Part 9 : Oh, itu alasannya

1080 Kata
Juna yang baru saja pulang dari kantor terkejut saat ia tidak sengaja berpas-pasan dengan Sherly di dekat tangga. Tatapan mereka beradu selama beberapa saat sampai akhirnya Juna memutuskan pandangannya terlebih dahulu karena teringat kembali perkara video yang dikirimkan Sean di dalam grup beberapa jam yang lalu. Mendadak telinga dan pipinya memerah mengingat kembali video itu. Sementara itu Sherly mengerutkan keningnya melihat sikap aneh Juna. “Abang kenapa?” tanya Sherly kebingungan. Juna menggelengkan kepalanya dan kembali mengontrol dirinya agar tidak terlihat aneh di depan Sherly. Ia tersenyum lalu menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadis itu padanya. “Eh, Abang enggak apa-apa, Sher.” Senyuman Juna menular pada Sherly. Keduanya tersenyum hingga seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka di ujung tangga mencibir interaksi keduanya. “Ck, apaan sih mereka,” gumam Sean. Ya, orang yang sedang memperhatikan Juna dan Sherly adalah Sean. Barusan Sean ingin pergi ke taman belakang. Namun niatnya sempat tertunda karena melihat kakak tertuanya dengan asistennya sedang tatap-tatapan dan saling melempar senyum. Sebagian dalam dirinya merasa tidak suka melihat kedekatan Juna dan Sherly, tetapi bukan karena dirinya cemburu. Sean tidak menaruh hati pada Sherly. Sean tidak suka saja melihat kakak tertuanya itu dekat dengan seorang wanita. Dulu salah satu kakaknya pernah dekat dengan seorang wanita dan wanita itu memberikan pengaruh buruk pada kakaknya hingga membuat kakaknya melupakan keluarganya sendiri. Sean belum siap jika kejadian itu terulang kembali. Apalagi ia belum mengenal betul seluk beluk Sherly. Jadi, ia harus bersikap lebih waspada lagi. Jangan sampai mereka berdua dekat dan berakhir berpacaran. Sean tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sean asyik melamun sehingga tidak sadar Juna sudah berdiri di hadapannya. “Yan, ngapain kamu berdiri di situ. Ngehalangin jalan tahu!” tegur Juna, karena jalannya sempat terhambat lantaran adik bungsunya itu berdiri di tengah-tengah tangga. “Eh, iya.” Sean pun menyingkir, memberikan jalan untuk Juna. Setelah Juna berlalu, Sean pun turun ke bawah menuju taman belakang dengan novel di genggamannya. Hari ini ia akan menamatkan bacaan novel yang dipinjamnya dari Vita, sahabatnya. *** Sementara itu di kamarnya, Juna melepas satu persatu pakaiannya hingga menyisakan celana boxernya saja, lalu setelah itu ia berbaring di atas ranjang. Pikirannya masih menerawang pada bulat-bulat yang menjadi motif baju Sherly yang dipakainya tadi siang. Ya, bulat-bulat yang dimaksud oleh Juna dan Arka adalah motif polkadot pada baju Sherly. Mereka berdua salah fokus pada motif baju yang sedang Sherly kenakan. Juna dan Arka ini termasuk golongan orang yang menyukai bentuk polkadot. Mungkin terdengar aneh di telinga orang-orang karena pria semacam Juna dan Arka menyukai polkadot yang justru dibenci oleh orang-orang, tetapi mereka tentu saja ada alasan tersendiri mereka menyukai motif polkadot. Juna sendiri menyukai polkadot karena dulu sewaktu pertama kali ia memasuki masa puber, Juna pernah memimpikan seorang wanita yang memakai baju polkadot. Dan Sherly mengingatkannya kembali dengan sosok wanita yang berada dalam mimpinya itu. Juna menggelengkan kepalanya. Sepertinya otaknya perlu dibersihkan agar sosok Sherly tidak bergentayangan lagi di dalam pikirannya. “Sherly, Sherly. Ada-ada saja yang bikin aku tertarik sama kamu,” gumam Juna. *** Di sisi lain, Kenzo cemberut karena tidak mendapati stok mie instan di dalam lemari. Padahal ia pergi ke dapur ingin memasak salah satu makanan favoritnya itu untuk mengganjal rasa laparnya. “Kenapa bisa sampai abis, sih. Biasanya ‘kan selalu nyetok banyak,” gerutu Kenzo. Saat Kenzo berbalik badan ia terperanjat karena mendapati Dio sudah berdiri di hadapannya dengan memasang raut wajah datar. Kebiasaan! “Kenapa?!” tanya Dio sedikit ketus hingga membuat Kenzo meneguk air salivanya dengan kasar. Sebenarnya di antara anak-anak papa Surya lainnya yang mendapat julukan kejam adalah Dio dan Sean, karena kedua manusia itu sering menunjukkan raut wajah datar dan tidak bersahabat. Dan lebih parahnya lagi keduanya jika sedang marah sangat menyeramkan dan tidak pandang bulu, tetapi segarang-garangnya Sean, ada yang lebih garang lagi dan itu adalah Dio. “I-itu a-anu.” Kenzo mendadak gelagapan. Dio mengangkat sebelah alisnya ke atas. “Anu lo kenapa?” Kenzo membasahi bibirnya, astaga bukan itu maksudnya. “Bukan ih, anu gue enggak kenapa-kenapa. Itu loh, barusan gue cek mie instan tapi enggak ada alias kosong. Tumben, biasanya ‘kan selalu nyetok banyak,” terangnya. “Oh.” Bibir Dio membulat, membentuk huruf vocal ‘O’. “Kayaknya bibi lupa bel—” Belum sempat Kenzo menyelesaikan perkataannya, Dio lebih dulu menyela. “Gue yang suruh enggak nyetok mie instan di rumah,” sela Dio. Kenzo mengerutkan keningnya. “Loh, kenapa? Bukannya pada doyan mie instan bukan?” Dio mengangguk. “Iya, doyan. Tapi doyan lo kebangetan Kenzo! Sehari lo makan mie instan bisa sampai dua kali. Itu enggak baik buat kesehatan lo! Makannya gue suruh bibi enggak nyetok lagi mie instan di rumah.” Jangan lupakan jika bapak Dio yang terhormat ini adalah calon dokter. Jadi, jika masalah kesehatan di keluarga Pratama, Dio adalah orang nomor satu yang memperhatikannya. Kenzo memanyunkan bibirnya. Ia mendadak sebal dengan abang nomor empatnya itu. Kenzo pun berlalu menuju ruang keluarga yang mana di situ ada Sherly, Sean, dan Vian yang sedang menonton reality show yang dipandu oleh komedian kondang Sule dan kawan-kawan. “Kak Sherly, anter ke minimarket depan yuk,” ajak Kenzo. “Ayo!” seru Vian dan Sean. Kenzo mendelik. “Gue ngajak kak Sherly ya, bukan kalian!” Vian berdecak. “Alah, sama aja. Ayo, gue juga mau beli camilan.” Vian dan Sean sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan Kenzo dan Sherly yang masih terdiam di ruang keluarga. “Ayo, Kak.” Kenzo kembali mengajak Sherly, karena sejak tadi gadis itu malah terdiam. Sherly mengerutkan keningnya. “Kakak juga ikut?” Kenzo menganggukkan kepalanya. “Iya, ayo Kak.” Sherly pun bangkit dan mengikuti langkah Kenzo. *** Kenzo, Sean, Sherly, dan Vian pergi ke minimarket berjalan kaki. Sengaja, kata Vian jalan kaki itu sehat dan sekalian mereka dapat menikmati angin malam. Kebetulan malam ini langit sangat cerah. Bulan sabit tampak bersinar terang dengan taburan bintang di sekelilingnya. “Eh, gue masih bingung sama bang Arka. Maksud bang Arka apa sih yang bulet-bulet itu?” tanya Vian di sela-sela jalan santai mereka menuju minimarket. Sampai saat ini tidak ada satu pun dari mereka yang paham apa yang dimaksud oleh Arka, kecuali Juna. “Iya, ya. Sampai sekarang gue juga enggak paham. Bang Arka emang aneh, sih,” sahut Kenzo. “Tahu tuh, gue aja yang di TKP enggak paham.” Sean ikut membenarkan. Sementara itu Sherly yang menjadi satu-satunya wanita di situ hanya bisa menyimak pembicaraan para tuan mudanya itu tanpa tahu dirinya termasuk salah satu yang menjadi bahan gibahan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN