Seperti makan siang pada umumnya, kantin KMC lumayan padat di jam-jam rawan perut demo seperti ini. Netra Hamzah langsung mencari-cari tempat duduk yang kosong, ternyata ada di ujung sana walaupun ada Adrian duduk di sana.
"Siang, Dok boleh duduk di sini?" sapa Hamzah.
Adrian menongak. "Eh dr. Hamzah. Silakan-silakan duduk aja nggak apa-apa." Adrian mempersilakan.
Hamzah menarik satu bangku lalu duduk di hadapan Adrian. Ia memperhatikan makan siang Adrian yang banyak, makanan rumahan. Ah pasti di siapkan Istrinya, pikir Hamzah.
"Tumben sendirian, Dok? Dr. Aliya mana?" tanya Hamzah saat Adrian selesai mengunyah.
"Lagi ikut tim Operasi SC sama dr. Andara baru masuk 30 menit lalu." jawab Adrian dan kembali makan.
Hamzah hanya mengangguk saja lalu ia memulai makan siangnya juga.
Adrian melambaikan tangannya ke arah seseorang yang juga sedang bingung mencari tempat duduk, seseorang itu langsung menuju meja Adrian bersama tas bekalnya.
"Duduk, Yah." Adrian mempersilakan Ayah Mario duduk di sampingnya.
"Dok..." sapa Hamzah lalu menganggukkan kepalanya, Ayah pun.
"Wah, Aliya masak besar ya, Dri?" tanya Ayah Mario saat melihat bekal Adrian yang hari ini nampak sedikit heboh.
Adrian terkekeh. "Request nya si Abang, Yah. Cucu Ayah itu minta bekal bento ala Jepang yang di cetak-cetak gini, jadilah Mommynya bangun jam 4 shubuh, ya udah sekalian deh."
Hamzah hanya menyimak sambil senyam-senyum memperhatikan betapa bahagianya dua orang lelaki dengan Istri-istri mereka yang masih sehat dan bahagia. Ia bahkan tidak lama merasakan bahagia itu, ah, jadi mellow.
" Oiya, Ayah ini dokter Obsgyn yang baru, baru beberapa bulan di rs ini. Namanya dr. Hamzah," Adrian memperkenalkan.
Hamzah mengulurkan tangannya, Ayah menyambut. "Saya udah sering dengar kamu di department lain. Katanya ada dokter Obsgyn baru yang gantengnya ngalahin dr. Adrian, hahaha. Ternyata kamu toh, selamat bergabung ya, semoga betah."
Mereka tertawa. Ayah ini kadang ada-ada saja. "Iya Dok, terimakasih."
"Kok kamu jarang kelihatan ya? Atau sayanya aja yang betah di OK?"
"Sebulan kemarin saya ikut rombongan relawan, Dok. Oh iya dr. Mario ini Ayahnya dr. Aluna kan? Yang di KMC Pejaten?" Hamzah baru ingat, jadi ini dr. Mario yang Mama Nadia bicarakan kemarin.
"Ooh iya-iya. Itu putri saya satu-satunya, kamu ketemu dia di sana?" tanya Ayah Mario antusias.
"Kami satu camp, Dok. Di desa yang sama juga." jawab Hamzah sekenanya.
"Gimana di sana? Ada pengalaman apa aja? Aluna jarang cerita soal kemarin sih..."
"Iya, saya juga belum denger tuh. Belum ketemu Aluna juga, dr. Nadia juga belum cerita soal di pengungsian kemarin." timpal Adrian.
"Ya begitulah, Dok. Kurang lebih sama dengan yang kita lihat di berita saat ini, semua hancur rata dengan tanah." cerita Hamzah, kedua Dokter senior ini mendengarkan dengan seksama.
"Lalu anak-anak di sana bagaimana? Kamu ikut turun hibur mereka juga?" tanya Adrian.
"Oh kalau itu sih dr. Aluna, Dok. Anak-anak semua nempel sama dia, saya malah nggak kebagian, hampir semua anak maunya sama dr. Aluna. Bahkan kalau periksa kesehatan aja, nggak mau sama yang lain."
Ayah Mario tertawa mendengar cerita Hamzah. Ya begitulah anaknya. "Kalau itu saya nggak kaget lagi, Aluna memang seperti itu sejak pulang ke Indonesia. Seperti punya magnet tersendiri bila anak-anak dekat dia."
"Udah cocok buat punya anak kalau gitu, Yah." tambah Adrian, lalu mereka semua tertawa.
Belum selesai Hamzah bercerita, ponselnya sudah berdering berisik dari Suster Poli, ada panggilan emergency.
"Dok, saya permisi dulu. Ada emergency, mari." Hamzah langsung menyambar dompet dan ponselnya lalu segera berlari keluar kantin dan menuju Emergency room.
Sisa Adrian dan Ayah Mario di situ, mereka diam, sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Ayah yang diam-diam sudah ingin menimang cucu sendiri, tanpa banyak beliau berkomentar apapun ketika Bunda El mengintervensi Aluna untuk segera menikah dan lain sebagainya namun di dalam hatinya, di dalam sholatnya ia selalu berdoa agar Aluna segera di pertemukan dengan jodohnya.
"Adri.." panggilnya.
"Iya, Yah?"
Ayah Mario nampak menarik napasnya panjang sebelum mulai berbicara. "Kamu tahu kan, adikmu sudah usia berapa?" tanya Ayah serius.
"Iya Adri tahu, Yah. Adri juga paham bahwa Ayah khawatir dengan Aluna yang sampai sekarang belum ada tanda akan mengenalkan seseorang ke Ayah Mario dan Bunda El."
Ayah Mario mengangguk setuju dengan jawaban Adrian. "Bundamu itu udah kehabisan akal buat ngenalin anak-anak temennya ke Aluna. Terakhir, Aluna beneran nolak karena mau fokus sama kegiatannya di Lombok kemarin itu. Ayah cuma mau yang terbaik untuk anak Ayah satu-satunya, Dri. Mau sampai kapan adikmu nolak terus??"
Ada sirat kekhawatiran yang sangat kentara saat Ayah Mario mengucapkan kata itu. Adrian paham, ia juga akan melakukan hal yang sama bila Bryna ada di titik seperti ini.
"Adri akan bantu sebisa mungkin, Yah. Banyak kok dokter kita di sini yang juga lagi cari pasangan, nanti Adrian seleksi dulu." jawab Adrian akhirnya.
"Kalau Hamzah itu, apa dia udah menikah?" tanya Ayah penasaran.
"Adrian kurang tahu, Yah. Setahu Adrian dia duda, cerai mati. Itu pun tahu saat baca CV nya waktu masuk ke sini."
Dahi Ayah Mario mengkerut dalam. "Duda? Ada anak?"
"Ada satu."
Ayah Mario hanya bisa menanggukkan kepalanya mendengar jawaban Adrian soal status Hamzah. Seorang Ayah pastinya menginginkan semua yang terbaik demi anaknya, apapun akan di lakukannya demi kebahagiannya, senyumnya.
"Ayah cuma bisa berdoa yang terbaik untuk Luna, Dri. Ayah sama Bunda udah tua, ada saatnya kami lelah bekerja dan mau main sama cucu di rumah, cucu Ayah yang lain semua udah besar, sibuk sama kegiatannya sendiri."
"Adri tahu, Yah. Allah pasti udah siapin jodoh terbaik untuk Aluna, yang bisa membimbing dia jadi Istri juga Ibu yang baik untuk keluarganya kelak. Adri paham Ayah khawatir, Adri bakal usahakan cari yang terbaik untuk Aluna."
.
.
.
.
.
Sementara di tempat lain...
KMC Klinik hari ini sedang ada kegiatan vaksin di salah satu TK dekat klinik. Betapa senangnya Aluna saat bertemu anak-anak cilik segini banyaknya. Reaksi mereka macam-macam, ada yang takut begitu melihat Aluna dan Mama Lanny yang mengenakan snelli atau bahkan ada yang mendekati salah satu dari mereka.
"Huwaaaa, nggak mauu, nggak mau bu guru... Aku nggak mau di suntikk!!" pekik histeris seperti ini sudah akrab di telinga Aluna bila ia kunjungan ke sekolah seperti sekarang ini.
"Eh nggak apa-apa, tuh Bu Dokternya baik kok. Nggak sakit kan ya Bu?"
"Nggak kok, sini, Nak." ajak Aluna, sementara Mama Mailanny ada di kelas sebelah, Aluna sendiri di dampingi guru kelas. "Itu temennya nggak nangis masa kamu nangis, sini sayang." ajaknya sekali lagi, anak itu mau mendekat walau takut-takut.
"Ibu cek mulutnya dulu yaa, coba Aaakk.." Aluna mengarahkan penlight ke dalam mulut. "Wah giginya ada yang bolong yaa, pasti suka makan cokelat sama permen, hayoo..."
Anak itu hanya terkekeh saja, ia ketahuan. "Ehm, suntiknya sakit nggak Bu Dokter?" tanya anak lelaki itu sekali lagi, meyakinkan bahwa di suntik itu tidak sakit seperti yang ada di pikirannya.
"Nggak kok. Kayak digigit semut aja, cuss, udah deh." Aluna mengoleskan alkohol ke lengan pasien ciliknya yang sudah heboh sejak tadi.
Anak itu mengekeret takut langsung memeluk gurunya saat Aluna membuka tutup jarum. "Tahan ya, Bismillah..."
"Aaaaaaa!! Eeh, gitu doang? Kok nggak sakit." gumamnya saat Aluna mencabut jarumnya, sontak semua tertawa mendengar anak itu berkata bahwa suntiknya tidak sakit.
"Ya kan, nggak sakit. Nih, diminum ya susunya." kata Aluna sambil menyodorkan s**u strawberry kotakan. "Kurangin makan cokelatnya ya biar giginya nggak apa?"
"Nggak di makan kuman..." jawab anak itu.
"Pinter. Dah, sana main."
Selesai sudah kegiatannya hari ini, sambil menunggu di jemput pulang anak-anak itu bermain di taman sekolah. Aluna memperhatikannya dari jauh, betapa bebas dan lepasnya mereka bermain, tertawa tanpa beban sedikit pun. Jika saja waktu bisa di ulang, mungkin Aluna ingin lebih lama menjadi kecil seperti itu. Menikmati hidup tanpa beban, tanpa pikiran-pikiran yang kadang membuatnya ingin pergi saja dari dunia ini.
"Ayo hati-hati mainnya yaa..." ujar Aluna lalu ikut bermain dengan mereka, mendorong ayunan, melihat senyum bahagia mereka saat terayun ke atas.
Bahagia mereka begitu sederhana, seperti ini saja tawa mereka sudah bahagia sekali walau tak jarang ada juga yang menangis ketika di ganggu temannya namun setelahnya mereka kembali baikkan dan bermain lagi.
Indahnya dunia mereka.
"Asyik ya jadi mereka." gumam Aluna saat sudah perjalanan kembali ke klinik bersama Mama Lanny.
"Mereka belum mengerti apapun, Aluna. Maka jaga senyum dan bahagia mereka, mereka bahagia itu artinya orang tua mereka juga bahagia." tandas Mama Lanny membuat Aluna mengangguk paham.
.
.
.
.
.
Hari sudah mulai sore, kini giliran Aluna dan Bundanya yang pulang cepat dan menjemput Ayah ke rumah sakit. Entah kenapa juga tiba-tiba Aluna ingin cheesecake yang kemarin ia coba, punya Kanika yang dibawakan Genta dan katanya beli di toko roti dekat kantin.
It's okay to be scare
It's okay to feel the pain
I'm strong enough, i will suffer from it
Though you broke my heart, but it won't change my soul, i'll be the same, i still love you with all the pieces left...
It's not wrong to give love...
No body cant take away my pain
But they can take away my feeling
I may cry a little but there's no regret
I will taking and learn more about my self...
Trust your heart... Believe in yourself...
Aluna menikmati menit terkahir lagunya sebelum sampai di rumah sakit. Ia segera bergegas turun.
"Bunda mau ikut atau tunggu sini?"
"Ikut atuh! Bunda juga mau jajan di dalam..." Bunda El segera ikut turun bersama Aluna.
"Hmm Bunda, inget kolesterol, Bun..." ujar Aluna begitu ia meninggalkan parkiran.
Mereka segera menuju kantin dahulu sambil menunggu Ayah selesaikan pekerjaannya. Aluna langsung mengambil 3 potong cheesecake yang baru di pajang lalu beberapa savory bread untuk Ayah dan Bunda.
Setelah selesai ia menghampiri Bundanya yang tengah menikmati seporsi tahu goreng sambal petis. "Hmm makan bagi-bagi atuh, Bunda." Aluna duduk lalu mencomot tahu goreng di piring.
"Ish! Pesen kenapa, Dek. Bunda tuh udah lama nggak makan ini tahu..." protesnya saat Aluna mengambil potongan kedua.
"Ih pelit yeuh Bunda sekarang."
Zzztt
Ponsel Bunda bergetar pendek saat selesai makan. Pesan w******p dari Ayah yang katanya sudah selesai dan meminta mereka menunggu di lounge depan. Mereka segera keluar dari kantin dan duduk manis di lounge, menunggu raja mereka datang. Namun netra Aluna langsung mengerjap beberapa kali saat ia melihat Ayah berjalan dengan seseorang yang sebulan lalu di kenalnya.
Hamzah.
"Dek, itu lho Ayah jalan sama siapa? Kasep!" heboh Bunda, Aluna memutar bola matanya jengah.
"Luna, Bunda." sapa Ayah. Keduanya lantas menyalami Ayah.
Bunda langsung sikut-sikut Ayah minta di kenalkan siapa lelaki tampan yang di sebelahnya itu. "Oh iya, Lun, Ayah baru ketemu nih sama dr. Hamzah. Ternyata kemarin kalian bareng ya pas di Lombok."
Aluna tersenyum. "Iya Ayah, sama yang lain juga kok. Ya kan, Zah?"
Hamzah mengangguk setuju dengan jawaban Aluna. "Apa kabar? Tumben ke sini? " tanya Hamzah.
"Baik, Zah. Iya ini jemput Ayah sekalian."
"Luna kok nggak pernah cerita sama Bunda yaa.." potong Bunda sambil senyum-senyum ke arah Aluna.
Aluna menatap Bundanya heran, ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan Bundanya. "Eh, Ayah ayo, Yah kita pulang yuk. Indonesia vs UEA nanti malam, katanya mau nobar. Hayuk atuh!" ajak Aluna mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, hayuk! Yuk kita pulang, kami duluan ya, Hamzah." pamit Ayah Mario, Bunda El hanya bisa bingung tak berkutik saat suami dan anaknya mengajak pulang demi nonton bola, mau tak mau ia juga ikut.
"Iya dok, silakan. Hati-hati di jalan."
Ayah Mario langsung menarik tangan Bunda El untuk segera menuju mobil mereka di parkiran dan benar saja, setelah masuk, Aluna habis di interogasi Bundanya.
"Nggak pernah cerita, alasannya mau fokus kegiatan eh tahunya..." ledek Bunda sambil geleng kepala. "Hayuk cerita ka Bunda, Adek!"
"Iihh, Bunda apa sih? Nggak ada kok!" sahut Aluna jengah dan sebal.
"Bunda.. Udah..." lerai Ayah Mario.
"Ya Bunda kan pengin tahu, Yah."
"Orang nggak ada apa-apa ya mau tahu apa emangnya?? Udahlah..."
Bunda El cemberut. Anak sama Bapaknya emang nggak beda jauh. Sama saja! Gerutunya dalam hati.
Sementara Aluna menyetir sambil menahan tawanya melihat sang Bunda yang begitu kepo dengan apa yang terjadi padahal tak ada sesuatu yang berarti.
------