DUA PULUH ENAM

1206 Kata
“Mm... Za?”             “Hm.”             “Kenapa lo masih di sini?”             Gazakha, yang sedang duduk di samping ranjang Catherine dan sedang bermain ponsel sambil meminum jus strawberry-nya, melirik cewek itu. Catherine berdeham dan memutuskan untuk tidak melakukan kontak mata dengan musuh bebuyutannya di kampus tersebut.             Yang sialnya, sepertinya mulai disukainya.             “Kenapa? Gue nggak boleh ada di sini?”             “Bu—bukan begitu maksud gue,” sahut Catherine. Cewek itu meringis dan mengumpat pelan. Di saat seperti ini, Clinton justru pamit pulang. Katanya, karena sudah ada Gazakha, dia akan meminta tolong pada cowok itu untuk menjaga Catherine sampai sepupu mereka yang lainnya akan mengambil alih tugas Clinton. Tentu saja Clinton tidak mengatakan dirinya adalah sepupu dari Catherine. Dia sangat terhibur dengan kecemburuan Gazakha yang, sepertinya tidak malu-malu untuk dia perlihatkan. Clinton hanya bilang kepada Gazakha bahwa ‘sepupu’ Catherine akan datang. Dia juga tidak menjelaskan bentuk hubungannya dengan Catherine. “Bukannya lo lagi nolongin korban kecelakaan?”             “Kan udah ada keluarganya.”             “Mm... kalau nanti keluarganya nyariin lo, gimana?”             “Ngapain mereka nyariin gue?”             “Mm... mau kasih reward, mungkin?”             Kini, Gazakha benar-benar menatap Catherine. Cowok itu menaruh jusnya di atas meja di samping ranjang Catherine dan memasukkan ponselnya ke saku celana. Maniknya menatap lekat manik Catherine yang, sialnya, tidak bisa mengalihkan pandangannya tersebut. Tahu kejadiannya akan seperti ini, cewek itu tidak akan menatap Gazakha barusan.             “Gue nggak butuh reward apa pun, Cath.”             “Kalau mereka mau ngasih ke lo, gimana?”             “Gue nggak mau terima.”             “Tapi—“             “Cath,” potong Gazakha. Cowok itu memegang pergelangan tangan Catherine, membuat cewek itu terkesiap dan tanpa sadar menahan napas. “Liat mata gue.”             Dari tadi juga gue udah ngeliat mata lo karena gue nggak bisa ngalihin pandangan gue!             “Apa gue keliatan kayak orang yang dengan senang hati menerima imbalan? Orang yang menolong orang lain karena ingin mendapatkan imbalan?”             Kepala Catherine menggeleng cepat.             “Terus, kenapa lo nyuruh gue untuk pergi karena gue harus menerima apa pun pemberian keluarga si korban nanti?” tanya Gazakha dengan nada menyelidik. Matanya memicing. “Atau, sebenarnya lo nggak suka gue ada di sini?”             Iya! Soalnya jantung gue nggak bisa diam dari tadi semenjak ada lo!             “Nggak, kok. Biasa aja.” Catherine mendengus dan menarik tangannya agar tangan Gazakha terlepas dari pergelangan tangannya tersebut.             “Kalau gitu, lo harus terima aja kalau gue maunya di sini, nemenin elo, sampai sepupu lo datang,” kata Gazakha dengan nada puas. “Omong-omong, cowok yang namanya Clinton tadi siapa?”             Catherine mengerjap.             “Incaran baru lo, ya?” tanya Gazakha lagi dengan nada bete. Cowok itu bersedekap. “Emang kenapa sama Keanu? Gagal dapatin Keanu, makanya sekarang ngincar cowok lain yang lebih kece dan blasteran?”             Kening Catherine kini mengerut.             Si Gazakha ini ngoceh apaan sih dari tadi? Kenapa ocehannya sama sekali nggak masuk akal?”             “Apaan sih maksudnya, Za? Gue nggak paham.” Catherine mengangkat satu alisnya. “Emangnya sejak kapan gue mengincar Keanu?”             “Bukannya lo suka sama dia, makanya ke mana-mana kalian berdua selalu nempel kayak perangko?”             “Ih!” Catherine mendelik. “Kata siapa? Gosip dari mana? Sembarangan! Gue nggak suka sama Keanu, kali. Dia cuma teman biasa doang.”             Gazakha diam. Dia mencoba mencari kebohongan dari manik Catherine, namun tidak menemukannya sama sekali. Cowok itu berdeham dan kembali melancarkan aksinya menginterogasi Catherine.             “Kalau gitu, incaran lo yang sebenarnya itu Clinton?”             “Ck!” Catherine berdecak jengkel dan melambaikan tangan, menyuruh Gazakha untuk mendekat. Lalu, saat kepala Gazakha sudah didekatkan ke kepala Catherine, cewek itu dengan sangat niatnya menyentil kening Gazakha hingga cowok itu mengaduh dan mengusap kencang keningnya itu.             “Apa-apaan sih, Cath?! Minta dicipok, ya?!” gerutu Gazakha. Cowok itu menatap kesal Catherine yang hanya memberinya tatapan malas dengan alis terangkat satu. Seolah-olah, Gazakha itu hanyalah makhluk asing yang tidak perlu diberikan perhatian.             “Clinton itu saudara sepupu gue. Kakak sepupu.”             Kini, ganti Gazakha yang mengerjap. Cowok itu sampai melongo. Jari telunjuknya tanpa sadar terangkat dan menunjuk wajah Catherine yang terlihat sengak.             “Kakak sepupu?”             “Yep.”             “Kok bisa?”             “Let’s see.” Catherine mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. “Karena orang tua gue adiknya orang tua Clinton?”             Lagi, Gazakha mengerjap. Detik berikutnya, cowok itu mendengus.             “Gue juga tau kalau sepupuan itu berarti orang tuanya kakak adik.”             “Itu lo tau, ngapain pakai nanya lagi kenapa gue bisa sepupuan sama Clinton?”             “Bukan itu maksud gue.” Gazakha menarik napas panjang dan berdecak. “Maksud gue, kenapa dari tadi nggak ada satu pun dari kalian yang memperkenalkan diri sebagai saudara sepupu? Lo cuma dia aja, nggak jelasin ke gue dia kakak sepupu lo, begitu juga sama dia yang nggak kasih penjelasan apa pun.”             “Loh? Kenapa gue sama Clinton harus kasih penjelasan ke lo tentang bentuk hubungan kami?” tanya Catherine dengan kening mengerut bingung. “Emangnya lo siapanya gue?”             Gazakha diam. Dia sibuk mencerna semua ucapan Catherine barusan.             Lah? Iya, ya? Ngapain juga si Cath harus repot-repot jelasin ke gue kalau hubungannya dia sama Clinton cuma sebatas saudara sepupu? Gue kan bukan siapa-siapanya si Cath. Tapi... waktu tadi gue ngeliat mereka dan gue kira Clinton itu cowok incaran Cath yang baru, gue ngerasa... kesel banget!             Gazakha berdeham dan cowok itu melirik Catherine yang rupanya masih menunggu balasan atas pertanyaannya barusan.             “Iya, gue yang salah,” kata Gazakha. “Nggak seharusnya gue menginterogasi lo dan lo nggak punya kewajiban apa pun untuk menjelaskan semuanya ke gue. Gue cuma kepo. Puas?”             “Cih,” cibir Catherine. Cewek itu cemberut di tempatnya. “Udah datang tanpa diundang, main masuk kamar inap orang seenaknya, sekarang menginterogasi orang juga. Mana yang diinterogasi lagi sakit, pasien rumah sakit pula.”             “Terus aja nyinyirin gue,” komentar Gazakha.             “Lo juga yang cari masalah duluan sama gue,” sahut Catherine dengan nada tak kalah pedasnya.             Seperti biasa, keduanya kembali berdebat dan bertengkar. Bahkan, Catherine yang sebelum ini merasa sangat lemas, kini seolah bersemangat. Semenjak Gazakha hadir di dalam kamar inapnya, Catherine seakan tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Tidak merasa lemas, pusing dan sebagainya. Padahal tadi pagi, cewek itu masih merengek dan mengeluh pusing dan lemas pada Clinton.             Tiba-tiba, pintu kamar inap Catherine diketuk dan terbuka. Catherine dan Gazakha otomatis menoleh dan reaksi yang diberikan keduanya bertolak belakang. Jika Catherine tersenyum sumringah dan melambaikan tangan untuk menyambut orang yang datang menjenguknya itu, Gazakha justru berdecak jengkel, bersedekap dan memberikan tatapan juteknya.             “Eh, ada orang tukang cari masalah datang ke sini,” sindir Gazakha, membuat Catherine memelototinya dan memukul punggung tangannya dengan keras.             “Jangan ngoceh yang aneh-aneh. Elo yang suka cari masalah!” Catherine lantas mengarahkan fokusnya pada penjenguknya itu. “Halo, Keanu! Bawa pesanan gue, kan?”             Keanu yang memang diminta Catherine untuk datang dan membawakan beberapa makanan ringan itu hanya tersenyum dan terkekeh melihat cewek itu dan Gazakha kembali berdebat seperti biasanya. Meskipun dalam hati, Keanu bertanya-tanya, bagaimana Gazakha bisa tahu jika Catherine sedang dirawat di rumah sakit ini. Senyumnya kembali ke permukaan kala dia mendengar Catherine dan Gazakha kembali berdebat dan Keanu langsung mendekati keduanya untuk melerai mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN