Part 3 : Hari Pertama

1115 Kata
Baru saja Sherly memejamkan matanya untuk menjemput alam mimpi, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Mau tidak mau Sherly pun membatalkan niatnya yang ingin tidur siang. Sherly bangkit, lalu berjalan ke arah pintu. Begitu pintu terbuka Sherly menemukan sosok laki-laki bermata sipit yang tengah tersenyum ke arahnya. "Maaf saya ganggu waktu istirahat kamu, Sherly,” ucap Arka yang kini tengah cengengesan. Sherly pun membalas senyuman Arka. “Tidak apa-apa, Tu—eh Mas.” Sherly tampak kebingungan memanggil laki-laki di depannya itu seperti apa. Apa dipanggil mas, tuan, atau aden? Tadi Juna tidak memberitahunya harus memanggil apa kepada adik-adiknya. Arka terkekeh geli melihat asisten pribadi dirinya dan juga adik-adiknya yang tampak kebingungan memanggilnya seperti apa. “Panggil aja, abang. Saya tahu umur kamu masih di bawah saya.” “Tapi—” Ucapan Sherly terhenti karena Arka dengan cepat memotongnya. “Tapi kenapa?” potong Arka dengan cepat. “Emm, apa enggak apa-apa saya panggil A-abang? Takutnya saya enggak sopan kalau manggilnya kayak gitu,” balas Sherly. Arka tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Sherly gemas. Jujur, Arka merasa gemas dengan Sherly. “Kamu gemesin, deh.” Perlakuan dan perkataan Arka barusan sukses membuat Sherly melayang karena baper. Bahkan kedua pipinya kini memerah. “Aduh, jangan kayak gini dong. Gue ‘kan jadi baper,” batin Sherly. “Oh iya, saya kemari mau minta tolong sama kamu,” ucap Arka yang seketika membuyarkan lamunan Sherly. “Iya, Abang mau minta tolong apa sama saya?” tanya Sherly. “Saya mau minta ditemani ke acara kondangan teman saya, kamu bisa ‘kan?” Sherly mengusap tengkuknya. “Emm, bi-bisa, Bang.” “Bagus, kalau gitu kamu bisa istirahat dulu. Nanti kita berangkat jam tujuh malam,” ucap Arka. Sherly mengangguk. “Baik, Bang.” “Kalau gitu saya ke kamar dulu, ya. Selamat istirahat dan semoga betah bekerja di sini,” ucap Arka sebelum hengkang dari depan kamar Sherly. Setelah memastikan Arka menaiki lift, Sherly pun kembali menutup pintu kamarnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia pun kembali memejamkan matanya karena rasa kantuk yang mulai menyerangnya sejak pertama kali ia merebahkan tubuhnya di ranjang ini. Namun sayang, lagi-lagi ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dengan terpaksa Sherly pun kembali bangkit dari rebahannya, lalu membuka pintu kamarnya. Begitu pintu kamar terbuka Sherly menemukan sosok adik Juna nomor lima atau si bungsu dari keluarga Pratama. Laki-laki itu menatap Sherly dengan datar, tanpa ekspresi. “Ada yang bisa saya ban—” “Ikut ke kamar gue,” potong Sean. Setelah mengatakan itu, laki-laki berkulit putih itu pun berjalan meninggalkan Sherly. Sherly pun mengikuti langkah Sean yang sudah terlebih dahulu berjalan mendahuluinya. Sean tampak memasuki lift, diikuti oleh Sherly di belakangnya. Tak berselang lama lift pun berhenti di lantai tiga, di mana lantai tiga ini tempatnya kamar-kamar keluarga Pratama, mulai dari orang tua hingga ke-enam anak keluarga Pratama. Sherly mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lantai tiga yang baru saja ia datangi. Kesan mewah sangat tersuguh di depan matanya itu. Lagi dan lagi Sherly dibuat terkejut saat memasuki ruang kamar Sean. Ruangan itu dua kali lipat luasnya dari kamar miliknya. “Sudah cukup mengangumi kamar ini. Tolong siapkan beberapa pakaian santai dan masukkan ke dalam tas ransel itu,” titah Sean seraya menunjuk sebuah ransel yang tergeletak di atas ranjang menggunakan dagunya. Sherly pun mengangguk. “Baik, ad—” “Jangan panggil aden, panggil aja Sean!” tegas Sean. “Baik, Sean.” Sherly pun mengambil tas ransel itu, lalu berjalan ke arah lemari yang terletak di bagian sebelah kanan kamar tersebut. Namun saat Sherly baru saja membuka lemari itu, ia kembali dikejutkan dengan kenyataan seberapa sultannya keluarga Pratama. Ia kira yang ia buka itu adalah lemari pakaian biasa, ternyata itu adalah pintu menuju walk in closet. “Benar-benar sultan nih keluarga,” batin Sherly. Setelah sadar dari rasa keterkejutannya, Sherly pun masuk ke dalam walk in closet dan memilih beberapa pakaian santai untuk dimasukkan ke dalam tas ransel sesuai perintah sang atasan yang kini tuan mudanya itu tengah duduk santai di sofa yang terletak di sudut ruangan sambil sibuk bermain ponsel. *** Setelah membantu Sean menyiapkan beberapa lembar pakaian dan keperluan kemah lainnya, Sherly pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Mumpung masih lama menuju adzan magrib. Ia perlu mengistirahatkan tubuhnya sebelum nanti malam ia menemani Arka ke kondangan temannya. Namun waktu istirahat Sherly kembali terganggu karena lagi-lagi ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dengan langkah gontai Sherly pun berjalan ke arah pintu. Setelah pintu terbuka, ia menemukan sosok laki-laki bertubuh jangkung. “Sherly, saya boleh minta tolong sama kamu?” tanya Vian. “Boleh, tu—” “Panggil aja Abang,” sela Vian. “Baik, boleh Bang.” “Ya sudah kalau kamu bersedia menolong saya, mari ikut saya,” ucap Vian yang kini berjalan terlebih dahulu, lalu diikuti oleh Sherly di belakangnya. Kali ini Sherly tidak memasuki lift seperti sebelumnya yang akan menuju kamar Sean, karena Vian membawanya ke sebuah ruangan yang terletak paling pojok di lantai dua ini. Begitu memasuki ruangan itu, Sherly menemukan beberapa jenis alat musik. Sherly tebak jika ruangan itu adalah ruang musik. “Tolong bantu videoin saya. Saya mau ngecover lagu buat konten YouTube saya,” pinta Vian. Sherly pun menurut, ia membantu merekam adik Juna nomor dua itu yang sedang mengcover sebuah lagu berbahasa Inggris. *** Setelah selesai membantu Vian, Sherly pun kembali ke kamarnya. Namun lagi dan lagi harapan Sherly untuk beristirahat harus pupus kembali karena seseorang kini tengah menggedor-gedor pintu kamarnya. Dengan terpaksa Sherly pun kembali membuka pintu kamarnya. “Kak, tolongin Kenzo dong!” Laki-laki itu tampak memelas kepada Sherly. Dilihat dari gelagatnya sepertinya laki-laki itu sedang ketakutan. Sherly mengangkat sebelah alisnya ke atas. “Kamu kenapa?” “I-itu, pokoknya tolongin Kenzo. Ini darurat!” jawab Kenzo seraya menarik Sherly menuju lift. Melihat kegelisahan dari raut wajah tampan Kenzo, Sherly pun kembali mengajukan pertanyaan kepada si pangais bungsu ini. Bukannya apa-apa, Sherly jadi ikut khawatir seperti Kenzo. Sesampainya di kamar Kenzo, laki-laki itu langsung menunjuk ke sebuah buntalan berwarna abu sedang meringkuk di atas ranjang laki-laki berkulit tan itu. “Tolong pindahin si Teddy dari kasur Kenzo, Kak,” pinta Kenzo dengan wajah memelas. Ah, sekarang Sherly paham. Tuan mudanya itu takut dengan hewan lucu bernama kucing. Kenzo memanggilnya meminta mengusir anak kucing itu dari kamarnya. Sherly pun segera melaksanakan tugasnya. Ia memangku anak kucing berwarna abu itu, lalu membawanya ke luar kamar Kenzo. Dan tak berselang lama anak kucing itu berlari menuju tangga. “Makasih, Kak. Maaf merepotkan,” ucap Kenzo. Sherly tersenyum. “Sama-sama. Kalau begitu saya pamit ke kamar dulu,” pamitnya pada Kenzo. “Iya Kak. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya dan juga maaf mengganggu waktu istirahat Kakak,” ucap Kenzo sebelum Sherly menuruni tangga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN