DUA PULLUH SATU

1281 Kata
Keylo mengerutkan kening.             Cowok itu berdeham dan mengusap tengkuknya. Entah kenapa, dia merasa tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya meremang. Meskipun terasa menggigil, tapi Keylo berkeringat. Jantungnya berdebar keras dan perasaannya tidak enak. Seolah-olah, ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi dan Keylo tidak tahu apa yang sedang terjadi itu.             Verco sang kakak yang sedang makan bersama Keylo pun rupanya menyadari hal tersebut. Dia mengunyah sambil menatap Keylo dengan kerutan di kening.             “Key?”             “Hah? Iya? Ada apa, Bang?” respon Keylo dengan nada kaget. Cowok itu sedang berkutat dengan pikiran dan kegelisahannya, ketika sang kakak memanggilnya.             “Ada apa?” Verco justru balas bertanya. Dia tidak ingin adiknya ini memiliki masalah lain lagi dan membuatnya jatuh sakit karena terlalu memikirkan semuanya. “Lo baik-baik aja?”             “Yep. I’m fine.”             “You sure?” Verco meminum es teh manisnya  dan membersihkan mulut dengan tisu. “Soalnya, yang gue liat lo nggak baik-baik aja.”             Keylo tersenyum tipis. Memangnya, sejak kapan dia baik-baik saja? Sampai saat ini, Zeva belum ditemukan dan Keylo menolak memikirkan kemungkinan jika cewek itu sudah meninggal dunia. Tidak sebelum Keylo melihat jasadnya di depan kedua matanya sendiri.             “Gue oke, Kak.” Keylo menyilangkan sendok dan garpunya di atas piring. “Cuma, perasaan gue sedikit nggak enak.”             “Apa lo sakit?”             Keylo menggeleng.             “Nggak, gue sehat. Perasaan nggak enak ini datang secara tiba-tiba. Kayak... ada sesuatu yang terjadi.” Keylo mengambil ponselnya dari kantung celana jeans. “Biar gue telepon Gazakha. Gue khawatir sama dia, nggak tau kenapa.”             Setelah mendapatkan nomor Gazakha dari ponselnya, Keylo langsung menekan tombol berwarna hijau dan mendekatkan benda tersebut ke telinga kanannya. Dia menunggu beberapa saat, tapi panggilan itu tidak diangkat. Hanya suara operator yang mengatakan bahwa si pemilik nomor sedang sibuk dan tidak bisa dihubungi, meskipun sebelumnya sudah terhubung dengan nada sambung.             “Si Gazakha nggak bisa dihubungin, Bang.”             Alis Verco terangkat satu.             “Nggak bisa dihubungin atau nyambung tapi nggak diangkat?”             “Nyambung tapi nggak diangkat,” jawab Keylo. Dia kembali mencoba menghubungi adiknya itu dan menunggu dengan tidak sabar. Cowok itu bahkan menggigit bibir bawahnya dan berdecak jengkel saat, lagi-lagi, operator mengambil alih. Nyaris saja Keylo membanting ponselnya saking cemasnya. “Ke mana sih anak itu?”             Verco mengerti kecemasan yang dirasakan Keylo saat ini. Dia juga cemas pada Gazakha setelah tadi mendengar Keylo berkata bahwa perasaannya tidak enak dan merasa gelisah. Tapi, Verco yakin kalau Gazakha baik-baik saja, entah kenapa. Kecemasan berlebihan yang dirasakan Keylo saat ini kemungkinan besar karena tidak mau kejadian yang cowok itu alami tiga bulan yang lalu bersama dengan Zeva kembali terulang dan menimpa Gazakha.             “Key,” panggil Verco. Cowok itu tersenyum menenangkan. “Gazakha pasti baik-baik aja. Lo nggak usah khawatir. Kalau ada sesuatu yang terjadi sama Gazakha, pasti bakalan ada pihak tertentu yang menghubungi kita. Kayak pihak rumah sakit atau pihak kepolisian.”             Keylo diam. Cowok itu tersenyum tipis dan memijat pelipisnya. Apa yang diucapkan oleh Verco memang benar. Namun, meski Verco bilang Gazakha pasti baik-baik saja, perasaannya tetap saja tidak enak. Semakin tidak enak, membuatnya mual dan ingin sekali memuntahkan isi perutnya.             Tak lama, ponsel Keylo berbunyi. Cowok itu buru-buru menatap layar ponselnya dan mengerjap. Dia menatap Verco yang kini mengangkat satu alisnya.             “Dari Gazakha, Bang.”             “See?” Verco terkekeh geli. “Lo terlalu khawatir. Angkat, gih.”             Buru-buru Keylo menjawab panggilan telepon tersebut dan mendekatkan ponselnya ke telinga. Tapi, entah kenapa, perasaannya justru semakin tidak enak ketika dia menjawab panggilan telepon dari sang adik. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya sesak bukan main. Keylo lantas merasa oksigen di sekitarnya mulai berkurang dan dia sedikit kesulitan bernapas.             “Za, lo baik-baik aja, kan?” tanya Keylo, setelah dia sempat terdiam dan berhasil menemukan suaranya kembali.             “Iya, Bang. Gue baik-baik aja, kok. Kenapa emangnya, Bang? Sori, tadi gue nggak bisa jawab panggilan lo. Pas gue liat, udah ada beberapa miscall dari lo.”             “Nggak apa-apa, sih. Gue cuma tiba-tiba ngerasa nggak enak hati aja dan kepikiran buat cek keadaan lo.”             “....”             Hening.             Keylo mengerutkan kening saat Gazakha tidak bersuara. Cowok itu sampai menjauhkan ponselnya hanya untuk melihat apakah sambungan telepon mereka masih terhubung atau tidak. Dan ketika Keylo mendapatkan jawabannya, dia mendekatkan ponselnya lagi ke telinga.             “Halo? Za?”             “Ah? Eh, iya Bang.” Gazakha berdeham dan menarik napas panjang. “Gue baik-baik aja, kok. Tapi, gue emang lagi ada di rumah sakit, sih.”             Keylo terkesiap. Cowok itu langsung bangkit dari kursinya dan menatap Verco dengan tatapan kalut.             “Lo di rumah sakit?!”             Mendengar itu, Verco ikut berdiri dan mendekati Keylo. Cowok itu berdiri di samping adiknya dan meremas pundaknya, mencoba untuk menenangkan sang adik. Dia berkata ‘calm down’ tanpa suara dan menyuruh Keylo untuk menyerahkan ponselnya agar dia yang berbicara dengan Gazakha. Namun, Keylo menolak.             “Kenapa lo bisa ada di rumah sakit, Za? Katanya lo baik-baik aja? Kalau lo baik-baik aja, kenapa lo bisa ada di tempat itu? Gazakha! Apa lo lagi menyembunyikan sesuatu dari gue dan keluarga?”             “Keylo, relax.”             “Gue baik-baik aja beneran, Bang,” kata Gazakha di ujung sana. Cowok itu kemudian menghela napas. “Cuma....”             “Cuma...?”             Gazakha bimbang. Apakah dia harus memberitahu Keylo mengenai hal ini atau tidak. Mungkin Gazakha sudah yakin sembilan puluh persen kalau Florencia adalah Zeva, tapi, Keylo yang bercerita kalau dia pernah beberapa kali bertemu dengan Florencia dan katanya sifat cewek itu sangat jauh berbeda dengan Zeva, pasti tidak akan mau tau soal Florencia. Cewek yang hanya mirip dengan Zeva.             “Mm... tadi, gue nolongin orang yang abis kecelakaan dan gue langsung bawa dia ke rumah sakit.”             Mendengar itu, Keylo langsung mendesah lega. Cowok itu kembali duduk dan membiarkan abangnya tetap meremas pundaknya.             “Bagus lah kalau lo nggak apa-apa,” kata Keylo. “Gimana sama korban kecelakaan yang lo tolong?”             “Masih belum sadarkan diri.”             “Parah?”             Gazakha menggeleng. “Nggak begitu. Udah ditanganin sama dokter. Um, Bang?”             “Ya?”             Gazakha berperang dengan dirinya sendiri. Cowok itu mondar-mandir di tempatnya hingga memancing perhatian orang-orang di sekitarnya. Lalu, sambil menarik napas panjang, Gazakha akhirnya mengambil keputusan.             “Korban kecelakaan yang gue tolong ini... Florencia. Cewek yang mirip sama Zeva.”             Keylo diam. Jantungnya kembali berdegup kencang. Kegelisahan itu kembali hadir dan kali ini lebih hebat daripada sebelumnya. Apakah hal ini yang membuat perasaannya tidak enak sejak tadi? Karena cewek bernama Florencia yang sangat mirip dengan Zeva itu mengalami kecelakaan?             Lalu, memangnya kenapa kalau dia mengalami kecelakaan? Toh, cewek itu bukanlah Zeva miliknya. Hanya seorang cewek yang kebetulan sangat mirip dengan orang yang sangat Keylo cintai. Hanya itu. Lantas, kenapa sekarang hatinya sangat sesak saat mendengar berita kecelakaan Florencia? Kenapa rasanya Keylo tidak tenang dan khawatir luar biasa.             Kenapa?             “Oh, dia.” Keylo menelan ludah. Cowok itu berusaha bersikap senormal mungkin dan berbicara dengan nada sedingin mungkin. Padahal, hatinya sangat gelisah saat ini. Kurang ajar sekali cewek bernama Florencia itu. Berani-beraninya dia membuat hatinya goyah dan membuat pikirannya hanya mengarah padanya, di saat Keylo harusnya sibuk memikirkan keadaan Zeva. “Ya udah, lo pulang aja. Yang penting lo udah bantuin dia, kan? Pasti ada nomor keluarganya di situ dan biarin pihak rumah sakit hubungin keluarganya.”             “Bang, tapi—“             “Gazakha, pulang!”             Gazakha menelan kembali semua kalimatnya. Perintah Keylo adalah mutlak karena cowok itu adalah kakaknya. Dan Gazakha tidak pernah membantah apa pun perintah kedua kakaknya selama ini.             “Baik, Kak.”             Setelah sambungan terputus, Keylo bangkit lagi dari duduknya dan meninggalkan Verco yang menatapnya dengan tatapan khawatir. Verco bisa mendengar Keylo membanting pintu dan berteriak gila-gilaan dari kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN