10. Pohon Menjalar

1019 Kata
"Terus kalian menyesal gitu?!" seru Azareel, suasana hatinya sudah tidak bagus ditambah lagi teman-temannya yang sudah menyerah sebelum memulai. "Tidak ada pilihan lain selain menjalankan tugas kita," sambung Azareel. "Maksudmu apa hah! Kita semua bisa saja mati di tengah-tengah hutan ini!" kata Tanner sambil berdiri. Azareelpun ikut berdiri, terlihat jelas air muka marah dikedua wajah lelaki itu. "Kan kalian yang ingin ke sini! Tidak ada paksaan!" seru Azareel seolah-olah menantang Tanner. Jarak mereka kini sangat dekat untuk seseorang yang sedang berselisih pendapat. "Itu semua gara-gara kamu yang memancing!" seru Tanner sambil mendorong bahu Azareel. Dan terjadilah aksi berkelahi di antara mereka berdua, teman-teman yang lainnya pun berinisiatif untuk menghalangi mereka agar tidak menjadi perkelahian yang mebahayakan nyawa. "Hei! Kalian tenang lah! Aku tidak memihak siapapu, tapi kita sudah berada di sini, tidak ada pilihan lain selain menjalankan tugasnya," kata Eruza menasehati mereka. Kedua lelaki itu masih di tahan jikalau mereka akan menyerang satu sama lain lagi. Pada akhirnya mereka berdua dapat menenangkan diri mereka masing-masing dan mulai meminta maaf satu sama lain. "Hari ini cukup menegangkan, padahal baru hari pertama," ucap Reymond, tatapannya sambil melihat ke sana kemari mengamati isi hutan yang mereka lewati. Nelson sedikit tertinggal dari yang lainnya. Lelaki itupun mulai merasakan kejanggalan. Seperti ada sesuatu yang mengikuti mereka. Sesekali kakinya tersandung oleh akar pohon yang menjalar. Namun dia tidak menghiraukan hal itu. Semakin lama akar pohon itu semakin membuat Nelson kesal karena jari-jari kakinya mulai kesakitan setelah terus menerus tersandung akar pohon. Lelaki berambut biru gelap itu mulai memperhatikan teman-teman di depannya, tetapi tidak ada sedikitpun keluhan atau hal lain sebagainya, bahkan permukaan sepatu mereka tidak selecet punyanya. Nelson pun berhenti sebentar untuk melihat sekitarnya, di matanya ada pemandangan yang menarik. Pohon besar dengan ranting yang melambai-lambai kesana kemari menarik perhatiannya. Sedari tadi dia terus melihat pohon itu hingga dia melihat akar pohon itu bergerak menuju ke arahnya lelaki itupun berteriak. "Tolong!" teriak Nelson, yang lainnya agak lumayan jauh dari keberadaannya. Seketika teman-teman yang lainnya menyadari bahwa anak yang paling muda di antara mereka sangat ketinggalan. "Nelson ada apa?" tanya Eruza khawatir. "Akar pohon itu terus-menerus ingin mencelakai ku," kata Nelson. Wajahnya yang muda terlihat sangat ketakutan. "Tidak ada apa-apa kok," kata Tanner yang sudah mencoba mengarahkan indranya untuk memastikan pembicara Nelson. "Aku melihatnya, akar itu bergerak dan sedari tadi selalu membuatku tersandung," kata Nelson membela dirinya sendiri. "Jangan mengada-ngada tidak ada yang seperti itu," kata Reymond, namun mereka lupa bahwa mereka berada di Hidden World dimana sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. "Mungkin itu hanya imajinasimu saja, tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," kata Eruza yang mengaggap semuanya hanyalah ilusi Nelson saja. Anak muda akan terjebak dengan ilusi yang dianggap mereka itu nyata. "Aku sedang tidak berimajinasi," kata Nelson tetap kukuh dengan perkataannya. "Sudahlah Nelson, ayo kita lanjutkan perjalanan kita," kata Eruza yang tidak menginginkan perdebatan yang tidak penting. Ekspresi Nelson tampak sedih, matanya melihat ke arah pohon besar itu dengan tatapan sendu. "Tapi aku tidak berbohong," gumam Nelson. Setelah keributan yang di buat Nelson merekapun memutuskan untuk menaruh Nelson di tengah-tengah barisan agar tidak terjadi hal-hal seperti tadi. "Wayne kamu jaga di belakang, aku jaga di depan," putus Eruza selaku pemimpin perjalanan mereka. Waynepun membuang nafas kemudian berjalan ke barisan belakang. Merekapun mulai melanjutkan perjalanan mereka. Tidak seperti Nelson di awal, Wayne merasa baik-baik saja tidak seperti Nelson. Namun kejanggalan semakin di lihat oleh matanya. Pohon besar itu seakan-akan mengikuti mereka kemanapun mereka berjalanan. Sejauh mata memandang Wayne tidak melihat pohon besar itu di depannya namun dia selalu ada di dekat barisan mereka. Mencoba mengingat-ingat perkataan Nelson, Waynepun mulai waspada tanpa memberitahukan yang lainnya. Mungkin saja mereka tidak percaya seperti halnya Nelson tadi, dia tidak ingin membuat keributan yang tidak perlu. Semakin di perhatikan pohon itu mulai bergerak, seolah-olah mereka terjebak di dalam ilusi, namun anenhnya mereka tidak merasakan tanda ilusi itu. Ketika Wayne sudah tidak tahan lagi, iapun mulai mengeluarkan petir kecil dari tangannya dan mulai menyerang pohon besar itu. "Wayne ada apa?" tanya Eruza di depan sana. Akibat keributan Wayne yang membuat serangan kecil, itu cukup mengejutkan barisan yang ada di depannya. "Aku curiga dengan pohon besar itu, pohon itu seakan-akan mengikuti kita, aku tidak berbohong," kata Wayne datar. "Iya ya ... perasaan pohon besar itu selalu ada di belakang kita, jika terjebak dalam ilusi itu tidak mungkin, sedari tadi yang tidak berubah itu cuman pohon besar, aku selalu memberikan tanda di pohon yang kita lewati," kata Azareel mengemukakan pendapatnya. Sorot mata Nelson tampak khawatir, dia tidak ingin melihat pertarungan lagi namun itu mustahil, karena akar pohon yang sedari tadi mengganggunya mulai menampakkan gerakannya di hadapan teman-temannya yang lain. "Akarnya bergerak!" seru Reymond. Semua pandangan menuju ke arah akar yang semakin lama semakin membesar. "Pohon menjalar," gumam Azareel setelah melihat pergerakan akar pohon itu. Sedekit demi sedikit cahaya hitam membentuk mata dan mulut mulai muncul di batang pohon. "Apa katamu tadi Za?" tanya Reymond yang berada di samping Azareel. "Itu pohon menjalar, kekuatan utamanya tanaman, namun kita tidak bisa menyerang dengan elemen tanah, itu semakin mempermudah pohon itu untuk melawan musuhnya." jelas Azareel sambil memperhatikan ciri-ciri pohon itu. "Eee ... pohon itu mengingatkanku di hari Helloween," ujar Tanner. "Sekarang bukan waktunya bercanda Tanner," tegur Eruza. "Aku tidak bercanda!" Akar itu mulai melaju pesat ke arah salah mereka. Nelson yang sedang melawan akar itu mulai lengah hingga kakinya terjerat oleh akar yang menyerangnya secara diam-diam. "Argh! Lepas!" seru Nelson. Kekuatan angin tidak mampan, Eruza yang mempertanggung jawabkan semua keselamatan teman-teman bergegas menghampiri Nelson yang mulai terjerat akar pohon. Eruzapun langsung menebaskan pedangnya hingga Nelson terbebas dari serangan akar. "Terima kasih kak," kata Nelson kemudian lelaki itu mulai memasang tampang waspada. "Nelson kamu terbang saja jika tidak bisa melawan, kami akan melindungimu," kata Eruza lembut sambil menebas akar pohon yang mulai menyerang. Nelson hanya diam saja namun mengikuti perkataan Eruza. Di lain sisi, Azareel merasa kesulitan karena elemen air tidak cocok untuk menyerang akar yang kuat. Yang bisa di lakukannya hanyalah membuat perisai air kemudian menyerang akar yang mengarah padanya. "Kita tidak bisa terus menerus menyerang akarnya," kata Wayne sambil mengarahkan petirnya ke salah satu akar. "Tolong aku!" Semuanya langsung menatap ke arah suara teriakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN