Ooo...." Kalina melanjutkan ritual sarapan paginya. Segelas s**u penambah kualitas ASI selalu disiapkan untuknya. Liliana paham betul dengan kesibukan menantunya ini. Kalina butuh nutrisi yang cukup karena masih harus menyusui gadis kecilnya. Tapi karena terlalu sibuk, juga stres karena pekerjaan, apalagi Kalina sering terlambat makan, sehingga kualitas ASInya berkurang. Karena itu, Liliana selalu ingat untuk menyediakan s**u itu untuk Kalina. "Ma...aku mau omongin sesuatu ke mama," katanya setelah menyeka mulutnya dengan tisu. "Ngomong apa Kal?" Liliana menoleh sebentar. "Mama ingat gak sama Ayana? Yang Kalina undang di acara kemarin?" "Hemm..." Liliana mengangguk pelan. "Menurut mama gimana anaknya?" "Sepertinya baik, sopan... anaknya juga lucu." Liliana tersenyum mengingat kejadian malam itu. "Aku juga mikirnya gitu...apalagi anaknya manis, iya kan ma?" Kalina memutar bola matanya. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. "Emangnya kenapa?" Tanya Liliana heran. "Kira-kira....kalau Kalina jodohkan sama mas Rasya, mama setuju gak?" "Hahh...?" Liliana mendelik demi mendengar kata-kata Kalina. Dia memutar tubuhnya menatap serius menantunya ini. Wajahnya tampak seperti mencemaskan sesuatu. "Apa Rasya mau, Kal? Mama takut nanti malah seperti yang sudah-sudah..." sahutnya bimbang. Ya, Liliana dan suaminya sebelumnya pernah menjodohkan Rasya dengan anak rekan bisnis Tamma Adhiaksa. Tapi usaha mereka selalu gagal. Rasya bahkan pernah dengan terang-terangan menolak perempuan itu di hadapan keluarganya. Dan itu membuat keluarga mereka sangat malu. Pernah suatu kali, rekan bisnisnya memutuskan kontrak kerjasama karena perjodohan itu ditolak oleh Rasya. Sejak itu, Tamma Adhiaksa dan istrinya menyerah dan memberikan keputusan di tangan Rasya sendiri. Terserah, jika Rasya memang tak ingin menikah. "Mama tenang aja. Kita buat seolah-olah ini tidak disengaja." "Tidak disengaja gimana? Mama masih belum paham maksud kamu, Kal." Liliana melotot, ia tidak yakin dengan usulan Kalina kali ini. "Iya ma, ikuti arus aja. Kalau dulu kan kita terang-terangan melakukannya. Sekarang kita akan buat mereka sering bertemu tanpa disengaja...." Kalina tersenyum lebar. "Tapi gimana caranya?" "Mama ingat kan kalau Ayana itu anak penjual bunga? Dia sering mengantar bunga ke butik Kalina. Kalina akan buat mereka sering bertemu di sana...." Kalina menyeringai lebar, hingga semua giginya terlihat. "Ohoo....mama paham maksud kamu Kal. Gimana kalau kamu antar mama ke tempat mereka," sahutnya. Sepertinya Liliana mendapatkan ide di kepalanya. "Hah? Buat apa ma?" Kalina gantian melotot pada mertuanya. "Udah tenang aja, mama ada ide. Lebih bagus dari ide kamu pokoknya..." ia tersenyum. "Ide apaan sih, ma? Cerita dong..." Kalina merasa penasaran. "Kamu kenalkan mama sama orangtua Ayana. Kita akan ajak mereka kerjasama dengan kita." "Kerjasama untuk menjodohkan mas Rasya ya ma?" Tanyanya heran. Kalina masih bingung dengan rencana itu. "Hush...bukan." Liliana mengibaskan tangannya di udara, seperti sedang mengusir lalat saja. "Trus....?" "Kita akan minta mereka mengirim bunga ke kantor papa. Di sana kan ada Rasya, Kal. Mereka akan sering bertemu. Kita lihat gimana reaksi Rasya," katanya yakin. "Trus...kalau papa dan mas Rasya tanya, gimana ma?" "Kalau itu urusan mama. Nanti mama yang bilang ke papa. Pasti papa setuju." "Hmm...oke deh." Kedua wanita itu tersenyum lebar.