Dio yang sedang asyik menonton TV di ruang keluarga dibuat heran dengan kedatangan Sean yang uring-uringan. Bahkan eksistensinya pun seolah tak terlihat di mata sipit adik bungsunya itu.
Dio mengedikan bahunya acuh, lalu kembali fokus pada layar televisi yang sedang menayangkan acara debat para pejabat negara di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Lagi pula percuma mengajak bicara Sean yang sedang dalam mode singa, bukannya mendapat jawaban malah akan mendapat semprotan mulut pedas Sean.
“Assalamualaikum.”
Dio kembali mengalihkan atensinya dari layar televisi. Ia melihat kedua kakaknya, Sherly, dan juga Kenzo datang dari arah ruang tamu seraya menenteng kantong plastik putih yang ia yakini berisi camilan.
“Waalaikumsalam. Wah, kebetulan nih. Mana camilannya,” ucap Dio.
“Kalau camilan di plastik yang dibawa si Sean, ini mah mie instan, spaghetti, s**u, sama persaosan,” jawab Kenzo.
Mendengar nama mie instan disebutkan oleh Kenzo, sontak membuat Dio melotot. Kenzo yang sadar akan tanda bahaya yang ditunjukkan oleh abang nomor empatnya itu, Kenzo pun langsung pergi dari ruang keluarga menuju kamarnya. Sementara plastik yang dibawa olehnya ia berikan pada Juna.
“Ck, kebiasaan!” gerutu Juna seraya menatap sebal ke arah punggung lebar Kenzo yang menghilang dibalik lift.
Dio yang sedang menonton para pejabat yang sedang panas-panasnya berdebat mengenai kebijakan pemerintah berdecak kesal karena terhalang oleh tubuh Juna yang menghalangi sebagian layar televisi.
“Jangan berdiri di situ, Bang! Gue lagi nonton!” tegur Dio.
Juna yang menyadari kesalahannya pun langsung menyingkir dan meminta maaf kepada adik nomor tiganya itu. “Hehehe, maaf.”
Juna menghela napasnya pelan sambil menatap kantung plastik itu. Yang membayar belanjaan dirinya dan ia juga yang harus menyimpan mie instan beserta t***k bengeknya ke dapur. Terkadang adik-adiknya itu suka tidak tahu diri. Dengan malas Juna pun berjalan menuju dapur.
Sementara itu Sherly yang sadar diri ia telah dibayarkan belanjaannya akhirnya mengikuti Juna ke dapur untuk membantu menyusun mie instan itu di lemari.
***
Sementara itu di kamarnya Sean uring-uringan. Ia kesal karena melihat kedekatan Juna dan Sherly. Ayolah, ia masih belum rela kakak pertamanya itu merajut kasih kembali dengan seorang wanita. Kakak pertamanya itu tergolong bucin garis keras kalau sudah jatuh cinta pada seseorang. Dan karena kebucinannya itu tak jarang Juna lebih tunduk pada pacarnya dibandingkan dengan adik-adiknya.
“Enggak! Bang Juna enggak boleh suka sama kak Sherly begitu pun sebaliknya. Apalagi jika mereka sampai pacaran. Gue harus lakuin sesuatu!”
Dan tanpa disadari oleh Sean, ada Vian yang menguping di depan pintu kamar Sean. Tadinya Vian menyusul Sean ke kamarnya untuk mengambil sebagian camilan yang dibawa oleh Sean. Namun langkahnya harus terhenti begitu mendengar ucapan Sean barusan.
Vian mengangkat sebelah alisnya. Apakah ia tidak salah dengar, Sean cemburu?
“Patut dicurigai, alasan si Sean enggak suka kedekatan bang Juna sama Sherly gara-gara apa? Apa mungkin diam-diam si Sean suka sama si Sherly, ya? Atau jangan-jangan si Sean cemburu gara-gara enggak mau dilupain kayak waktu bang Juna masih pacaran sama si devil,” batin Vian. Laki-laki itu terus menduga-duga sampai ia lupa akan tujuannya pergi ke kamar Sean untuk mengambil sebagian camilan itu. Devil yang di maksud oleh Vian di sini adalah mantan pacar Juna.
Namun di tengah spekulasi tentang kecemburuan Sean, Vian dikejutkan dengan tepukan di bahunya. Hampir saja Vian menjerit jika ia tidak ingat sedang menguping.
“Bang—”
Vian pun langsung menyeret Kenzo ke kamarnya. Sepertinya Vian akan mendiskusikan masalah ini pada adik pangais bungsunya itu.
***
Sementara itu di dapur, Juna dan Sherly sibuk menyimpan mie instan, spaghetti, saos, baso, dan cornet ke tempatnya yang tadi sempat mereka beli di minimarket.
Sambil menyimpan daftar makanan itu ke tempat biasa keluarga Pratama menyimpannya, Juna dan Sherly mengobrol. Juna menanyakan apakah mengalami kesulitan selama Sherly melayani permintaan adik-adiknya.
“Mereka enggak minta yang aneh-anehkan?” Karena Juna hafal seperti apa sifat adik-adiknya. Terkadang adik-adiknya itu bersikap nakal dan jahil, mirip seperti anak kecil.
“Enggak, Bang. Sejauh ini permintaan mereka yang bisa Sherly handle,” jawab Sherly.
“Beneran?”
“Iya, Bang.”
“Kalau seandainya mereka berlaku kurang ajar sama kamu. Jangan takut buat bilang, saya akan membela orang yang benar. Walaupun adik saya salah, saya enggak akan membelanya,” kata Juna.
“Iya, Bang.”
Hati Sherly merasa menghangat mendengar setiap perkataan Juna yang sering bertutur kata lembut padanya. Juna mengingatkannya pada kakaknya yang sering bersikap lembut padanya dan memanjakannya.
Sherly menghela napasnya. Ia jadi merindukan keluarganya di Bandung. Apakah mereka mencarinya?
“Mereka lagi apa, ya? Dan mereka cari gue enggak, ya?” batin Sherly.
Melihat perubahan raut wajah Sherly yang berubah sendu, Juna pun dibuat kebingungan. Ia pun mencoba bertanya pada Sherly. “Sher, kamu kenapa?”
Sherly tersentak, lalu menggelengkan kepalanya setelah sadar apa yang terjadi. Seharusnya barusan ia tidak menunjukkan raut wajah sendu pada Juna. Dan kini ia takut Juna berpikir hal yang lain-lain.
“Enggak apa-apa kok, Bang,” elak Sherly.
“Beneran? Saya enggak suka loh, dibohongi.” Juna menuntut agar Sherly berkata jujur padanya.
Mau tak mau Sherly pun berkata jujur. “Saya kangen sama keluarga saya, Bang.”
Mendengar perkataan Sherly barusan, hati Juna pun melunak. Dan tanpa sadar Juna berjalan mendekat ke arah Sherly lalu mengusap punggung mungil gadis itu.
“Sabar ya, mau pulang jenguk mereka?” tawar Juna. Ya, Juna sudah tahu bahwa seluruh anggota keluarga Sherly berada di kota Bandung.
Sherly menggelengkan kepalanya. Jika ia pulang sekarang ke Bandung, bukan tidak mungkin papanya akan memarahinya dan langsung menjodohkannya dengan pria pilihan papanya itu.
Juna mengangkat sebelah alisnya ke atas. “Kenapa? Tadi katanya kangen?”
“Kan saya lagi kerja, Bang. Nanti aja pulangnya. Saya mau ngumpulin banyak uang dulu, baru saya pulang ke kampung halaman saya,” alibi Sherly.
Juna tersenyum, lalu mengacak-acak poni Sherly. Terkadang ia merasa gemas dengan asisten adik-adiknya itu.
Dan tanpa mereka sadari sejak tadi ada seseorang yang merasa terabaikan keberadaannya atau mungkin tidak dianggap. Karena tidak tahan keberadaannya diabaikan oleh dua makhluk berbeda gender itu, seseorang itu pun berdeham sangat keras.
Juna dan Sherly pun sontak menoleh. Mereka berdua terkejut mendapati Arka yang tengah duduk di sudut ruangan.
“Eh, Bang.” Tiba-tiba Sherly merasa tidak enak atau bisa dikatakan malu karena tertangkap basah sedang berduaan dengan majikannya, apalagi posisi mereka saat ini bisa dikatakan terlalu dekat untuk ukuran majikan dan bawahannya.
“Sejak kapan kamu di situ, Ka?” tanya Juna.
Arka mendengus. Fiks, berarti sejak tadi ia dianggap makhluk ghaib oleh mereka berdua. Padahal ia ada di dapur sebelum mereka berdua datang.