Part 10 : Sean Cemburu

1077 Kata
Sesampainya di minimarket Kenzo bersama yang lainnya langsung menyerbu rak camilan dan juga mie instan. Mereka memasukkan beberapa jenis camilan dan mie instan hingga membuat dua buah keranjang belanjaan berwarna merah tersebut penuh. “Kakak enggak milih camilan buat nanti di rumah?” tanya Sean begitu menyadari Sherly tidak ikut memilih camilan seperti mereka. Ya, sejak tadi Sherly hanya membuntuti Vian dan adik-adiknya tanpa ikut memilih beberapa camilan yang disusun rapi di dalam rak tersebut. Lagi pula yang ingin belanja ‘kan mereka, Sherly hanya diajak untuk menamani saja. “E-enggak—” “Pilih aja Kak, tenang bang Vian yang bakal bayarin. Benar enggak, Bang?” sela Kenzo seraya meminta persetujuan pada Vian. Vian mengangguk. “Iya, Sher. Pilih aja yang kamu mau, biar nanti Abang yang bayarin.” Seolah tahu apa yang akan diucapkan oleh Sherly, Vian pun kembali melanjutkan perkataannya. “Enggak ada penolakan! Tenang aja, gaji kamu enggak bakal dipotong kok. Anggap aja rasa terima kasih Abang karena kamu udah Abang repotin pas kemarin Abang sakit.” Ya, selama Vian sakit kemarin Sherly yang mengurusnya. Sherly tersenyum mendengar perkataan Vian barusan. Ia merasa beruntung sekali dapat bekerja di keluarga Pratama. Mereka semua baik sekali kepadanya, walaupun beberapa kali Sherly pernah melakukan kesalahan, di antaranya insiden di depan kamar Sean itu. “Kak Sherly diteraktir, kita juga ya, Bang,” celetuk Kenzo yang sejak tadi menyimak seraya asyik memilih minuman di dalam freezer. Ah, ternyata perkataan Kenzo barusan ada niat terselubung. Dasar, untung saja Vian sayang dengan adik-adiknya. “Iya, mumpung gue lagi baik hati,” balas Vian. Lagi pula sudah lama ia tidak menteraktir adik-adiknya. Setelah mengitari minimarket tersebut tiga puluh menit lamanya, akhirnya mereka berada di depan kasir untuk membayar belajaan mereka yang tampak banyak sekali. “Sher, yakin cuman segitu? Enggak bakal nambah lagi?” tanya Vian melihat barang belanjaan Sherly yang bisa dikatakan sedikit. “Udah cukup kok, Bang. Lagian aku ‘kan cuman sendiri,” balas Sherly. Ya, bagi Sherly cukup karena camilan tersebut hanya untuk dirinya sendiri sebagai teman menonton drakor. Berbeda dengan Vian dan adik-adiknya yang membeli banyak camilan karena untuk dinikmati bersama. Kenzo, Sherly, dan Sean pun bergantian menyerahkan barang belanjaan mereka untuk dihitung totalnya. Kebetulan malam ini minimarket yang mereka kunjungi cukup lenggang, jadi tidak begitu banyak antrean menuju kasir. “Totalnya 685.500 ribu, Mas,” ucap kasir itu setelah menghitung jumlah total belanjaan Vian dan yang lainnya. Vian pun meraba saku celananya untuk mengambil dompetnya yang selalu ia simpan di sana. Namun setelah diraba-raba ternyata dompetnya tidak ia temukan dan membuat laki-laki itu panik. Jika dompetnya tidak ada, bagaimana bisa ia membayar belanjaan tersebut. Melihat ekspresi abangnya, Sean pun bertanya, “kenapa, Bang?” “Kayaknya gue lupa enggak bawa dompet. Kalian bawa uang enggak atau kartu debit?” jawab Vian, lalu bertanya kepada kedua adiknya, berharap salah satu di antara mereka membawa sejumlah uang atau kartu debit untuk menjadi alat transaksi membayar barang belanjaan mereka. Sean nyengir, dan dari cengirannya tersebut Vian sudah menyimpulkan jika adik bungsunya tersebut tidak membawa apa pun selain dirinya sendiri. Sementara itu Kenzo menepuk keningnya, karena saat ia merogoh saku depan celana yang ia pakai hanya ada satu lembar uang seratus ribu dan tentunya kurang untuk membayar barang belanjaan mereka. Sherly diam, karena ia juga tidak membawa apa pun ke minimarket selain ponselnya. Vian mendesah pelan, lalu berbicara kepada kasir tersebut supaya menunggu sebentar karena Vian akan menghubungi salah satu kerabatnya untuk dimintai tolong membawa dompetnya yang tertinggal di rumah. *** Di sisi lain, Juna yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi mengeryitkan dahinya begitu mendengar suara dering ponselnya yang memenuhi ruang kamarnya tersebut. “Vian, ngapain tuh anak nelpon?” gumam Juna. Tanpa basa-basi Juna pun mengangkat telepon masuk dari adik nomor duanya itu. “Halo, Vi?” “Bang, tolongin gue sama adik-adik,” balas Vian di seberang sana. Juna pun kembali mengerutkan keningnya. “Emangnya kalian kenapa?” “Gue sama Kenzo, Sean, dan Sherly lagi ada di minimarket. Pas gue mau bayar belanjaannya, gue lupa kalau dompet gue ketinggalan di rumah,” jelas Vian. Oke, tak perlu dijelaskan panjang lebar Juna paham apa maksud Vian. “Ya udah, Abang ke sana sekarang.” Lalu setelah itu panggilan terputus dan Juna bersiap-siap pergi ke minimarket depan seraya membawa dompetnya untuk membayar belanjaan adik-adiknya. Ada-ada saja mereka, untung saja di minimarket depan komplek para karyawannya sudah hapal dengan para penghuni komplek, jika berbeda tempat adik-adiknya saat ini pasti sedang menahan malu karena tidak bisa membayar barang belanjaannya. “Mau ke mana, Bang?” tanya Dio yang kebetulan dari garasi. Ia mengambil jaketnya yang ketinggalan di dalam mobilnya. “Mau ke minimarket depan. Katanya dompet Vian ketinggalan, ini Abang mau nyusul mereka,” jawab Juna. “Oh.” Tak ada pembicaraan yang berarti, Dio kembali masuk ke dalam rumah dan Juna melanjutkan langkahnya menuju minimarket. *** “Terima kasih, selamat berbelanja kembali,” ucap kasir itu dengan ramahnya. Setelah menyelesaikan transaksi pembayaran barang belanjaan tersebut, Juna dan adik-adiknya pun keluar dari minimarket seraya menenteng tiga kantong plastik belanjaan yang masing-masing dibawa oleh Sean, Kenzo, dan Sherly. “Bang, lo ke sini enggak bawa mobil?” tanya Sean begitu menyadari mereka berjalan melewati parkiran. “Enggak,” jawab Juna singkat, jelas, dan padat. Sean cemberut ia kira abangnya bawa mobil, jadi ia tidak usah menenteng satu kantong plastik penuh belanjaannya. Dan lebih mengesalkannya lagi Juna malah menawarkan bantuan membawa barang belanjaan Sherly dibandingkan dirinya yang jelas-jelas lebih banyak dan berat dari Sherly. “Enggak usah, Bang. Biar saya sendiri aja,” tolak Sherly dengan halus. Juna tersenyum. “Ya udah.” Juna dan Sherly pun asyik mengobrol berdua dan membuat Sean panas, karena merasa diabaikan. Apalagi Vian dan Kenzo asyik dengan ponsel mereka masing-masing. Semakin terabaikan saja eksitensinya di sana. Kenzo mengerutkan keningnya melihat Sean mencak-mencak. “Kenapa, lo?” “Tahu ah!” jawab Sean dengan ketus, lalu berjalan cepat melewati abang-abangnya dan Sherly yang sedang menatapnya dengan kebingungan. “Itu Sean kenapa?” gumam Sherly tanpa sadar bertanya kepada Juna. “Enggak tahu,” jawab Juna. Juna pun kembali menoleh pada Sherly dan pandangan mereka beradu selama beberapa detik sebelum akhirnya Sherly menunduk kepalanya dengan kedua pipinya memanas, menunjukkan semburat merah yang mampu mengundang kekehan Juna. Sementara itu di belakang mereka, Vian tersenyum melihat interaksi abang tertuanya itu dengan Sherly. Ia senang karena setelah sekian lama akhirnya ada seorang wanita yang mampu mencairkan gunung es yang membentengi Juna selama ini dari para kaum hawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN