Beberapa menit sebelumnya...
Fitz sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Cowok itu mengepalkan sebelah tangannya dan melirik kalung yang berada di atas meja di hadapannya. Dia tidak memedulikan kebisingan yang terjadi di kafetaria ini. Yang menjadi fokus pemikirannya adalah cowok tadi yang sudah menolong Florencia.
Sekaligus orang yang mengaku sebagai adik dari Keylo Izkar Arvenzo.
Seharusnya, Fitz menyelidiki semua background keluarga Keylo dan Zeva, sehingga, jika ada kejadian seperti ini, dia bisa mengantisipasinya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Bukankah banyak manusia yang sangat mirip dengan manusia lainnya di dunia ini, meskipun mereka bukanlah saudara kembar? Bukankah kata orang, di dunia ini kita memiliki tujuh orang yang wajahnya sangat mirip dengan kita?
Fitz menggeleng dan semakin mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras dan giginya mengertak. Cara cowok tadi menatapnya, caranya berbicara, semuanya bisa Fitz rasakan. Bahwa cowok itu mencurigainya. Bahwa dia tidak percaya jika cewek yang ada di UGD itu adalah adik kandungnya.
Terutama saat adik dari Keylo itu menyebutkan kata ‘adik’. Nada suaranya ditekankan, seolah dia sedang menyindir dan mengejeknya.
“Nggak, nggak,” gumam Fitz. Cowok itu menggeleng lagi dan menggebrak meja. Dia tidak peduli jika tindakannya itu sudah menjadikannya pusat perhatian. “Nggak! Flo nggak boleh ke mana-mana! Dia cuma milik gue! Milik gue!”
“Apa yang milik elo?”
Pertanyaan itu membuat Fitz terkesiap dan menoleh. Dia langsung berdiri ketika melihat adik dari Keylo itu sudah berdiri sambil bersedekap di hadapannya. Cowok itu mengangkat satu alisnya dan seolah menikmati pemandangan di depannya, ketika Fitz terlihat pucat seperti baru saja melihat hantu.
“Elo... kenapa ada di sini?”
“Oh,” Gazakha mengangguk dan menunjuk ke dalam dengan menggunakan dagunya. “Adik lo udah sadar. Gue ke sini cuma mau kasih tau lo soal itu.” Mata Gazakha lantas langsung mengarah ke kalung yang masih berada di atas meja. “Itu, kalungnya nanti ketinggalan.”
Fitz ikut menoleh dan buru-buru mengambil kalung tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam saku celananya. Jantungnya berdegup sangat kencang, membuat dadanya terasa sakit. Padahal, jika diterka, umur adiknya Keylo ini pasti jauh di bawahnya. Tapi, intimidasi yang diberikan oleh cowok ingusan itu bahkan sanggup membuat Fitz berkeringat dingin.
“Kayaknya, itu kalung yang sangat berharga buat adik lo.” Gazakha menunjuk kalung yang sudah berada di saku celana Fitz.
“Ya. Itu kalung dari almarhum pasangannya.”
Gazakha diam dan menatap datar ke arah saku celana Fitz. Sialan! Abang gue dibilang udah meninggal! Dia masih hidup, tau!
“Omong-omong, how rude of me. Gue belum memperkenalkan diri. Nama gue Gazakha. Nice to meet you, Sir Fitz.”
Fitz hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Entah menguap ke mana sifat arogan dan dinginnya. Cowok itu pun mengusap tengkuknya dan berkata, “Gue harus ke dalam. Takutnya, Flo nyariin gue.”
“Sure. Go ahead,” sahut Gazakha sambil mempersilahkan Fitz untuk masuk ke dalam, menunju UGD tempat di mana Florencia dirawat.
Sepeninggal Fitz, Gazakha hanya diam dan menatap punggung yang semakin menjauh itu. Cowok itu lantas mendengus dan berjalan menuju ke dalam, ingin menemui Florencia sekali lagi dan pamit.
Dasar. Nikmatin aja dulu hari-hari lo sama kak Zeva yang lo anggap sebagai Florencia, adik lo yang udah meninggal itu.
###
“Bang.”
Fitz tersenyum dan mengusap kepala Florencia dengan lembut. Cowok itu kemudian menggenggam erat tangan Florencia yang terasa dingin. Dia memang belum memberikan kabar kepada ibundanya supaya beliau tidak cemas dan jatuh sakit. Fitz terpaksa akan membohongi wanita itu dengan berkata bahwa Florencia sedang menginap di rumah teman dekatnya.
“Hm?”
“Gue tadi mimpi aneh.” Florencia membasahi bibir bawahnya. Rasanya tubuhnya lemas sekali dan terasa sakit di mana-mana. “Benar-benar mimpi yang sangat aneh.”
Kening Fitz mengerut. “Mimpi aneh apa?”
“Gue... ada di tempat yang sangat gelap,” cerita Florencia. Tatapannya menerawang. “Di sana dingin, nggak ada siapa-siapa. Terus, tiba-tiba ada suara seorang cowok. Dia memanggil-manggil nama seseorang. Dia memanggil nama... Zeva.”
Fitz mematung. Cowok itu mulai kehilangan ketenangannya. Keringat dingin itu mulai bermuncullan, membasahi wajah tampannya. Jantungnya kembali dipaksa untuk berdetak di luar batas normal, membuat dadanya terasa sesak bukan main.
Tenang, Fitz... lo harus tenang... lo nggak boleh nunjukkin ketakutan lo....
“Zeva?” tanya Fitz, mencoba bersikap bodoh. “Siapa itu Zeva?”
“Gue nggak tau.” Zeva menggeleng. “Terus, setelah mendengar suara itu memanggil nama Zeva, ada bayangan-bayangan yang bermuncullan di pikiran gue. Dan itu semua bikin kepala gue sakit bukan main, Bang.”
Bayangan...?
“Dan... ada satu kalimat yang selalu dia ulang-ulang.” Florencia memejamkan kedua mata, mencoba mengingat kembali kalimat yang dia dengar itu. “Berhenti menatap ke masa lalu dan mulailah menatap ke arah gue Zevarsya Venzaya.”
Fitz langsung berdiri dari kursinya. Cowok itu menelan ludah susah payah dan mundur beberapa langkah. Dia terlihat gugup dan gelisah, membuat Florencia mengerutkan keningnya dan menatap cemas ke arah sang kakak.
“Bang...? Lo kenapa?”
“Mm. Gue... gue... kepala gue sedikit sakit.” Fitz memegang kepalanya dan tersenyum gugup. “Gue ke dokter jaga dulu, oke? Siapa tau dia bisa kasih gue resep obat.”
“Abang udah makan?” tanya Florencia lagi. “Abang makan dulu aja, gue nggak apa-apa sendirian di sini. Abang pasti lagi banyak kerjaan di kantor. Maafin gue ya, Bang, karena gue udah ngerepotin dan nyusahin elo.”
Fitz menggeleng dan buru-buru mengusap kepala Florencia. Kemudian, cowok itu membungkuk untuk mencium kening Florencia dengan hati-hati.
“It’s okay, Flo. Lo kan adik gue. Udah sewajarnya gue mengurus elo.” Fitz menegakkan tubuhnya kembali dan menunjuk ke arah meja tempat dokter jaga dan suster sedang bertugas. “Gue minta diperiksa dan minta obat dulu, oke?”
Setelah Florencia mengangguk, Fitz langsung pergi ke meja tempat di mana dokter dan suster jaga sedang bekerja. Namun, ketika dia yakin Florencia tidak bisa melihat ke mana arah tujuannya, Fitz langsung keluar dari ruang UGD. Cowok itu berdiri di depan pintu lobi rumah sakit dan berusaha meraup semua oksigen yang ada di sekitarnya. Dia butuh udara segar, dia butuh angin. Kepalanya terasa panas dan serasa ingin meledak.
“Tenang, Fitz... tenang. Tarik napas, buang.”
Lalu, Fitz mendengarnya. Dia mendengar suara orang-orang yang sedang berdebat yang mendekat ke arahnya. Begitu Fitz menoleh, cowok itu membeku.
“Kan udah gue bilang, gue bisa pergi sendiri!”
“Ya elah, emangnya kenapa kalau gue temenin?” tanya seorang cewek berwajah Arab yang sedang tersenyum jahil. “Kalau rame-rame kan lebih bagus ya, Kak Verco?”
Cowok di belakang kedua orang yang sedang berdebat itu terkekeh geli dan mengangguk. “Iya, Key. Lebih rame lebih bagus.”
“Ini rumah sakit, bukan taman rekreasi,” gerutu cowok tampan yang berada di samping si cewek berwajah Arab. “Lagian, gue cuma mau kasih makanan ini ke Gaza. Makanan dari nyokap!”
“Biar lo nggak kesepian jalan sendirian, Key.”
“Itu mah maunya elo aja, Jas, biar lo bisa bolos ngantor! Lagian kan elo nggak kenal sama si Catherine.”
“Emangnya lo kenal?” tanya Jasmine, si cewek berwajah Arab tersebut.
“Kenal, dong.”
Fitz terus memerhatikan ketiga orang tersebut yang kini semakin mendekat ke arahnya. Lalu, saat mereka melintas tepat di sampingnya, Fitz melirik sekilas dan dia mematung saat cowok di sampingnya juga rupanya sedang menatap ke arahnya.
Cowok itu... Keylo Izkar Arvenzo.