DUA PULUH DUA

1235 Kata
Harusnya, Keylo tidak peduli jika cewek kasar yang sangat mirip dengan Zeva itu mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit.             Nyatanya, perasaannya sangat berantakan saat ini. Jantungnya berdegup kencang, dadanya bergemuruh dan berjuta emosi lainnya yang tidak dipahami oleh Keylo.  Bukannya tidak dipahami, tapi menolak untuk memahami. Keylo tidak ingin menyerah pada emosi yang saat ini sedang berkecamuk di dalam dadanya. Karena, jika dia menyerah pada emosi yang saat ini sedang mengaduk-aduk hatinya, Keylo akan berubah menjadi seorang pengkhianat.             Mengkhianati cinta Zeva untuknya.             Hanya karena Florencia sangat mirip dengan Zeva, bukan berarti Keylo harus menyukai Florencia, kan? Karena itulah, meskipun saat ini dia mendadak cemas, panik, khawatir dan sangat ingin memikirkan keadaan Florencia yang sedang berada di rumah sakit, Keylo melawan semua perasaan itu. Jika tidak, Keylo merasa dia akan melupakan sosok Zeva dan menggantinya dengan sosok Florencia.             Dan itu tidak akan pernah dia lakukan.             Sialnya, saat ini dadanya terasa sangat aneh. Perasaannya, hati kecilnya, semua memerintahkannya untuk mengingat Florencia, untuk cemas pada cewek itu. Keylo bahkan harus mati-matian menahan diri agar tidak melangkahkan kakinya ke rumah sakit hanya untuk melihat keadaan Florencia. Karenanya, tadi Keylo melampiaskan semuanya dengan cara melempar beberapa barang yang ada di dalam kamarnya.             “Key, buka pintunya!” seru Verco, kakaknya, dari luar pintu. Namun, Keylo seolah tuli. Cowok itu hanya duduk di tepi ranjang sambil meremas rambutnya. Napasnya terengah, kemungkinan lelah karena baru saja berteriak dan melemparkan barang-barang. Hatinya sesak, sangat. “Keylo!”             “Sori, Bang,” sahut Keylo. “Gue butuh waktu buat sendiri.”             Di luar pintu kamar Keylo, Verco menarik napas panjang dan duduk bersandar di daun pintu. Cowok itu tidak mungkin pergi meninggalkan adiknya yang sedang dalam keadaan seperti ini. Verco akan tetap menunggu Keylo, sampai adiknya itu merasa tenang dan keluar dari dalam kamar.             Ponsel Verco berdering dan cowok itu buru-buru merogoh saku celana jeans-nya. Dia mengerutkan kening saat melihat nomor adik bungsunya, Gazakha, muncul pada layar ponsel. Dengan cepat, Verco menggeser tombol berwarna hijau dan segera mendekatkan ponselnya ke telinga.             “Za?”             “Bang,” sapa Gazakha di ujung sana. “Gimana sama keadaan bang Keylo?”             “Kacau.”             Gazakha mendesah berat. “Harusnya, gue nggak usah kasih tau yang sebenarnya ke bang Keylo. Gara-gara kabar ini, bang Keylo pasti jadi kayak kemarin-kemarin lagi. Padahal, sedikitnya bang Keylo udah semangat dan kembali normal.”             “Emangnya, lo ngasih kabar apa ke dia?”             “Kalau gue ada di rumah sakit.”             “Lo bukannya kenapa-napa kan di rumah sakit?”             “Bukan. Bukan gue. Gue baik-baik aja. Tapi, tadi gue abis nyelamatin korban kecelakaan dan masih nungguin dia di rumah sakit.”             “Siapa?”             “Lo tau kan kalau bang Keylo ketemu sama cewek yang mirip banget sama kak Zeva? Kak Jasmine pun demikian? Nah, korban kecelakaan yang gue selamatin itu dia.”             Alis Verco terangkat satu.             “Cewek yang mirip Zeva kecelakaan?”             Gazakha mengangguk walau Verco tidak bisa melihatnya. “Yep. Dan, dia kecelakaan di tempat bang Keylo sama kak Zeva kecelakaan tiga bulan yang lalu.”             Serta-merta, Verco berdiri. Dia melirik ke arah daun pintu kamarnya Keylo dan memutuskan untuk menjauh. Verco tidak ingin Keylo mendengar percakapannya dengan Gazakha, dan kembali merasa kacau. Sepertinya, kehadiran cewek yang sangat mirip dengan Zeva itu membawa pengaruh besar bagi Keylo.             “Nama tuh cewek siapa?”             “Florencia.”             Namanya berbeda, kok. Di dunia ini kan katanya ada tujuh orang yang mirip sama kita. “Beda orang berarti. Gue sempat mikir kalau itu Zeva, tapi dia amnesia.”             “....”             Karena tidak mendapat respon, Verco sempat memeriksa apakah sambungan telepon mereka masih terhubung atau tidak.             “Halo? Za?”             “Lo nggak salah, Bang.”             Verco mengerjap.             “Apa?”             “Selama tiga bulan terakhir ini, tanpa sepengetahuan bang Keylo, gue sama Keanu dan juga anak buah ayahnya Keanu, mencari tahu soal kecelakaan bang Keylo dan kak Zeva. Terlalu banyak yang janggal, Bang. Dan akhirnya, gue nemuin sedikit titik terang.”             “Titik terang soal apa?” desak Verco. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang. “Soal Zeva? Apa Zeva masih hidup?”             “Tentu aja dia masih hidup. Kan jasadnya belum ditemuin.” Gazakha berdecak bete. Abang tertuanya ini terkadang otaknya sering konslet. Sudah tahu Keylo kecelakaan bersama Zeva, lalu, Zeva menghilang dari TKP dan belum ditemukan sampai sekarang. Kalau Zeva dimakan sama hewan liar, masa iya hewan liar itu diam saja saat melihat Keylo?             Apa karena bang Keylo banyak dosa, ya, makanya hewan liar pun ogah menyantap dia? Gazakha mengerjap dan berdeham. Cowok itu kemudian menggeleng. Imajinasinya memang terkadang selalu meliar.             “Kalaupun mereka bilang Zeva udah meninggal dunia dan nggak ada harapan buat hidup setelah mengalami kecelakaan hebat, gue menolak percaya sebelum mayatnya ditaruh di depan mata gue.” Gazakha kembali bersuara. “Apa lo kenal sama yang namanya Fitz?”             Fitz? Kening Verco mengerut. “Pebisnis sukses itu?”             “Ya.”             “Kenapa sama dia? Skandalnya tahun lalu benar-benar heboh sampai-sampai gue masih ingat sama dia sampai detik ini.”             “Bukan cuma pandai membuat skandal, Fitz juga pandai membuat skenario.”             Verco mengerutkan kening. “Maksud lo?”             “Bang, ini baru teori gue, spekulasi gue, berdasarkan informasi yang gue terima dari anak buah ayahnya Keanu. Fitz punya adik cewek, namanya Zahara Florencia. Gue nggak pernah liat muka adiknya, tapi, gue yakin muka adiknya itu sangat mirip dengan kak Zeva.”             “Dia emang selalu menyimpan rapat-rapat soal keluarganya, sih. Nggak ada satu pun berita soal keluarganya, seperti apa rupa mereka, dan lain sebagainya.” Verco mengangkat satu alis. “Tapi... tunggu dulu. Mirip sama Zeva? Maksud lo? Kenapa lo bisa berasumsi seperti itu, Za?”             “Karena, menurut informasi anak buah ayahnya Keanu, adiknya Fitz itu udah meninggal dunia akibat kanker stadium empat.”             “Apa?”             “Dan, nggak lama setelah Zahara Florencia meninggal dunia, ibunya mereka selalu sakit-sakitan dan kesehatannya semakin menurun serta memburuk. Tiba-tiba, kak Zeva menghilang dari TKP dan seorang cewek yang sangat mirip dengan kak Zeva dan mengaku bernama Zahara Florencia, muncul di depan kita semua.”             “Don’t tell me....”             “Gue nggak percaya sama yang namanya kebetulan, Bang.” Gazakha menatap sesuatu yang berada di tangan kanannya. “Orang yang udah meninggal, tiba-tiba muncul lagi. Dan....”             “Dan...?”             “Apa lo ingat kalung yang pernah dipakai sama kak Zeva?”             Kalung? Verco nampak mengingat-ingat, lalu cowok itu menjentikan jari. “Kalung yang dibeliin sama Keylo dan pasangan dari kalungnya Keylo. Kalau nggak salah, kalung yang dipakai sama Keylo itu inisialnya KZ, singkatan dari Keylo-Zeva.”             “Terus, ingat nggak inisial di kalungnya kak Zeva apa?”             “Kebalikannya.” Verco ingat, Keylo pernah menanyakan kado apa yang bagus untuk diberikan pada Zeva sebagai pengingat hari jadi keduanya. Verco mengusulkan kalung dan Keylo bertanya apakah bagus jika kalungnya memiliki inisial. “ZK. Singkatan dari Zeva-Keylo.”             “Lo tau, Bang? Kalung berinisial ZK itu ada di tangan gue saat ini.”             Verco mematung. “A... pa...?”             “Kalung berinisial ZK yang saat ini ada di tangan gue, gue dapatkan dari leher Zahara Florencia, korban kecelakaan yang gue bawa ke rumah sakit, cewek yang sangat mirip dengan kak Zeva dan adik dari Fitz si pengusaha berskandal.”             “Jadi....”             Gazakha menarik napas panjang dan menatap ke ranjang Florencia dengan tatapan tidak terbaca.             “Zahara Florencia adalah Zevarsya Venzaya yang mengalami amnesia dan dimanfaatkan oleh Fitz untuk meraih keuntungannya sendiri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN