DUA PULUH TIGA

1223 Kata
Fitz sedang memeriksa pekerjaannya, ketika seseorang masuk begitu saja dengan langkah tergesa dan raut wajah panik.             Niatnya untuk memarahi pegawainya itu seketika sirna tatkala Fitz melihat keadaannya. Cowok itu menyingkirkan berkas-berkasnya ke samping dan dia mengetuk jarinya ke atas meja.             “Ada apa?”             “Mm, Pak. Itu, itu....”             Kening Fitz mengerut. Mendadak, perasaannya mulai gusar, gelisah dan tidak enak dan Fitz sama sekali tidak menyukai jenis perasaan seperti ini.             “Itu, itu, apa? Apa kamu tidak bisa berbicara dengan benar?” tanya Fitz dengan nada yang sedikit dinaikkan.             Pegawainya itu sempat menegang saat mendengar nada tinggi yang diberikan oleh bosnya tersebut. Lalu, mengerahkan seluruh keberaniannya, dia mendongak dan menatap kedua manik Fitz. Meski begitu, tubuhnya tetap gemetar dan rasa takut itu semakin besar melingkupinya.             “Barusan ada yang menelepon ke perusahaan, Pak. Katanya, nomor Bapak tidak bisa dihubungi dan dari foto yang dia lihat di layar ponsel, juga ketika dia menyadari siapa Bapak dari nama Bapak yang tertera di ponsel tersebut—sekali lagi, di mana orang tersebut sudah mencoba menghubungi Bapak beberapa kali namun selalu gagal—dia langsung menelepon ke perusahaan.”             “Siapa yang menelepon?”             “Rumah sakit, Pak.”             Kening Fitz mengerut lagi. Perasaannya semakin tidak karuan. Dia mengambil ponselnya yang berada di saku jas dan memang diubah menjadi mode silent itu, kemudian melihat nomor telepon yang sama sudah menghubunginya hampir lebih dari tiga kali.             “Ada apa rumah sakit menelepon saya bahkan sampai harus menelepon ke perusahaan segala?”             “Mm... anu... itu....” Pegawai tersebut menarik napas panjang dan kembali memberanikan diri. “Mbak Zahara Florencia, adiknya Bapak, masuk rumah sakit.”             Tubuh Fitz mematung dan cowok itu langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya terlihat tegang dan kedua matanya membelalak tidak percaya.             “Apa?!”             “Adik Bapak mengalami kecelakaan,” jelas pegawai Fitz itu dengan nada terbata. Bagaimana tidak terbata, kalau dirinya baru saja dibentak oleh pemilik perusahaan ini? Walaupun si pegawai tahu jika Fitz tidak sengaja membentaknya karena merasa kaget dan khawatir mendengar berita ini, tapi tetap saja, dia ketar-ketir juga dibuatnya. “Sekarang sedang ditangani oleh tim dokter di UGD rumah sakit. Orang yang menolong adik Bapak juga masih ada di sana, menunggu adik Bapak dan mengurus semua administrasi.”             Fitz mendadak blank. Cowok itu kemudian tersadar ketika dipanggil berulang kali oleh pegawainya dan langsung meraih jasnya yang disampirkan di kursinya tersebut. Dia melangkah dengan cepat dan tergesa, setelah berhasil mengetahui nama rumah sakit tempat Florencia sedang ditangani dari pegawainya itu.             Selama dalam perjalanan, Fitz tidak bisa berhenti untuk memikirkan Florencia. Cewek itu mengalami kecelakaan untuk yang kedua kalinya. Tapi, bagaimana kalau kali ini, semua memorinya akan kembali? Bagaimana jika Florencia mengingat semuanya dan memutuskan untuk kembali pada keluarganya juga pada... Keylo?             Fitz mencengkram kemudi mobilnya dan menggeleng keras.             Tidak! Tidak! Florencia nggak boleh ke mana-mana! Tempatnya cuma ada di sini, sama bunda, sama gue! Keluarganya cuma bunda dan gue! Yang Florencia miliki cuma bunda dan gue! Florencia cuma milik gue!             Fitz sampai di rumah sakit kurang dari tiga puluh menit. Cowok itu mengendarai mobilnya secara gila-gilaan. Dia bahkan tidak memedulikan cacian dan makian dari para pengendara lain. Fokusnya hanya pada Florencia dan bagaimana dia harus cepat sampai ke rumah sakit untuk memastikan bahwa Florencia baik-baik saja.             Sesampainya di rumah sakit, Fitz langsung memarkir mobilnya dan berlari menuju UGD. Cowok itu mencari di setiap bilik yang ditutupi oleh tirai, mencari keberadaan Florencia. Lalu, saat Fitz sampai di bilik terakhir, dia membuka tirainya dengan cepat dan menghela napas lega ketika menemukan Florencia terbaring di sana dan tertidur dengan damai. Di wajahnya terdapat bekas luka yang sudah diobati. Kepala dan lengannya diperban. Selain itu, tidak terlihat luka berat. Hanya luka lecet dan gores di beberapa tempat.             “Thank, God,” kata Fitz. Cowok itu mendekati ranjang Florencia, menggenggam tangannya dan mencium keningnya. “Thank, God.”             “Oh, you’re here?”             Pertanyaan itu membuat Fitz menegakkan tubuh dan menoleh. Cowok itu mengerutkan kening saat melihat seorang cowok yang lebih muda darinya sedang berjalan menuju sisi ranjang lainnya. Cowok itu sedang mengutak-atik ponselnya. Di pakaiannya terdapat bekas darah, yang Fitz asumsikan sebagai darah Florencia. Sepertinya, cowok itu yang sudah menolong adiknya.             “Apa lo orang yang udah menolong adik gue?”             Gazakha, yang baru saja selesai menelepon Verco, hanya mengangguk. Dia menatap Fitz dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jika teori dan spekulasinya terbukti benar, cowok di depannya ini adalah sumber penderitaan sang kakak. Tanpa sadar, kedua tangan Gazakha mengepal. Orang di hadapannya adalah orang yang kaya raya, memiliki banyak koneksi dan uang. Dia bisa melakukan apa pun, termasuk memisahkan Keylo dan Zeva atau menghancurkan keluarga Keylo. Tapi, Gazakha tidak akan pernah takut.             Demi kebahagiaan kakaknya dan juga Zeva yang identitas sebenarnya dipaksa untuk hilang dan dipaksa untuk dikubur dalam-dalam.             “Ya, itu gue.”             “Terima kasih.” Fitz tersenyum tipis. “Lo nggak tau seberapa besarnya arti pertolongan lo bagi gue dan bunda gue. Bunda gue pasti bakalan sedih banget kalau tau adik gue mengalami kecelakaan tapi nggak ada yang menyadarinya dan menolongnya. Berkat lo, adik gue bisa segera ditangani.”             Adik? Gazakha nyaris mendengus. Yeah, right. Adik kepala lo peyang!             “Ah, ini.” Gazakha mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeans-nya. Cowok itu kemudian menyerahkannya pada Fitz, di mana raut wajah cowok itu seketika berubah kaku. Tubuhnya menegang dan semuanya bisa ditangkap dengan jelas oleh Gazakha. “Tadi, ini  jatuh sewaktu adik lo lagi ditangani. Ini punya adik lo, kan?”             Fitz mengangguk kaku. Semenjak melihat kalung itu, pikiran Fitz tidak bisa berhenti mengarah pada hubungan Zeva dan Keylo. Dia mengambil seorang cewek dari pasangannya secara paksa, kemudian memberikan cewek itu identitas baru. Benar-benar pengecut.             “Ah, iya.” Fitz kembali menyunggingkan senyuman tipis, namun kali ini sedikit dipaksakan. Dia mengambil kalung tersebut dari tangan Gazakha. “Makasih udah simpen kalung adik gue selama dia nggak sadarkan diri.”             “No problem,” balas Gazakha. Cowok itu tersenyum. “Tapi, kalungnya mirip sama punya abang gue.”             Kening Fitz mengerut.             “Abang lo?”             Gazakha mengangguk. “Yep. Kalau kalung itu inisialnya ZK, punya abang gue inisialnya... KZ. Singkatan namanya sama pacarnya yang sebentar lagi bakalan jadi tunangannya.” Senyuman Gazakha menghilang. Matanya menatap datar ke arah Fitz yang membeku di tempatnya. “Singkatan dari Keylo-Zeva.”             Fitz menelan ludah. Cowok itu mengeraskan rahang dan mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Harusnya, dia melakukan penyelidikan terhadap Keylo, Zeva dan keluarga mereka. Harusnya, dia memiliki foto-foto Keylo, Zeva dan orang-orang di sekitar keduanya. Tapi, karena dia terlalu senang melihat perkembangan baik ibundanya akibat kehadiran Florencia, Fitz melupakan hal tersebut.             “Ada apa, Fitz?”             Fitz terkesiap dan menatap Gazakha yang sudah bersedekap dan tersenyum kepadanya.             “Apa ada yang salah?”             “Hah? Oh, nggak.” Fitz menggeleng dan menarik napas panjang. Cowok itu kemudian melirik Florencia. “Bisa gue titip adik gue sebentar? Gue mau ke kafetaria dulu buat beli minuman. Kepala gue agak sakit.”             “Oh, silahkan.” Gazakha mengangguk. “Gue akan menjaga adik lo dengan baik. Seperti yang seharusnya.”             Fitz menatap Gazakha tepat di manik mata. Cowok itu mengertakkan gigi dan memutar tubuh. Meninggalkan Gazakha yang tersenyum puas dan menatap kepergiannya dengan tatapan mengejek.             “Kalau lo pikir lo akan bisa terus menyembunyikan semuanya, lo salah besar, Fitz. Gue akan bongkar semuanya dan membuat lo membayar perbuatan lo!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN