Backsound: Tim-Can’t It Be Me?
Park Bo Ram-Always
One Direction-Irresistible
Pagi ini, Keylo terlihat sangat kacau dan berantakan. Kemeja kerjanya dikeluarkan dari dalam celana panjangnya dengan dua kancing atas yang tidak terkait dan lengan kemeja yang dilipat hingga sebatas siku. Rambut laki-laki itu acak-acakan, tapi hal tersebut malah membuatnya menjadi pusat perhatian para wanita di kantornya. Mimpi yang membuatnya terbangun dari tidur pulasnya dan menyebabkannya terjaga hingga pagi menjemput membuat Keylo gusar dan kesal. Padahal, selama ini dia sudah membuktikan kepada Gaza, Kak Verco dan semua teman-temannya bahwa dia sudah berhasil meninggalkan kenangan masa lalunya bersama Neyla. Tapi, pertemuannya dengan Zeva membuatnya teringat lagi akan Neyla.
Dia tidak bisa menyamakan Zeva dengan Neyla karena kedua gadis itu benar-benar bertolak belakang. Neyla itu gadis cantik yang selalu bersikap manis dan ramah pada siapa saja. Dia juga tipe gadis yang kalem, meskipun tak jarang, jika dia dibuat kesal oleh temannya, dia akan berubah segalak singa.
Sama seperti Zeva yang meledak-ledak.
Sikap Zeva yang selalu emosi ketika bertemu dengannya membuat Keylo teringat kembali pada sikap Neyla yang unik itu. Sikap yang hanya sesekali muncul kalau keadaan memaksanya. Tapi, Zeva itu tipe gadis yang tertutup. Berbeda dengan Neyla yang selalu bersikap terbuka dan welcome pada siapa saja. Keylo merasa, Zeva seperti teka-teki yang sulit untuk dijelaskan. Gadis itu memasang wajah biasa saja, tetapi Keylo bisa menangkap sinar kehampaan dan kekosongan pada kedua mata gadis itu. Emosi yang meledak-ledak, sikap ketus, nada bicara yang meninggi, itu semua merupakan topeng yang dipasang oleh Zeva yang digunakan untuk menutupi semua kehampaan dan kekosongan gadis itu.
Tiba-tiba, langkah kaki Keylo terhenti.
“Nah, loh....” Keylo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hingga membuat rambutnya semakin berantakan. Laki-laki itu kemudian berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya seraya berdecak tidak percaya. “Kenapa gue jadi mikirin si Zeva? Wah, tuh cewek emang bawa pengaruh buruk buat mental gue, kayaknya.”
Sedang asyik mendumel, sosok yang menjadi pusat pemikirannya tadi muncul tepat di depannya. Keylo mengangkat kepala dan menaikkan satu alisnya ketika bertemu mata dengan mata Zeva. Gadis itu menatapnya angkuh dan meliriknya dengan lirikan menilai dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu kembali ke wajah Keylo.
“Apa lo liat-liat gue?” tanya Keylo bete. Dia sedang malas bersikap manis dan menggoda Zeva seperti biasanya, karena pikirannya sedang kalut akibat mengingat Neyla lagi. “Terpesona sama kegantengan gue? Iya? Gue tau, gue emang ganteng. Jauh lebih ganteng dibandingin sama Dude Herlino dan Husein Idol. Gue juga pastinya jauh lebih kece dan keren dibandingin sama si alien yang ada di drama Korea yang selalu ditonton sama sepupu gue. Dan pastinya, gue jauh lebih oke ketimbang mantan pacar lo itu.” Keylo mencibir dan terkekeh dengan nada yang dibuat-buat. “Karena semua hal itu, kan, lo tadi sampai terpesona pas ngeliat gue?”
“Mantan pacar?” tanya Zeva, mengacuhkan pertanyaan terakhir Keylo. “Siapa yang lo maksud mantan pacar gue?”
“Laki-laki itu. Yang waktu itu ketemu di rumah sakit. Yang natap lo dengan tatapan memohon dan memuja. Let me guess... he want you back, right? And you dumped him! Hahaha... drama banget, ya? Umm... siapa namanya waktu itu?” Keylo nampak sedang berpikir, lalu tiba-tiba saja dia menjentikkan jari. “Devan! Ya, Devan, kan? Kenapa? Dia mutusin lo karena dia tertarik sama cewek lain, ya? Terus, pas dia ninggalin cewek itu, dia mau lo balik lagi sama dia karena dia belum nemuin cewek baru yang lebih menarik. Berarti, elo itu cuma dianggap sebagai cewek cadangan. Gue jadi penasaran, cewek kayak gimana yang berhasil bikin Devan ninggalin—“
Belum sempat Keylo menyelesaikan ucapannya, tangan kanan Zeva telah mendarat dengan mulus di pipi kirinya. Kepala Keylo tersentak ke kanan dengan cepat. Dia menjilati bibirnya sendiri dan terkekeh dengan nada suara yang tidak wajar. Sentakan napas dari para pegawai yang lain tidak dihiraukan oleh Keylo maupun Zeva. Tanpa mereka sadari, mereka berdua sudah membuat drama gratis bagi semua penghuni kantor.
Keylo memegang pipinya yang baru saja ditampar dengan cukup keras oleh Zeva. Laki-laki itu mendengus dan mengubah kekehannya menjadi tawa. Tawa keras yang terdengar hambar dan terkesan dibuat-buat. “Wow! Elo nampar gue, Va? Elo nam—“
Ketika Keylo menolehkan kepalanya untuk menatap Zeva, laki-laki itu berhenti berbicara. Tubuhnya mendadak membeku dan kedua matanya tak lepas menatap buliran kristal yang mengalir mulus di pipi putih Zeva. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dan menatap tajam Keylo. Bukan... itu bukan tatapan tajam.
Itu tatapan yang penuh dengan rasa sakit dan perih.
Dia telah melukai perasaan gadis itu dengan ucapannya barusan!
Ya Tuhan, Keylo... apa yang udah lo perbuat?
“Va? Zeva, maaf... gue tadi kelepasan. Gue lagi emosi dan banyak masalah. Gue nggak bermaksud buat nyakitin hati lo sama kata-kata kasar gue tadi... gue....”
“Makasih....”
Kening Keylo mengerut. Laki-laki itu mengabaikan rasa perih akibat tamparan Zeva barusan, juga mengabaikan suara bisik-bisik yang dilakukan oleh para rekan kerjanya dan Zeva. Dia mengambil langkah maju, mencoba mendekati Zeva dan mengulurkan tangan kanannya, namun Zeva langsung mengambil langkah mundur. Rahang Keylo mengeras dan dia berusaha menahan diri untuk tidak menarik Zeva kedalam dekapannya dan meminta maaf pada gadis itu sebanyak yang dia bisa.
“Makasih buat kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut lo buat gue!” Zeva menghapus airmatanya dengan kasar menggunakan punggung tangan dan memutar tubuh. Namun, gadis itu berhenti berjalan pada langkah ketiga dan kembali menatap Keylo. Keylo bisa melihat benteng pertahanan mengelilingi gadis itu. Tatapan mata Zeva yang dingin membuat Keylo bergeming dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menahan rasa bersalah didalam hatinya.
Tatapan itu tanpa sadar ternyata membunuhnya secara perlahan, entah bagaimana caranya dan entah kenapa.
“Lo tau? Lo udah salah persepsi. It wasn’t me who dumped him... it was him, who dumped me. Gue cinta sama dia, tapi dia nggak cinta sama gue karena dia udah punya tambatan hatinya sendiri sejak dulu.”
Begitu Zeva menghilang dari pandangannya, Keylo meremas rambutnya frustasi. Dia mengerang keras dan meninju dinding di depannya berulang kali. Dia tidak peduli dengan darah yang mulai mengalir dari tangannya, juga tidak peduli dengan rasa nyeri pada tangannya tersebut. Lalu, seakan baru tersadar kalau dia sudah menjadi pusat perhatian, Keylo menatap tajam kerumunan disekitarnya, membuat mereka mengkeret ketakutan.
“Nggak punya kerjaan lain selain ngurusin masalah orang?! HAH?!” bentak Keylo berang. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan kantor tanpa peduli pada pekerjaannya. Yang dia butuhkan saat ini adalah udara segar.
###
Suara tawa terdengar membahana didalam ruangan tersebut. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi sedang duduk melingkar di atas lantai sambil bertepuk tangan dan menatap sebuah botol yang mengarah kepada Devan. Laki-laki itu berdecak jengkel dan tersenyum lebar sambil memukul salah satu temannya yang sejak tadi menggodanya karena dia sudah mendapat giliran untuk bermain. Zeva yang duduk di depan Devan hanya bisa tersenyum kecil sambil menatap laki-laki itu dengan penuh kasih, sementara Jasmine berada tepat di samping sahabatnya itu sambil sesekali meremas pundak Zeva dan ikut tertawa karena lelucon yang dilemparkan oleh beberapa teman sekelasnya. Kebetulan, mata kuliah saat ini tidak jadi dilaksanakan karena dosen yang bersangkutan tidak bisa hadir akibat urusan keluarga dadakan yang harus dia ikuti. Lalu, tiba-tiba saja Devan dan beberapa teman organisasi yang diikuti laki-laki itu dan Zeva datang, dan tau-tau saja, permainan ini sudah dimulai.
“Truth or Dare?” tanya Riko, teman Devan yang sejak tadi menggoda Devan ketika dia mendapat giliran. Devan nampak sedang berpikir. Dia menaikkan satu alisnya, mengerutkan kening dan bersedekap. Lalu, tiba-tiba saja, tatapannya jatuh pada kedua manik Zeva dan bibirnya melengkung ke sudut kanan atas, membentuk sebuah senyuman. Hal yang membuat Zeva tersentak lalu membeku. Dia sebenarnya ingin mengalihkan tatapannya ke arah lain, namun dia tidak bisa. Tatapannya terpaku dan terkunci pada kedua mata Devan.
“Dare!” tegas Devan langsung. Laki-laki itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Zeva dan melambaikan tangannya, membuat gadis itu memasang senyum aneh yang terkesan gugup.
“Oke,” sahut Riko sambil menganggukkan kepalanya. “Gue mau, elo nyatain cinta sama Zeva. Harus romantis dan dia harus nerima elo jadi pacarnya. Cuma bohongan, kok, nggak beneran. Soalnya kalau beneran, si Neyla bisa ngebunuh gue.”
Derai tawa kembali terdengar, membuat suasana semakin ramai dan riang.
“Kalau Zeva nolak gue, gimana?” tanya Devan. Dia melirik Zeva sekilas dan tersenyum lembut. Membuat perasaan Zeva menghangat dan jantungnya melonjak-lonjak tidak karuan. Di sebelahnya, Jasmine menggenggam tangan Zeva. Gadis itu menatap sahabatnya dengan tatapan kasihan karena dia tahu, hal ini akan semakin membuat Zeva sulit untuk melupakan Devan.
“Nggak boleh sampai ditolak.” Riko menggoyangkan jari telunjuknya. “Pokoknya, gue nggak mau tau. Lo harus kerahin semua pesona ketampanan yang lo punya. Lo buat Zeva meleleh dan akhirnya mau jadi pacar lo. Kalau perlu, lo terus kejar si Zeva bahkan sampai ke toilet sekalipun!”
Derai tawa itu kini berubah menjadi sorakan penuh godaan. Di tempatnya, Zeva menunduk dan menekan dadanya tanpa kentara. Dia berusaha meredam hatinya yang terasa sesak dan mencoba menahan airmatanya agar tidak mengalir di wajahnya. Kenapa? Kenapa harus dia? Kenapa Devan harus menyatakan cinta padanya? Meskipun ini hanya sebuah permainan konyol, tapi, hal tersebut akan membuatnya semakin sulit untuk mengenyahkan perasaan cintanya terhadap laki-laki itu.
Seandainya... ini adalah kenyataan, bukan hanya sekedar permainan tantangan yang menyebalkan.
Hidup dalam kata ‘seandainya’ memang menyakitkan. Zeva terus-menerus menekankan kata tersebut jika dia sedang merenung. Seandainya, dia tidak mengenal Devan... seandainya, dia tidak mencintai Devan... seandainya, Devan tiba-tiba mencintainya dan mereka akhirnya bersatu.
Seandainya yang benar-benar menyesatkan logika dan membunuh akal sehatnya!
“Tunggu sebentar,” kata Devan tiba-tiba, membuat lamunan Zeva buyar. Gadis itu mendongak dan melihat Devan bangkit berdiri lalu berlari ke luar ruangan. Riko dan teman-temannya sibuk berbisik-bisik, mempertanyakan apa yang akan dilakukan oleh Devan. Pun dengan Jasmine dan beberapa mahasiswi yang menatap punggung Devan yang mulai menjauh dengan tatapan heran. Tak lama, laki-laki itu kembali dengan membawa sebuah gitar. Dia berjalan ke arah Zeva, menarik pergelangan tangan gadis itu dan membantunya untuk berdiri, lalu mendudukkannya di salah satu kursi. Kemudian, Devan mengambil kursi lain dan memosisikannya tepat di depan Zeva. Dia menjatuhkan tubuhnya disana, berdeham sejenak, lalu menatap para pemain truth or dare dengan tatapan bangga.
“Gue bakalan bikin Zeva nerima gue jadi cowoknya!” seru Devan yakin, membuat semua orang bersorak heboh dan bertepuk tangan. Tanpa dia tahu, ucapannya barusan menorehkan luka baru lagi untuk Zeva.
Tak lama, suara petikan gitar mulai terdengar.
I’ve tried to ask myself...
Should i see someone else?
I wish, i knew the answer...
But i know... if i go, now... if i leave...
Then i’m on my own tonight...
I’ll never know the answer...
It makes your lips... so kissable...
And your kiss... unmissable...
Your fingertips... so... touchable...
And your eyes... irresistible...
(One Direction-Irresistible)
Nyanyian itu berakhir dengan sukses, membuat Zeva menutup mulutnya dengan kedua tangan erat-erat. Di mata semua orang, mungkin mereka menganggap kalau tindakan Zeva itu hanyalah akting yang digunakannya untuk mendukung akting Devan barusan. Nyatanya, hanya Jasmine yang tahu, bahwa tindakan Zeva itu untuk menyembunyikan isak tangis yang kemungkinan besar akan meloncat keluar dari bibir sahabatnya sebentar lagi. Jasmine tahu, Zeva sedang menahan tangis karena kedua mata gadis itu berkaca.
Devan bangkit berdiri dan membungkuk ke arah mahasiswa yang lain sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian, dia kembali menatap Zeva dan memosisikan tubuhnya persis di depan gadis itu. Dia mengeluarkan setangkai mawar merah dari saku belakang celana jeans-nya dan berlutut di depan Zeva.
“WOOOOOO!!!” seruan penuh menggoda tersebut terdengar membahana. Devan terkikik pelan dan mengarahkan mawar merah tersebut ke arah Zeva. Kemudian, sebelah tangannya yang bebas menggenggam tangan Zeva, membuat gadis itu berusaha mengontrol diri dan tangisnya yang sebentar lagi akan pecah. Dia bahkan tidak berani mengambil napas akibat ulah Devan ini.
“Zevarsya Venzaya... sejak pertama gue ngeliat lo, gue nggak bisa mengalihkan pandangan gue ke cewek lain. Lo itu bagaikan matahari pagi, yang menyinari hati gue dan membuatnya hangat. Lo bagaikan bulan di malam hari, yang menerangi gelapnya hati gue. Lo bagaikan bunga-bunga indah di taman, yang menyebarkan wanginya untuk memberikan ketenangan. Lo selalu berhasil buat gue tersenyum saat lo tersenyum. Senyuman lo seakan medan magnet, yang selalu menarik penglihatan gue untuk terus menatap lo. Lo bagaikan seorang penyihir....”
“Penyihir, Dev?” sela Riko langsung. “Jahat bener cewek secantik Zeva disamain sama penyihir....”
“Lo bagaikan penyihir,” ucap Devan lagi, tanpa memperdulikan ocehan Riko barusan. “Yang menyihir seluruh syaraf didalam otak gue, sehingga hanya nama lo yang selalu tertera disana. Gue jatuh cinta sama lo... dan gue mau, lo jadi pacar gue... apa lo mau?”
Waktu seakan berjalan sangat lama. Semua orang menunggu dengan tegang, ketika Zeva hanya menatap Devan tanpa berkedip. Kemudian, gadis itu mengangguk malu-malu dan mengambil mawar merah yang dipegang oleh Devan. Menurutnya, semakin cepat dia mengakhiri permainan konyol ini, semakin cepat juga dia mengakhiri rasa sesak di hatinya.
Lagi, gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai membahana diseluruh penjuru ruangan. Devan bangkit berdiri dan kembali membungkukkan tubuh untuk mengucapkan terima kasih pada semua orang yang sudah menonton aksinya tersebut. Kemudian, dengan satu gerakan cepat yang tak terduga, laki-laki itu menarik kepala Zeva mendekat ke arahnya dan mencium kening gadis tersebut. Cukup lama, lembut dan dalam. Membuat tubuh Zeva membeku. Membuat debar jantungnya meliar. Membuat napasnya tercekat di tenggorokan.
Membuat hatinya semakin luka dan berdarah!
“DEVAAAAN CARI KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN!!!” teriak Riko keras. Laki-laki itu bangkit berdiri dan berlari mengejar Devan yang sudah kabur meninggalkan ruangan. Devan sendiri hanya tertawa keras dan menghindari jitakan Riko juga para teman-temannya.
“Itu bukan kesempatan dalam kesempitan, Ko! Itu gunanya untuk mendukung akting sebelumnya! Hahahaha!!!”
Dan Zeva hanya bisa tersenyum getir sambil menatap Jasmine. Airmata itu lantas mengalir turun tanpa bisa dicegah.
###
Gaza memarkir motornya di pelataran parkir sambil menghembuskan napas berat. Dia sudah dibuat pusing bukan main oleh tugas kampus yang susahnya minta ampun hingga nyaris membunuhnya. Laki-laki itu melepas helm yang dikenakannya dan merapihkan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Ketika dia menaruh helmnya di stang motor, dia menangkap sekelebat bayangan yang melintas tak jauh dari tempatnya. Dia mengangkat kepala dan tersenyum miring.
“WOIII!!! CEWEK BAR-BAR!”
Seruan kerasnya membuat seorang gadis berambut pendek sebahu menoleh. Gadis yang mengenakan kacamata bertangkai pink dan memakai ransel cokelat tersebut mendengus dan menatap dingin Gaza. Wajahnya manis dengan hidung mancung dan bola mata berwarna biru muda. Bukan lensa kontak, karena dia memang memiliki darah Inggris pada tubuhnya. Ayahnya adalah warga negara Inggris yang menikahi seorang wanita berdarah Menado, yaitu Ibunya. Dia dilahirkan di Indonesia dan besar disini. Karenanya, selain menguasai bahasa Ayahnya, dia juga fasih berbahasa Indonesia.
Ketika Gaza berada tepat di depan gadis tersebut, dia terkekeh geli dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Ditatapnya gadis yang hanya setinggi pundaknya tersebut dengan tatapan mengejek dan melirik diktat-diktat yang dipeluk oleh gadis tersebut.
“Masih zaman, kuliah nenteng-nenteng diktat begitu?” tanya Gaza dengan nada meledek. “Katanya, seorang Catherine Benzaro punya darah Inggris yang mengalir di tubuhnya. Tapi, nyatanya otaknya nggak secanggih otak orang-orang Inggris. Bahkan, tingginya juga nggak sesuai sama orang-orang Inggris.” Gaza menjawil dagu Catherine dan langsung ditepis dengan kasar oleh gadis itu. “Inggris-Inggrisan, ya, lo?”
Gaza dan Catherine memang tidak pernah akur semenjak semester satu. Bagi Gaza, Catherine hanyalah seorang gadis sok tau yang sombong karena kepintarannya. Padahal, Catherine sama sekali tidak pernah menyombongkan apapun. Dia hanya menjawab semua pertanyaan dari dosen. Hanya itu. Sedangkan menurut Catherine, Gaza adalah laki-laki sok jago dan tukang buat onar. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Gaza selalu terlibat perkelahian dan tak jarang dia keluar-masuk kantor polisi karena beberapa kali terlibat aksi pukul-pukulan dengan beberapa berandalan yang kebetulan anak orang-orang kaya. Meskipun Gaza bukan berasal dari keluarga kalangan konglongmerat, namun, laki-laki itu cukup kaya. Rumahnya bertingkat dua. Dia juga memiliki dua Kakak laki-laki yang sudah bekerja. Kakak pertamanya bahkan sudah mempunyai rumah sendiri dan memiliki mobil Alphard, sementara Kakak keduanya bekerja di sebuah perusahaan besar. Dengar-dengar, Kakak keduanya juga mempunyai mobil Pajero Sport. Semua itu diketahui Catherine dari gosip murahan yang sering dilakoni oleh teman-teman sekelasnya.
“Apa warna mata gue belum jadi bukti nyata ke lo, kalau gue emang punya darah Inggris?” tanya Catherine bete. “Lagian, ngapain mesti bahas masalah itu, sih? Kenapa? Lo ngiri karena gue orang Inggris?”
“You wish!” dengus Gaza. Laki-laki itu kemudian berjalan melewati Catherine dan sengaja menabrakan bahunya dengan bahu gadis itu hingga keseimbangan tubuh Catherine menjadi goyah. Gadis itu nyaris saja terjatuh, kalau saja dia tidak memegang motor yang berada di sampingnya. Catherine memutar tubuh, memiringkan kepala dan menyipitkan mata ketika melihat punggung Gaza yang semakin menjauh. Dia tidak habis pikir, kenapa Gaza selalu mencari masalah dengannya.
Catherine melihat sebuah kaleng minuman bersoda dan gadis itu langsung tersenyum usil. Dia mengambil benda tersebut dan melemparkannya ke arah Gaza.
Tepat mengenai kepala laki-laki itu!
Gaza berputar dan mengusap kepalanya yang terasa nyeri. Dia bisa melihat Catherine tertawa keras dan langsung berlari kencang, saat dirinya mengejar gadis tersebut.
“LO NGGAK AKAN BISA LEPAS GITU AJA SETELAH BIKIN KEPALA GUE BENJOL, CATE!”
###
Keadaan kantor saat ini sedang ramai karena jam makan siang. Para karyawan entah mengapa lebih memilih untuk mengobrol didalam ruangan ketimbang pergi ke kafetaria untuk mengisi perut mereka. Lagu Slow Down milik Selena Gomez mengalun lumayan kencang didalam ruangan, membuat Zeva tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya melihat keramaian tersebut. Cukup menghibur, sebenarnya, mengingat Zeva baru saja mengingat kenangan masa lalunya bersama Devan.
Zeva menghela napas panjang dan menopang dagunya. Kenapa dia harus selalu mengingat Devan? Padahal, dia sangat ingin melupakan laki-laki itu. Tapi, semakin dia ingin melupakan Devan, dia semakin mengingat Devan.
“Eh, gimana kalau kita main sesuatu?” usul Rara tiba-tiba, membuat Zeva melirik gadis energik tersebut dan beberapa teman kerjanya.
“Main apa?” tanya Ogra menimpali. Laki-laki berwajah manis tersebut nampak sedang berpikir dan melirik teman-temannya yang lain.
“Truth or dare?”
Zeva tersentak hebat. Gadis itu langsung menegakkan punggungnya dan menatap nanar Rara yang baru saja menyuarakan usulnya.
Please... jangan permainan itu...
“Wah, boleh tuh!” seru Yogi. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah botol air mineral yang sudah kosong. “Pakai ini?”
Suara tawa mulai terdengar heboh. Zeva hanya bisa menelan ludah susah payah. Semua memori tentang permainan konyol ini, yang dulu pernah dia mainkan bersama Devan, silih berganti memenuhi benaknya. Bagaimana Devan bernyanyi di depannya... bagaimana Devan memberinya bunga mawar... dan...
Bagaimana Devan mencium keningnya di depan semua mahasiswa.
“Tapi,” sela Rara kemudian. Gadis itu berhasil menarik Zeva agar duduk tepat di sampingnya, menyuruh gadis itu untuk ikut berpartisipasi. “Gue punya usul yang lebih menarik.”
“Apaan, tuh?” tanya Kelly. Dia nampak antusias saat ini. Pasalnya, menurut gadis berambut ikal itu, permainan truth or dare adalah permainan menarik yang bisa memacu adrenalin.
“Kita liat siapa orang yang masuk dari pintu itu,” kata Rara sambil menunjuk pintu di depan mereka. “Siapapun yang masuk, dia korban pertama permainan ini. Dia harus milih truth atau dare. Gimana?”
Sementara yang lain asyik menunggu, Zeva diserang kepanikan. Dia jadi ingat semua hal yang menyangkut Devan saat mereka bermain bersama dulu. Gadis itu hampir menangis karena hal ini kembali terulang seperti deja vu. Ketika Zeva akan berbicara dengan Rara, mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut bermain, pintu di depan mereka semua terbuka.
Dan... Keylo muncul disana!
Keylo menatap heran ke arah teman-temannya yang heboh berteriak dan bersiul. Yogi bahkan langsung menyoraki Keylo sambil pasang aksi joget oplosan segala!
“Ada apa, sih?” tanya Keylo dengan kening berkerut. Ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Zeva, gadis itu langsung menunduk dan nampak meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Wajah Zeva benar-benar terlihat gelisah dan gusar. Keylo jadi penasaran, kenapa gadis itu memasang wajah seperti orang ketakutan.
Apa karena dirinya masuk kedalam ruangan ini?
“Gini... si Rara ngajakin main truth or dare. Cuma, dia bilang, korban pertama haruslah orang yang masuk ke ruangan ini. Karena lo baru masuk, jadi, elo korbannya,” jelas Yogi bersemangat. “Nah! Sekarang, elo milih apa? Truth or dare?”
Keylo terdiam cukup lama. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya dan menarik napas panjang. Ketika kedua matanya kembali terbuka, dia menatap tegas kedua mata Zeva. Perlahan, Keylo berjalan mendekati gadis itu. Dan, tanpa sadar, Zeva bangkit berdiri. Gadis itu menelan ludah susah payah dan menatap gelisah Keylo.
Semua orang yang berada di ruangan menunggu jawaban Keylo, tapi laki-laki itu menolak memberikan jawaban atas pertanyaan Yogi barusan. Dia tetap berjalan mendekati Zeva, lalu berhenti tepat beberapa senti di depan gadis itu. Rasa bersalah dan menyesal mulai naik ke permukaan, ketika dia mengingat Zeva menangis pagi tadi akibat ucapannya.
Lalu... semuanya terjadi dalam hitungan detik.
Kedua tangan Keylo menangkup wajah Zeva dan menarik kepala gadis itu mendekat ke arahnya. Diciumnya kening Zeva yang membeku karena tindakannya, lalu, dengan penuh kelembutan, dipeluknya tubuh kaku gadis itu. Dengan sangat erat. Meminta Zeva untuk berbagi energi positif yang gadis itu punya, agar bisa menghilangkan rasa bersalah dan menyesalnya, juga bisa mengangkat semua beban di pundaknya.
“Ini jawaban gue, Gi,” kata Keylo pada Yogi. “Gue pilih dare.”
Semua orang kembali berteriak heboh dan bersiul menggoda Keylo. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi pagi tadi diantara kedua orang tersebut, tapi yang jelas, pertunjukan Keylo saat ini benar-benar mengharukan.
Keylo meminta maaf atas ucapannya tadi pagi pada Zeva dengan cara memeluk gadis itu!
“Maaf,” bisik Keylo seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Zeva. Dia tidak peduli kalau tubuh itu kini membeku, bak patung. “Gue benar-benar minta maaf soal tadi pagi. Benar-benar minta maaf.”
Zeva yang baru tersadar langsung menarik diri dan mengambil jarak dari Keylo. Gadis itu nampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Keylo di teman-teman mereka. Kemudian, Zeva tidak sempat menghindar ketika Keylo menyentuh pipinya dan menangkup wajahnya.
###
“Truth or dare?”
Pertanyaan Devan itu dijawab dengan anggukan kepala oleh Neyla. Saat ini, dia sedang berada di kantor Neyla dan teman-teman gadis itu—baik laki-laki maupun perempuan—sedang bermain permainan tersebut.
“Iya, Sayang....” Neyla menggelayut manja pada lengan Devan. “Kamu ikutan juga, ya? Biar seru!”
Devan menghembuskan napas panjang dan mengangguk. Laki-laki itu kembali memutar kenangan beberapa tahun silam, saat dia memainkan permainan ini bersama Zeva. Saat itu, dia benar-benar senang dan bergembira. Apalagi, tantangan yang dia dapatkan telah menciptakan kenangan yang manis bersama adik tingkatnya itu.
“Sayang! Kamu yang kena, tuh,” kata Neyla riang, membuyarkan lamunan Devan. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan memilih truth.
“Apa ada cewek yang sangat disayangi sama elo, Dev?” tanya Putra. Devan memang sudah mengenal Putra karena laki-laki itu adik sepupu Neyla yang kebetulan berada satu kantor dengan pacarnya tersebut.
“Ada.” Devan mengangguk tegas. Dia menatap Neyla yang tersipu malu dan mengacak rambutnya dengan lembut. Tanpa ditanyapun, semua orang tahu siapa orang yang dimaksud oleh Devan itu.
Hanya saja, cuma Tuhan dan Devan yang tahu kalau bayangan gadis lain melintas di benaknya, ketika Putra bertanya hal tersebut.
Zeva.
###