“Apa itu sebuah ancaman?”
Pertanyaan Fitz dibiarkan menggantung untuk sejenak karena Verco sedang berusaha untuk menilai cowok di depannya itu. Verco sangat yakin jika Fitz tidak akan mau melaporkannya ke polisi akibat tindakan kurang ajarnya saat ini. Jika Fitz berani melapor ke polisi, maka Verco yakin dia akan menjadi pemenang. Tentu saja itu karena Verco diuntungkan dengan kenyataan bahwa Florencia adalah Zeva dan Fitz adalah oknum yang sudah menculik Zeva dari tempat kejadian kecelakaan tiga bulan yang lalu.
Dari luar, Fitz memang terlihat tenang dan kalem, tapi Verco yakin, Fitz sangat panik dan geram akan tingkahnya saat ini. Karena itu, Verco menyunggingkan seulas senyum dan bersedekap.
“Tentu aja, itu adalah sebuah ancaman,” jawab Verco dengan nada tegas. “Lo sudah menculik seseorang tiga bulan lalu, Fitz.”
“Gue menolongnya.”
“Dan menyembunyikannya dari pihak keluarga, kemudian memberikan identitas baru.” Verco tersenyum dingin. “Lo menanamkan di dalam otak Zeva bahwa dia adalah Florencia. Lo menjauhkan dia dari keluarga aslinya, orang-orang yang peduli dan menyayanginya. Apa otak lo bahkan berfungsi dengan benar?”
Yaiks! Si abang baru aja menyuarakan apa yang ada di pikiran gue, batin Gazakha. Cowok itu meringis dan menggaruk pelipisnya dengan menggunakan jari telunjuk.
Pada dasarnya, Verco adalah cowok yang ramah dan baik hati, bahkan kepada orang asing yang tidak dikenalnya. Pernah suatu hari, dia menolong orang yang mengalami kecelakaan dan Verco menungguinya bahkan membayar biaya perawatan sampai si keluarga korban tiba. Dia juga tidak menerima uang ganti yang diberikan oleh keluarga korban tersebut. Namun, kebaikan dan keramahan itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat jika keluarganya diganggu atau dijahati oleh orang lain.
Seperti yang dialami oleh Keylo.
Awalnya, Verco mengira jika Zeva sudah meninggal dunia. Mungkin, cewek itu keluar dari dalam mobil saat terjadi kecelakaan dengan niat meminta bantuan, di saat Keylo sudah jatuh pingsan. Lalu, Zeva mungkin terjatuh di suatu tempat dan tidak ditemukan siapa pun. Itu adalah skenario paling buruk yang ada di otak Verco. Dia juga mengira mungkin Zeva dimakan oleh hewan liar, karena kondisi sisi jalan yang ditumbuhi ilalang atau rumput panjang atau apalah. Tapi, karena Keylo ditemukan baik-baik saja, kemungkinan itu dia hapus. Sampai akhirnya, Gazakha memberitahu soal teorinya dan apa yang sudah dia lakukan bersama dengan Keanu juga anak buah ayahnya Keanu.
Lalu, Verco bertemu dengan Florencia hari ini. Di situlah Verco sangat yakin bahwa Keylo dan Zeva sudah menderita karena ulah Fitz.
“Ah,” Verco menjentikkan jari dan tersenyum. Senyuman menakutkan jika kalian bertanya kepada Gazakha. Bukan hanya cowok itu, bahkan Fitz pun menganggap senyuman Verco sangat berbahaya. “Gimana kalau kita tes DNA? Walau lo sudah mengakui bahwa Florencia adalah Zeva, gimana kalau kita tes DNA dan kita umumkan di hadapan semua orang?”
Rahang Fitz mengeras dan giginya mengertak. Dia sangat ingin memberikan pelajaran untuk cowok di depannya ini, untuk memberitahunya bahwa dia yang paling berkuasa, dia berada di atas semua orang karena status dan kedudukannya, tapi Fitz sadar jika itu adalah senjata makan tuan. Jika Fitz melapor kepada polisi bahwa Verco mengancamnya, cowok itu pasti akan menyerang balik. Verco bisa menceritakan semua teorinya dan polisi akan turun tangan untuk menyelidiki semuanya. Dilihat dari sisi mana pun, Verco lah yang berada di atas angin.
“Bang?”
Suara itu membuat Gazakha, Verco dan Fitz menoleh. Fitz membatu saat melihat Keylo muncul dan mendekat ke arah kakaknya itu. Di samping Keylo, seorang cewek berwajah Arab yang tadi dilihat Fitz saat melewatinya di lobi pun muncul.
“Oh, hai Key,” sapa Verco. Cowok itu tersenyum lembut, membuat Fitz mengerutkan keningnya. Verco ternyata memang sangat peduli dan sayang pada kedua adiknya itu. “Kenapa ke sini?”
“Lo sama Gaza lama banget perginya, jadi gue sama Jasmine mutusin buat nyusul. Jasmine mau jajan di kafetaria katanya.” Keylo mengintip dari balik bahu Verco, menatap dengan kening mengerut ke arah Fitz. Dia ingat cowok itu adalah cowok yang tadi ditemuinya dengan wajah pucat di lobi. “Bang? Dia teman lo?”
“Bukan,” geleng Verco. Cowok itu meremas kuat pundak Keylo. “Yuk, beli beberapa makanan dan minuman, habis itu kita balik lagi ke kamar Cath.”
“Lah, iya,” Gazakha tiba-tiba bersuara. “Si kucing liar sendirian, dong?”
“Sepupunya baru aja datang. Namanya Claudian.” Jasmine menatap Gazakha dengan mata berbinar-binar. “Eh, saudara-saudaranya si Cath jangan-jangan setengah bule semua, ya? Gila! Ganteng-ganteng banget! Buruan yuk, balik lagi ke kamarnya. Mata gue belum puas.”
Gazakha mengerjap dan terkekeh geli. Harus dia akui, saudara Cath memang tampan. Tadi Clinton, sekarang Claudian yang, menurut kesaksian Jasmine, sangat tampan. Mungkin karena darah Inggris yang mengalir pada tubuh mereka.
“Mm.” Keylo bersuara. Dia mendekat ke arah Fitz dan berhenti tepat beberapa senti di depannya. Cowok itu kemudian tersenyum. “Lo udah nggak apa-apa?”
“Hah? Oh!” Fitz buru-buru menormalkan sikapnya dan berdeham. Cowok itu memaksakan seulas senyum, membuat Verco mendengus dan Jasmine yang berada di sisinya bisa mendengarnya. Dia mendongak, menarik ujung kemeja Verco untuk menarik perhatiannya dan bertanya ada apa melalui tatapan matanya. Namun, Verco hanya tersenyum dan menepuk pelan kepala Jasmine sebanyak tiga kali. “Ya, gue baik-baik aja.”
“Syukurlah,” kata Keylo sambil tersenyum lagi. “Gue pikir lo sakit. Kalau gitu, gue sama yang lain permisi dulu.”
Keylo sama sekali tidak bertanya apa-apa pada Fitz mengenai pembicaraannya dengan Verco. Padahal, cowok itu sudah terlihat curiga. Namun, Keylo tidak mau memikirkan sesuatu yang bukan berkaitan dengan dirinya. Dia tidak mau ikut campur dengan urusan sang kakak.
Ketika Keylo, Gazakha dan Jasmine sudah memutar tubuh untuk pergi, Verco bertahan. Cowok itu kembali menatap Fitz dengan tatapan dinginnya.
“Ingat, gue akan membongkar semua kejahatan lo, Fitz,” ancamnya. “Kalau sampai terjadi sesuatu sama gue karena hal ini, sahabat terdekat gue akan langsung membongkarnya ke media karena gue akan menceritakan semuanya ke dia hari ini juga. Jadi, perhatikan langkah lo.”
###
“Yang benar, lo?!”
Seruan dari Jasmine itu langsung dihentikan oleh Verco yang terkekeh dan menaruh jari telunjuknya di bibir. Saat ini, Jasmine dan Verco sudah berada di kamar inap Catherine, sementara Keylo dan Gazakha pergi ke mini market untuk melanjutkan acara belanja Gazakha yang tertunda tadi akibat pertemuan mereka dengan Fitz. Kini, Verco sedang menceritakan semuanya kepada Jasmine, sahabat Zeva. Catherine pun mendengarkan dengan seksama dan terlihat sangat kaget.
“Gila! Gue benar-benar nggak percaya, Kak,” kata Catherine, mewakili perasaan Jasmine saat ini yang kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata. “Jadi, cewek yang mirip sama kak Zeva itu bukannya mirip tapi emang itu kak Zeva?”
Verco mengangguk. Cowok itu melirik Jasmine yang nampak speechless dan langsung menggenggam erat tangannya untuk berbagi kekuatan.
“Gue cuma mengkonfrontasi dia sedikit dengan berbekal dari teori dan spekulasi Gazakha, terus dia mengakuinya sendiri. Mungkin karena dia tau dia udah tersudut.”
“Dasar cowok b******k! Apa dia nggak tau kalau perbuatannya dia itu udah bikin kita semua menderita? Keluarga Zeva, Keylo....” Jasmine terisak dan menyeka air matanya yang mulai turun. “Kita harus kasih tau Florencia—maksud gue—Zeva soal hal ini, Kak. Kita harus ceritain kebenarannya.”
Verco menggeleng. “Belum waktunya, Jas. Kita harus cari bukti lainnya untuk mengalahkan Fitz. Dia orang kuat, orang berstatus tinggi, kita akan kalah kalau nggak bertindak hati-hati.”
Jasmine menggigit bibir bawahnya. Dia sangat senang karena Zeva ditemukan sekaligus sedih karena cewek itu mengalami amnesia.
“Lagi pula,” sambung Verco. Cowok itu tersenyum. “Zeva mulai mengingat masa lalunya perlahan.”
Jasmine dan Catherine mengerjap. “Apa?”
“Tadi, Zeva cerita ke Gaza kalau dia mengalami mimpi buruk. Dia bermimpi mendengar suara seseorang memanggil-manggil nama Zeva.”
Jasmine tersenyum. Cewek itu berdoa dan berharap, semoga dengan mimpi-mimpi itu, Zeva bisa mengingat semuanya kembali.