TUJUH BELAS

1459 Kata
Jasmine mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kepalanya terasa berputar tetapi dia berusaha untuk bertahan. Dia rindu kasur, bantal, guling dan boneka beruang raksasanya. Dia sangat ingin tidur saat ini, tetapi jika dia melakukan hal tersebut, bisa dipastikan dia akan tertidur panjang dan tidak akan membuka matanya kembali.             Dan... kejadian itu hampir saja menjadi kenyataan.             Tabrakan beruntun itu pasti akan terjadi jika Jasmine tidak langsung menginjak pedal rem. Bunyi ban berdecit terdengar sangat keras, disusul kemudian bunyi berdebum yang tidak terlalu jelas. Bisa dipastikan itu adalah bunyi bemper mobilnya yang beradu dengan bemper belakang mobil di depannya itu.             Heran! Apa pengemudi Outlander Sport di depannya itu tidak bisa berhenti secara pelan-pelan? Apakah harus mendadak seperti tadi?!             Setelah mengatasi kekagetannya, Jasmine melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil Harrier milik Abang sepupunya yang dia bajak. Mobilnya sedang masuk bengkel dan entah kenapa mobil Harrier Abang sepupunya ini begitu menarik di kedua matanya.             “Hei! Elo nggak bisa bawa mobil, ya?!” bentak Jasmine begitu sampai di samping pintu pengemudi Outlander Sport tersebut. Gadis berdarah Arab itu mengetuk kaca jendela mobil tersebut dengan keras dan berniat memaki si pengemudi yang menurunkan kaca jendela tersebut, ketika sosok di depannya langsung membuatnya terpaku.             Zeva?             “Maaf, Mbak... maaf... kepala saya tadi mendadak sakit dan saya langsung menginjak pedal rem begitu saja. Maaf. Mbak nggak apa-apa, kan?”             Jasmine merasa terbang ke dunia mimpi. Dia tidak salah lihat, kan? Gadis yang saat ini berbicara dengannya adalah Zeva, kan? Zeva sahabatnya yang menghilang selama beberapa bulan terakhir ini, kan? Zevarsya Venzaya, kan?             “Zeva?! Elo Zeva, kan?!” seru Jasmine. Nada suaranya terdengar sangat menggebu dan penuh semangat. “Zeva! Gue kangen sama lo! Lo kemana aja?”             Florence mengerutkan kening dan memijat pelipisnya. Satu orang lagi yang memanggilnya dengan sebutan Zeva. Ada apa dengan semua orang? Kenapa beberapa orang yang tidak sengaja dia temui selalu memanggilnya dengan nama Zeva?             “Maaf, Mbak... nama saya Florence, bukan Zeva. Mbak salah orang.”             “Nggak mungkin!” Jasmine menggelengkan kepalanya dan menahan kaca jendela mobil yang sudah akan ditutup oleh Florence. “Gue nggak mungkin salah mengenali sahabat gue sendiri. Elo Zeva. Zevarsya Venzaya!”             “Mbak... saya lelah. Saya mau pulang.” Florence meminta dengan nada memohon. Ini benar-benar aneh. Saat melihat laki-laki itu, laki-laki yang sudah bertemu dengannya secara tidak sengaja dua kali dan memanggilnya dengan nama Zeva juga, sedang tertawa dengan gadis lain, hatinya terasa perih dan nyeri. Dia juga tidak mengerti kenapa. Yang jelas, dia tidak suka dengan pemandangan yang terpampang di depannya beberapa saat yang lalu.             Tapi... mustahil jika dia cemburu!             Dia bahkan tidak mengenal laki-laki itu sebelumnya. Hanya saja, entah mengapa, perasaan aneh itu menyusup dalam hatinya. Seolah-olah, dia dan laki-laki itu sudah terkoneksi sejak lama. Seolah-olah dia sudah mengenal laki-laki itu sejak lama.             Seolah-olah... dia dan laki-laki itu pernah memiliki kisah indah sebelumnya!             “Coba liat!” Florence tersadar dari lamunannya ketika dia mendengar suara Jasmine. Gadis itu menoleh dengan malas dan... terbelalak!             Itu adalah fotonya!             Foto dirinya bersama gadis yang berada di depannya saat ini juga dengan seorang laki-laki.             Laki-laki yang merangkulnya dengan mesra.             Laki-laki yang tersenyum lembut dan menyandarkan keningnya pada rambutnya.             Laki-laki yang dia lihat di kafe beberapa saat yang lalu.             Laki-laki yang memeluknya waktu itu dan memanggilnya dengan sebutan Zeva!             “Itu....” Suara Florence tercekat di tenggorokan. Dia tidak bisa menemukan suaranya. Jantungnya kini berdegup dengan kencang. Darahnya seolah terserap keluar dari tubuhnya. Perlahan, bayangan-bayangan yang tidak jelas melintas di benaknya. Suara tawa seorang laki-laki terngiang. Suara lembutnya yang sarat akan bujukan. Senyuman dari orang yang tidak bisa terlihat dengan jelas wajahnya.             Semuanya membuat kepala Florence serasa ingin meledak!             “Ini elo, Va! Ini elo sama gue dan Keylo! Keylo Izkar Arvenzo... pacar lo!”             Pacar?             Berhenti ngeliat Devan dan mulai liat ke arah gue... Zevarsya Venzaya!             Selamat ulang tahun, Sayang             Gue sayang sama lo... gue cinta sama lo...             Nanti kalau udah nikah mau punya anak berapa? Oh, aku sih nggak muluk-muluk punya anak banyak, yang penting harus kembar, ya!             Bisa nggak kalau lagi jalan sama aku, matanya nggak usah ngeliatin cowok lain? Aku kurang ganteng emangnya? Cemburu itu nggak enak, loh, Va...             Selalu nangis setiap kali demam... kamu emang cengeng. Sini, biar aku ambil lagi demamnya dan kamu cukup tidur di d**a aku...             Semua kalimat itu silih berganti memenuhi otaknya, membuat kepalanya semakin terasa sakit. Gadis itu menutup telinganya kuat-kuat, memejamkan kedua mata dan menggelengkan kepalanya.             “STOP!” teriak Florence keras, membuat Jasmine tersentak. Gadis itu perlahan mundur dan menatap terpana pada cara sepasang mata Florence ketika menatap ke arahnya. Tajam dan penuh dengan... kesakitan?             Apa gadis itu sakit?             “Gue bukan Zeva! Nama gue Florencia! Nama gue Florenceee!!!”             Setelah mengatakan demikian, Florence langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kencang. Jasmine sudah dipastikan akan tertabrak, kalau saja sebuah lengan kokoh tidak menarik lengannya dan membawanya menjauh dari mobil Outlander Sport yang melaju kencang tersebut. Begitu Jasmine menoleh, gadis itu menaikkan satu alisnya.             “Keylo?”             “Hai, Jas.” Keylo menarik napas panjang dan menatap ke arah Outlander Sport yang semakin menjauh tersebut. Tatapannya hampa dan kosong. “Gue juga berharap kalau dia adalah Zeva. Tapi... gue tau harapan itu nggak akan pernah jadi kenyataan. Dia bukan Zeva.”             Jadi... Keylo sudah pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya? ### Keylo menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Laki-laki itu menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Dia memang sadar bahwa gadis yang sangat mirip dengan Zeva itu melihatnya di kafe. Karenanya, dia langsung pamit pada Neyla dan mengejar gadis itu. Tidak disangka, Jasmine ada disana. Berbicara dengan gadis yang Keylo ingat bernama Florence dan sudah bisa ditebak bahwa gadis bernama Florence itu jelas tidak sudi menerima semua ucapan Jasmine mengenai Zeva.             Setelah berbicara sebentar dan menceritakan pertemuan awalnya dengan Florence kepada Jasmine, Keylo merasa dadanya sesak. Yang lebih menyakitkan lagi ketika Jasmine secara terang-terangan mengemukakan pendapatnya.             Nggak mungkin ada orang yang begitu mirip kecuali saudara kembar atau saudara kandung, Key... terlebih lagi, dia mendadak histeris dan memegang kepalanya ketika gue menceritakan semua tentang gue, dia dan lo. Bukankah itu aneh?             Apakah Jasmine ingin berkata bahwa gadis itu memanglah Zeva?             Bagaimana kalau dia memang Zeva dan dia amnesia? Gue menolak percaya bahwa sahabat gue sudah meninggal dunia sebelum jasadnya ditemukan, Key!             “Tuhan....” Keylo memejamkan kedua matanya dan memijat pelipisnya. “Apa sebenarnya yang sedang terjadi disini?”             Tanpa diketahui oleh Keylo, Gazakha mengintip dari balik pintu kamar Abangnya yang tidak tertutup setengahnya. Memperhatikan sikap Abangnya yang sedang sedih karena memikirkan keberadaan Zeva. Gazakha menghela napas panjang dan menjauh perlahan. Laki-laki itu menuruni anak tangga sambil berpikir.             Sampai kemudian, ponselnya berbunyi nyaring. Ada satu SMS masuk dari nomor yang sudah disimpannya beberapa hari yang lalu. Menurut anak buah bokap gue, tuh cewek baru terlihat sekitar tiga bulan belakangan ini. Bersama seorang pengusaha muda bernama Fitz Crazenro.             Gazakha mengerutkan kening dan langsung membalas SMS yang dikirimkan oleh orang tersebut. Lo yakin?             Tak lama, balasan SMS pun dia terima. Positive! Dia bernama Florencia. Adik dari Fitz Cranzero. Hanya saja... menurut sumber yang meminta identitasnya untuk dirahasiakan, Florencia sudah meninggal dunia!             Langkah kaki Gazakha terhenti. Laki-laki itu berulang kali membaca kalimat yang tertera pada layar ponselnya. Gadis yang bernama Florencia sudah meninggal? Gadis yang bernama Florencia dan adik dari Fitz Cranzero itu sudah meninggal dunia?             Lalu... gadis yang beberapa kali bertemu dengan Abangnya dan sangat mirip dengan Zeva serta mengaku bernama Florencia itu... siapa? We need to talk, Keanu! Secepatnya! Kita ketemu besok di kafe dekat kampus! ### “Hai, Key....”             Keylo menoleh cepat dan membeku. Di depannya saat ini berdiri Zeva. Sangat manis dan cantik dengan gaun putih berpita besar di belakangnya. Rambut gadis itu dibiarkan tergerai dan diikat setengah saja dibelakang. Wajah Zeva sangat bersinar cerah.             “Zeva?”             “Iya, ini aku.” Zeva mengangguk dan melangkah maju. Gadis itu mengangkat tangan kanannya dan mengelus pipi Keylo dengan lembut. “Kamu nggak kangen sama aku?”             Keylo tidak sanggup berkata-kata. Laki-laki itu menggenggam tangan Zeva yang masih bertengger manis pada pipinya. Merasakan kulit tangan Zeva pada kulit tangannya. Meresapi kehangatan yang disalurkan Zeva padanya. Menatap senyuman lembut Zeva padanya.             “Aku kangen banget sama kamu, Va. Kamu kemana aja?” tanya Keylo dengan suara serak. Dia sangat bahagia saat ini. Amat sangat bahagia. Akhirnya, dia bisa bertemu dengan Zeva lagi.             Akhirnya... dia bisa bersatu dengan Zeva lagi.             “Aku ada disekitar kamu, Key... yang harus kamu lakukan adalah menemukan aku.”             Apa?             “Tolong... tolong temukan aku secepatnya, Key... aku tersesat. Aku... Key!”             Belum sempat Zeva menyelesaikan ucapannya, mendadak tubuh gadis itu terseret menjauh. Seolah ada magnet yang menarik tubuh mungilnya. Keylo berseru keras memanggil nama Zeva. Berlari mengejar gadis itu.             Namun... yang dia temukan adalah tubuh Zeva yang sudah berlumuran darah dengan kedua mata yang terpejam.             “ZEVAAAAAA!!!” ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN