Setelah dua hari bed rest di rumah, akhirnya Vian menjalankan kembali aktivitasnya seperti biasanya. Ia kembali bekerja sebagai seorang dosen di salah satu kampus bergengsi di tanah air.
Sejak Vian menginjakkan kakinya di ruang makan, ia menjadi bulan-bulanan Arka dan adik-adiknya. Seperti,
“Vi, gimana burung lo? Sehat?”
“Masih sakit enggak, Bang?”
"Perlu ke dokter lagi buat periksa?"
Kurang lebih seperti itulah pertanyaan-pertanyaan tidak ada akhlak keluar dari mulut Arka dan adik-adiknya. Untung saja hari ini Vian sedang dalam mode kalem, jika tidak bisa dipastikan akan ada perang dunia ketiga di ruang makan itu.
Namun setelah kedatangan Juna semua pun mendadak diam. Tidak ada lagi yang bersuara menggoda Vian yang dalam posisi kalem. Semuanya makan dengan tenang tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Suara di ruang makan itu hanya diisi dengan detingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
“Ini siapa yang masak, kok rasanya lain dari biasanya?” tanya Kenzo, memecahkan keheningan di ruang makan tersebut. Ia tidak tahan dengan suasana sepi seperti ini, karena biasanya mereka semua 'kan rusuh.
Di tempatnya Sherly sudah berharap-harap cemas. Ia takut masakannya tidak enak. Sarapan pagi ini ia yang memasak. Sherly memasak beberapa menu makanan yang biasa ia masak di rumah, tetapi pilihannya tersebut sepertinya salah, karena nyatanya para majikannya sepertinya tidak suka dengan masakannya. Entah tidak suka rasanya atau jenis masakannya.
“Aduh, kayaknya lidah gue sama lidah mereka enggak cocok deh,” batin Sherly.
Namun dugaan Sherly ternyata salah, Kenzo ternyata suka sekali dengan rasa masakannya. Katanya masakan Sherly khas banget kayak masakan orang Sunda. Kebetulan Kenzo dan saudara-saudaranya yang lain memang senang sekali dengan masakan khas orang Jawa Barat tersebut.
“Kak Sherly orang Sunda, ya?” tanya Kenzo.
“I-iya,” jawab Sherly.
“Dari mana Teh, asalnya?” Kali ini Arka yang bertanya.
Oh iya, ini Arka manggil teh kepada Sherly bukan teh manis ya, tetapi teteh, panggilan orang Sunda untuk memanggil seorang perempuan yang lebih tua darinya.
“Dari Bandung, Bang,” jawab Sherly.
“Oh, pantesan geulis. Geuningan Mojang Bandung,” ujar Vian dengan logat sundanya.
Sherly menahan tawanya. Entah kenapa ia merasa lucu mendengar Vian berbicara seperti itu.
“Mama kita juga asalnya dari Bandung, Sher.” Mama yang di maksud oleh Dio di sini adalah Rita Kartika, istri pertamanya Surya Pratama atau mama kandung Juna, Arka, dan Sean.
Ya, mereka berenam ini sebenarnya lahir dari rahim yang berbeda. Juna, Arka, dan Sean lahir dari rahim Rita Kartika, istri pertama Surya Pratama. Sementara itu Vian, Dio, dan Kenzo lahir dari rahim Sarah Aulia Dewi, istri kedua Surya Pratama. Maka dari itu jarak umur mereka tidak berbeda jauh, hanya berbeda dua atau tiga tahunan saja.
“Oh begitu,” gumam Sherly.
“Kak, nanti bikinin seblak ceker, ya. Bisa ‘kan?” Itu Sean yang meminta.
Mendengar asisten pribadinya tersebut berasal dari Bandung besar kemungkinan Sherly bisa memasak seblak yang merupakan jajanan hits dan khas dari Bandung tersebut. Sean ini sangat menggemari jajanan yang rasanya dominan selalu pedas itu. Dari pada ia membeli di kantin kampus yang harganya cukup mahal mendingan ia minta dibuatkan saja oleh Sherly.
“Iya, nanti Kakak bikinin," balas Sherly. Kebetulan ia sangat jago sekali membuat seblak, karena sewaktu zaman kuliah dulu ia sangat sering sekali memasak seblak bersama teman-temannya di saat jam kuliahnya kosong.
***
Sesuai permintaan Sean, sorenya Sherly membuatkan seblak ceker untuk si bungsu keluarga Pratama. Kebetulan hari ini jadwal kuliah Sean tidak padat, jam dua siang dia sudah berada di rumah.
“Pedes jangan, Yan?” tanya Sherly.
“Sedang aja, Kak,” jawab Sean yang sedang menunggu seblaknya matang.
Sambil menunggu seblaknya matang, Sean iseng merekam Sherly yang tengah sibuk dengan wajan dan beberapa bahan seblak lainnya. Mumpung orangnya sibuk masak dan enggak nyadar karena posisinya ngebelakangin Sean. Rekaman berdurasi pendek itu sengaja Sean bagikan di grup w******p anak-anak papa Surya Pratama.
Anak-anak Gantengnya Papa Surya
Sean send video
Sean
Cocok enggak jadi istri?
14.14
Vian
Cocok, apalagi jadi istri gue
14.15
Dio
Itu siapa? Sherly?
14.17
Kenzo
Ya iyalah kak Sherly, enggak mungkinlah pacarnya si Sean. Sean 'kan jomblo
14.19
Kenzo
Eh, lo balik bawa mobil, ini gue pulangnya gimana?
14.22
Sean
Iya, itu kak Sherly
14.25
Sean
Ojol ‘kan banyak. Tinggal pesen aja elah, ribet amat
14.27
Kenzo
Ck, rese lo
14.30
Arka
Anjir! Lo ngadi-ngadi banget Yan, untung aja gue udah kelar sidangnya
14.30
Arka
Gue salfok sama tuh yang bulet-bulet
14.32
Vian
Hah? Yang bulet-bulet, apaan Bang?
14.32
Arka
Elah, masa lo enggak ngerti
14.33
Sean pun mengalihkan tatapan dari layar ponsel kepada Sherly, ia mencari-cari apa yang dimaksud oleh Arka. Setelah meyakini apa yang dimaksud oleh Arka, Sean pun mengetikkan jawabannya di grup.
Sean
Apaan, kerupuk?
14.35
Dio
Kerupuknya emang bulet? Bukannya lonjong, ya?
14.36
Arka
Bukan kerupuk elah, masa gitu aja enggak ngerti
14.38
Kenzo
Emangnya apa? Gue puter balik rekamannya enggak ada tuh yang bulet-bulet
14.38
Vian
Curiga, mata Abang bermasalah
14.39
Arka
Sembarangan, mata gue masih normal ya!
14.39
Juna sedang mengetik
Kenzo
Sttt … Bang Juna ngetik tuh!
14.40
Juna
Selalu aja berisik, bisa enggak sih sehari aja ini grup sepi!
14.40
Sean
Ribet amat tinggal dibisukan aja Bang
14.41
Karena terlalu asyik bertukar pesan di grup keluarganya, Sean sampai tidak sadar seblaknya sudah jadi dan sejak tadi Sherly memanggilnya.
“Sean!” panggil Sherly sedikit keras karena sejak tadi pria berwajah oriental blasteran bule sunda itu tidak mengindahkan panggilannya.
Sean terperanjat. “Eh, iya Kak.”
“Tuh seblaknya udah jadi,” kata Sherly sambil tersenyum.
Astaga, Sean baru sadar senyuman Sherly semanis itu.
“Sean!”
“Iya, Kak. Ini juga mau dimakan,” kata Sean setelah sadar dari rasa terpesonanya melihat senyuman Sherly.
Sementara itu di kantor Cendikia Grup, beberapa kali Juna mencoba mengusir bayangan Sherly yang sedang memasak dalam pikirannya. Ia menyesal telah mendownload video yang dikirimkan oleh Sean di dalam grup. Fokusnya kini hilang, ia terbayang-bayang sesuatu yang bulet-bulet yang di maksud oleh Arka di dalam grup dan sepertinya hanya ia dan Arka saja yang paham.
“Kenapa, Pak? Bapak sakit?” tanya Cindy, sekretaris Juna.
Kebetulan saat ini Juna dan Cindy sedang membahas sesuatu terkait pekerjaan di ruangannya dan kini fokusnya sudah ambyar gara-gara sosok Sherly yang terus menari-nari dalam pikirannya.
“Maaf, jadi gimana?” tanya Juna.
Terpaksa Cindy mengulang kembali analisisnya, karena barusan atasannya tidak memperhatikannya.
“Ini semua gara-gara, Sean!” batin Juna merasa kesal.