Suasana hiruk pikuk kota Lampung, terlihat jelas. Cuaca malam ini begitu terang. Gemerlap lampu, serta langit hitam yang bertabur bintang pun sangat amat indah. Elsa turun dari motor Gina. Gadis itu, sudah fasih berjalan. Meskipun sedikit pincang. Di teras rumah Nayang, sudah ada Anna yang sedang bermain ponsel. Nampaknya, gadis itu belum menyadari keberadaan Elsa dan Gina.
Gina memiliki ide jahil, gadis itu berjalan diam-diam di belakang Anna. Lalu setelah tepat berada di belakang Anna. Ia langsung mengambil ponsel milik Anna. Gina berlari membawa ponsel Anna.
"Gina! Ponsel gue njir! Balikin gak!" ucap Anna sebal.
"Eh El bahan gosip nih. Anna chatting sama Sean," ucap Gina seraya terkekeh.
"Eh Sean mana? Sean temennya Angga itu?" ucap Elsa masih berdiri di tempatnya.
"Sialan lo Gina! Balikin ponsel gue!" teriak Anna mengejar Gina.
"Iya El, Sean anak otomotif satu!" teriak Gina seraya berlari.
Elsa hanya tertawa melihat tingkah keduanya. Mereka kejar-kejaran bak anak kecil. Sebenarnya mood Elsa malam ini masih buruk. Jadi dia lagi gak mood untuk bermain-main dengan teman-temannya. Terlebih lagi, kakinya masih sedikit sakit.
Tidak lama setelah itu, Nayang keluar dengan helm yang ia bawa. "Loh... Mereka kenapa?" tanya Nayang melihat Anna dan Gina masih kejar-kejaran.
"Gina pergoki Anna chattingan sama Sean," jawab Elsa tersenyum melihat keduanya.
"Sean?" Nayang menyatukan kedua alisnya.
"Iya. Lo gak kenal sama Sean?" tanya Elsa. Nayang menggelengkan kepalanya.
"Duh Nay ini tuh udah 3 bulan kita sekolah. Dan lo belum hafal nama-nama cogan di sekolah?" ucap Elsa tidak menyangka. Gadis itu turut menggelengkan kepalanya.
"Emang Sean siapa? Kok Anna gak cerita sih sama gue," ucap Nayang masih dengan ekspresi wajah bingungnya.
"Lah makannya, ada hubungan spesial apa Anna sama Sean, kan?" ucap Elsa. "Duh jadi bahan gosip enak nih," gumam Elsa.
Nayang yang mendengar ucapan Elsa hanya menggelengkan kepalanya.
"Stop Ann! Capek gue," ucap Gina menyodorkan ponselnya kearah Anna.
"Sialan lo benar-benar sialan Gina!" ucap Anna sebal. Gadis itu merampas ponsel miliknya dari tangan Gina.
"Huaa, badan gue bau gara-gara lari-larian," ucap Gina mencium bau badannya sendiri.
"Mampus! Gagal kan loh dapat cowok," ucap Anna tersenyum puas.
"Lo jahat amat Anna sama gue," ucap Gina mengerucutkan bibirnya. "Nayang..., minta parfum lo dong," ucap Gina mengeluarkan puppy eyes-nya.
"Bentar, gue ambil duluan," ucap Nayang masuk kedalam rumahnya.
Gina kembali sumringah. "Cie... Deket sama es batu." Gina juga menggoda Anna.
"Hati-hati, jadi batu lo," ucap Gina lalu tertawa.
"Gak lucu!" balas Anna dengan sewot.
Tidak berapa lama, Nayang datang membawa parfum. Gina langsung menyerobot parfum tersebut. Dan kalap memakainya.
"Eh buset, santai dong Gin!" ucap Elsa menutup hidungnya.
"Nih Nay," ucap Gina mengembalikan parfumnya.
Nayang pun masuk kedalam untuk meletakkan parfum. "By the way kita mau kemana?" tanya Elsa.
"Pasar malam yuk, deket sini ada pasar malam," sahut Nayang yang baru keluar dari dalam rumah.
"Beneran? Pasar malam?" tanya Gina antusias. Nayang mengangguk.
"Ya udah Cus kita harus ke sana sekarang juga," ucap Gina memakai helmnya. Gina membonceng Elsa. Sementara Nayang dengan Anna. Mereka pun pergi dari pekarangan rumah Nayang.
***
Mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dan sedang berada di parkiran motor. Pandangan keempat gadis itu berbinar ketika melihat gerbang masuk pasar malam yang di hiasi oleh lampu kelap-kelip hijau, merah dan kuning itu seakan menyambut mereka.
"Huaaa, ayo gue nggak sabar," ujar Gina menarik Elsa.
"Pelan-pelan Gin, kaki gue masih sakit," ucap Elsa meringis.
"Duh El, sorry-sorry gue semangat banget sampek lupa kalau kaki lo sakit," ujar Gina.
Mereka berempat pun masuk kedalam pasar malam tersebut. "Guys kita makan dulu yuk, lapar nih gue," ucap Anna mengusap perutnya.
"Iya gue juga lapar belum makan malam tadi," sahut Gina.
Elsa menatap Gina tidak percaya. "Seorang Gina belum makan? Kok gue rada gak percaya ya."
"Maksudnya, belum dua kali El," jawab Gina.
"Ye!" Anna dan Elsa bersorak kepada Gina.
"Ya udah kita cari tempat makan yuk. Mau makan apa kira-kira kita?" ujar Nayang.
"Gue pingin bakso bakar keknya enak deh. Eh tapi gue juga pengen sosis bakar juga," ucap Gina mengelus perutnya ketika melihat bakso bakar sosis bakar.
"Gue mau, hot dog deh," ujar Anna.
"Gue mau bakso bakar juga," ucap Nayang.
"El lo mau apa?" tanya Gina.
Elsa mengedarkan pandangannya menyusuri berbagai stand makanan. Jujur saja perutnya masih kenyang karena tadi ia sempat makan malam bersama keluarganya. Senyum Elsa berkembang ketika melihat seseorang ada di salah satu stand makanan.
"Gue mau jagung bakar," ucap Elsa membuat mereka mengangguk.
"Oke kalau gitu kita pencar. Nanti kalau udah dapet makanannya kita kumpul di meja ini yah. Nay, karena lo pesanannya sama kek Gina jadi lo yang nunggu meja ini ya. Kita pesan makanan. Makanan lo biar di pesan sama Gina," ucap Anna mereka pun berpencar mencari makanan yang mereka inginkan. Kecuali Nayang yang memang pesanannya akan di bawakan oleh Gina.
Elsa pun berjalan menuju stand jagung bakar dengan langkah perlahan tentunya.
"Mang, jagung bakarnya satu yang original, ya," ucap Elsa.
"Loh Elsa disini juga?" tanya seorang gadis. Jujur Elsa sangat merutuki dirinya sendiri karena sudah memutuskan untuk membeli jagung bakar. Tadi Elsa melihat ada Yasha disini, tapi Elsa tidak melihat Rista juga di sini. Elsa pun memutuskan untuk membeli jagung bkar. Jika tau ada Rista mungkin Elsa tak jadi membeli jagung bakar.
"Eh Rista, iya nih," ujar Elsa sesantai mungkin.
"Lo kesini sama siapa?" tanya Rista basa-basi.
"Sama Gina, Anna, dan Nayang," jawab Elsa masih santai.
"Oh iya ramai dong," ujar Rista menampilkan senyum manisnya. "Mereka di mana?" tanya Gina. Elsa menunjuk Nayang yang sedang bermain ponsel.
"Lo sendiri ke sini sama siapa?" tanya Elsa pura-pura tidak tahu.
"Sama Yasha, Angga, Sean, dan Elang," ujar Rista. Elsa juga baru sadar, kalau mereka juga seramai itu. Elsa hanya melirik sekilas Yasha lelaki itu menggunakan hoodie berwarna hitam yang sama seperti dirinya.
"Hem gimana kalau kita gabung El? Pasti tambah seru," usul Rista membuat Yasha melebarkan kedua matanya.
"Ris...," tegur Yasha.
"Stttt, diam!" ucap Rista.
Sebenarnya Elsa ingin bergabung dengana Yasha tapi di sini juga ada Rista.
"Hem gimana yah. Gue nggak bisa mutusin gitu aja. Mending kalian tanya sendiri deh sama temen-temen gue," jawab Elsa mencari jawaban aman.
"Neng ini jagung bakarnya," ucap penjual jagung bakar.
"Oh iya ini uangnya makasih Mang," ujar Elsa memberikan uang 10 ribu kepada penjual jagung bakar.
"Ya udah deh kalau gitu nanti gue izin sama mereka. Sekarang ayo kita ke sana," ajak Rista ia berjalan mengandeng tangan Angga. Sementara Yasha dengan wajah kesalnya pun mengikuti Angga dan Rista.
Elsa berjalan di belakang Yasha. Yah hanya di belakang Yasha. Mereka sampai di tempat janjian semula. Nayang menatap Elsa bingung. Karena membawa banyak rombongan.
"Hay Nay, boleh gabung nggak?" tanya Rista to the poin
"Oh gabung, boleh kok," ujar Nayang tersenyum manis.
"Kok lo nggak bilang mau kesini sih Nay, tau gitu kan bisa bareng," ujar Yasha tersenyum manis. Yasha juga duduk fi sebelah Nayang. Hal itu membuat Elsa yang duduk di depan Yasha terpesona. Yasha tak pernah tersenyum kepada Elsa jadi wajar saja jika Elsa sangat salah fokus waktu itu.
"Hehe, iya nih udah janjian juga sama teman-teman," jawab Nayang tidak berapa lama, Anna dan Gina datang. Gina belum menyadari bertambahnya anggota di meja tersebut.
"Nay, tadi lo bawa parfumkan. Minta dong, bau asap nih," ujar Gina mencium tubuh nya sendiri.
"Kan tadi udah gue tinggal Gin," jawab Nayang. Gina mengerucut bibirnya lalu ia melihat ada Angga, Elang, Yasha, Sean, dan Rista di meja mereka.
Gina menepuk kedua pipinya begitu menyadari semua itu. Gadis itu masih tidak menyangka. "Demi apa? Ada dua suami gue di sini," gumam Gina.
Karena reflek, Elsa langsung mencubit lengan Gina. "Arghh... Sakit njir! Tega banget lo El."
"Gak usah malu-maluin," bisik Elsa.
Gina tersenyum."Duh Angga kok ganteng banget menggoda iman. Tapi Elang juga ganteng jadi bingung milih yang mana."
Nayang, Elsa dan Anna memejamkan matanya. Merasa malu mendengar ucapan Gina.
"Gin, makanan lo keburu dingin," ucap Anna.
Gina pun duduk. "Duh kok lo lucu banget sih Gin," ucap Rista mencubit pipi Gina.
Gina hanya tersenyum salting. Anna, Elsa dan Nayang lebih memilih memakan makanannya.
Mereka melanjutkannya makan mereka dengan mengobrol santai. Sesekali tertawa dengan ucapan Gina atau dengan pertengkaran Gina dan Elsa. Di tengah obrolan mereka Rista melihat seseorang yang ia kenali.
"Kak Tristan!" teriak Rista. Lelaki bernama Tristan itu tersenyum, ia melambaikan tangannya dan berjalan kearah Rista.
"Hai Ris, kamu di sini juga?" tanya Tristan.
"Iya Kak," jawab Rista.
Tristan mengalihkan pandangannya menatap Elsa dan yang lainnya. "Wow, ramai juga," ucap Tristan.
"Kak Tristan sama siapa?" tanya Rista. Tristan kembali menatap Rista.
"Sama teman-teman aku juga," jawab Tristan. "Kamu mau ikut sama aku?" ucap Tristan.
"Boleh emang?" tanya Rista terlihat begitu antusias.
"Boleh kok," jawab Tristan.
"Yas, gue ikut Kak Tristan ya," ucap Rista.
"Hm,' jawab Yasha. Mendengar jawaban dari Yasha membuat Elsa terdiam.
"Guys, gue pergi dulu ga. Have fun buat kalian," ucap Rista lalu pergi dari tempat duduknya. Yasha menatap kepergian Rista. Sementara Elsa yang sedari tadi memperhatikan Yasha baru tahu, kalau Yasha sedang cemburu.
****
"Kira-kira setelah ini kita mau ngapain?" tanya Gina mencairkan suasana.
"Nay, lo gak ada ide?" ucap Anna.
"Kok gue?" ucap Nayang bingung.
"Kan lo paling pintar di antara kita," sahut Elsa.
"Ck, nentuin pendapat juga harus gue nih?" ucap Nayang menatap teman-temannya. "Kan ada tuh cowok-cowok tanya aja ke mereka," sambung Nayang.
"Woy, yang cowok-cowok kita mau ngapain setelah ini?" tanya Gina.
"Masuk rumah hantu," cetus Yasha.
"Apa?"
"Kenapa? Lo gak berani?" ucap Yasha tersenyum meremeh.
"Enak aja. Siapa bilang! Gue berani kok," ucap Elsa seketika.
"Oke, kita masuk ke rumah hantu," ucap Yasha. Membuat jantung Elsa berdetak lebih kencang.
****