Ruang UGD.
Gazakha meminta izin pada perawat untuk diizinkan masuk dengan alasan bahwa dia ingin bertemu sekali lagi dengan korban kecelakaan yang ditolongnya, sebelum dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Perawat itu menyetujui dan sambil tersenyum, dia mengantar Gazakha dan Verco ke dalam, menuju ranjang Florencia.
Sesampainya di depan ranjang Florencia, perawat itu pamit undur diri untuk kembali mengerjakan tugas-tugasnya. Gazakha menyibak tirai yang membatasi setiap ranjang dan menemukan Florencia sedang sendirian. Tidak ada Fitz. Kemungkinan besar cowok itu masih berada di luar, masih syok dengan konfrontasi yang dilakukan oleh kakak sulungnya itu.
“Halo, Florencia.”
Florencia yang sedang melamun, mengerjap. Cewek itu menoleh dan tersenyum tipis ke arah Gazakha.
“Halo. Terima kasih sekali lagi karena udah nyelamatin gue.” Mata Florencia kemudian mengarah ke cowok yang berada di samping Gazakha, yang baru pertama kali dilihatnya. “Elo...?”
Gazakha menoleh ke arah Verco dan menemukan abangnya itu sedang mematung. Matanya tak lepas dari wajah Florencia alias Zeva. Walau semua yang diucapkan oleh Gazakha sebelum ini di telepon hanyalah spekulasi cowok itu saja, teorinya, kemungkinannya, tapi, melihat Florencia secara langsung dan reaksi yang diberikan Fitz atas konfrontasinya tadi, itu semua sudah cukup bukti bagi Verco bahwa Florencia memanglah Zeva.
Gazakha berdeham dan menyikut lengan Verco, membuat Verco tergeragap dan mengerjap. Cowok itu menoleh dan dipelototi oleh sang adik. Gazakha lantas menunjuk Florencia dengan menggunakan dagunya, membuat fokus Verco kembali mengarah pada cewek itu.
“Kenalin, ini kakak gue. Namanya Verco.” Gazakha menatap Verco. “Bang, ini korban kecelakaan yang gue tolong. Namanya Florencia.” Perhatian Gazakha kembali mengarah pada Florencia yang tersenyum sopan. “Kakak lo ke mana?”
“Nggak tau.” Florencia membasahi bibir bawahnya. “Tadi katanya kepalanya sakit dan mau ketemu dokter atau suster supaya diperiksa dan dikasih obat. Tapi, sampai sekarang dia belum balik juga.”
“Hm.” Gazakha melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya dan menatap Verco. “Bang, kita udah lama banget perginya. Belum lagi harus ke mini market. Cath, kak Jasmine sama bang Keylo pasti udah nungguin.”
Mendengar nama Keylo disebut, Florencia mendadak merasa kepalanya sakit seperti ditusuk ribuan pisau. Cewek itu meringis dan mendesis, menarik perhatian Gazakha dan Verco. Keduanya langsung mendekati Florencia, berdiri persis di samping ranjang cewek itu.
“Florencia, lo kenapa? Kepalanya sakit?”
Florencia menarik napas dan menggeleng. “Nggak tau. Sejak bangun dari pingsan tadi, gue selalu ngeliat bayangan-bayangan nggak jelas dan suara-suara yang nggak gue kenal. Akibatnya, kepala gue jadi selalu sakit. Barusan, waktu lo menyebut nama Keylo, gue ngerasa kayak mendengar suara itu lagi.”
Gazakha dan Verco saling tatap dengan tegas, kemudian keduanya kembali menatap Florencia yang sudah sedikit tenang.
“Tapi... nama Keylo itu persis kayak cowok rese yang selalu aja ketemu sama gue dan bilang gue ini Zeva.” Florencia mengerutkan kening. “Dan setiap nama Zeva disebut, kepala gue bakalan sakit bukan main. Tadi waktu gue nggak sadarkan diri juga, suara-suara yang gue dengar menyebut nama Zeva. Heran, siapa sih Zeva itu?”
Gazakha berdeham dan tersenyum. Dia kemudian menepuk pelan punggung tangan Florencia, membuat cewek itu menatap ke arahnya.
“Nggak usah mikirin hal-hal yang belum pasti. Kalau lo udah sehat nanti dan mau tau siapa itu Zeva, lo bisa cari gue.” Gazakha mengeluarkan ponselnya. “Berapa nomor telepon lo?”
Setelah Florencia menyebutkan nomor ponselnya, Gazakha segera menekan tombol berwarna hijau dan menunggu. Lalu, benda itu berbunyi. Ponsel Florencia yang ada di atas meja di samping ranjang menyala dan bergetar. Kemudian, Gazakha segera memutuskan sambungan telepon dan mengambil ponsel Florencia, lantas menyimpan nomor ponselnya pada ponsel cewek itu. Lalu, dia mengacungkan ponsel Florencia dan menggoyangkannya sambil tersenyum.
“Nomor gue udah ada di sini. Namanya Gazakha. Lo bisa telepon gue atau ajak ketemuan kalau lo emang kepengin tau soal Zeva. Tapi, setelah lo sehat total, ya.”
Florencia mengangguk dan melihat Gazakha kembali menaruh ponselnya di atas meja. Sepertinya, Gazakha juga membawa serta tasnya dari TKP karena ponselnya saat itu berada dalam tasnya.
“Fokus dulu aja ke kesehatan lo, Florencia,” kata Verco dengan nada lembut, membuat Zeva mengangguk. Dia bisa merasakan aura seorang kakak dari Verco. Sepertinya, Verco adalah seorang kakak yang sangat baik, penuh kasih sayang dan perhatian pada adik-adiknya. Semua itu terbukti dari cara Gazakha menatap sang kakak dan Florencia jadi teringat pada Fitz. Fitz juga sosok seorang kakak yang sangat baik dan penuh perhatian.
“Terima kasih Kak.”
Verco mengangguk dan pamit pada Florencia, pun dengan Gazakha. Saat keduanya keluar dari ruang UGD, Fitz baru saja ingin memasuki ruang tersebut. Ketiganya lantas berdiri di depan pintu ruang UGD dan saling menatap. Meskipun wajah Fitz masih kelihatan pucat, namun kedua matanya sudah bisa menyorot tegas dan tajam.
“Halo,” sapa Gazakha dengan nada datar. “Gue mau pamit sama Florencia tadi. Adik lo keliatannya udah pulih. Semoga dia bisa cepat sehat.” Kemudian, cowok itu menatap Verco yang masih sibuk memberikan tatapan tajamnya untuk Fitz. Keduanya terlihat seperti sedang melakukan kontes adu tatap. “Ah, ini kakak sulung gue. Namanya Verco. Kakak kedua gue juga ada di sini, cuma lagi jagain temannya. Namanya... Keylo.”
Fitz menelan ludah dan mengepalkan kedua tangan. Ketenangan yang sudah berhasil dia dapatkan, kini kembali lepas dari genggaman. Rasa takut dan panik itu kembali menguasainya, membuat jantungnya berdebar keras hingga dia takut kedua cowok di hadapannya ini bisa mendengarnya.
Tenang, Fitz... tenang... mereka nggak tau apa-apa.
Benarkah? Benarkah kedua orang di hadapannya ini tidak tahu apa-apa? Lantas, kenapa rasanya Gazakha seolah terus menyindirnya? Dan kenapa tadi di lobi, Verco mengkonfrontasinya, seakan-akan cowok itu tahu semuanya? Apa yang kedua kakak-beradik ini sembunyikan dan coba perlihatkan padanya.
Lo nggak ada apa-apanya, Fitz. Lo akan kalah.
Ah, Fitz tahu sekarang. Dia bisa melihatnya. Bahwa kedua kakak-beradik ini akan selalu siap membantu Keylo, memastikan Zeva kembali pada Keylo dan memastikan Keylo serta Zeva bersatu dan berbahagia.
“Kalau begitu, kita permisi dulu.”
Setelah Gazakha berpamitan dan dia sudah melangkah kaki menjauh dari ruang UGD, dari Fitz, bersama dengan Verco, suara Fitz yang terdengar lantang dan tegas terdengar. Kakak-beradik itu berhenti melangkah dan menoleh. Keduanya sama-sama memberikan tatapan dingin yang sama, hingga Fitz mematung karenanya. Dia bukan berada di kutub, tapi sensasi tatapan yang diberikan oleh Verco dan Gazakha sanggup membuatnya seolah sedang berada di kutub dan ditemani oleh beruang kutub.
“Gue nggak akan menyerahkan Florencia,” kata Fitz sekali lagi dengan nada tegas.
“Apa lo baru saja mengakui bahwa Florencia adalah Zeva?” tanya Verco.
“Toh lo baru saja mengkonfrontasi gue di lobi. Gue tebak, lo udah tau semuanya. Dan lo...,” tunjuknya pada Gazakha. “Lo berbicara dengan gue seolah sedang mengintimidasi gue dan menyindir gue. Lo pun pasti tau bahwa sebenarnya, Florencia bukanlah adik gue.”
Gazakha tertawa hambar dan mendengus. Si berengsek Fitz baru saja mengakui perbuatannya. Bahwa dia sudah membawa pergi Zeva dan ingin menguasai Zeva. Enak saja! Meskipun mungkin niatnya baik, ingin membahagiakan bundanya, tapi itu tetaplah kebohongan dan selamanya, wanita itu akan hidup dalam kepalsuan. Lalu, Keylo pun akan terus menderita. Apa otak Fitz ini tidak berfungsi?
“Dan lo pikir, gue akan membiarkan hal itu terjadi?”
Fitz tersentak. Cowok itu tanpa sadar menatap Verco dan menelan ludah. Verco memberikan tatapan dingin yang begitu membunuh. Jika tatapan bisa membunuh, mungkin saat ini Fitz sudah tergeletak tak berdaya.
Itu adalah tatapan seorang kakak yang akan melindungi adiknya.
“Gue nggak akan membiarkan lo melakukan semuanya sesuai keinginan lo, Fitz. Gue akan mengambil apa yang menjadi milik adik gue. Lo udah menyakiti dan membuat adik gue menderita, jangan dikira lo akan lolos begitu aja dari genggaman gue. Sekali lo udah masuk dalam genggaman gue, selamanya lo nggak akan bisa terlepas. Mau itu ke ujung dunia atau neraka sekali pun, akan gue pastikan lo menderita di tangan gue.”