Setengah jam sebelumnya...
Setelah puas melampiaskan semua rasa sesak di dalam hatinya, Keylo duduk melamun di lantai dingin kamarnya.
Cowok itu masih saja memikirkan si cewek yang sangat mirip dengan Zeva itu. Meskipun Keylo sudah bersumpah tidak akan memikirkan atau berurusan lagi dengan cewek itu, tapi, hanya dengan satu kabar dari Gazakha bahwa dia baru saja menolong orang tersebut dari kecelakaan membuat sumpah dan janjinya goyah. Lalu, bayangan wajah Zeva yang bersedih karena dirinya sudah melupakan cewek itu dan menggantinya dengan orang lain hadir di benak Keylo, membuatnya mengeraskan rahang dan memejamkan kedua mata.
Tenang, Va... gue hanya akan mencintai elo. Cuma elo.
Ketika kedua mata Keylo terbuka, cowok itu mengambil ponselnya dan melihat jam digital yang ada di layar benda tersebut. Keningnya lantas mengerut. Sudah lewat sepuluh menit setelah tadi Keylo menyuruh Gazakha untuk pulang ke rumah dan tidak usah berurusan dengan cewek barbar yang seenaknya saja memakai wajah Zeva itu. Kemudian, Keylo mendengus, mengejek dirinya sendiri.
Meminjam wajah? Ha! Yang benar saja, Keylo! Lo pikir ini dunia apa, sampai-sampai bisa meminjam wajah orang segala? Memang kebetulan saja cewek itu punya wajah yang sangat mirip dengan Zeva!
Lalu, Keylo merenung. Bagaimana jika ternyata, cewek galak itu adalah saudari kembar Zeva yang ketiga? Bagaimana kalau sebenarnya, Zeva itu kembar tiga dan tidak ada orang yang tahu? Keylo kemudian menggeleng. Jika memang benar Zeva kembar tiga, pastinya kan orang tuanya tahu!
Ponselnya berbunyi dan Keylo tersadar dari lamunannya. Cowok itu membuka aplikasi pesan singkatnya karena dia mendapatkan chat dari Gazakha.
Bang, gue belum bisa pulang. Gue ketemu si Catherine di sini. Dia lagi dirawat, lagi tipes sama DBD.
“Ck!” Keylo berdecak jengkel. Cowok itu bangkit dari lantai dan keluar dari kamar. Dia celingak-celinguk, mencari keberadaan sang kakak. Keylo yakin, tadi Verco ada di luar kamarnya dan menunggu di sana. Kemudian, Keylo mendengar Verco menerima panggilan telepon secara samar. Sepertinya sang kakak sudah menghilang karena panggilan telepon tersebut.
“Key? Keylo? Nak?”
Panggilan sang bunda membuat Keylo buru-buru menutup pintu kamarnya dan segera pergi ke tempat ibundanya. Dia menemukan sang bunda ada di dapur, sedang menyiapkan makanan yang ditaruh di dalam kotak makan.
“Ya, Bun?”
Wanita yang sudah melahirkan Keylo ke dunia itu tersenyum lembut dan sedih. Dia bisa melihat bahwa Keylo baru saja meluapkan rasa sakit dan kesedihannya lagi. Terbukti dari penampilannya yang sedikit berantakan dan kedua matanya yang memerah. Tadi juga wanita itu mendengar suara teriakan dan sempat bertanya pada Verco yang baru saja mendatanginya sebelum Keylo datang mengenai Keylo. Anak sulungnya itu pun menjawab bahwa Keylo baik-baik saja. Tentu saja sang bunda tidak percaya begitu saja. Walau bagaimanapun, dirinya adalah seorang ibu dari tiga orang anak. Dia tahu apa yang dirasakan oleh anak-anaknya, meskipun mereka semua mencoba untuk menutupi atau menyembunyikannya.
“Si Za tadi nelepon Bunda,” kata wanita itu sambil tetap tersenyum dan menata makanan-makanan di dalam kotak makan tersebut dengan rapi. Memang ibunda Keylo selalu memanggil anak-anak mereka dengan nama kecil. Eco untuk Verco, Za untuk Gazakha dan Key untuk Keylo. “Katanya dia lapar dan duitnya lagi menipis karena kakak-kakaknya lagi pelit sama dia.”
Keylo mengerjap dan mendengus. “Baru dua hari yang lalu si Gaza dikasih duit sama bang Verco, Bund. Lima ratus ribu, pula. Masa udah habis?”
Sang bunda terkekeh. “Katanya, dia lagi jagain temannya yang lagi dirawat di rumah sakit dan makanan di rumah sakit itu mahal-mahal semua. Rumah sakit gedongan katanya.”
“Banyak alasan aja dia.”
Wanita itu menutup kotak-kotak makanan di hadapannya dan menatap Keylo. “Bisa tolongin Bunda, Nak? Tolong antarkan makanan-makanan ini buat Za sama temannya itu.”
Keylo diam. Cowok itu menatap semua makanan yang berada di atas meja. Dia ragu, apakah dia harus pergi mengantarkan makanan itu atau tidak. Kalau dia pergi ke sana, kemungkinannya untuk bertemu dengan si cewek galak itu pastinya besar. Dan Keylo tidak akan siap untuk melihat wajah tersebut. Tapi...
“Kalau kamu nggak bisa, biar Bunda minta tolong sama Eco aja. Atau, kamu mau ditemani sama Eco perginya?”
Keylo menarik napas panjang, tersenyum dan mengangguk. Cowok itu mendekati sang bunda dan memeluknya dengan manja. Ibundanya adalah penenang baginya setelah Tuhan. Beliau selalu ada di sisinya selama tiga bulan ini, memperhatikannya dan memanjakannya bak anak kecil.
“Biar Bunda panggil dulu kakak kamu, ya,” kata wanita itu seraya tersenyum, membelai rambut sang anak dan mencium keningnya. Lalu, dia pergi ke kamar Verco untuk meminta tolong anak sulungnya tersebut pergi menemani Keylo.
Tak lama, suara ponsel Keylo terdengar, membuat cowok itu mengangkat satu alis dan menatap layarnya. Nama Jasmine tertera di sana dan Keylo langsung menerima panggilan telepon tersebut.
“Tumben lo nelepon gue,” kata Keylo alih-alih menyapa. “Ada apa?”
“Gue suntuk.”
“Hah?” Keylo mengerutkan kening. “Nggak kerja, lo?”
“Libur.”
“Bolos kali maksud lo.”
“Izin gue.” Jasmine berdecak di ujung sana. “Key, mau nemenin gue cari makan, nggak?”
“Nggak bisa,” tolak Keylo. Dia sadar kalau Jasmine, Verco dan Gazakha selalu mengajaknya keluar rumah agar tidak selalu kepikiran Zeva. “Gue harus ke rumah sakit buat antarin makanan ke Gaza.”
“Adik lo sakit?”
“Temannya. Si Gaza lagi jagain temannya itu dan dia ngerengek ke nyokap buat diantarin makanan karena katanya makanan rumah sakit nggak enak.”
“Gue ikut kalau gitu! Rumah sakit mana? Ketemuan langsung di sana aja, ya! Tungguin gue di parkiran kalau lo sampai duluan.”
Belum sempat Keylo menyuarakan protes, cewek berwajah Arab itu sudah lebih dulu memutuskan sambungan, menyebabkan Keylo mengerjap dan mendengus.
###
Keylo melirik cowok di sampingnya.
Saat dirinya, Jasmine dan Verco ingin memasuki rumah sakit, dia melewati seorang cowok tampan yang seperti sedang menahan sakit. Wajahnya pucat dan berkeringat, membuat Keylo mengerutkan kening dan tanpa sadar jadi memerhatikannya. Cowok itu juga rupanya melirik ke arah Keylo dan untuk sesaat, mata keduanya bertemu. Namun, Keylo menyadari cowok itu langsung mengalihkan tatapannya.
Ada apa?
Keylo berhenti melangkah tak jauh dari cowok tersebut, membuat Verco dan Jasmine pun melakukan hal yang sama. Dia kemudian mendekati orang tersebut, mengabaikan tatapan bingung yang dilemparkan oleh kakak dan temannya itu. Lalu, Keylo langsung memegang pundak cowok tersebut, yang mana cowok itu menegang dan mematung.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Keylo.
Fitz tidak pernah menyangka kalau Keylo akan menghampirinya dan menanyakan keadaannya. Jujur saja, dia tidak baik-baik saja. Dia takut. Takut jika Florencia akan diambil dan direbut darinya. Dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun memisahkan dirinya dan Florencia. Tidak siapa pun, terlebih cowok di sampingnya ini.
“Mas?”
“Hah? Oh,” Fitz buru-buru menegakkan tubuh dan menatap Keylo. Cowok itu menelan ludah dan berusaha bersikap tenang. Nyatanya, jantungnya semakin gencar menghentak dadanya dan itu sangat menyakitkan. “Nggak apa-apa. Gue baik-baik aja. Cuma... sedikit pusing.”
“Mau gue antar ke dalam? Siapa tau lo kena anemia. Biar diperiksa sama dokter dulu dan lo bisa istirahat di dalam,” bujuk Keylo. Dia merasa kasihan dengan cowok di hadapannya itu. Kalau tidak salah, Keylo pernah melihat wajah cowok itu beberapa kali di majalah bisnis.
Jika Keylo masih terlihat clueless, lain halnya dengan Verco. Begitu dia melihat dengan jelas siapa orang yang sedang adiknya ajak bicara itu, tubuh Verco langsung mematung. Dia tahu bagaimana raut wajah Fitz dan Gazakha baru saja memberitahunya mengenai teori dan spekulasinya mengenai keterkaitan Fitz dan hilangnya Zeva. Kedua tangan Verco tanpa sadar mengepal kuat hingga Jasmine mengerutkan kening.
“Bang Verco?”
Verco tersentak dan buru-buru mengusap wajah. Cowok itu tersenyum tipis ke arah Jasmine.
“Abang baik-baik aja?”
“Iya, gue baik-baik aja.” Verco kemudian mendekati Keylo dan menepuk pundaknya, membuat Keylo dan Fitz serempak menatap ke arah Verco. “Key, Gaza udah nungguin kita. Jam besuk tinggal satu jam lagi.”
Keylo mengangguk dan memastikan sekali lagi bahwa Fitz baik-baik saja. Setelah cowok itu mengangguk, Keylo langsung menghampiri Jasmine untuk masuk ke dalam. Namun, Verco bertahan. Cowok itu tetap berdiri di tempatnya, membuat Fitz mengerutkan keningnya.
“Gue rasa, lo udah ketemu sama adik gue.”
Adik? Fitz mengerutkan kening. Apa maksud cowok di depannya ini?
“Di UGD, orang yang udah menolong adik lo itu. Gazakha. Dia adik bungsu gue.”
Fitz kembali menegang dan mematung. Matanya terbelalak.
“Dan dari gerak-gerik lo saat ini, lo juga mengenali adik pertama gue, Keylo.” Verco memberikan tatapan dinginnya untuk Verco. “Orang yang lo tinggalin di TKP tiga bulan lalu dan ceweknya lo ambil demi keuntungan lo sendiri.”
Orang yang ada di hadapannya ini... kakaknya Keylo?
“Gue Verco. Kakak dari Keylo dan Gazakha. Gazakha udah cerita soal teori dan spekulasinya dan dari reaksi lo waktu bertemu dengan Keylo tadi, gue yakin teori dan spekulasi Gazakha memang terbukti, meskipun katanya dia belum punya bukti nyata.” Verco mendekati Fitz dan berbisik, “Gue nggak peduli lo pengusaha dan pebisnis terkenal. Tapi, karena lo udah menyakiti adik gue, gue nggak akan tinggal diam dan biarin lo lolos gitu aja, Fitz. Camkan itu.”