Sinar ungu mulai melesat ke arah serigala yang paling besar di antara lainnya, serigala itu mati dengan sangat menggenaskan.
Gerombolan Serigala Perak mengetahui jika pemimpin mereka mati, lalu serigala itu mulai melarikan diri menjauh dari kawasan itu.
Keenam lelaki yang sudah mati-matian melawan Serigala Perak langsung terduduk lelah.
"Kerja bagus semuanya," kata Eruza menyemangati mereka.
Setelah mengumpulkan cukup tenaga semuanya membersihkan diri. Azareel menyiram bekas-bekas darah serigala perak agar tidak memicu binatang iblis yang lainnya.
"Ngomong-ngomong apa yang sudah kau lakukan Wayne?" tanya Eruza kepada temannya itu.
"Aku hanya membunuh pemimpinnya," kata Wayne terus terang kemudian dia teringat kejadian Nelson mencium pipi kanannya.
"Oh! Oh! Oh! Aku punya berita bagus untuk Leo!" kata Wayne bersemangat, di wajahnya yang tampan terlihat senyum bodoh, Nelson melihat itupun mulai merasakan perasaan yang tidak nyaman.
"Apa apa apa?" rupanya Leonard sangat penasaran dengan berita itu.
"Nelson mencium pipiku," kata Wayne sambil nyengir kuda.
"Apa! Nelson! Aku mau dicium juga!" kata Leo yang protes ke Nelson. Nelson Mendengar protessan itupun mulai berlari ke belakang Eruza.
"Kak Uza, mohon lindungi aku dari pria yang menyimpang!" mohon Nelson kepada Eruza.
"Tidak adil! Aku hanya ingin di cium oleh adik angkat," bantah Leo. Jika ada buntut dan telinga anjing, mungkin saja buntut dan telinga itu lunglai ke bawah.
Azareel yang melihat itupun hanya menghela nafas atas perilaku sahabatnya itu, dia sangat yakin suatu saat nanti Leonard akan membuat masalah bagi mereka kedepannya.
"Ada yang terluka?" tanya Azareel sambil menatap teman-temannya yang masih ditempeli oleh darah kering.
"Hanya luka kecil," kata Eruza. Lelaki itu mendapatkan sedikit luka karena pertarungan jarak dekat, mustahil jika tidak mendapatkan luka walau sedikit saja, apa lagi masih pemula.
Azareel mengarahkan kemampuannya untuk mengobati luka Eruza sembari membersihkan darah di sekitar pondok.
"Kak Aza keren!" puji Nelson.
"Hei hei hei! Aku pengen di puji juga!" Protes Leo.
"Aza kasih Leo air, Leo lagi haus," kata Wayne sambil mengarahkan dagunya ke Leonard.
"Ei~ aku tidak haus!" seru Leonard.
"Haus tuh~ haus pujian~" ledek Wayne.
"Ah~ benar! Leo haus pujian, makanya Leo harus kerja lebih keras lagi biar dapat pujian," kata Eruza menasehati Leo.
Semua kekacauan sudah dibersihkan, kini kedelapan pemuda itu mulai tidur untuk menyambut hari esok.
⚛⚛⚛
"Anak muda, kita bertemu lagi," ucap binatang berkepala kambing.
Azareel yang masih terkesima dengan pemandangan bak surga itupun menolehkan kepalanya ke belakang.
"Ah?"
"Rupakan kamu sudah tidak takut kepada kami lagi?" tanya binatang berkepala singa.
"Sedikit?" jawab Aza ragu yang lebih ke pertanyaan.
"Hei! Kau membuatnya takut!" seru binatang berkepala ular.
"Iya iya iya serah," kata binatang berkepala singa.
Azareel kembali bertemu dengan hewan chimera itu lagi dalam mimpinya.
"Wahai anak muda, terimalah berkat dariku," ucap binatang berkepala kambing, setelah ia selesai berbicara hal itu, sinar putih memenuhi penglihatannya. Azareel dapat merasakan kekuatan paling murni dari cahaya itu. Cahaya itu tidak seperti cahaya milik Darrel, namun cahaya ini lebih suci dan murni dari semua kekuatan yang pernah Azareel rasakan. Hanya tekanannya saja sudah membuat hati merasa segar kembali, rasa lelah fisik dan mental terobati berkat cahaya. Inilah berkat yang diberikan oleh Chimera.
"Terima kasih atas berkatnya," kata Azareel sopan. Dia bukan anak yang tidak tahu berterima kasih jika di beri sesuatu dan tidak akan meminta lebih jika di minta.
"Anak muda, ada yang ingin aku sampaikan," kata binatang berkepala ular.
Azareel hanya menatapnya diam tanda menyuruh binatang itu melanjutkan perkataannya.
"Seperti di awal kamu datang ke sini, kamu dapat melihat dua bulan yang bersebelahan,"
Azareel hanya diam tak bergeming, namun binatang berkepala ular itu mengerti kemudian dia melanjutkan.
"Anak muda, kami mengutusmu dan teman-temanmu untuk menyelamatkan Hidden World, jika kalian mengerjakan tugas kalian dengan sempurna, kalian dapat kembali ke dunia asal kalian, namun kami tidak menjamin kalian untuk hidup nyaman, hidup dan mati ada di tangan kalian, jadi ... jaga diri kalian mulai sekarang, perjalanan kalian masih panjang."
"Tugas kalian yaitu mencari informasi letak kubus kristal itu berada," kata binatang berkepala kambing.
"Dunia ini dipenuhi oleh sihir, berbagai macam tanaman herbal dan racun ada di sini, berbagai macam alat sihir canggih ada di sini, semua yang ada di sini lebih canggih daripada di Bumi."
"Aku akan memberikan kemudahan untuk kalian. Pergilah ke akademi Bintang Biru, di sana ada sesuatu yang kalian cari," kata binatang berkepala ular.
Azareel mendengarkan dengan patuh dan mulai mencerna dengan baik semua Informasi yang telah diberikan kepadanya.
"Anak muda, jangan abaikan tugas kalian, ingat itu."
Begitu kata-kata terakhir yang Aza dengar kemudian sayup-sayup dia mendengar seseorang memanggilnya, tubuhnya sedikit berguncang. Itu suara Leonard.
"Azareel ayo bangun, kita sarapan dulu baru berangkat," kata Leo sambil menggoyangkan badan Aza yang tertidur pulas.
Azapun mulai membuka kelopak mata, terangnya sinar pagi membuat dirinya tanpa sadar memejamkan kembali matanya.
"Hei! Hei! Hei! Bangun ayo! Kita perlu melanjutkan perjalanan kita," kata Leo lagi, kali ini sedikit lebih mendesak.
"Iya sebentar, kamu tunggu saja sama yang lain, sebentar lagi aku akan bersiap-siap."
Leopun pergi dari sisi Azareel menyusul teman-teman yang lainnya membuat makanan. Azareel dapat menderngar bunyi canda tawa mereka dari pondok.
"Sebenarnya apa yang harus kami lakukan?" gumam Azareel ketika mengingat kembali mimpi itu.
Lelaki bermata puppy itupun mulai menyiapkan dirinya untuk melanjutkan perjalanan. Ketika sudah selesai Azareel mendatangi teman-temannya.
"Yo Azareel, kamu telat bangun," tegur Tanner sambil memakan daging ikan.
"Ah~ aku punya informasi," kata Azareel sambil duduk di sebelah Reymond.
"Informasi?" tanya Eruza memastikan.
"Ya ... tadi aku mendapatkan mimpi," kata Azareel, wajahnya kini mulai mendingin kemudian dia melanjutkan perkataannya.
"Chimera menemuiku, mereka berkata petunjuk pertama ada di akademi Bintang Biru,"
"Katanya di sana ada petunjuk yang kita cari, aku yakin kalian semua tidak tahu apa yang kita cari, namun besar kemungkinan yang kita cari saat ini yaitu letak di mana kubus kristal itu berada,"
"Katanya lagi, dunia ini penuh dengan sihir, tanaman herbal dan racun, juga alat-alat sihir yang canggih bahkan lebih canggih dari pada di Bumi."
"Lebih canggih dari alat-alat teknologi di bumi? Sepertinya ini perjalanan yang menarik," kata Leonard sambil mengelus dagunya yang mulus.
"Yah ... menarik, Chimera berkata hidup dan mati ada di tangan kita, itu bearti kita harus menghindari sesuatu yang membahayakan nyawa, karena mereka tidak akan membantu, jika kita mati, kita tidak bisa kembali lagi ke Bumi,"
"Ei~ jika tau begitu aku tidak jadi datang ke sini," protes Darrel, namun Azareel dapat melihat tatapan yang lainnya juga ikut berpendapat dengan Darrel.
"Terus kalian menyesal gitu?!"