"Tolong aku!" teriak Azareel.
Semua mata langsung tertuju ke sumber suara.
"Aza!" Teriak Eruza. Jantungnya hampir berhenti berdetak melihat Azareel yang kini terlilit akar. Dia bertanggung jawab atas keselamatan mereka semua, jadi dia tidak tahan untuk tidak menolong Aza yang kini hampir di remukkan.
Eruza berlari ke arah Azareel dengan tergesa-gesa raut wajahnya sangat menyeramkan, dia mulai menebas akar pohon yang menghalanginya di setiap jalannya.
Bilah besi itu menebas ke segala arah untuk menghindari akar, dia harus cepat jika terlambat mungkin saja Azareel akan pecah menjadi tumpukan daging oleh akar itu.
Ini bukan sesuatu yang di anggap remeh, ini masalah kehidupan seseorang. Di mata Eruza dia melihat Azareel yang mulai kehilangan nafasnya. Badan lelaki itu mulai memerah seakan ingin meledak.
Melihat aksi Eruza, yang lainnya pun ikut menyelamatkan Azareel dari bahaya, karena tugas mereka ialah menjaga satu sama lain saat ini. Datang berdelapan pulangpun harus berdelapan. Mungkin semua orang tidak menyadari pikiran ini tapi suatu hari mereka akan menyadari bahwa di antara mereka berdelapan terdapat solidaritas yang sangat tinggi.
"Hujan petir!" teriak Wayne. Seketika petir ungu turun dari langit bagaikan hujan yang menghantam akar-akar yang melilit Azareel. Di susuh oleh yang lainnya.
"Seribu belati!" teriak Leo. Di belakangnya terdapat banyak belati yang melayang, siap untuk menyerang kapan saja. Mengarahkan semua kemampuannya, Leonard mulai menggerakkan puluhan belati untuk menyerang akar itu, belati-belati yang di kontrol oleh pikiran itu sangat memakan kekuatan mental seseorang. Kekuatan yang sangat besar jika seseorang tidak memiliki mental yang cukup, bisa saya si pengguna akan lumpuh akibat serangan mental yang berbalik ke arahnya jika itu kekuatan mentalnya lebih kuat dari si pengguna. Makanya Leonard sangat membuat resiko dengan kehidupannya untuk menyelamatkan sahabatnya.
"Kak Aza bertahan lah," bisik Nelson di atas langit. Dia membatu untuk menyingkirkan akar-akar yang menyelinap untuk menyerang kakak-kakaknya yang sedang berjuang.
Wajah Azareel semakin menggembung dan memerah layaknya tomat dan serangan yang lainnya pun semakin menjadi-jadi.
Dengan sekuat tenaga, Azareel mencoba untuk melepaskan diri dari akar yang melilit tubuhnya. Namun keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Dia sama sekali tidak bisa terbebas dari akar itu. Ini sangat kuat dan keras. Tidak mudah untuk mengalahkan pohon menjalar yang sudah berusia puluhan ribu tahun, pasti pohon itu sudah menyerap banyak energi sihir, kekuatannya bukan main-main.
"Cari intinya!" teriak Aza tergesa-gesa, dia harus menahan sakit dan harus mengeluarkan ide pikirannya agar teman-temannya tercerahkan.
Karena Eruza yang paling dekat dengan Aza, dia mendengarkan dengan sangat jelas apa yang di katakan Azareel.
"Apa yang kamu katakan Za?" tanya Darrel yang berada jauh dengan Aza, jadi dia hanya mendengar sayup-sayup apa yang dikatakan oleh Aza.
Eruza yang langsung mengerti apa kata Azareel, dia pun mengarahkan kemampuannya untuk membakar pohon besar itu. Karena pohon itulah sumber inti kehidupan akar yang menyebalkan ini. Intuisinya selalu benar tapi ini sangatlah nekad, berbagai macam cara dia lakukan untuk membakar pohon besar itu. Namun akar-akar itu seakan mengerti apa yang di pikirkan oleh Eruza. Akar itu menepuk-nepuk api yang di buat Eruza hingga api itu menghilang.
"Wayne! Serang pohonnya!" seru Eruza yang mengetahui apinya tidak berhasil.
Wayne hanya diam saja namun dia tetap melaksanakan tugas dari Eruza. Angin mulai bertiup kencang, awan-awan mulai menghitam berkumpul tepat di atas pohon besar. Sengatan listrik ungu terlihat di bawah awan itu, siap untuk melesat kapan saja.
Anggota yang lainnya mulai mengalihkan perhatian pohon besar itu. Sebisa mungkin mereka harus membuat pohon besar itu lengah.
Wayne yang sedang menunggu saat yang tepat, mulai mengarahkan telapak tangannya ke atas kemudian mengepalkannya.
Seketika petir ungu yang sangat besar turun menghantam pohon menjalar. Terdapat banyak kerusakan di daun dan dahan pohon hingga membuat akar-akar pohon itu melepaskan Azareel yang ingin meledak.
"Aza!" teriak semua orang. Kemudian menghampiri Aza yang lemas tak berdaya. Seluruh tulangnya serasa remuk akibat remasan akar itu.
Nelson yang berada di udara langsung melayangkan Aza untuk berada di dekatnya.
"Kak Aza!" kata Nelson. Suaranya sedikit bergetar, sorot matanya sangat sendu menatap ke arah Aza yang tidak berdaya.
Aza hanya merespon perkataan Nelson dengan senyuman, kemudian lelaki itu mulai menyembuhkan dirinya sendiri. Cukup dengan pikiran dia mulai menstabilkan dirinya.
Meskipun tidak seratus persen, setidaknya penampilan Aza saat ini mulai membaik, tangan dan kakinya dapat di gerakkan sedikit, namun badannya yang remuk sangat sulit untuk di sembuhkan. Itu memerlukan waktu yang sangat banyak untuk tubuhnya kembali seperti semula.
Yang lainnya masih tetap menyerang pohon menjalar itu. Hingga pohon besar itu tumbang dengan batang yang terbelah-belah.
Semuanya tampak kelelahan. Pohon menjalar hanyalah pohon serangan tingkat satu. Aza yang lagi masa pemulihan mulai memikirkan bagaimana mereka kedepannya? Pohon mejalar hanyalah awal tapi mereka sangat bersusah payah untuk menumbangkannya. Bagaimana dengan mahluk yang lainnya? Dan bagaiman dengan penghuninya? Apakah mereka lebih kuat lagi? Aza yang terbaring melayang tidak berani memikirkannya. Dunia ini sangatlah berbahaya bagi mereka yang tidak mengetahui apa-apa.
"Kita cari tempat aman untuk beristirahat, dan juga untuk pemulihan Aza," putus Eruza yang mulai membantu teman-teman yang lainnya berdiri.
⚛⚛⚛
Di atas batang pohon besar, terdapat rumah pohon yang di buat dengan sederhana.
Seorang lelaki berbadan kekar sedang berkonsentrasi membuat sebuah wajan.
"Leo tolong buatkan kotak besar untuk menyimpan barang," suruh lelaki berambut hitam legam. Dia memiliki tatapan yang hangat dan penuh kasih sayang.
"Baik kak, eum apakah Tanner udah selesai mencari tanaman obat dan buahnya?" tanya Leo kepada orang itu.
"Seperti sebentar lagi dia akan datang, ah yang lainnya sepertinya udah mendapat buruan, kita akan makan daging malam ini," Kata lelaki berambut hitam.
"Eruza, aku dapat ayam hutan dua, lihat! Mereka sangat besar!" teriak seseorang dari bawah rumah pohon. Orang yang di panggil Eruzapun mulai berlari ke jendela dan melihat Wayne yang sedang memegang dua ayam hutan besar di kedua tangannya.
"Lima puluh meter dari sini ada sungai yang mengalir, kamu bersihkan ayamnya dulu," kata Eruza memerintahkan Wayne.
Wayne pun hanya diam saja dan mulai melakukan tugasnya dengan semestinya.
Tidak lama kemudian, Tanner dan Nelson datang dari dalam hutan.
"Kak Eruza! Aku dapat buah-buahan yang bisa di makan!" teriak Tanner dari bawah.
"Taruh di pondok!" kata Eruz berseru.
Mereka tidak hanya membuat rumah pohon, tetapi mereka juga membuat pondok di bawah, untuk memudahkan mereka memasak dan menyimpan barang. Sedangkan rumah pohon untuk mereka tidur di malam hari.
Tujuh ratus meter dari sini mereka sudah dapat keluar dari hutan ini. Namun mereka menunda perjalanan mereka karena kondisi Aza yang belum kunjung membaik.