Part 7 : Burung

1085 Kata
Juna bergegas menuju kamar adik nomor duanya begitu mendapat kabar dari Dio bahwa Vian mengalami kecelakaan kecil di kamar adik bungsunya. Entah jenis kecelakaan apa yang dimaksud oleh Dio, ia akan memastikannya sendiri. Bahkan kancing bajunya sampai tidak terpasang dengan rapi karena terlalu terburu-buru agar cepat sampai di kamar Vian. Ya, saat Dio memberitahu kabar tersebut kepadanya, ia baru saja selesai mandi dan sedang memakai kemejanya. Jadilah seperti ini tampilannya. Begitu pintu kamar Vian terbuka ia melihat adik-adiknya dan juga Sherly berdiri berjejer di samping ranjang Vian. Lalu di atas ranjang sana ia melihat Vian terbaring memakai sarung. Sesekali ia mendengar ringisan keluar dari mulut Vian. “Vi, kamu kenapa?” tanya Juna dengan raut wajah khawatir. Wajah Vian tampak memelas memandang abang tertuanya itu. “Bang, sakit,” rengeknya. Sumpah Vian tidak bohong, bagian bawahnya memang sakit dan terasa nyut-nyutan. Entahlah, rasanya seperti ia disunat kembali. “Lebay!” cibir Arka. Di sini Arka bukan mencibir kesakitan yang tengah dirasakan oleh adiknya, yang ia cibir adalah rengekan Vian pada abangnya. Apakah adiknya itu tidak malu merengek di depan Sherly yang notabennya adalah satu-satunya wanita di ruangan ini? Vian pun mendelik, ia tidak terima mendengar cibiran abang nomor duanya itu. Vian pun dengan sewot membalas perkataan Arka. “Bukan lebay, ya. Emang sakit nih! Sini burung lo gue geplak biar tahu rasa sakitnya kayak gimana!” Sementara itu Dio hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua kakaknya yang ribut dalam situasi seperti ini. Apalagi Vian, bukannya burungnya sedang sakit ya, kok masih sempat-sempatnya meladeni Arka. "Dasar kekanak-kanakan." Yang hanya bisa diutarakan oleh Dio dalam hati. Tidak mungkin ia mengatakannya secara langsung karena bisa jadi dapat memperkeruh suasana. “Ya ‘kan tadi gue udah nawarin bantuan sama lo. lonya aja yang enggak mau!” balas Arka yang tak ingin kalah dari Vian. “Ya kalau mau elus, elus aja burung lo sendiri! Jangan burung punya gue!” sewot Vian. Abangnya yang satu ini memang ngadi-ngadi. “Kan niat gue baik, bantu elusin perkutut lo yang sakit!” ucap Arka disertai kerlingan nakal yang dapat membuat Vian bergidik ngeri. "Niat baik apanya!" Vian melempar guling di sebelahnya ke arah Arka. Untung saja Arka cepat menghindar, jika tidak bisa jadi guling yang dilempar Vian itu tepat mengenai wajah tampannya. Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya, Arka dan Vian jika sudah berdebat memang seperti itu, tetapi jika sedang akur sangat kompak sekali, apalagi dalam hal menjahili saudara-saudaranya. Vian mendelik ke arah Arka. “Enak aja punya gue dibilang burung perkutut!” “Terus apa? Kakak tua? Atau—” Karena tidak tahan melihat perdebatan kedua adiknya, Juna pun langsung melerai mereka. “Udah, stop ya! Jangan ada yang ngomong lagi!” Bentakan Juna sukses membuat Arka dan Vian terdiam, tidak lagi saling melemparkan balasan. Jika Juna sudah bertindak maka mereka akan berhenti. Bisa dikatakan Juna itu hakim mereka. “Tau tuh, ribut mulu. Kalian berdua nyadar enggak sih di ruangan ini ada cewek, yang dibahas malah burung!” ujar Kenzo yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran kedua abangnya tersebut. Ia saja yang laki-laki merasa malu kedua abangnya malah membahas masalah sensitive itu, apalagi Sherly yang notabenenya seorang perempuan. Ah iya, mereka melupakan sosok Sherly yang tengah berdiri di samping Sean. Gadis itu tampak kikuk, mungkin merasa kurang nyaman dan malu karena mendengar pembahasan yang begitu sensitif bagi kaum perempuan. “Hehehe, maafin kita ya, Sher. Kita lupa ada kamu di sini,” kata Arka sambil menunjukkan deretan giginya putihnya yang bersih layaknya iklan salah satu merk pasta gigi terkenal di Indonesia. Sherly hanya tersenyum canggung membalas perkataan Arka. “Oh iya, ini Vian kenapa? Vi, emangnya burung kamu kenapa?” tanya Juna yang sejak tadi belum menemukan jawaban atas pertanyaannya. Semua tampak saling lirik, lalu mereka kompak menatap ke arah Sherly. Sherly yang merupakan si dalang utama penyebab Vian terbaring tak berdaya di atas ranjang sana tampak menegang. Wajahnya pucat sekali karena takut dimarahi atau parahnya dipecat dari pekerjaannya oleh Juna. Juna tampak menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa pada ngeliatin Sherly?” “Emmm, a-anu itu—” Ucapan Sherly terputus karena Sean baru saja memotong ucapannya. “Tadi Kak Sherly enggak sengaja ngegeplak burung bang Vian pakai raket punya Sean,” potong Sean. Ia berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya kepada sosok abang tertuanya tersebut. Ah, kita reka ulang lagi kejadian beberapa saat lalu sebelum terjadinya insiden yang menyebabkan pria jangkung itu terbaring tak berdaya di atas ranjang. Di kamarnya Vian tampak tertawa puas karena berhasil membalas perbuatan Sean semalam. Vian kesal, karena semalam Sean menghapus kontak gebetannya yang tak lain adalah bu Indira, salah satu guru SMA Negeri di wilayahnya ini. Vian marah karena sangat sulit sekali mendapatkan nomor bu Indira dan setelah mendapatkannya dengan susah payah sampai ia menyogok beberapa murid bu Indira dengan mentraktir mereka makan di restoran mahal, dengan teganya Sean menghapus nomor bu Indira dari kontak ponselnya. Untuk membalas perbuatan laknat adik bungsunya itu, saat Sean sedang mandi Vian melancarkan aksinya, ia sengaja melepaskan satu kantong plastik berisi kecoa di kamar adik bungsunya itu yang ia dapatkan dari mang Ujang—satpam komplek. “Pasti si Sean kewalahan nangkepin tuh kecoa.” Vian terkekeh geli membayangkan adik bungsunya itu sibuk menangkapi kecoa-kecoa itu. Dari pada memikirkannya lebih baik Vian lihat sendiri saja. Vian pun pergi ke kamar Sean untuk melihat kehebohan adik bungsunya itu seperti apa yang dibayangkannya. Namun baru saja ia akan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ada satu ekor kecoa hinggap di bagian inti tubuhnya. Saat Vian akan menyingkirkan kecoa itu, tiba-tiba ia mendapat serangan mendadak dari Sherly. Sherly memukul inti tubuhnya tak berperasaan. “Arghhh!” Vian langsung ambruk ke lantai sambil memegangi burungnya yang barusan dipukul oleh Sherly menggunakan raket. “Abang!” Begitulah kejadiannya. Sherly mengaku salah karena tidak lihat-lihat dulu kecoa itu hinggap di mana dan langsung memukulnya. “Maafkan saya.” Sherly menunduk, ia benar-benar menyesal atas keteledorannya. Juna tersenyum. Entah kenapa ia merasa itu bukanlah salah Sherly. Mungkin itu kualat buat Vian, karena adik nomor duanya itu sudah menjahili Sean. “Bang, Dokternya udah datang!” Suara Dio menginterupsi mereka. Tunggu! Dokter? “Dokter? Siapa yang manggil dokter?” pekik Vian. “Gue, napa?” sahut Arka. “Buat apa?” tanya Vian dengan wajah panik. “Ya periksa burung lo 'lah,” jawab Arka tampak santai. Namun tidak bagi Vian. Rasanya saat ini ia ingin menenggelamkan dirinya ke rawa-rawa. Ayolah, yang benar saja, dokter akan memeriksa burungnya? “Bang,” rengek Vian. Juna mengerutkan keningnya. “Kenapa?” “Malu,” cicit Vian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN