DUA PULUH SEMBILAN

1174 Kata
Gazakha melirik Verco yang sedang duduk di sofa tunggu kamar inap Catherine.             Kakak pertamanya itu nampak berbeda. Biasanya, Verco gampang bergaul dengan orang lain karena sifatnya yang ramah dan supel itu. Tapi kali ini, Gazakha menyadari bahwa Verco hanya menyapa Catherine sebentar, tersenyum dan itu pun sangat tipis hingga Gazakha tidak yakin bisa menyebutnya sebagai senyuman, kemudian pamit untuk duduk di sofa sampai detik ini.             Cowok itu lantas melirik Catherine. Musuh sekaligus temannya itu—entahlah, Gazakha juga tidak begitu tahu statusnya dengan Catherine itu apakah musuh atau teman—sedang bersenda gurau dengan Keylo dan Jasmine. Untungnya, Keylo mau mengobrol dan beberapa kali Gazakha melihat kakak keduanya itu tertawa. Mungkin, mood Keylo sudah bagus kembali mengingat tadi di telepon Keylo terdengar sangat marah karena dirinya berurusan dengan Florencia.             Setelah berpikir bahwa Keylo dan Jasmine akan terus menemani Catherine mengobrol, Gazakha akhirnya bangkit dari kursinya. Cowok itu mendekati Verco yang sedang bersandar di sofa sambil bersedekap. Matanya terlihat menyorot tegas, namun juga menerawang. Dia yakin, kakak sulungnya itu sedang berpetualang ke dimensi lain. Biasanya, meskipun sedang melamun atau berpikir, Verco akan menyadari kehadiran orang di sekitarnya dengan cepat, jika ada yang mendatanginya.             Tapi, sekarang? Kakak sulungnya masih saja tenggelam dalam pikirannya. Gazakha bahkan sampai sengaja duduk di sofa dengan heboh agar Verco menyadari kehadirannya, namun Verco masih saja berpikir.             Si abang tuh lagi mikir apa ngelamun, sih?             “Bang....”             Gazakha berusaha menarik perhatian Verco dengan memanggil nama kakaknya itu. Namun, hasilnya nihil. Dia tetap saja melamun atau berpikir atau apalah. Gazakha sudah tidak paham lagi sedang berada dalam status apakah situasi yang sedang dialami oleh Verco itu.             “Bang....”             Gazakha nyaris mendengus. Kalau bukan karena usianya yang terpaut beberapa tahun di bawah Verco, dan kalau bukan karena Verco kakaknya, mungkin Gazakha sudah akan memukul kepalanya atau menendang kakinya. Meskipun Gazakha memang sering bertengkar dengan kakak-kakakknya, tapi dia jarang sekali bertengkar dengan Verco. Itu karena Verco kakak tertuanya dan dia sangat respect padanya. Bukan berarti Gazakha tidak respect pada Keylo, ya. Dia sangat menghormati kedua kakaknya. Hanya saja, Gazakha lebih sering bertengkar dengan Keylo ketimbang dengan Verco. Mungkin karena usia Gazakha dan Keylo yang tidak terlalu jauh. Kadang, mereka akan saling menjitak, menendang, bahkan hingga berkejaran di dalam rumah walau keduanya sudah bukan lagi anak-anak.             “Bang....”             Lagi, Gazakha berusaha menarik perhatian sang kakak. Kebeteannya sudah mulai naik sampai ke ubun-ubun. Gazakha sejak kecil paling tidak suka jika dicueki saat sedang bercerita atau berbicara. Tapi, ini kan salahnya sendiri. Sudah tahu Verco sedang sibuk berpikir dan melamun, tapi dia masih tetap memanggilnya.             “Abang! Ah, elah!”             Seruan Gazakha itulah yang akhirnya menyadarkan Verco, membangunkannya dari pikiran dan lamunannya. Cowok itu mengerjap dan menoleh. Wajah adik bungsunya sudah cemberut dan matanya menatap jengkel. Bahkan suaranya tersebut membuat Keylo, Jasmine dan Catherine terlonjak. Jasmine bahkan sampai tersedak kue yang sedang dimakannya, hingga Keylo mengusap punggungnya pelan dan berdecak jengkel ke arah Gazakha.             “Gaza! Ck! Di rumah sakit ini, kamar orang pula! Ngapain sih lo teriak-teriak?” omel Keylo. Matanya menatap tajam ke arah adiknya itu.             “Si abang lagian, gue panggil-panggil dari tadi nggak nyahut malah tetap asyik ngelamun!” rengek Gazakha. Cowok itu memperlihatkan sisi kekanakkannya yang selalu dia perlihatkan dan dia pakai jika sedang berada di rumah. Bahkan Catherine sampai melongo melihat sisi Gazakha yang seperti ini. Gazakha terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk pada kedua kakaknya karena tidak mendapatkan perhatian.             “Haha. Sori, sori,” kata Verco sambil terkekeh dan meringis. Dia mengusap tengkuknya. “Gue lagi mikirin sesuatu.”             “Lagi mikirin hal-hal erotis ini pasti lo ya, Bang? Gue duduk udah pakai teknik heboh pun masih aja lo asyik ngelamun!”             “Gaza,” geram Keylo. “Elo tuh ya. Nggak malu ngambek kayak gitu di depan Cath sama Jasmine? Mana si Jasmine sampai keselek gara-gara elo teriak tadi.”             Gazakha mendengus dan menatap Jasmine dengan tatapan meminta maaf. “Maaf, Kak.”             “Nggak apa-apa,” kata Jasmine seraya tersenyum. “Tapi, lo keliatan kayak orang yang beda ya, Za? Kayak bukan elo yang biasa gue liat, meskipun kita baru beberapa kali ketemu. Nggak kayak yang diceritain Zeva dan Keylo juga.”             “Ini emang sifat aslinya.” Keylo menggeleng dan berdecak. Dia kemudian menatap Catherine yang melongo ke arahnya saat dia memberitahu hal tersebut. “Nah, Cath, kalau si Gaza cari masalah sama elo, ancam aja lo bakal beberin sifatnya yang ini ke orang-orang. Gue punya beberapa video dia lagi ngambek dan merajuk di rumah. Ini sih belum ada apa-apanya.”             “Bang, ck!” Gazakha menunjuk wajah Keylo, kemudian menatap Verco untuk mengadu. “Bang Co, bang Key tuh liat. Kelakuannya kayak anak dog.”             Catherine benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Gazakha ini. Cewek itu tidak pernah menyangka, si menyebalkan Gazakha yang selalu berdebat dan bertengkar dengannya, ternyata memiliki delapan puluh persen sisi kekanakkan pada dirinya.             Uwah! Berita besar! Catherine terkekeh geli. Kekehan ala iblis kalau menurut Keylo yang mendengarnya. Cowok itu tersenyum dan mengacak rambut Catherine yang menatap ke arahnya dan menampilkan senyuman manisnya. Keylo memang sangat ingin memiliki adik cewek dan dia juga menyukai Catherine sejak pertama bertemu cewek itu. Menurut Keylo, Catherine bisa mengimbangi adiknya yang terkadang suka bertindak secara impulsif itu.             “Ngomongnya Gaza,” tegur Verco. Cowok itu berdecak dan mengacak rambut adik bungsunya. “Kenapa? Ada apa? Lo mau jajan?”             “Mau.” Gazakha mengangguk polos.             “Abang, baru dua hari yang lalu lo kasih dia duit lima ratus.” Keylo mengingatkan. “Jangan dimanjain, ah.”             “Sirik aja lo jadi orang,” komentar Gazakha. Cowok itu memincingkan mata dan menjulurkan lidahnya. “Bang, lagi mikirin apa sih? Serius banget perasaan.”             “Nothing,” Verco mendesah berat dan berdiri. “Gue ke mini market di bawah dulu, deh.”             Gazakha buru-buru bangkit dan mengekor sang kakak. “Abang, ikut!” Lalu, tatapannya beralih ke Catherine. “Heh, kucing liar—“             “Kucing liar?!” seru Catherine, memotong kalimat Gazakha. Jasmine yang mendengar itu juga berdecak ke arah Gazakha dan memelototinya, membuat cowok itu berdeham.             “Kan nama lo Cat—“             “Cath,” potong Catherine. “Cath! Pakai H!”             “Ehem. Cath,” ulang Gazakha, mengikuti cara berbicara cewek itu yang, meskipun masih panas, sudah bisa marah-marah. “Gue keluar dulu sebentar, ya. Mau ngerampok abang gue. Lo mau sesuatu?”             “Cokelat, keripik kentang, es krim, keripik singkong, kacang atom!”             Gazakha mengerjap dan tertawa. Cowok itu menggeleng dan berlari keluar setelah menitipkan cewek itu pada Jasmine dan Keylo. Saat diluar, Gazakha menghentikan larinya ketika dia melihat Verco berhenti di depan pintu kamar lain, dua kamar dari kamar Catherine.             “Bang?”             “Tadi, gue ketemu Fitz di lobi.”             Gazakha mematung. “Terus?”             “Karena gue emang pernah liat mukanya beberapa kali di majalah bisnis, gue jadi tau tampangnya. Dia keliatan kaget pas liat Keylo. Gue konfrontasi dia dan dia keliatan pucat.” Verco menatap Gazakha dengan tatapan tegas. “Antar gue ke UGD.”             “Buat?”             “Gue mau ketemu Zeva.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN