DUA PULUH LIMA

1358 Kata
Semenjak kakaknya mengalami kecelakaan, Catherine belum lagi melihat Gazakha.             Cewek itu mendapat informasi bahwa Gazakha sedang mengambil cuti kuliah karena ingin mengurus kakak keduanya itu. Yang Catherine dengar juga dari Keanu, pacar kakaknya Gazakha menghilang dari TKP saat kecelakaan itu terjadi dan belum ditemukan sampai saat ini. Gazakha bahkan sampai meminta tolong pada Keanu untuk meminjamkan anak buah ayahnya untuk mencari pacar dari kakaknya itu, setelah Gazakha tahu Keanu berasal dari keluarga yang kaya. Cowok itu bahkan melupakan permusuhan mereka selama ini demi bisa membantu sang kakak.             Selama tiga bulan terakhir ini juga, Catherine tidak mendapatkan kabar dari Gazakha. Bukannya Catherine berharap cowok itu akan menghubunginya atau apalah, tidak seperti itu. Dia hanya... khawatir. Ya, khawatir. Sejak kejadian di mana Gazakha menolongnya dari mobil yang hampir menabraknya, juga ketika dia melihat cowok itu bersama dengan Pricillia, dan kejadian di Dufan, Catherine jadi sering memikirkan Gazakha. Dia ingin menelepon atau mengirim pesan, tapi gengsi mengambil alih.             “Gini nih, kalau hidup lebih mementingkan gengsi,” gerutu Catherine sambil cemberut. Cewek itu mendengus dan bersedekap sambil bersandar pada kepala ranjang.             “Hm? Kamu bilang apa barusan?”             Catherine melirik malas ke arah kakak sepupunya, Clinton. Cowok tampan blasteran Inggris itu menatapnya sambil tersenyum. Rambutnya berwarna cokelat terang, mata berwarna biru gelap, hidung mancung dan sejuta kelebihan lainnya yang diwariskan langsung oleh ayahnya yang memang asli Inggris itu. Meski lahir di Inggris dan menghabiskan waktu hampir seumur hidup di sana, namun Clinton fasih berbahasa Indonesia. Itu dikarenakan ajaran bundanya yang asli Indonesia untuk selalu berbicara bahasa Indonesia ketika mereka bersama. Ayahnya Clinton juga fasih berbahasa Indonesia karena cukup lama tinggal di sini dan tidak masalah jika anak semata wayangnya itu lebih suka berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.             “Gengsi.”             Alis Clinton terangkat satu. “Gengsi?”             Catherine mendesah berat dan menunduk. “Hm. Gengsi. Aku terlalu gengsi dan egoku terlalu gede buat ngakuin kalau aku khawatir dan kangen sama seseorang.”             Clinton mengulum senyum.             “Sama... Gazakha?”             Lagi, Catherine mendesah. Clinton memang tahu soal hubungan ala Tom dan Jerry-nya dengan Gazakha. Setiap kali Catherine berdebat dan bertengkar dengan Gazakha, atau sebal dengan cowok itu, dia akan selalu berkeluh kesah dan curhat habis-habisan pada Clinton. Bahkan, di hadapan Clinton, Catherine dengan bebasnya mengumpat dengan bahasa makian yang paling kasar. Meluapkan semua kekesalannya mengenai Gazakha pada Clinton.             “Yep.”             Masa bodoh lah jika dirinya dianggap sok jual mahal oleh Clinton. Toh, Clinton saudara sepupunya dan bukannya Gazakha.             “Sebenarnya, kamu suka kan sama dia?”             Pertanyaan itu lagi. Clinton sudah pernah menanyakan hal ini sebelumnya sebanyak dua kali, namun Catherine selalu membantah. Cewek itu pun beberapa kali menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri, semenjak kejadian ketika Gazakha menolongnya waktu itu. Kalau Catherine bisa membantah sesukanya ketika Clinton bertanya, cewek itu justru bersikap malu-malu dan menjerit tertahan saat dirinya sendiri menanyakan hal yang sama.             “Mungkin.” Jawaban Catherine kali ini membuat kuluman senyum Clinton berubah menjadi cengiran. Cowok tampan itu mengacak rambut Catherine yang terlihat muram di tempatnya. Jam besuk akan dibuka sebentar lagi dan Clinton akan bertukar jaga dengan sepupu yang lain.             Catherine memang sedang dirawat di rumah sakit saat ini. Cewek itu terkena tipes dan demam berdarah akibat terlalu lelah dan makan yang tidak teratur. Kurang istirahat juga menjadi penyebab Catherine terserang tipes. Dia dilarikan ke rumah sakit kemarin saat tiba-tiba saja pingsan ketika sedang kumpul keluarga besar. Kedua orang tua Catherine sedang beristirahat di rumah dan akan kembali ke rumah sakit nanti malam.             “Kok mungkin?”             “Ya habis, aku juga nggak tau, Kak,” kata Catherine dengan bibir yang dimajukan. Kesal sekali rasanya tidak bisa mengenali perasaannya sendiri dan menolak untuk mengakui kalau dia sudah menyukai Gazakha. “Aku cuma tiba-tiba jadi suka mikirin dia dan khawatir sama keadaan dia. Dia tuh nggak ada kabar hampir tiga bulan! Nggak masuk kuliah, nggak hubungin aku pula!”             “Emang dia ada kewajiban dan keharusan untuk menghubungi kamu, Cath?” tanya Clinton dengan nada geli. “Kalian kan nggak ada hubungan apa-apa.”             Catherine mendengus.             “Iya, aku sadar dan tau akan hal itu kok, Kak. Nggak usah diingatin berulang kali. Aku sama dia cuma musuh, bukan teman apalagi pacar.” Catherine berdecak jengkel. “Tapi, kan, seenggaknya dia kasih kabar kek gitu. Biar gimana, aku sama dia kan satu kelompok. Ya, walaupun dia cuti kuliah, tapi kan tetap aja kita satu kelompok. Aku kan juga kepo sama perkembangan pencarian pacar kakaknya Gazakha itu. Cewek itu orangnya cantik dan baik hati. Pas di Dufan waktu itu, dia selalu jagain aku. Kak Keylo pasti sedih banget sampai saat ini karena kak Zeva belum juga ditemukan.”             Clinton sedikitnya sudah tahu mengenai musibah yang dialami oleh kakaknya Gazakha melalui Catherine atas informasi dari Keanu yang dimintai tolong oleh Gazakha. Clinton juga turut bersedih dan mendoakan supaya pacar dari kakaknya Gazakha itu bisa ditemukan dalam keadaan selamat.             “Catherine?”             Panggilan bernada ragu itu membuat Catherine dan Clinton menoleh. Saat Catherine membelalak karena kaget dan sibuk menahan napas akibat jantungnya yang mendadak tidak bisa dikontrol akibat kemuncullan Gazakha di pintu kamar inapnya, Gazakha justru memberinya tatapan datar dan merasa jengkel luar biasa saat melihat Catherine bersama dengan cowok lain yang, sialnya, harus Gazakha akui terlihat sangat tampan. ### Gazakha baru saja kembali dari kafetaria untuk mencari dan mengabarkan Fitz bahwa Florencia a.k.a Zeva, sudah sadar.             Cowok itu berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pikirannya menerawang dan sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya dia bisa mendapatkan bukti lebih mengenai Florencia. Karena terlalu sibuk dan fokus berpikir, Gazakha tidak menyadari dia masih saja berjalan meskipun di depannya terdapat sebuah pintu. Cowok itu akhirnya menabrak pintu tersebut, menyebabkan keningnya membentur daun pintu yang memiliki kaca berbentu persegi panjang pada bagian tengahnya. Sambil menggerutu dan sempat mengerjap karena kaget dan tidak menyangka dirinya bisa sebodoh ini sampai-sampai menabrak pintu—sakitnya tidak sebanding dengan rasa malunya diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya—cowok itu tanpa sengaja menatap ke dalam kamar inap melalui kaca berbentuk persegi panjang tersebut.             Dan terpaku.             Di dalam sana, sosok yang sudah tiga bulan terakhir ini tidak dilihatnya sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. Sosok itu memakai seragam rumah sakit. Bahkan dari jaraknya berdiri, Gazakha bisa melihat wajah cantik sosok tersebut begitu pucat. Tubuhnya pun jauh lebih kurus dibandingkan dengan yang Gazakha ingat.             Bukan hanya itu yang membuat Gazakha terpaku, melainkan seorang cowok tampan yang sedang tersenyum dan berbincang dengan sosok cantik tersebut yang bukan lain adalah Catherine. Cowok tampan itu bahkan mengusap kepala Catherine dengan penuh kasih sayang, membuat Gazakha kesal dan jengkel di tempatnya.             “Jadi, sekarang dia ganti dari Keanu jadi cowok blasteran itu?” gumam Gazakha dengan nada bete.             Tahu-tahu saja, tangan Gazakha sudah terulur dan memegang gagang pintu. Dia membuka pintu tersebut dan menggumamkan nama Catherine.             “Catherine?”             Seperti keinginannya, Catherine menatap ke arahnya. Cewek itu begitu kaget dan tidak percaya dirinya akan muncul tepat di hadapannya, seolah Catherine sedang tertangkap basah sudah berselingkuh di belakangnya. Perasaan itu membuat Gazakha sedikit senang karena menyangka berhasil membuat Catherine gugup.             “Gazakha?” Catherine berdeham dan buru-buru memperbaiki posisi duduknya. Wajah dan gestur tubuhnya terlihat kaku dan canggung, membuat Gazakha sedikit merasa bersalah. “Kok lo bisa ada di sini?”             “Habis nolongin korban kecelakaan,” jawabnya cepat. Dia melirik si cowok blasteran yang sedang tersenyum ke arahnya dan memberinya tatapan dingin. “Lo kenapa?”             “Tipes sama DBD.”             “Dia nggak ngomong ke keluarga kalau suhu tubuhnya udah tinggi banget, sampai akhirnya kemarin pingsan di tengah-tengah acara,” jelas Clinton, membuat perhatian Gazakha beralih dari Catherine kepada cowok blasteran itu. “Kenalin, gue Clinton.”             “Gazakha. Gazakha Vernatta.” Gazakha menyahut dengan nada datar dan kembali menatap Catherine. “Kenapa lo bisa segitu begonya?”             “Hah?” Catherine mengerjap.             “Lagi sakit tapi cuma diam aja dan nggak bilang ke siapa-siapa.” Gazakha berjalan ke sisi ranjang Catherine dan memegang keningnya. “Masih lumayan panas.”             Catherine sendiri hanya menelan ludah dan sibuk menahan napas. Dalam hati, dia berdoa pada Tuhan supaya dirinya diberi kekuatan untuk menghadapi Gazakha karena jantungnya semakin berdetak kencang sampai-sampai cewek itu takut jika Gazakha bisa mendengarnya.             Ya Tuhan! Gue beneran suka sama si Gazakha!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN