Part 5 : Nikahan Mantan

1009 Kata
Mobil yang dikendarai oleh Arka berhenti di parkiran sebuah gedung mewah yang diyakini oleh Sherly sebagai lokasi pernikahan mantan pacar Arka. Arka dan Sherly pun bersiap keluar dari dalam mobil. Namun saat Sherly akan membuka pintu mobil, tiba-tiba Arka mencekal tangannya. Sherly pun menoleh ke arah Arka yang tengah menatapnya intens. Sherly yang ditatap seperti itu menjadi gugup. “Kenapa, Bang?” “Nanti pas di dalam kalau ada yang nanya kamu siapa, jawab aja kamu pacar saya, oke?” ucap Arka. Sherly menganggukkan kepalanya. “I-iya, Bang.” “Jadi ceritanya bang Arka ajak gue ke sini buat jadi pacar pura-puranya,” batin Sherly. Arka mengerutkan keningnya melihat Sherly yang malah terbengong-bengong. “Sher, Sherly,” panggil Arka seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah gadis itu. Sherly pun tersentak. Ia pun langsung tersadar dari lamunannya. “I-iya, Bang?” “Jangan banyak ngelamun ah, nanti kesambet,” canda Arka. Pipi Sherly memerah karena malu. Ia malu karena tertangkap basah sedang melamun oleh Arka. “I-iya, Bang. Maafin saya,” balas Sherly sambil menunduk malu. Arka terkekeh, lalu mencubit gemas hidung mancung Sherly. Menurutnya tingkah Sherly menggemaskan. Sepertinya dugaannya jika Sherly ini berbeda dengan Ajeng itu benar. “Ya sudah, ayo kita turun,” ajak Arka yang dibalas anggukkan kepala oleh Sherly. Mereka pun keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam gedung. Sesuai perkataan Arka tadi, saat ini Arka dan Sherly bersikap layaknya sepasang kekasih. Arka menggandeng tangan Sherly saat masuk ke dalam gedung. Suasana adat jawa sangat kental sekali begitu mereka masuk ke dalam gedung tersebut, karena mantan kekasih Arka ini berasal dari daerah Yogyakarta, jadi tema pernikahan yang diusung oleh mereka kental sekali dengan adat jawa. “Arka,” ucap perempuan itu begitu melihat Arka di hadapannya. Arka tersenyum, lalu menyalami mempelai perempuan yang statusnya sekarang menjadi mantan kekasih Arka. “Selamat menempuh hidup baru. Semoga pernikahannya samawa,” ucap Arka sambil memperlihatkan senyum terbaiknya. Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya yang ditinggal menikah oleh perempuan di hadapannya itu. “Sama-sama. Eh, siapa tuh? Pacar baru kamu, ya?” tanya mantan Arka begitu netranya tidak sengaja menangkap keberadaan seorang gadis cantik di belakang Arka. “Iya, dia pacar baru aku,” jawab Arka. “Semoga cepat nyusul,” balas mantan Arka. “Iya, doain saja,” ucap Arka. Arka pun giliran bersalaman dengan mempelai laki-laki dan orang tua sang mantan yang kini tersenyum ke arahnya. Setelah selesai bersalaman dengan pengantin, Arka dan Sherly pun turun dari atas panggung pelaminan, dan berjalan ke arah meja perasmanan yang menyediakan beberapa hidangan khas Yogyakarta. Setelah selesai mengambil nasi dan pencuci mulutnya, Arka dan Sherly pun mencari meja kosong. “Arka!” ujar seorang laki-laki seraya melambaikan tangannya, berharap Arka melihatnya. Arka tersenyum, lalu mengajak Sherly duduk di tempat teman-temannya. “Widih, gandengan baru ya, Ka?” tanya salah satu teman Arka yang mempunyai lesung pipi di kedua pipinya. “Iya. Kenalin, ini Sherly pacar baru gue,” ucap Arka memperkenalkan Sherly kepada teman-temannya. “Hai, Sherly,” sapa ke-empat teman Arka. “Hai,” balas Sherly dengan canggung. “Ayo, sini duduk.” Teman-teman Arka mempersilakan Arka dan Sherly duduk di kursi yang kosong. Arka dan teman-temannya asyik mengobrol, sementara itu Sherly asyik menyantap makanannya, karena jujur saja ia merasa kelaparan. Tadi 'kan ia tidak sempat makan siang karena sibuk mengurus adik-adik Juna. Sherly tidak terlibat begitu dalam dengan obrolan teman-teman Arka, selain merasa canggung Sherly merasa ia tidak akan nyambung dengan obrolan mereka yang tengah membahas masalah politik dan juga beberapa kasus besar yang tengah terjadi di tanah air ini. “Aduh, masih lama enggak, sih? pengen pulang,” batin Sherly yang mulai merasa jenuh. Sherly pun melirik Arka yang duduk di sebelahnya. Sherly mengerutkan keningnya melihat mimik muka Arka yang tadinya ceria kini berubah menjadi sendu. Ia pun mencoba mengikuti arah pandang Arka. “Oh, pantesan,” batin Sherly. Ternyata alasan dibalik wajah sendu Arka adalah pasangan pengantin yang tengah tertawa bahagia di atas pelaminan sana. Pasti Arka sakit hati melihatnya. Arka mengerutkan keningnya melihat tatapan Sherly. “Kenapa?” Sherly terkesiap, lalu dengan cepat memalingkan wajahnya karena merasa malu tertangkap basah oleh Arka tengah menatapnya iba dirinya. “Enggak apa-apa, Bang,” jawab Sherly. “Kamu udah selesai makannya?” tanya Arka. Sherly menganggukkan kepalanya. “Sudah, Bang.” “Ya sudah kalau gitu kita pulang sekarang,” ajak Arka. Mereka pun berpamitan kepada teman-teman Arka dan tentunya si pemilik acara yang sejak tadi mengumbar kemesraan. *** Sherly mengernyitkan keningnya saat Arka memberhentikan mobilnya di depan taman komplek perumahan. Apalagi saat Arka mengajaknya turun dan menuntunnya menuju sebuah bangku taman. Ia hanya menurut saja tanpa bertanya karena takut salah. “Sher, saya boleh pinjam pundak kamu?” tanya Arka setelah mereka duduk di sebuah bangku taman yang kosong. Melihat tatapan sendu Arka, Sherly pun merasa tidak tega dan berakhir mengizinkan Arka meminjam pundaknya. Setelah mendapat izin dari Sherly, Arka pun meletakkan kepalanya di pundak Sherly. Dan beberapa saat kemudian terdengar isakan kecil lolos dari bibirnya. Sherly membiarkan saja tanpa bertanya, ia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Arka saat ini. Pasti rasanya sakit sekali melihat orang yang kita cintai duduk di atas pelamin dan tertawa bahagia bersama orang lain. Dulu Sherly juga pernah merasakannya saat sang mantan menikah. “Sher, apa kurangnya saya? Kenapa dia lebih memilih orang lain?" Tiba-tiba Arka bertanya seperti itu pada Sherly. Sherly tidak menjawab, tangannya sibuk mengusap rambut Arka. “Padahal saya udah setia nunggu dia, dan sudah mempersiapkan lamaran buat dia, tapi kenapa dia malah memilih orang lain," ucap Arka dengan pilu. “Saya udah pacaran sama dia tujuh tahun dan selama kami pacaran, kami terlihat baik-baik saja dan orang-orang mengatakan kita cocok. Tapi saat saya akan melamar dia, dia menolak lamaran saya dan memilih mengakhiri hubungan kami. Dan sebulan kemudian saya mendapat kabar jika dia akan menikah dengan orang lain, huwaaa!" pekik Arka. Sherly melotot mendengar teriakan Arka, lalu melihat ke kanan dan kirinya. Pasangan muda-mudi yang sedang asyik bermesraan dengan pasangan mereka masing-masing pun melirik ke arahnya, lebih tepatnya ke arah Arka yang sedang nangis kejer layaknya anak kecil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN