Rencana Kalina (2)

1942 Kata
"Gimana ma, udah siap belum?" Kalina melawat mamanya ke kamar. Ingin tahu kenapa mertuanya begitu lama. "Sudah, ayo." Katanya saat beranjak keluar dan mengunci pintu kamar. Kalina berjalan di depannya sambil mendorong stroller si kecil. Siang itu mereka memutuskan untuk pergi ke toko bunga Dimitri. Tapi sebelumnya, mereka akan singgah lebih dulu ke perusahaan suaminya. Liliana yakin sekali suaminya akan mendukung mereka. Siang ini jalanan sedang ramai. Sepertinya mereka harus bersabar sedikit. Demi mendapatkan menantu baru, demi mendapatkan istri untuk putra sulungnya. Liliana menatap nanar jalanan panjang di depan mereka. Liliana berharap suaminya akan mendukungnya kali ini. "Pak, buruan ya. Kita harus ke kantor papa sekarang. Kalau lama, nanti papa keburu pergi." Ucap Kalina pada sang supir, yang masih setia bekerja di usianya yang mulai senja. "Siap Nyonya..." sahutnya. "Kamu masih mau singgah ke butik lagi gak, Kal?" Tanya Liliana. "Gak usah ma, takutnya kesorean. Nanti toko mereka keburu tutup." "Ya sudah..." Liliana menurunkan pandangannya. Sang oma hanya bisa tersenyum melihat .Putri sedang tertidur pulas di pangkuannya. Sekarang adalah jam tidurnya, biasanya gadis kecil itu sedang tergolek di kasurnya yang empuk. Mereka terpaksa membawanya, sebab Kalina tak mempekerjakan seorang pengasuh bayi untuk merawat anaknya. Ia dan suaminya, Raka, ingin anak itu dirawat sendiri olehnya. Jika sibuk, ia akan menitipkan Putri pada ibu mertuanya. Tentu saja Liliana dengan senang hati akan menjaga bayi itu. Saat semua anggota keluarganya pergi untuk bekerja, ia hanya tinggal sendirian di rumah bersama asisten rumah tangganya. Maka Liliana akan bermain bersama Putri untuk menghabiskan waktu seharian di rumah. Memang sih, ada dua orang asisten rumah tangga yang bekerja pada mereka, tapi sudah pasti mereka juga sangat sibuk dengan pekerjaan rumah yang berjubel. Tak lama, mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran sebuah gedung. Dan berhenti tepat di depan pintu masuk gedung itu. Seorang security yang berjaga di pintu segera berlari menyongsong mobil mereka. Dan dengan sigap membukakan pintu sambil menunduk hormat. Nyonya Liliana turun sambil menggendong cucunya, diikuti oleh Kalina di belakangnya. Pak supir langsung beranjak mengeluarkan stroller bayi dari bagasi belakang. Orang - orang yang berada di sana langsung ikut menunduk hormat. Liliana berjalan anggun bersama menantu dan cucunya. Sudah lama dia tidak mampir ke kantor suaminya. Suasananya tidak banyak berubah, para pagawai yang bekerja pun didominasi oleh pegawai lama yang masih setia bekerja pada suaminya. Mereka semua menunduk hormat saat wanita itu melewati meja kerja mereka. Liliana hanya membalasnya dengan senyuman ramah. Hanya satu dua orang saja yang tidak ikut menunduk, mungkin mereka karyawan baru dan belum mengenal Liliana. Liliana dan menantunya berjalan menuju lift khusus yang mengantar mereka langsung menuju ke lantai atas, dimana ruang kerja suami dan juga putranya berada. Ruangan kerja suaminya bersebelahan dengan ruang kerja Rasya, putranya. Saat pintu lift terbuka, mereka mendelik bersamaan. Jantung mereka berdebar tidak karuan saat melihat Rasya sedang berbicara dengan sekretarisnya. Sebab, meja kerja sang sekretaris berada di luar, di samping pintu masuk ruangan suaminya. Rasya masih belum menyadari kedatangan mereka saat ini karena posisinya membelakangi lift. "Gimana nih ma, ada mas Rasya?" Kalina langsung melirik mertuanya. "Udah tenang aja. Biar mama aja yang ngomong sama Rasya." Bisik Liliana. "Kalau mas Rasya tanya, gimana?" "Bilang aja kamu mau temani mama." sahut Liliana setengah berbisik. Mereka berjalan perlahan, sengaja agar Rasya tak mendengar langkah mereka. Tapi suara roda stroller bayi Kalina yang berderit membuat kedua orang itu menoleh bersamaan. "Mama...." Rasya menggumam. "Selamat siang, bu Liliana." Sekretaris suaminya itu berdiri lalu menunduk hormat. "Iya. Pak Tamma ada di dalam?" Tanya Liliana. "Ada bu. Ibu mau masuk? Saya beritahu Pak Tamma dulu." Gadis itu tersenyum ramah. Ia lalu berbicara dengan seseorang. Beberapa saat kemudian ia berdiri dan membukakan pintu untuk Liliana. "Silahkan masuk bu..." katanya saat membukakan pintu. Kalina pun langsung mengekor masuk bersama Liliana. Tapi dia terhenti, saat tangannya ditarik oleh Rasya keluar dari sana. "Kalina...." Rasya memanggilnya. Kalina terpaksa ikut bersama Rasya menjauhi pintu masuk, lalu duduk di sofa di sudut ruangan. "Ada apa mas?" Jantung Kalina berdetak cepat. Ia takut kalau Rasya sampai tahu tujuan mereka datang ke sini. "Kamu sama mama ngapain datang ke kantor?" "Ooh...kita cuma mampir mas. Mama bosan di rumah terus, katanya." Sahut Kalina asal. Tangannya mengelus kepala Putri yang asik mengoceh sendiri. "Kamu apa nggak ke butik?" Tanya Rasya heran. "Nggak mas...mama pengen di temani, katanya. Nggak apa-apa mas, kan cuma sesekali aja..." Kalina mencoba tersenyum, menutupi kegugupannya. "Habis dari sini kalian mau kemana?" "Belum tahu mas, mungkin jalan-jalan atau temani mama belanja..." Kalina mengedikkan bahunya. "Kalian tidak sedang sibuk kan mas?" Tanya Kalina berpura-pura. "Enggak. Kami baru saja selesai rapat." Jawabnya sambil sesekali meladeni Putri yang mengoceh di dalam stroller. "Belum makan siang dong, ya? Kalau gitu, kami temani kalian makan siang di bawah." Sahut Kalina. Debaran di dadanya mulai sedikit mereda, Rasya sudah tidak mencurigai mereka lagi. "Apa kalian juga belum makan siang?" Tanya Rasya sedikit kesal. Dia agak sensitif bila tahu Kalina belum makan. Mungkin karena wanita itu harus menyusui bayinya, sehingga Rasya sangat perhatian padanya. "Sudah mas, sebelum berangkat tadi kami sudah makan." Jawab Kalina. Dia senang karena Rasya menganggapnya seperti adik, bukan saudara ipar. "Ya sudah, aku masuk dulu buat panggil papa sama mama..." Rasya bangkit meninggalkan Kalina dan anaknya. Kalina mengelus dadanya perlahan. Dia bersyukur ternyata Rasya percaya padanya. Siang itu, terpaksa mereka menemani Tamma Adhiaksa dan Rasya untuk makan siang terlebih dulu. Mereka harus tampak meyakinkan agar Rasya tak menaruh curiga. Karena terlalu lama bercakap - cakap tadi, waktu mereka tinggal sebentar lagi. Karena setelah makan siang tadi, mereka harus menghabiskan banyak waktu di perjalanan menuju toko bunga Dimitri. Apalagi, jalanan sudah mulai macet di beberapa tempat, sudah waktunya jam pulang kantor. Mereka harus mengambil jalan potong agar lebih cepat sampai. "Gimana Kal, apa masih jauh?" Tanya Liliana mulai tidak tenang. "Sebentar lagi ma..." sahut Kalina. "Pak kita langsung ke toko Ayana ya," pinta Kalina pada supirnya. "Siap Nyonya." sahut pak supir. Mobil kemudian berbelok, masuk ke sebuah persimpangan. Lalu berhenti di samping sebuah gang, tepat di depan toko bunga Dimitri. Mereka memperhatikan seorang ibu dan seorang gadis sedang membereskan semua bunga masuk ke dalam toko. Kalina dengan cepat keluar dari mobil diiringi Liliana di belakangnya. Sementara bayinya ia tidurkan di kursi belakang. "Nyonya Sophia, Ayana..." panggilnya. Kedua orang yang disebut namanya, menoleh bersamaan. "Eh..Nyonya Kalina," Ayana mendekat untuk menyambutnya. Sejenak matanya teralih pada wanita yang berdiri di belakang Kalina. "Ada Nyonya Adhiaksa juga. Apa kabar Nyonya?" Ayana mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Panggil ibu atau tante saja," kata Liliana ramah, ia menyambut uluran tangan gadis itu. Membelai pipi Ayana sambil tersenyum. "Ayo bu, silahkan masuk..." ajak Ayana. "Maaf tokonya agak sempit, karena kami sedang beres-beres tadi." Lanjutnya, tangannya menarik beberapa kursi untuk mereka. Liliana hanya memandangi gadis itu dengan tersenyum. Kalina memang tidak salah pilih, pikirnya. Gadis ini memang baik, cantik, juga ramah. Liliana baru tahu, Ayana berasal dari keluarga yang sederhana. Toko yang mereka miliki juga hanya sebuah toko kecil satu pintu. Dengan lebar empat meter dan panjang delapan meter ke belakang. "Bu kenalkan, ini Nyonya Adhiaksa." Ayana mengenalkan ibunya. "Saya Sophia, ibunya Ayana." katanya saat menjabat tangan Liliana. "Saya Liliana Adhiaksa. Saya sudah dengar banyak tentang anda dan Ayana dari Kalina, menantu saya," Liliana memandangi Kalina sambil tersenyum. "Kebetulan kami baru mau tutup. Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya Sophia pada kedua tamunya. "Begini bu Sophia. Ayah mertua saya sedang mencari toko bunga untuk di kirim ke kantornya," Kalina memulai percakapan. "Jadi saya ingin menawarkan kerjasama dengan toko bunga ini," sambung Liliana, mulai melancarkan rencana awal kedatangan mereka. "Maksudnya?" Nyonya Sophia masih agak bingung. "Sama seperti yang Ayana lakukan di butik saya. Saya harap Ayana bisa mengirimkan bunga setiap hari Senin dan Kamis ke kantor Pak Adhiaksa. Juga mensuplai bunga untuk acara-acara khusus yang dilaksanakan di Perusahaan Adhiaksa." "Jadi untuk hari senin dan kamis, saya harus mengirim bunga di dua tempat? Apa sempat ya Nyonya?" Ayana sepertinya merasa kesulitan dengan tawaran itu. "Tidak Ayana. Untuk hari senin dan kamis, kamu hanya akan mengirim bunga ke kantor papa. Dan di butik saya, kamu bisa kirim di hari lain, tapi tetap dua kali dalam seminggu." Kalina mencoba menjelaskan, agar Ayana mau menerima tawaran mereka. "Ooh...lalu untuk jumlah dan jenis bunganya, bagaimana?" "Nanti saya kabari kamu. Saya akan datang langsung sehari sebelumnya, sekalian untuk membayar pesanan bunganya." Sahut Kalina lagi. Liliana hanya mengangguk setuju dengan tawaran Kalina itu. "Bagaimana bu?" Ayana ingin mendengar pendapat dari ibunya. "Terima saja, Ay. Tidak baik menolak rejeki yang datang..." Nyonya Sophia menggenggam tangan putrinya.  Matanya berkedip pada Ayana. Memberi isyarat agar Ayana menerima tawaran itu. Jarang - jarang mereka bisa mendapatkan pesanan bunga. Karena itu, Sophia tidak ingin menolak tawaran yang datang. Sepertinya mereka sedang bernasib baik. Tawaran kerjasama datang selama beberapa hari belakangan. Tentu saja hal ini membuat mereka bahagia, meskipun kelelahan dibanding hari-hari sebelumnya, saat mereka sedang sepi pembeli. "Baiklah Nyonya, saya terima..." Nyonya Liliana dan Kalina saling berpandangan. Senyum tersungging di bibir mereka. Akhirnya rencana mereka berhasil. "Baiklah kalau begitu, saya dan Kalina pamit pulang. Kasihan tadi cucu saya ditinggal tidur di mobil." Nyonya Liliana bangkit dari duduknya. "Iya bu...," Ayana ikut berdiri hendak mengantar tamunya pulang. "Terima kasih Nyonya sudah mampir di toko kami. Hati-hati di jalan." kata Nyonya Sophia pada mereka. "Iya, kami permisi dulu bu Sophia..." sahut Kalina mengakhiri pertemuan mereka. Mobil mulai melaju perlahan keluar dari dalam gang menuju persimpangan depan. Hari sudah mulai gelap. Mereka harus segera tiba di rumah sebelum suami dan putranya sampai lebih dulu. Mereka berpesan pada sang supir, agar tidak menceritakan perjalanan mereka hari ini pada Rasya. "Gimana ma?" Tanya Kalina mengiringi perjalanan mereka. "Mama setuju sama pilihan kamu. Tidak ada salahnya mencoba kan?" Liliana menyandarkan kepalanya, pikirannya menerawang jauh. "Yang Kalina tahu, Ayana gadis baik. Dan dia sangat menyayangi bu Sophia. Dia bahkan sampai tak melanjutkan pendidikannya hanya karena tak ingin merepotkan ibunya," sambung Kalina. "Bagaimana kamu bisa tahu?" Liliana memutar kepalanya. "Ayana sudah lama mengantar pesanan bunga di butik. Kami sering mengobrol tentang banyak hal. Tentang ayahnya yang sudah tiada. Tentang ibunya yang terlalu khawatir padanya. Tentang toko bunga itu, tentang banyak hal...." jelas wanita itu. "Benarkah? Sedekat itukah hubungan kalian?" Liliana merasa dirinya sangat terpikat dengan kisah gadis ini. Rasa ingin tahunya merajai pikirannya. "Ya, memang tidak sedekat itu...tapi, Ayana sangat berbeda ma." "Maksudnya?" Netranya menatap tajam. "Dia adalah gadis yang lugu dan jujur yang pernah aku jumpai." Kalina tersenyum, beberapa hal tentang Ayana menggelitiknya. "Sudah banyak gadis cantik yang dijodohkan dengan Rasya, tidak sedikit pun membuatnya tertarik. Wanita kaya dan mandiri, itu juga tidak bisa membuatnya jatuh cinta. Tapi gadis ini, mama harap Rasya bisa luluh padanya. Pertama kali mama melihatnya, mama suka padanya..." "Tapi ma, apa papa menyetujui rencana mama ini?" Wanita itu teringat saat mereka mendatangi kantor Tuan Adhiaksa tadi siang. "Oh tentang itu...papa tidak menolaknya, tapi juga tak menyutujuinya." Liliana menarik napasnya berat. "Kenapa ma?" "Papa bilang, untuk apa mengirim buket bunga ke perusahaan pertambangan? Sungguh tidak masuk akal." "Lalu bagaimana?" Kalina mulai merasa khawatir. "Tidak apa-apa...Nanti mama pikirkan jalan lain." Liliana memutar bola matanya, melihat cucunya yang sedang bermimpi dalam tidurnya. Anak kecil itu sepertinya tak merasakan kegalauan mereka saat ini. "Terus, apa yang Rasya katakan padamu Kal?" "Dia hanya bertanya, untuk apa kita datang ke kantor papa siang tadi." "Lalu apa yang kamu katakan padanya?" "Aku bilang kalau aku hanya mengantar mama jalan - jalan, sebab mama merasa bosan selalu ada di rumah..." "Dia tak mencurigaimu kan?" "Ah tidak...mungkin awalnya seperti itu, karena dia terus saja mendesakku. Untungnya aku bisa mencari alasan." "Syukurlah kalau begitu...kapan - kapan mama ingin mengundang Ayana untuk makan malam bersama kita di rumah. Bagaimana menurutmu Kal?" "Aku pikir, jangan dulu ma. Takutnya Rasya akan curiga..." "Ah...benar juga," Liliana menarik panjang napasnya yg dirasa agak berat. Memikirkan Rasya, waktunya habis terbuang untuk putranya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN