ENAM BELAS

2080 Kata
Dan kini... aku jauh darimu... Ada yang hilang... dari hatiku...               Sungguh, tidak mudah membiarkan raganya untuk tetap bertahan dalam posisi seperti ini. Hanya diam dan membiarkan angin berhembus memainkan wajah serta rambutnya. Membiarkan kedua matanya terpejam, disaat kedua kakinya ingin sekali melangkah maju dan memeluk gadis di depannya itu. Rasanya mustahil jika ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini. Minus saudara kembar tentunya. Dan sepengetahuannya, saudara kembar kekasihnya itu sudah lama meninggal dunia.             Jadi... siapa yang berdiri tepat di hadapannya saat ini?             Hanya seseorang yang kebetulan mirip kah?             Atau... kemungkinan itu, meskipun hanya sedikit saja persentasenya, tetapi telah menjelma menjadi kenyataan?             “Zeva...,” panggil Keylo lirih. Kedua matanya terbuka. Matanya mulai memanas. Mati-matian dia menahan laju air mata itu agar tidak melewati batas dan akhirnya menggenang di sepanjang permukaan wajahnya. Sungguh, dia tidak ingin menangis lagi. Dia harus tegar. Dia harus kuat. Menerima semua kenyataan yang ada.             Tapi... hatinya bergetar hebat. Logikanya mulai mengalami kelumpuhan.             Apa yang harus dia lakukan sekarang?             Disaat ada seseorang yang sangat mirip dengan kekasihnya. Membangkitkan semua kenangan manis dan indah yang pernah mereka lalui bersama sebelum kecelakaan maut itu terjadi.             “Ck!” Gadis itu ternyata telah lebih dulu membuka kedua matanya. Dia berkacak pinggang dan menatap keseluruhan fisik Keylo yang terlihat berantakan. Selama ini, Keylo memang tidak memperdulikan penampilannya lagi. Yang dia pedulikan adalah Zeva... Zeva dan Zeva. “Kemarin lo juga manggil gue Zeva. Siapa, sih, Zeva itu? Gue bukan Zeva! Nama gue Florencia! Gue nggak kenal siapa itu Zeva!”             Keylo mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Kenyataan itu kembali menghantamnya. Harusnya, dia bisa langsung mengenali kalau gadis yang mengaku bernama Florencia ini memanglah bukan Zevarsya Venzaya. Sifat mereka bertolak belakang.             Tapi... persamaan wajah itu benar-benar... benar-benar...             “Bang Key, gue harus....” Gaza berhenti berbicara ketika dia menoleh dan menatap gadis di depan Abangnya itu. Laki-laki itu mengerjap dan melongo. Telunjuknya mengarah lurus pada wajah Florencia, membuat gadis cantik itu menaikkan satu alisnya dan bersedekap.             Apa lagi sekarang? Batin gadis itu heran.             “Kak... Zeva?”             Zeva lagi!             “Aduuuh! Dengar, ya!” Florencia menunjuk wajah Keylo dan Gaza bergantian. Matanya membulat, tanda bahwa dia benar-benar merasa sangat jengkel. Tadinya, dia hanya ingin mendapatkan ketenangan. Ketenangan yang entah kenapa selalu bisa dia dapatkan jika dia berada di tempat ini. Meskipun terkadang, ketenangan itu selalu kalah dengan rasa takut dan mual yang tiba-tiba saja datang mendera. “Nama gue Florencia. Florencia! People always call me Florence or Flo! Gue nggak tau apa yang merasuki lo berdua sampai-sampai lo berdua manggil gue dengan nama asing yang bahkan terdengar sangat memuakkan di telinga gue!”             Gaza tersentak hebat. Dia melirik Keylo ragu. Abangnya itu bergeming. Menatap datar pada gadis di depannya itu. Bahkan ketika Florence memutar tubuh dan menjauh, kemudian masuk kedalam mobil Outlander Sport-nya, Keylo tetap bergeming. Tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tidak melakukan apapun. Just stay still... not doing  anything.             “Bang....”             “She’s not her....”             Pernyataan yang singkat namun diucapkan dengan nada lantang dan tegas. Gaza menghela napas panjang dan menepuk pundak Keylo beberapa kali. Menyalurkan energi positif yang dia miliki.             Kasihan Abangnya. Beban berat itu harus dipikulnya sampai detik ini. Dan sampai kapanpun, Gaza merasa Abangnya akan tetap memikul beban tersebut sampai keberadaan Zeva diketahui.             “Ayo pulang, Bang... Mama nyariin lo.” Gaza meremas pundak Keylo, membuat laki-laki itu berjalan dengan agak terhuyung menuju mobilnya. Dari belakang, Gaza tetap mengawasi. Menatap nanar dan iba punggung sang Kakak. Berharap bahwa Tuhan akan segera mengakhiri penderitaan Kakaknya.             Persamaan wajah itu memang terlihat jelas. Terlalu jelas. Menyilaukan mata. Tapi... perbedaan sifat itu juga menghantam telak. Zeva tidak mungkin memiliki sifat seperti itu.             Tapi... ada satu yang mengganjal di benak Gaza.             “Bang....”             “Hmm....”             Gaza diam. Dia menghentikan kegiatannya yang akan menyalakan mesin mobil. Ditatapnya Keylo dengan tatapan ingin tahu. Haruskah dia bertanya? Apakah waktunya tepat? Apakah Kakaknya itu tidak menyadari?             “Kenapa nggak jalan, Za?”             Gaza tergeragap. Laki-laki itu meringis dan terkekeh salah tingkah. Setelah memutar anak kunci, Gaza menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Pikirannya masih melanglang-buana. Rasa penasaran itu menggerogotinya tanpa ampun.             Di leher gadis yang bernama Florencia tadi, terdapat sebuah kalung perak dengan inisial ZK.             ZK?             Zeva-Keylo?             Atau... hanya kebetulan saja?   Ku sangat rindu... ingin bertemu sampai... Tujuh purnama ku tetap menunggu... ### Neyla mendorong troli belanjaannya dengan santai. Matanya menatap ke setiap makanan ringan yang ditata dengan rapi di rak-rak sepanjang lorong mall ini. Gadis itu kemudian berhenti dan mencoba mengambil dua bungkus Lays ukuran besar yang terletak di rak paling atas. Susah payah dia mencoba sampai harus menjinjit, tetapi dia tetap tidak bisa menggapai makanan kesukaannya itu. Sampai kemudian, sebuah tangan terulur melewati kepalanya, membuat Neyla menoleh dan menaikkan satu alisnya.             “Masih suka sama Lays?”             “Always.” Neyla menerima dua bungkus besar Lays dengan rasa rumput laut tersebut dan menaruhnya kedalam troli. “What’re you doin’ here, Devan?”             “Gue nggak boleh datang ke mall ini? Gue pikir, ini tempat umum.”             Neyla mendengus dan tersenyum tipis. Gadis itu melanjutkan langkahnya. Kali ini, sasarannya adalah rak tempat s**u segar ditata dengan apik. Sementara itu, Devan masih mengikuti di belakang. Tadinya, dia hanya iseng datang ke mall ini. Ingin menikmati ayam cabe hijau yang dijual di lantai empat. Kemudian, kakinya justru membawanya ke bagian supermarket. Dia ingin membeli beberapa buah dan minuman bersoda karena persediaan kedua bahan makanan tersebut sudah menipis di apartement-nya. Oh, ya... sekarang Devan memilih untuk tinggal sendiri di apartement. Dia butuh waktu menyendiri untuk memikirkan dan mencari keberadaan Zeva yang belum diketahui sampai saat ini.             “Lo ngikutin gue, Van?”             Devan tersentak dan otomatis berhenti melangkah. Sayangnya, gerakannya terlalu lambat. Dia terlanjur menabrak kepala Neyla yang sudah memutar tubuh untuk menghadap ke arahnya. Jadilah sekarang, Neyla seperti sedang berada dalam dekapan Devan. Aroma tubuh Devan begitu memabukkan, membangkitkan kenangan manis yang pernah tercipta diantara keduanya beberapa tahun silam. Membuat Neyla berdeham dan menciptakan jarak secepat mungkin.             “Sorry....”             “Nggak apa-apa,” balas Neyla kikuk. “Salah gue. Bukan salah lo.”             Keheningan dan kecanggungan menguasai keadaan. Baik Neyla maupun Devan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai kemudian, Neyla memiringkan kepala dan mengerutkan kening. Tatapan matanya begitu tajam dan intens, membuat Devan bingung karenanya.             “Ney?”             “Itu bukannya... Zeva?”             Devan menoleh cepat. Laki-laki itu menyipitkan mata dan tersentak hebat. Gadis itu memanglah... Zeva! Benar! Dia Zeva. Devan tidak akan pernah lupa pada wajah gadis itu. Hanya saja saat ini, rambut dan penampilan Zeva sedikit berbeda. Tanpa pikir panjang, Devan segera menghampiri Zeva dengan Neyla yang menyusul di belakang. Gadis itu bahkan melupakan semua belanjaannya.             “Zeva!”             Sambil berseru, Devan mencekal lengan gadis itu. Ketika tatapan keduanya bertemu, Devan tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Dadanya meringan tanpa bisa dia cegah. Lega. Benar-benar lega karena dia berhasil menemukan Zeva.             Bukannya Keylo.             “Zeva! Lo kemana aja? Semua orang khawatir nyariin elo.” Devan memegang kedua pundak Zeva dengan tegas dan erat, sementara Neyla memandang adegan tersebut dari belakang laki-laki itu. Sakit? Sudah pasti. Perasaan cinta itu masih ada untuk Devan. Tersimpan rapi di tempat yang paling spesial di sudut hatinya. Mungkin hanya kematian yang bisa menghapus semua rasa cintanya untuk laki-laki itu.             Berlebihan? Bukankah semua orang yang sedang merasakan cinta akan selalu bertindak dan berbicara yang berlebihan? Seperti salah satu lirik lagu yang dihafalnya.             I see sparks fly, whenever you smile...             “Apa lagi, nih?!”             Neyla mengangkat satu alisnya, pun dengan Devan. Gadis di depan Devan itu menyentakkan kedua tangan Devan dengan kuat.             “Zeva?”             “Zeva... Zeva... terus aja manggil gue dengan nama Zeva!” seru gadis itu kesal. Heran... ada apa dengan semua orang, sih? Siapa itu Zeva?! “Tadi... laki-laki sinting itu juga manggil gue dengan sebutan Zeva... sekarang elo dan gadis itu!”             Laki-laki sinting? Devan dan Neyla saling tatap. Apa maksudnya... Keylo?             “Dengar, ya... gue bukan Zeva! Nama gue Florencia. Ck! Bisa gila gue kalau ketemu orang-orang nggak jelas kayak kalian!”             Sepeninggal gadis itu, Neyla dan Devan terpekur. Cukup lama. Membiarkan logika dan akal sehat mengambil alih.             Kalau gadis itu bukan Zeva, lantas... siapa?             Saudara kembarnya?             Atau... reinkarnasi? ### “Lo nggak bisa terus-terusan ngebohongin gadis itu, Fitz.”             Fitz menghela napas panjang dan memijat pelipisnya. Dia baru saja meminta Altaro untuk menemaninya makan siang. Altaro Abimanyu, salah satu GM di anak perusahaan Abimanyu. Hanya selisih tiga tahun dengannya. Altaro yang masih berusia dua puluh dua tahun itu sudah harus mengurus perusahaan Ayahnya dan memegang jabatan sebagai GM. Sangat bertolak belakang dengan Redhiza Taufano Abimanyu, sepupu Altaro. Fitz mengenal semua keluarga Abimanyu. Altaro adalah Kakak sepupu Redhiza, sementara Phoebe Venzilla adalah adik sepupu mereka. Mengingat Phoebe, senyum Fitz mengembang, meskipun hanya terlihat samar.             “Gue tau, Al. Amat sangat tau. Cuma... masalahnya ada di nyokap. Beliau semakin sehat dan sembuh saat melihat gadis itu.” Fitz menarik napas lelah. “Lo juga tau kalau dia mirip banget sama Florencia. Gue sampai nggak ngedip waktu nemuin dia di tempat kecelakaan itu.”             Altaro berdecak dan mengaduk minumannya. Dia sudah tahu semua kejadian yang sedang dialami oleh sahabatnya itu. Tentang dilema yang harus dialami oleh Fitz.             Tiga bulan yang lalu, Fitz sedang dalam perjalanan menuju rumah. Kemudian, laki-laki itu melihat sebuah mobil terguling di atas jalan. Langsung saja, Fitz menepikan mobil dan berniat membantu siapapun yang baru saja mengalami kecelakaan tersebut. Begitu dia melihat wajah gadis itu, Fitz langsung membeku.             Karena wajah si korban sangat mirip dengan wajah mendiang adik perempuannya yang sudah meninggal dunia sekitar satu tahun yang lalu akibat kecelakaan beruntun di jalan tol. Florencia.             Begitu membawa gadis korban kecelakaan itu ke rumah, Fitz langsung memanggil dokter keluarganya. Saat gadis itu tersadar, dia tidak mengingat siapa identitas dirinya sendiri. Dokter berkata bahwa itu terjadi akibat trauma yang dialami oleh gadis tersebut, sehingga sebagian memorinya saat mengalami kecelakaan dan memori sebelumnya hilang. Biasa disebut dengan retrograde amnesia.             Sejak saat itu, Fitz memutuskan untuk memberikan identitas baru. Identitas milik adiknya yang sudah meninggal dunia itu. Awalnya, Fitz tidak ingin melakukan hal tersebut. Tetapi saat melihat bagaimana Bundanya menjadi sembuh dan semangat menjalani hari karena menganggap gadis itu adalah Florencia, Fitz akhirnya membuat alur permainan baru.             “Fitz... mungkin keluarga gadis itu lagi kebingungan sekarang. Apa lo nggak kasihan?” tanya Altaro setelah terdiam cukup lama. Dia melirik Fitz yang sedang memejamkan kedua matanya. “Siapa namanya waktu itu lo bilang?”             “Zevarsya Venzaya.” ### Suasana kafe itu lumayan ramai. Mungkin karena dekorasi dan tempatnya yang sangat nyaman. Neyla memilih tempat di luar kafe agar bisa menatap jalanan di sampingnya. Suasana jalan di malam hari selalu membuatnya tenang, entah kenapa.             “Udah lama?”             Kepala Neyla terangkat dan gadis itu tersenyum. Setelah menggeleng, dia mempersilahkan Keylo untuk duduk di depannya.             “Apa kabar, Key?”             “Baik. Lo?”             “Baik.”             Diam. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Keylo sebenarnya cukup kaget ketika mendapat telepon dari Neyla. Mantan kekasihnya saat SMA itu tiba-tiba saja mengajaknya untuk bertemu. Ada yang ingin gadis itu sampaikan katanya.             “Gue sama Devan ketemu sama... um... sama....”             “Orang yang mirip dengan Zeva?”             Kedua mata Neyla mengerjap, kemudian gadis itu mengangguk.             “Gue juga sempat ketemu sama dia. Dua kali.” Keylo menarik napas panjang dan tersenyum pahit. “But... she’s not her.”             “Apa yang bikin lo beranggapan demikian?”             Lagi, Keylo terdiam. Dia juga tidak tahu apa alasannya. Yang dia yakini, gadis itu bukanlah Zeva. Bukan kekasihnya. Zeva tidak mungkin memiliki sifat seperti itu.             Tapi...             Astaga! Untuk apa dia terus memikirkan kenangan menyakitkan itu? ### Florencia memarkir mobilnya tepat di samping kafe langganannya. Suasana kafe yang nyaman membuat gadis itu kerajinan datang ke tempat ini. Kadang bersama Kakaknya, Fitz. Kadang juga bersama dengan Altaro, sahabat Kakaknya. Yang jelas, perasaan nyaman selalu berhasil dia dapatkan jika dia datang ke tempat ini.             Selesai memarkir mobil, Florencia berkaca sebentar pada spion tengah mobilnya. Ketika dia membuka pintu, tatapannya tertuju pada orang itu. Orang yang kini tersenyum tipis ke arah gadis di depannya. Senyuman yang mampu membuat hatinya berdesir dan membuat perasaannya meringan. Senyuman yang begitu lembut dan hangat.             Senyuman yang menenangkan.             Senyuman itu kemudian berubah menjadi tawa kecil. Entah apa yang orang itu tertawakan, Florencia juga tidak tahu. Yang jelas, saat melihat pemandangan itu, hatinya merasa sesak. Sakit. Nyeri. Perih. Dan semua kosakata yang bisa menggambarkan perasaan cemburunya.             Cemburu?! Ha! Yang benar saja!             Kenapa tiba-tiba dia harus merasa cemburu pada orang sinting yang memeluknya kemarin dan selalu memanggilnya dengan nama Zeva?! ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN