Episode 4

1997 Kata
"Mas Hamzah..., Mas..."   Hamzah mengerjapkan matanya beberapa kali hingga bayangan itu muncul lagi. Sudah sering memang, tapi entah kenapa akhir-akhir ini jarang sekali dan baru kali ini dia datang lagi.   "Dara.." panggil Hamzah tak percaya lalu meraih tangan putih halus itu.   Ya, dia Dara. Kiandara, mendiang istri Hamzah yang meninggal saat melahirkan anak mereka 8 tahun yang lalu.   "Kamu dari mana aja? Kok nggak pernah datang lagi?" tanya Hamzah khawatir sambil mengelus pipi Dara.   "Aku ada. Di sini..." Dara meletakkan punggung tangan kanannya ke d**a Hamzah. "Anak kita apa kabar, Mas?"   "Dia baik, sehat tapi dia kemarin sedih waktu aku harus berangkat ke sini..." jawab Hamzah sendu.   "Nggak apa. Ada aku yang jaga, kamu fokus aja di sini, ya. Jangan lupa makan, minum vitamin juga, masa dokternya ikut sakit kan nggak lucu."   Hamzah terkekeh kemudian mendengar pesan Dara. "Iya sayang, Mas kangen banget sama kamu..." lirihnya.   "Aku tahu dan aku juga kangen. Maafkan aku. Kamu mau nggak, cari pengganti aku? Aku rela jika ada perempuan lain yang menggantikan aku, berperan sebagai istri, menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya juga jadi Ibu sambung yang baik untuk anak kita. Aku rela, Mas."   Hamzah diam.   "Yang kemarin itu? Dia bagaimana? Dia nggak mau ya sama kamu?" selidiknya.   "Bukan. Bukan dia yang nggak mau sama aku, tapi aku yang terlalu lama meyakinkan perasaanku sendiri. Meyakinkan bahwa aku butuh pengganti kamu, meyakinkan lagi hatiku yang masih sebagian terisi sama kamu. Tapi sayang, saat aku mulai yakin dan mengutarakan perasaanku ke dia, dia sudah jadi milik orang lain, dia sudah bertunangan dan kini menikah juga sekarang sedang mengandung anak pertamanya. Mungkin bukan dia." tandas Hamzah lalu menatap Dara dalam-dalam.   Dara hanya tersenyum sambil mengusap wajah Hamzah. "Maafkan aku. Ya udah, aku harus pergi sekarang, jangan lupa, anak kita butuh sosok seorang Ibu, selain aku." pintanya lalu melepas genggaman Hamzah ditangannya dan pergi dari hadapan Hamzah.   "Dara! Kiandara!"   Namun Dara semakin menjauh...   . . . .   Deg!   Hamzah terbangun lalu menghembuskan napas panjang, ia melirik jam tangan di lengan kirinya yang belum sempat dilepasnya. "Ya Allah, masih jam 3 pagi? Baru satu jam tidur." gumamnya.   "Dara..." lirihnya.   Kalau sudah begini Hamzah takkan bisa tidur lagi. Lebih baik ia mengambil air wudhu lalu ke tenda mushola dan tahajud di sana.   Menggelar sajadahnya, Hamzah lalu mengumandangkan takbir dan memulai sholatnya. Sampai 5 menit kemudian ia selesai, Hamzah masih belum beranjak dari sajadahnya, ia menengadahkan tangannya sambil menggumamkan doa.   Doa atas segala yang ia inginkan, doa agar semua bencana ini tidak terulang di kemudian hari dan tak lupa juga untuk memohon akan jodoh lagi pada sang Maha Pemberi.   Sungguh, Hamzah tak ingin berpaling dari Kiandara namun setiap kali ia datang dalam mimpi Hamzah, selalu hal itu yang dibahas.   Padahal Hamzah ingin menjadi suami terbaik untuk Kiandara dan takkan berpaling walau raganya tak lagi di sini. Hamzah terpejam sekali lagi meresapi semilir angin yang berhembus, andai saja.   Ah. Jika boleh berandai, Hamzah takkan mau kehilangan Kiandara, takkan mengizinkannya menjalani apa maunya saat anak mereka lahir. Andai saja, ya andai.   "Astagfirullahaladzim.... Ya Rabb... Ampunilah hamba yang masih suka berandai. Ampun ya Allah, itu semua kehendakMu, tak akan ada yang bisa mengelaknya, ampun Ya Rabb... Allahu Akbar..." bulir bening air mata Hamzah jatuh membasahi sajadahnya saat ia bersujud sekali lagi.   Aku bermimpi kau mengatakan kau rela bila ada bidadari penggantimu   Aku takkan ragu, takkan ragu tuk menikah sejak awal cerita kita namun kini engkau pergi tinggal aku berkasih dengan bayangmu   Takkan ragu, takkan ragu tuk menikah sejak awal cerita kita namun kini engkau pergi tinggal aku berkasih dengan bayangmu   Namun ku tak cari pengganti  agar kau di sana tahu aku suami terbaik takkan pernah habis cintaku . . . . .   Sudah sekian hari Aluna ada di sini dan setiap hari selalu ada saja yang terjadi bahkan sampai gempa-gempa kecil pun Aluna dan semuanya ikut merasakan. Saat itu Aluna sedang berteduh di bawah pohon, bersama anak-anak seperti biasa mendongeng untuk mereka dan tiba-tiba saja semua terasa bergoyang, Aluna langsung bangun menjauh dari pohon dengan anak-anak yang memeluknya ketakutan.   Seperti sekarang ini, Aluna baru saja selesai keliling ke desa sebelah. Baru saja sampai saat anak-anak menghampirinya dan dengan polosnya minta lagi dibacakan dongeng.   "Kakak, ayo bacakan dongeng lagi." rengek salah satu dari mereka.   "Iyaa sebentar Kakak ambil bukunya dulu yaa..." senyum Aluna mengembang lalu masuk ke tendanya mengambil satu buku dongeng lainnya.   Karena saking seringnya Aluna mendongeng untuk anak-anak, para pengungsi di sana sampai gotong royong membuat saung kecil seadanya agar tak duduk di tanah lagi.   Aluna memulai dongengnya. "Pada suatu hari...."   Anak-anak dengan wajah serius mereka mendengarkan Aluna, memperhatikan kata perkata. Ekspresinya berubah, nanti menangis, nanti menjerit, nanti tertawa hingga sampai di akhir cerita semuanya berhamburan memeluk Aluna.   Di kejauhan sana ada Mama Nadia dan Bidan Fanny yang memperhatikan Aluna. Ia tak salah meminta Aluna untuk ikut ke sini walaupun ujungnya Aluna jadi tidak sering ikut kegiatan, Mama Nadia tak masalah karena toh mereka semua harus fleksibel di sini, tak terbatas jadi dokter atau tenaga kesehatan saja. Melainkan jadi teman mereka semua, ikut merasakan apa yang terjadi di sini.   "dr. Aluna tuh nggak ada niat buat lanjut spesialis anak ya, Dok?" tanya Bidan Fanny.   "Keinginan itu pasti ada, Fan. Mungkin waktunya belum pas, mungkin Aluna masih mau menikmati waktunya sebagai dokter umun saja saat ini. Tapi setahu saya ya Bunda dan Ayahnya sudah ngebet ingin Aluna menikah karena anak mereka cuma Aluna saja."   "Oh? Saya pikir dr. Aluna punya Kakak atau Adik, dok. Ternyata anak tunggal, hmmm, kalau gitu nah jodohin aja, Dok. Di KMC kan banyak yang bening-bening." goda Bidan Fanny sambil terkekeh.   "Halah! Ya opo geh bening, Bidan Fanny?? Kaca bening!"   Bidan Fanny tertawa lepas mendengar jawaban Mama Nadia, ya, ada benarnya juga. Bening kan? Ya iya, kaca bening, banyak pula di KMC. . . . . .   Aluna sedang memperhatikan seorang anak lelaki dari jauh. Dia nampak menyendiri sementara teman-temannya yang lain bermain dengan para dokter. Ada apa dengan anak itu? Aluna berinisiatif untuk menghampiri anak itu.   "Hallo, kamu kok sendirian di sini, nak?" tanya Aluna lalu ikut berjongkok di depan anak itu, dia menongak menatap Aluna lalu menunduk lagi, bermain dengan ranting kayu, menggambar di atas tanah.   Aluna tetap memperhatikan walau anak itu tidak bicara, sepertinya anak ini memang butuh pendampingan agar tidak seperti ini lagi.   "Ini Ibu sama Bapak kamu ya?" tanya Aluna lembut.   "Iya." sahutnya pelan.   "Mereka di sini?" anak itu menggeleng lagi. Perasaan Aluna mulai tak enak.   "Ke.. Kemarin waktu gempa pertama Ibu sama Bapak hilang, sa-saya sendiri sama Nenek. Sampai, sampai ada yang temukan Ibu sama Bapak tapi mereka udah meninggal." mimik wajah anak itu berubah drastis.   Ya Allah. Salah Aluna bertanya seperti ini.   Aluna langsung memeluk tubuh mungil nan ringkih yang kini sudah jadi yatim piatu di usianya yang kira-kira sama dengan Chika, keponakannya.   "Maafin Kakak ya? Kakak nggak maksud tanya begitu ke kamu." gumamnya sambil terus memeluk anak itu, anak itu mengangguk.   Aluna bisa merasakan betapa kehilangannya, ia pun takkan pernah sanggup di posisi anak ini. Sekecil ini harus ditinggal Ibu-Bapaknya, pelukan Aluna makin kuat saat di rasa tubuh anak itu bergetar karena menangis.   "Menangis lah nak, jika itu membuatmu tenang." bisik Aluna sambil terus mengusap punggung anak itu. Ia tak kuasa menahan air matanya lagi.   Aluna menangkup wajah anak itu. "Nak, janji sama Kakak kalau suatu saat nanti kamu harus sukses, banggakan Ibu sama Bapak. Walaupun mereka nggak ada saat ini, percayalah bahwa mereka juga nggak mau ninggalin kamu, percaya sama Allah, Ibu-Bapak selalu ada buat kamu, di sini, di hati kamu. Inget, lakukan hal yang baik, buat dirimu berharga dan berprestasi. Insha Allah semua akan kembali walau tak sama lagi." Aluna menatapnya dakam-dalam.   Jelas sangat kehilangan itu terpancar dari mata hitamnya, Aluna ingin sekali membawa anak ini, namun tak bisa begitu saja, masih ada keluarganya yang berhak di sini. . . . . .   Malam menyapa kembali sunyi, hanya ada beberapa yang masih bangun memetik gitar menghibur diri. Sementara Aluna duduk di ujung sana menikmati malam penuh bintang bersama segelas cokelat hangat di genggamannya.   Berada di sini membuatnya tak henti bersyukur dengan apa yang di miliknya saat ini. Tak henti merapal doa, istighfar dan lagi-lagi bersyukur. Ia tahu Allah maha Adil, Dia jugalah maha segalanya yang bisa melakukan apapun yang di kehendakiNya.   "Sendirian lagi Bu Dokter."   Ah suara itu lagi.   "Iya, Pak. Mau ngajak dr. Nadia nanti masuk angin di luar begini, nanti saya dimarahin dr. Irzha lagi. Hehehe," kekehnya.   "Tadi kenapa? Balik-balik matanya bengkak gitu?"   "Oh, itu."   Lalu mengalirlah cerita tadi sore membuat Aluna kembali menitikkan air matanya. Betapa sensitive nya Aluna selama di sini.   Hamzah mengulum senyum. "Memang semua sudah kehendaknya. Kita hanya bisa menuruti walau sudah berusaha mencegah, jika saatnya kala itu, ya mau bagaimana lagi??"   Aluna terdiam.   ---------  Beberapa minggu kemudian...   Semua sudah kembali pada aktivitas masing-masing, termasuk Aluna yang hari ini sudah kembali ke klinik setelah dua hari istirahat di rumah. Pengalaman menjadi relawan yang takkan pernah terlupakan bagi Aluna. Bayangkan, saat akan hendak pulang, ada saja yang membuatnya berat, ada saja anak - anak yang menghalanginya untuk kembali ke Jakarta.   Contohnya dengan mereka menahan Aluna untuk terus mendongeng, menggelayuti Aluna, memeluknya bahkan saat Aluna dan seluruh Tim KMC bersiap naik ke mobil milik TNI untuk menuju bandara.   Masih segar di ingatan Aluna betapa wajah-wajah menggemaskan itu tak mengingkannya untuk pulang. Memohon-mohon bahkan sampai menangis tantrum hingga harus di tenangkan orang tuanya. Andai ia bisa lebih lama lagi mungkin Aluna ingin, tapi hanya satu bulan yang ia bisa, pekerjaan di sini juga menantinya. Apalagi ketika hari kepulangannya tinggal menghitung hari, Bunda El selalu meneleponnya.   Apa Aluna bisa tahan jika sudah Bunda atau Ayahnya yang merindu?   Betapa beruntungnya Aluna.   "Bunda," panggil Aluna.   "Ya, Dek?"   "Kita pulang ke Mama Lanny yuk, Bun. Nanti Ayah jemput di sana aja, Adek mau ngobrol sama Kanika." rengeknya seperti anak kecil.   "Hmmm pasti mau gossip!"   Aluna langsung nyengir tanpa dosa. Bundanya ini, Dokter atau cenayang sih?? Selalu tahu saja apa yang akan Aluna buat jika dekat-dekat Kanika yang kini sudah diminta untuk cuti oleh Genta.   "Ari Bunda teh cenayang apa dokter, ceunah?" protesnya.   "Heee, Bunda ya udah hafal. Kamu teh kalau lagi sama Kanika asyik sendiri ya ngapain? Hayo?"   "Hayo tuh bukannya Bis biru yang Idzar suka nonton ya, Bun??" Aluna belagak berpikir.   "Itu mah Tayo!! Tah, TA-YO. Paham teu?"   Aluna terkekeh melihat Bundanya gemas sendiri karenanya. Aluna paling senang mengerjai Bunda jika sudah tidak ada kerjaan seperti sekarang, lain dengan poli Anak yang selalu ramai lancar, eh jalan kali. Selalu ramai sama anak-anak yang mau berobat. . . . . .   Aluna langsung menghampiri Kanika yang tengah membuat s**u di dapur, Genta belum pulang. Pas sekali.   "Bumilll..., mau denger sesuatu nggak??" heboh Aluna saat Kanika meneguk susunya.   "Apa?" Kanika mengelap mulutnya dengan tisue lalu siap mendengarkan cerita sepupunya itu.   "Tapi lo jangan kaget ya? Nanti lo langsung kontraksi lagi!"   "Hush! Ya nggak lah! Apaan sih? Buruan cerita sebelum lo gue palak oleh-oleh dari Lombok!"   "Iye iye, bawel banget sih, Nyonya Genta! Nih gue cerita, dengerin, jangan di potong!"   Lalu mengalirlah cerita Aluna tentang Hamzah, Kanika mendengarkan dengan seksama sambil matanya membulat tak percaya.   "Serius lo?"   "Nggak serius ngapain gue cerita!"   "Kok gue nggak tahu ya kalau dia Duda. Anak satu pula." ucap Kanika.   "Gimana mau tahu kalau pas dia nembak lo, lo nya udah jadi sama Genta! Ya mundurlah dia!"   Kanika cengar-cengir nista. Ya ada benarnya juga, waktu itu saat Hamzah bilang dia suka dengan Kanika, sayangnya cincin tunangan sudah tersemat manis di jari Kanika dan Hamzah akhirnya mundur.   "Buat lo aja, Lun! Hahahahaha, aduh, sshhh..."   "Nah kan! Udah nggak usah banyak ketawa, nanti tiba-tiba keluar di sini, bahaya tahu!"   Kanika cemberut sambil mengelus-elus perut besarnya, ia sudah susah berjalan. "Awas lo nanti kan juga ngerasain kayak gue! Ya dek ya," Kanika mencari pembelaan dengan mengajak janinnya berbicara sampai merespon dengan tendangan.   "Tuh, iya katanta nanti Tante Aluna juga ngerasain."   Aluna terbahak melihat kelakuan Kanika, sebenarnya dalam hati ia iri, Kanika sudah menikah, sebentar lagi jadi Ibu. Dirinya kapan?? Hanya dirinya saja yang tahu betapa iri hatinya saat melihat satu persatu sepupunya menikah. Ingin, namun belum ada calonnya, bagaimana?? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN