“Sherly!”
Sherly memejamkan matanya. Ia menghela napasnya dalam. Dalam hati ia menjerit ‘lagi?’ Astaga sepertinya hari ini akan menjadi hari melelahkan baginya. Adik-adik Juna tak hentinya merecokinya, padahal ini hari pertama ia masuk kerja.
“Sher, Sherly,” panggil orang itu lagi.
Terpaksa Sherly membalikan tubuhnya untuk melihat sosok yang memanggilnya barusan. Sherly tampak tersenyum ramah pada sosok adik Juna nomor tiga itu. “Ada yang bisa saya bantu?”
Dio tersenyum. Ia pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sherly. Sesampainya di hadapan Sherly, laki-laki itu menyerahkan sebuah kotak berwarna merah kepada gadis itu.
“Ini, ada titipan dari bang Arka buat kamu,” ucap Dio.
Astaga, senyumannya manis sekali, Sherly jadi terpesona 'kan. Andaikan saja yang di hadapannya ini bukan majikannya, sudah dipastikan ia akan mendekati laki-laki itu.
“Terima kasih,” balas Sherly seraya tersenyum.
Dio pun membalas senyuman Sherly. “Sama-sama. Kalau begitu aku ke bawah dulu, ya,” pamitnya yang dibalas anggukkan kepala oleh gadis itu.
Setelah Dio hilang di balik tangga, Sherly pun masuk ke dalam kamarnya seraya memangku kotak itu. Dalam hati ia bertanya-tanya apa isi dalam kotak itu.
“Isinya apa, ya?” gumam Sherly seraya mengguncang-guncang kotak yang ada dalam genggamannya.
Karena kelewat penasaran Sherly pun membuka kotak itu untuk mengetahui isinya. Mata Sherly berbinar melihat isi dalam kotak itu. Ternyata isi dalam kotak itu adalah sebuah gaun berwarna biru dongker. Dengan suasana hati yang riang, Sherly pun mengeluarkan gaun itu dari dalam kotak lalu mencocokkannya dengan tubuhnya.
“Ya ampun ini gaun bagus banget, pasti ini harganya mehong,” ucap Sherly sambil bersorak gembira. Gaun tersebut terlihat sederhana namun terlihat elegan, pas sekali dengan seleranya.
Sherly meraih sebuah surat yang terselip dalam kotak itu. Ia membacanya dan sedetik kemudian gadis itu tersenyum. Baru sehari ia tinggal di sini, ia sudah dibuat baper oleh sikap manis adik-adik Juna.
“Bang Arka baik banget sih,” gumam Sherly.
***
Sementara itu di sebuah kamar, tampak sekumpulan pria tampan tengah mendiskusikan sesuatu. Dari wajah-wajah mereka tampak terlihat serius, sepertinya pembicaraan ini penting sekali.
“Ini yakin kak Sherly enggak sama kayak asisten kita yang sebelumnya?” tanya Kenzo pada saudara-saudaranya yang lainnya.
“Kalau menurut gue sih beda. Dia enggak sama kayak asisten kita yang dulu,” ujar Vian.
“Setuju, dia enggak kayak si Ajeng yang kegatelan sama kita. Gue udah amatin gerak-geriknya, si Sherly ini lugu. Beda banget kayak si Ajeng dulu, pertama masuk sini aja dia udah agresif sama kita,” imbuh Arka yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Sherly.
Saat ini seluruh anak pak Surya Pratama, kecuali Juna sedang berkumpul di kamar Vian. Mereka sedang berdiskusi mengenai sosok Sherly Setiawati—asisten pribadi baru mereka. Mereka sedang mendiskusikan apakah Sherly layak atau tidak menjadi asisten pribadi mereka.
“Belum tentu juga tuh cewek baik. Bisa aja tampang lugunya cuman topeng aja buat ngecoh kita,” ujar Sean.
Sejak pertama kali Sherly datang ke rumah mereka dan diperkenalkan oleh Juna bahwa gadis itu akan menjadi asisten pribadi mereka menggantikan posisi Ajeng yang sudah dipecat beberapa hari yang lalu karena kerjanya tidak becus, Sean memang tidak menyukainya. Bisa dikatakan Sean ini merasa trauma dengan namanya asisten pribadi.
“Udah deh, jangan dulu samain Sherly sama kayak Ajeng. Sherly ‘kan baru sehari di sini, kita enggak bisa dulu simpulin kalau mereka sama,” celetuk Dio yang sejak tadi rebahan di kasur Vian seraya menyimak obrolan saudara-saudara yang lainnya. Di antara yang lainnya ia yang paling santai menyikapi kedatangan Sherly.
“Benar tuh kata babang Dio, mendingan kita liat dulu ke depannya. Kalau misalkan kak Sherly sama kayak si Ajeng, tinggal pecat aja dan cari yang baru. Dan kalau misalkan beda, kita pertahanin kak Sherly,” ucap Kenzo.
“Setuju,” ujar Arka dan diangguki oleh yang lainnya.
***
Tak terasa waktu bergulir sangat cepat. Panasnya siang kini telah berganti dengan dinginnya malam. Saat ini seluruh anggota keluarga Pratama tengah berkumpul di ruang makan. Juna yang baru saja bergabung bersama saudara-saudara yang lainnya menanyakan keberadaan Sherly yang tak terlihat batang hidungnya.
“Mana Sherly?” tanya Juna.
Sean mengedikkan bahunya acuh. “Enggak tahu.”
“Kok enggak tahu. Dia tahu enggak kalau kita biasa makan malam jam tujuh?” tanya Juna lagi.
“Kayaknya dia enggak tahu deh. Emangnya Abang enggak ngasih tahu?” Kenzo malah balik bertanya.
“Iya, Abang lupa ngasih tahu dia,” jawab Juna.
Juna pun meminta salah satu pelayan di rumahnya untuk memanggil Sherly di kamarnya. Namun baru saja pelayan yang diminta Juna untuk memanggil Sherly naik dua undakan tangga, ia dibuat terperangah saat melihat penampilan Sherly sekarang.
“Mb-mbak.” Pelayan itu tergagap-gagap melihat Sherly yang terlihat sangat cantik sekali malam ini. Jujur sebagai seorang wanita ia terfana dengan kecantikan Sherly.
Sherly tersenyum ke arah pelayan itu. “Maaf Mbak, Mbak liat mas Arka enggak?”
“I-itu ma-mas Arka ada di ruang makan bersama saudara-saudaranya,” jawab pelayan itu yang masih menatap kagum ke arah Sherly.
“Makasih Mbak atas informasinya,” ucap Sherly.
“Sama-sama, Mbak,” jawab pelayan itu tak kalah ramahnya dengan Sherly.
Sherly pun melangkahkan kakinya menuju ruang makan untuk menemui Arka yang mungkin sudah menunggunya.
***
Sementara itu di ruang makan seluruh anggota keluarga Pratama tengah bercengkerama seperti biasanya. Sesekali mereka akan saling melempar canda dan meledek satu sama lain.
“Bang, lo yakin bakal dateng?” tanya Vian.
“Iya, mendingan kamu jangan datang. Abang khawatir kamu bakal malu-maluin di sana,” imbuh Juna.
Mendengar perkataan abang dan adiknya tentu saja ia tidak terima, lalu menyanggah perkataan mereka. “Kenapa sih kalian khawatir banget sama gue. Gue strong kok, kalian jangan pada lebay deh.”
“Yakin bakal strong? Nanti pas liat mempelai ceweknya nangis kejer loh,” ucap Dio yang ikutan meledek Arka seperti yang lainnya.
Arka menatap sinis ke arah adik nomor duanya itu. “Lo—”
“Permisi!”
Semua pun menoleh dan terperangah melihat penampilan Sherly malam ini yang sangat ‘wow’ sekali. Gaun yang dibelikan oleh Arka sangat pas sekali di tubuh wanita itu sehingga memperlihatkan kesan cantik, anggun, sexy, dan imut pada diri Sherly malam ini.
Sherly yang ditatap seperti oleh Juna dan adik-adiknya menjadi salah tingkah. Ayolah siapa yang tidak gugup ditatap oleh para pria tampan seperti mereka.
Dio yang lebih dulu sadar dari rasa keterkejutan pun langsung berdeham hingga yang lainnya juga ikut tersadar dari rasa kagumnya pada kecantikan Sherly. Arka pun bangkit dan menghampiri gadis itu, lalu berpamitan kepada saudara-saudaranya.
“Bang Juna dan adik-adikku yang tampan, Arka pamit ya, mau pergi ke kondangan mantan dulu,” pamit Arka.
“Iya.”
“Ayo cantik, kita pergi dari sini,” ucap Arka seraya menggandeng tangan Sherly, meninggalkan area ruang makan.
Setelah kepergian Arka dan Sherly, mereka pun bergosip tentang Sherly yang berpenampilan menarik di mata mereka.
“Kak Sherly ternyata cantik juga, ya,” ujar Sean yang terpesona dengan kecantikan Sherly.
“Ho’oh. Bening banget, cocoknya jadi pacar gue,” celetuk Vian.