Kepala Zeva terasa mau pecah akibat perlakuan Keylo di depan teman-teman mereka siang tadi saat Rara mengajak semua orang untuk bermain permainan terkutuk itu. Karena kenangan manisnya bersama Devan saat bermain truth or dare dulu di kampus, gadis itu memutuskan untuk menyebut permainan tersebut sebagai permainan terkutuk. Dan sialnya lagi, tadi Keylo malah memeluk tubuhnya di depan semua teman-teman kantor mereka dan mencium keningnya, seolah-olah laki-laki itu sudah sering melakukan kedua hal tersebut dan seakan dia berhak untuk melakukannya kapanpun dia mau. Dan yang lebih aneh serta sangat tidak masuk akal, Zeva sama sekali tidak berontak maupun berteriak marah-marah seperti yang sering dia lakukan pada Keylo kalau laki-laki itu mengganggunya. Dia hanya diam, berubah menjadi patung dan tidak berbuat apapun. Dia terlalu terkejut dengan dua perlakuan Keylo itu sehingga otaknya mendadak lumpuh. Lalu, saat semua orang semakin kuat bertepuk tangan dan semakin keras bersorak, Zeva baru tersadar. Dia mendorong tubuh Keylo dan berlari menuju toilet tanpa memperdulikan teriakan Keylo juga teriakan semua teman-temannya. Untungnya, Keylo tidak mengejarnya karena sejujurnya, Zeva juga tidak tahu harus berbuat apa jika Keylo mencegahnya untuk tidak berlari lagi. Dia tidak sanggup bertemu muka dengan laki-laki itu.
Tidak setelah apa yang sudah dia perbuat tadi.
Senja mulai datang, menyajikan langit berwarna orange yang terlihat sangat indah. Angin berhembus cukup kencang, membuat Zeva menggigil dan terpaksa merapatkan blazer yang dia kenakkan. Zeva mengutuk dirinya sendiri karena mengabaikan saran Jasmine saat sahabatnya itu menjemputnya di rumah pagi tadi untuk membawa jaket. Jasmine memang sudah memberitahu pada Zeva bahwa sore ini kemungkinan besar akan turun hujan dan angin akan berhembus sangat kencang. Hal itu dia ketahui melalu ramalan cuaca pagi tadi di televisi. Tapi, dengan keras kepalanya, Zeva malah menolak saran Jasmine untuk membawa jaket dan menertawakan gadis Arab itu.
“Gue kualat sama Jasmine, kayaknya,” keluh Zeva keki. Gadis itu menarik napas panjang dan memberengut. Dia terus melangkahkan kakinya di trotoar jalan. Belum ada tanda-tanda bus yang biasa dia tumpangi akan lewat. Taksi pun tidak muncul sejak dia keluar dari kantor. Sepertinya, ini benar-benar hari sialnya!
Atau... dia sial karena ulah Keylo yang sudah seenaknya saja....
Zeva berhenti melangkah dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia langsung menghapus ingatan akan Keylo yang memeluk dirinya dan mencium keningnya. Jantungnya tanpa sadar berdegup cepat dan rasa panas menjalar pada wajahnya tanpa bisa dia cegah. Ini sudah yang kedua kalinya keningnya dicium oleh seorang laki-laki. Yang pertama adalah Devan, yang kedua adalah Keylo.
“Emang b******k banget si Keylo,” ucap Zeva sinis. Dia mengusap kasar keningnya dan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. “Tadi pagi dia seenaknya aja ngehina gue... siang tadi, dia malah meluk gue dan nyium kening gue! Bener-bener b******k!”
Puas memaki Keylo, meskipun hatinya masih kesal dan jantungnya masih saja berdegup kencang yang dia sendiri tidak tahu apa artinya, Zeva kembali melangkah menyusuri trotoar tersebut. Sambil bersenandung pelan, menyanyikan sebuah lagu yang dia sukai, Zeva menatap sekelilingnya. Lalu, langkah kakinya kembali terhenti ketika dia melihat seorang penjual es krim. Dengan senyum lebarnya, Zeva mendekati si penjual dan membeli es krim rasa vanilla. Kemudian, gadis itu kembali berjalan sambil melahap es krimnya.
Karena terlalu senang dengan es krimnya, Zeva mengabaikan rasa dingin yang menyerang tubuhnya. Dia terus melangkah dan membiarkan angin sore berhembus kencang. Sampai kemudian, gadis itu membeku dan untuk yang kesekian kalinya, dia berhenti melangkah. Dia menatap tubuhnya sendiri dengan kening berkerut. Sebuah jaket cokelat tebal berukuran besar melingkupi tubuhnya. Zeva menoleh ke samping dan terpaku dengan kemunculan Keylo yang entah sejak kapan itu. Laki-laki itu tersenyum tipis dan merapikan jaketnya yang kini menyelimuti tubuh mungil Zeva.
“Dingin-dingin gini, harusnya elo nggak makan es krim, Va....”
Zeva terlalu terkejut untuk bisa membalas ucapan Keylo itu. Entahlah, dia merasa sikap Keylo saat ini begitu manis dan penuh perhatian. Tidak seperti sikapnya yang kurang ajar tadi pagi. Zeva berpikir, mungkin, Keylo masih merasa bersalah padanya karena sudah menghinanya pagi tadi di kantor.
“Lo ngapain disini?” tanya Zeva dengan nada datar yang dibuat sedemikian rupa supaya Keylo sadar bahwa dia sama sekali tidak ingin bertemu dan berurusan dengan laki-laki itu.
“Gue dari tadi ngikutin lo sejak keluar kantor, nggak sadar?” tanya Keylo santai. Dia mengusap kedua lengannya sendiri dan mendesah berat. “Angin sore ini benar-benar bikin gue menggigil kedinginan.”
“Kalau lo emang kedinginan,” kata Zeva ketus. Gadis itu melepaskan jaket Keylo dengan sebelah tangannya yang bebas, berniat mengembalikannya kepada laki-laki itu. “Lo pake aja jaket lo. Gue nggak butuh dan gue udah terbiasa sama angin kayak gini.”
Keylo menahan gerakan tangan Zeva dan kembali memakaikan jaketnya pada gadis itu. Dia menahan jaketnya supaya tetap berada pada tubuh Zeva dan menatap tegas ke arah dua manik mata gadis itu. Senyum itu masih bertahan pada bibirnya, membuat degup jantung Zeva yang tadinya sudah normal, kembali meliar.
“Nggak mungkin gue ngebiarin lo kedinginan, Va. Angin kayak gini nggak bagus buat cewek,” ucap Keylo lembut. Sebelah tangannya menyentuh rambut Zeva, mengusapnya lembut hingga menurun ke wajahnya dan bertahan pada pipi putih yang mulai merona itu. Keylo mengusap pipi Zeva dengan hati-hati, seolah takut tindakannya itu akan menyakiti Zeva. Kemudian, tangannya bergerak menuju sudut bibir Zeva dan membersihkan cairan es krim yang melekat disana.
Tindakan yang sama, seperti yang pernah dilakukan Devan dulu!
Sepersekian detik berikutnya, Zeva tersentak hebat dan perlahan mundur ke belakang. Dia menatap Keylo dengan tatapan tidak percaya juga tatapan yang menyiratkan... luka. Keylo sendiri yang tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada Zeva hanya bisa mengerutkan kening dan mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pundak gadis itu.
Tapi, gadis itu menghindar dengan gaya yang sangat mencolok!
“Va? Lo kenapa?” tanya Keylo khawatir juga bingung. “Ada masalah?”
Zeva mendadak kesulitan bernapas dan menelan ludah dengan susah payah. Kenapa semua tindakan Keylo justru mulai membangkitkan kenangan-kenangannya bersama Devan dulu? Kenapa Keylo harus melakukan hal-hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Devan dulu?
Kenapa?
Tanpa sadar, Zeva menangis. Menangis yang benar-benar menangis. Gadis itu sesegukkan, terisak dengan keras dan begitu hebatnya. Dia tidak memperdulikan es krimnya yang sudah jatuh ke atas aspal, juga tidak memperdulikan para pejalan kaki seperti dirinya yang kini menatapnya dengan tatapan heran dan tatapan ingin tahu. Keylo yang tidak menyangka bahwa Zeva akan menangis keras seperti itu langsung terbelalak. Dia mendekati Zeva dan mencekal lengannya ketika gadis itu berniat untuk menghindarinya lagi.
“Zeva, lo kenapa? Ada apa?” tanya Keylo cemas. Dia memegang kedua lengan atas Zeva dan membungkukkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat wajah gadis itu. Seperti yang diduganya, Zeva tidak merespon pertanyaannya. Gadis itu malah menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan semua isakannya agar tidak terdengar oleh siapapun. Tapi, kenyataannya, isak tangis itu begitu keras dan terdengar memilukan. Beberapa perempuan yang melewatinya saja sampai ada yang memegang dadanya dan menatap Zeva dengan mata yang berkaca.
Karena tidak tahu harus berbuat apa, Keylo akhirnya mengambil sebuah keputusan. Laki-laki itu menarik tubuh Zeva kedalam pelukannya. Didekapnya dengan sangat erat tubuh gadis itu seraya mengusap punggung dan rambutnya. Dia bahkan tidak peduli kalau perbuatannya ini akan ditonton banyak orang. Yang dia tahu, dia tidak ingin Zeva menangis seperti ini.
“Ssshh... Zeva, please, jangan nangis lagi.” keylo semakin mempererat pelukannya, berusaha mengambil alih kesakitan yang mungkin sedang dirasakan oleh gadis itu. Memaksa Zeva untuk berbagi rasa perih yang gadis itu rasakan. “Gue benar-benar minta maaf soal kejadian pagi tadi, juga siang tadi. Gue nyesel. Gue benar-benar nyesel, Va.”
Didalam dekapan Keylo, Zeva tertegun. Keylo sudah salah mengerti akan tangisannya saat ini. Laki-laki itu menyangka bahwa dirinya menangis karena perbuatannya hari ini.
Tapi, satu hal yang diketahui oleh Zeva.
Dia merasa sangat nyaman dan aman dalam pelukan Keylo ini. Entah mengapa.
###
Jasmine menunggu Zeva di depan rumah gadis itu. Dia menghembuskan napas panjang dan melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. Sudah pukul tujuh malam dan sahabatnya itu belum sampai di rumah. Mereka berdua ada janji makan malam dan Jasmine berkata bahwa dia akan menjemput Zeva di rumah gadis itu. Tapi, coba lihat sekarang... rumah Zeva bahkan terlihat sangat sepi dan gelap, seolah tak berpenghuni. Entah kemana kedua orangtua gadis itu, Jasmine tidak tahu.
Detik berikutnya, Jasmine mengerutkan kening ketika melihat sebuah mobil Pajero Sport berhenti tepat di depan pagar rumah Zeva. Gadis Arab itu membuka pintu pengemudi dan turun dari dalam mobilnya. Dia melangkah ragu ke arah mobil Pajero Sport tersebut dan menaikkan satu alisnya saat sosok Keylo yang dia kenali sebagai orang yang sudah membantu Zeva di rumah sakit waktu itu dari Devan muncul di depannya. Keylo mengangguk sedikit untuk menyapa Jasmine, memutari badan mobil dan membuka pintu penumpang untuk membantu Zeva turun dari sana.
“ZEVA!” seru Jasmine keras. Gadis itu langsung mendekati sahabatnya dan merangkul pundak gadis itu. Dia menatap cemas ke arah Zeva yang wajahnya terlihat sangat kacau juga melihat kedua mata sahabatnya yang memerah dan sembap itu. Langsung saja, Jasmine menatap garang ke arah Keylo yang kini mengerutkan kening. “Lo apain sahabat gue, hah?! Ngaku, nggak?!”
“Hah?” hanya itu respon yang bisa diberikan oleh Keylo. Sejujurnya, dia benar-benar tidak mengerti dengan maksud ucapan Jasmine barusan. “Maksud lo?”
“Nggak usah sok nggak ngerti!” sembur Jasmine. Dia menunjuk Keylo lurus-lurus. “Lo udah ngapa-ngapain Zeva, kan, makanya dia nangis? Makanya mukanya kacau kayak gini? Iya, kan?!”
“Hah? Nggak, ini nggak seperti yang lo pikirin,” bantah Keylo panik. Dia berdecak jengkel dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Jasmine. “Kenalan dulu, deh. Nama gue Keylo, gue....”
“Halah! Gue nggak butuh nama lo!” Jasmine menepis kasar tangan Keylo. Laki-laki itu langsung mundur beberapa langkah dan menelan ludah susah payah. Hanya satu kata yang terlintas di benaknya saat ini untuk Jasmine: gadis itu sangat galak. “Yang mau gue tau, kenapa lo bawa pulang sahabat gue dalam keadaan nangis!”
“Jasmine,” panggil Zeva pelan. Dia merasa harus menghentikan semua ini, kalau tidak mau melihat Keylo berakhir menyedihkan di tangan sahabatnya yang pemarah dan galak itu. “Keylo nggak ngapa-ngapain gue. Gue nangis dengan sendirinya dan Keylo berbaik hati buat nganterin gue pulang.”
“Bener?” selidik Jasmine. Dia melirik Keylo dengan lirikan menilai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Memang, sih, Jasmine tidak melihat adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Keylo orang jahat. Dia sudah berbaik hati mau membantu Zeva dari Devan waktu itu, meskipun harus berpura-pura mengatakan pada Devan bahwa dia adalah pacar Zeva. Tapi, tetap saja, Jasmine harus bersikap waspada. Bukankah pepatah mengatakan bahwa jangan menilai sesuatu hanya dari luarnya saja?
“Iya,” jawab Zeva sambil mengangguk. Gadis itu tersenyum ke arah Jasmine dan beralih menatap Keylo. “Makasih, Key, udah mau nganterin gue pulang. Maaf kalau lo harus dituduh yang macam-macam sama Jasmine. Sahabat gue ini cuma terlalu protektif sama gue.”
“Nggak apa-apa,” balas Keylo mengerti. Dia menatap Jasmine yang masih meliriknya dengan lirikan tidak bersahabat dan menganggukkan kepalanya. “Senang bisa kenal sama lo, Jasmine. Maaf udah bikin lo khawatir tentang Zeva.”
“Hmm,” gumam Jasmine malas. Keylo mengulum senyum. Hampir saja, tawanya menyembur keras.
“Ya udah... kalau gitu, gue pulang dulu, Va, Jas....”
Sepeninggal Keylo, Zeva menarik napas panjang dan menekan d**a kirinya dengan kuat. Rasanya sesak bukan main mengingat kesamaan diantara Keylo dan Devan yang tidak disengaja itu. Melihat tingkah Zeva, Jasmine menoleh dan mengerutkan kening. Dia membawa Zeva masuk kedalam rumah dan mendudukkan sahabatnya itu di teras.
“Ada apa, Va? Elo kenapa nangis?” tanya Jasmine cemas. Zeva menarik napas panjang, berusaha mengusir rasa sesak yang membunuhnya itu, tapi tidak berhasil. Sialnya, dia malah kembali menangis.
“Dia... dia....” Susah payah Zeva berbicara dengan nada normal, tapi tidak bisa. Suaranya terdengar sangat jauh, serak dan terbata. “Dia mirip sama Kak Devan, Jas....”
“Apa? Siapa?”
“Keylo....” Zeva mulai kehilangan kendali. Dia meremas baju Jasmine dan memeluk tubuh sahabatnya itu. “Semua tingkah Keylo ngingetin gue sama Kak Devan, Jas... gue... gue harus gimana, Jas? Gue... gue....”
“Ssst....” Jasmine memeluk Zeva dengan erat, berusaha menenangkan sahabatnya yang sudah menangis hebat itu. Kedua mata Jasmine berkaca, ikut sedih karena kesedihan yang dialami oleh Zeva. Dia tidak bisa melakukan apapun selain memeluk tubuh sang sahabat, mencoba berbagi energi positif yang dia miliki. Dia hanya berharap, ini terakhir kalinya Zeva menangisi Devan.
Semoga, setelah ini, sahabatnya itu bisa melupakan Devan.
Dan, semoga saja, ketika kebenaran terungkap, Zeva bisa menerima semuanya dan mau memaafkannya.
###
Gaza memperhatikan keadaan koridor kampus yang lengang. Laki-laki itu menyipitkan mata dan mempertajam pendengarannya. Ketika terdengar suara langkah kaki yang santai dan berirama, senyum jahil itu tercetak pada bibirnya yang sensual.
“Gotcha!” desis Gaza pelan. Dia mempersiapkan diri dan menggosok kedua tangannya dengan penuh semangat. Gaza kembali mengintip dan senyuman jahil itu semakin terlihat jelas. Lalu, sosok yang sejak tadi dia tunggu mulai muncul.
Catherine mendumel sepanjang perjalanan menuju kelas, kontras dengan langkah kakinya yang terdengar santai. Malam ini dia harus mengikuti kelas tambahan di kampus demi mendapatkan beasiswa yang sudah diincarnya sejak lama. Yang membuatnya kesal adalah, si kutu kupret Gaza ternyata juga berada dalam kelas yang sama dengan dirinya. Si sialan itu rupanya juga mengincar beasiswa yang sama!
“Heran, gue,” ucap Catherine dengan nada menggerutu. “Ngapain, sih, si Gazazila satu itu pake ikutan ngejar beasiswa juga? Bosen, gue, ketemu sama dia mulu!”
Di tempat persembunyiannya, Gaza mendesis jengkel dan mendengus. Gazazila adalah nama yang diberikan oleh Catherine untuknya. Gadis menyebalkan itu memadukan namanya dengan nama belakang binatang buas berbadan besar yang dijadikan film oleh orang-orang Barat. Pasti, pernah nonton film Godzila, kan?
Tidak sadar bahwa dia sudah kehilangan konsentrasinya karena sibuk mencibir Catherine yang memanggilnya Gazazila, Gaza terkejut saat menatap bayangan hitam di dekat kakinya. Laki-laki itu mendongak dan bertemu mata dengan Catherine yang menatapnya dengan mata melotot. Keduanya terdiam dan saling tatap dengan tatapan terkejut, ketika kemudian, Catherine langsung berlari cepat, secepat anak panah yang dilepaskan dari busurnya sambil berteriak keras.
“WHOAAAA!!! HELP ME!!! ADA SETAN YANG MAU NGEBUNUH GUEEEE!!!” teriak Catherine, membelah kesunyian kampus di malam hari. Gaza yang baru tersadar kini mengerjapkan kedua matanya, menatap ke arah punggung Catherine yang semakin menjauh dan berdecak jengkel. Dia bangkit berdiri, mengambil ancang-ancang untuk berlari dan menangkap buronannya itu.
“WOOIII, CATE! JANGAN TERIAK-TERIAK KAYAK ORANG GILA GITU KALAU NGGAK MAU GUE PERKOSA!” teriak Gaza sambil berlari. “Sial! Bisa-bisa, gue dikira beneran mau merkosa dia, lagi! Orang gue niatnya mau ngerjain dia pakai kecoak mainan doang!”
Lalu, ketika dia tidak sengaja melihat tiga ekor kecoak yang berlari ke arahnya, Gaza mempercepat larinya sambil menatap jijik dan ngeri pada ketiga binatang tersebut. “STOP NGEJAR GUE, KECOAK SIALAN! ARRRGGGGHHHH!!!”
Di balik tempat persembunyiannya, Catherine tertawa geli ketika melihat adegan Gaza dikejar kecoak itu. Dia tidak habis pikir, laki-laki semaskulin dan sekeren Gaza, laki-laki yang katanya jago berantem itu, ternyata takut pada kecoak!
“Rasain, lo!”
###
Sabtu pagi.
Zeva pergi ke Gelora Bung Karno untuk lari pagi disana. Gadis itu memakai celana training dan kaus berlengan panjang berwarna hijau tosca. Dia sudah menunggu Jasmine sejak setengah jam yang lalu, tapi sahabatnya itu belum juga muncul di Gelora. Biarlah Zeva menunggu lagi sambil terus berlari. Lalu, keseimbangan tubuhnya goyah ketika dia tersandung batu yang lumayan besar. Dia sudah dipastikan akan jatuh kalau saja sebuah lengan kokoh tidak menahan tubuhnya.
“Zeva?”
Mendengar suara itu, Zeva mendongak dan terkejut. Dia langsung menarik diri dan tersenyum kecil pada Keylo. Laki-laki itu terlihat sedikit berbeda dengan kaus dan celana training yang dipakainya. Kaus itu mencetak jelas lekuk tubuhnya yang atletis karena basah oleh keringat.
“Hai,” sapa Zeva. Dia sedang tidak ingin bertengkar dengan Keylo dan memutuskan untuk melakukan gencatan senjata dulu. Lagipula, dia masih terusik dengan kemiripan tingkah Keylo dan Devan. “Biasa lari pagi disini juga?”
Sikap Zeva yang berubah seratus delapan puluh derajat ini membuat Keylo bingung sekaligus senang. Dia senang karena Zeva tidak lagi bersikap tidak bersahabat padanya. Laki-laki itu tersenyum lebar dan mengangguk, lalu memutuskan untuk berjalan di samping Zeva yang sedang mengusap keringatnya dengan handuk kecil.
“Kalau lagi kepengin aja, sih,” jawab Keylo. Dia mengusap perutnya yang sixpack itu dan nyengir ke arah Zeva. “Mau nemenin gue makan, nggak, Va?”
Zeva tidak langsung menjawab. Gadis itu nampak sedang berpikir, menghembuskan napas berat dan mengangguk pelan. Meskipun Keylo menganggap bahwa Zeva terpaksa menerima ajakannya, tapi laki-laki itu tidak mempermasalahkan.
Yang penting, Zeva mau menerima ajakannya. Bukankah ini awal yang baik untuk berteman?
Keduanya memilih kedai bubur untuk sarapan pagi. Keylo memesan dua mangkuk bubur dengan dua es teh manis dan dua tusuk sate telur puyuh lalu duduk di depan Zeva. Dia memulai sebuah obrolan ringan yang rupanya disambut dengan baik oleh gadis itu. Mereka berdua sudah terlibat obrolan seru, ketika suara tawa terdengar begitu dekat dan dua sosok muncul didalam kedai bubur tersebut.
Dua sosok yang mampu membuat Keylo dan Zeva sama-sama membeku di tempatnya.
“Zeva?”
“Keylo?”
Devan dan Neyla saling tatap dengan terkejut dan kembali memusatkan perhatian mereka pada Keylo dan Zeva. Devan tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Zeva disini, juga sedikit heran karena Neyla mengenal laki-laki yang sedang bersama Zeva itu. Laki-laki yang waktu itu ditemuinya di rumah sakit dan mengaku sebagai pacar Zeva.
“Hai, Ney, udah lama nggak ketemu,” sapa Keylo setelah pulih dari rasa kagetnya. Dia menatap Neyla dengan tatapan biasa saja, tapi tidak bisa memungkiri bahwa jantungnya berdegup liar. Sementara di tempatnya, Zeva hanya bisa terdiam, mematung dan menatap meja di depannya dengan tatapan kosong. “Sama siapa?”
“Umm... pacar gue.” Neyla bergelayut manja pada lengan Devan dan mengenalkan laki-laki itu pada Keylo. “Kenalin... namanya....”
“Devan, right?” potong Keylo langsung. Melihat keterkejutan di wajah Neyla, Keylo melanjutkan, “gue udah pernah ketemu sama Devan sebelumnya. Di rumah sakit, bareng sama Zeva.”
Tatapan Neyla kini beralih ke Zeva. Adik tingkatnya semasa kuliah dulu yang dekat dengan Devan itu terlihat berbeda dari yang terakhir kali diingatnya. Neyla tersenyum dan semakin mempererat rangkulannya pada lengan Devan. Jenis rangkulan posesif. Dia tidak menyangkal bahwa sejak dulu, dia sangat cemburu pada kedekatan Zeva dengan Devan. Devan sendiri hanya diam, menatap Zeva yang sama sekali tidak berniat untuk menatapnya.
“Hai, Va,” sapa Neyla. Barulah, kepala Zeva mendongak dan menatap Neyla. Ketika dia tidak sengaja menatap Devan, Zeva mengalihkan pandangannya. “Udah lama nggak ketemu, apa kabar? Lo sama Keylo saling kenal?”
Zeva membasahi bibirnya yang terasa kering dan menelan ludah susah payah. Dia merasa oksigen disekelilingnya mulai berkurang. Gadis itu memaksakan seulas senyum dan menggenggam tangan Keylo yang berada di atas meja, membuat Keylo terperanjat, pun dengan Devan. Neyla juga menatap tindakan Zeva itu dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan sedikit rasa... iri.
“Hai, Kak Ney... gue baik-baik aja, kok. Iya, gue kenal sama Keylo... Keylo ini... pacar gue.”
###
Sepanjang hari ini, Zeva tidak fokus bekerja. Kejadian tempo hari di Gelora Bung Karno masih menghantui pikirannya. Dia masih ingat ketika Neyla tersentak kaget saat mendengarnya menyebutkan Keylo sebagai kekasihnya. Dia masih mengingat dengan jelas raut wajah tidak senang yang terpancar dari wajah Devan. Dia juga masih ingat wajah terkejut Keylo karena genggaman tangannya juga karena pengakuan palsu itu.
Semuanya berjalan sangat lambat hari itu, seolah ingin menikmati detik demi detik terbunuhnya Zeva. Bagaimana Neyla dengan menggebu-gebu mengucapkan selamat kepadanya, juga bagaimana gadis itu menceritakan kisah masa lalunya bersama Keylo dulu. Hal yang membuat Zeva dan Devan terkejut akan fakta kecil tersebut.
“Keylo orang yang baik dan penuh perhatian, kok, Va,” kata Neyla waktu itu. Zeva melirik sekilas ke arah Keylo yang tidak mengalihkan tatapannya sedetikpun dari wajah Neyla. “Gue yakin, elo pasti bakalan bahagia punya pacar kayak dia.”
Benarkah? Benarkah dia akan bahagia jika mempunyai pacar seperti Keylo? Tapi, kenapa hatinya masih saja menginginkan Devan?
Pintu ruangan itu terbuka dan sosok Keylo muncul disana. Keylo menutup pintu ruangan mereka dan mendekati Zeva yang nampaknya masih belum menyadari kehadirannya. Ketika Keylo menyentuh pundak Zeva, barulah gadis itu menoleh.
“Hei,” sapa Keylo ramah. Dia tahu, Zeva masih terguncang dengan kabar mengejutkan yang dibawa oleh Neyla tempo hari. Keylo juga tidak percaya kalau Zeva dan Neyla saling mengenal. Setelah Neyla dan Devan pergi waktu itu, Zeva terlihat sangat murung. Keylo memutuskan untuk menceritakan semua kisahnya dengan Neyla dan ternyata Zeva juga memutuskan untuk menceritakan tentang perasaan terpendamnya terhadap Devan. “Belum pulang?”
“Nanti,” jawab Zeva lemah dan malas. Dia masih harus menenangkan diri. Jika dia berada di rumah, dia pasti akan menangis lagi. Dan dia terlalu lelah untuk itu. “Lo sendiri?”
“Lagi malas pulang,” jawab Keylo. Laki-laki itu menarik kursi dan duduk di samping Zeva. “Lo nggak pa-pa, Va?”
“Bohong kalau gue bilang gue baik-baik aja,” balas Zeva. “Lo udah tau keseluruhan cerita gue soal Kak Devan. Dan lo pikir, apa gue akan baik-baik aja?”
Keylo menarik napas panjang. Dia mengerti perasaan Zeva, sungguh. Tidak mudah memendam perasaan cinta kepada seseorang selama kurang lebih enam tahun lamanya.
Pada saat itulah, mereka mendengar suara anak kunci diputar.
Zeva dan Keylo saling tatap dan segera menuju pintu ruangan mereka. Keylo memutar gagang pintu namun tidak berhasil.
Mereka terkunci!
“Sial!” umpat Keylo kesal. Satpam kantor pasti sudah mengunci semua ruangan karena mengira semua karyawan sudah pulang. “Kita kekunci, Va!”
“Terus gimana?” tanya Zeva panik.
Keylo merogoh saku celana panjangnya, berniat mengambil ponsel, namun langsung menepuk keningnya. Dia sudah menaruh ransel dan ponselnya didalam mobil!
Menyadari tampang panik Keylo, Zeva mendesah. Dia berjalan mundur dan duduk di atas lantai sambil menyandarkan punggungnya. Dia bisa saja menelepon Jasmine saat ini dan meminta bantuan dari sahabatnya itu, tapi ponselnya sudah mati sejak dua jam yang lalu karena habis baterai.
Benar-benar apes!
Keylo mengikuti jejak Zeva dan duduk di samping gadis itu. AC ruangan masih menyala dan terasa sangat dingin menusuk tulang. Keylo menatap Zeva lalu membuka kancing kemeja lengan panjangnya. Dia memakaikan kemeja itu pada Zeva, membuat gadis itu tersentak.
“Loh, Key... apaan, nih?”
“Pakai aja,” balas Keylo sambil tersenyum. Laki-laki itu kini hanya mengenakan kaus putihnya yang tipis. “Kalau lo nggak pakai, nanti lo kedinginan.”
Zeva tidak membantah karena dia memang sudah sedikit menggigil. Gadis itu menarik napas panjang dan memejamkan kedua matanya. Lalu, detik berikutnya, terdengar dengkuran halus dari bibir gadis itu.
Menyadari bahwa Zeva sudah tertidur, Keylo menghembuskan napas panjang dan membelai rambut Zeva. Dia menatap wajah gadis itu dan tersenyum simpul. Zeva adalah gadis yang sangat kuat dan tegar. Dibalik sikapnya yang galak, gadis itu menyimpan jutaan kesedihan yang mendalam.
Keylo menarik kepala Zeva agar bersandar pada bahunya. Laki-laki itu merasa telah melakukan hal yang benar karena saat ini, semuanya terasa nyaman. Kemudian, Keylo menatap wajah Zeva sekali lagi. Laki-laki itu menundukkan kepalanya perlahan.
Lalu, wajahnya semakin dekat dengan wajah Zeva.
###