12. Desa Di Pinggir Hutan

1071 Kata
"Aza ... ku mohon sadarlah," ucap Eruza di samping Aza yang belum sadarkan diri dua hari ini. ⚛⚛⚛ Waktu berlalu dengan cepat tak terasa sudah satu bulan dari kejadian itu. "Kak Uza, aku dapat rusa!" teriak Reymond bersemangat. "Kerja bagus Rey! Kita akan makan besar malam ini, benar kan Za?" tanya Eruza kepada pemuda di sebelahnya. Pemuda itu terlihat imut dan sedikit pucat. "Iya, aku tidak sabar untuk malam ini," kata Azareel sambil tersenyum tipis. Dia baru saja pulih beberapa hari yang lalu, lelaki itu merasa tidak enak kepada teman-temannya karena dia mengganggu perjalanan ini. Jika saja dia tidak lengah mungkin kami akan mencapai kota di pinggir hutan ini. "Sudahlah, janga memasang ekspresi begitu," kata Tanner sambil mengambil tempat duduk di sebelahnya. Namun yang di dapat Tanner hanyalah tatapan melamun Azareel. Mereka semua memaklumi hal itu tapi tidak ada yang membuat mereka merasa bahwa Azareel adalah beban. Mereka terus menerus menyemangati Aza yang merasa bersalah. "Dalam dua hari, kita akan pergi ke kota," kata Eruza sambil menatap teman-temannya yang sedang sibuk memasak. "Ah masa-masa damai kita akan segera berakhir, mungkin kali ini akan ada masalah yang tidak terduga," kata Darrel sambil memanggang daging yang baru saja di cuci Wayne. ⚛⚛⚛ Hiruk pikuk terdengar di mana-mana, suara teriakan promosi hingga suara anak kecil yang sedang berlarian memenuhi pendengaran kedelapan pemuda tampan. Seakan melihat dunia yang baru saja dilihat, mata mereka terlihat sangat bersinar bagaikan api yang sangat membara. Lelaki bermata puppy seperti sebuah boneka yang terlihat sipit namun sangat enak dipandang melihat ke sana kemari. Keramaian yang ada di depan matanya membuat dirinya terkagum-kagum akan suasana pasar yang sangat berbeda sekali dengan suasana pasar di dunianya. Suara tawar menawar menarik perhatiannya. Ada seorang gadis miskin yang sedang menawar harga buah apel kepada si penjual. Aza dapat melihat bahwa terjadi percekcokan di antara keduanya. Namun dia tidak bisa membantu sama sekali. Gadis itu terlihat sangat marah. Kelihatan jelas wajahnya yang memerah seperti tomat, gadis itu sedang menahan amarahnya. "Aza ... apa yang kamu pikirkan?" tanya Eruza yang melihat temannya melamun. Sebagai yang tertua dia harus sebisa mungkin mengurangi kejadian seperti satu bulan yang lalu. Dia menjadi kakak yang posesif dan penuh kasih sayang. Dia terlalu menjaga teman-temannya. Eruza menganggap semuanya adalah adiknya itu karena Eruza adalah lelaki yang hangat dan perhatian "Tidak apa-apa aku hanya memperhatikan cara orang bertransaksi di sini, rupanya sama saja seperti kita menawar di dunia kita." jawab Azareel. Pandangannya kini teralih pada makanan yang di jual di pinggir jalan. "Ah~ sepertinya kita tidak bisa belanja sepuasnya," kata Reymond sedih. "Ei ... kitakan bawa uang," kata Leonard, sekilas info, Leonard adalah yang paling kaya di antara mereka, jadi tidak perlu khawatir dengan uang jika mereka bersamanya namun lain hal jika di dunia lain. Reymond yang gemas dengan Leonard memegang rahang Leo menggunakan kedua tangannya. Kemudian, dia dengan cepat menolehkan kepala Leonard ke orang yang sedang bertransaksi, dan benar saja, uang yang sudah mereka tabung dengan sangat lama ternyata tidak digunakan di sini. Ini tidak adil! Mengapa tidak ada yang memberitahukan mereka? Begitulah pikiran mereka ketika melihat uang yang sangat berbeda dengan yang mereka bawa. "Aku ingin makan kentang spiral!" Keluh Reymond. Di antara kedelapan remaja ini, Reymond adalah salah satu cahaya atau penyemangat di antara mereka. Jika tidak ada Reymond mungkin saja saat ini mereka hanya diam saja dan tidak mengetahui apapun, juga Reymond sangat serba bisa, dia selalu menyukai hal-hal yang dia inginkan. Bahkan di sekolahnya, Reymond di sebut-sebut sebagai orang jenius yang hanya ada seratus tahun. "Aku ingin makan telur gulung!" kata Leonard yang ngiler melihat pedagang memasang telur di atas minyak yang panas. Pedagang itu menuang secentong telur ke minyak panas kemudian telur itu langsung merekah tersebar di sekitar wajah itu. Pedagang kaki limapun langsung mengambil lidi dan melilitkannya di lidi panjang itu. Telur gulung yang berwarna kuning muda yang masih berasap karena baru di angkat itu sangat menggoda bagi Leonard dan Leonard pun sangat menyukai telur. "Sepertinya kita perlu kembali ke rumah pohon." kata Wayne yang sedang melihat keadaan mereka. "Ah ... sebaiknya juga begitu," kata Eruza canggung dia sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merekapun pada akhirnya kembali ke rumah pohon yang terletak di dalam hutan. Ketika mereka kembali, hari sudah sore. Beruntung sekali selama di perjalanan mereka menangkap berbagai macam buruan. Tannerpun mendapat banyak tanaman obat juga sayur yang bisa di makan. "Rumah pohon, pada akhirnya kami kembali kepadamu," kata Raymond sambil mengelus-elus batang pohon yang menyangga rumah pohon di atasnya. Lelaki itu mengelus batang pohon itu dengan ekspresi sedih seperti sedang putus cinta yang di buat-buat. "Sudahlah ... nanti malam kita coba pikirkan bagaimana cara kita mendapatkan uang," kata Tanner menenangkan. Kemudian dia memilah-milah dedaunan yang dia bawa di keranjang yang terbuat dari sulur-sulur tanaman. "Ei ... kita akan makan besar kali ini, lihat kita mendapat tiga rusa besar, lima kelincin dan tujuh ayam hutan, kita harus mengisi energi kita," kata Eruza yang berjalan ke arah Reymond kemudian menepuk bahunya tiga kali. Eruzapun langsung membawa daging-daging itu ke sungai yang terletak tidak jauh dari rumah pohon, Darrel ikut membantu Eruza membersihkan bekas darah di tubuh buruan. Di tengah jalan, mereka mendengar suara grasak-grusuk dari arah belakang mereka. "Kak Uza, apa itu?" kata Darrel yang memasang wajah waspada. "Mari kita berjaga sebentar," kata Eruza sambil memasang kuda-kuda, dia sedikit membungkukkan badannya. Tatapannya pun mulai menajam ke arah asal suara, tangannya siap untuk mencabut bilang pedang dari sarungnya. Telinganya sedikit bergerak untuk mendengarkan aktivitas yang berada di depannya. Suara grasak-grusuk semakin terdengar. Eruza dan Darrel pun memasang sikap siaga. Keduanya sangat waspada karena takut kejadian satu bulan yang lalu terjadi lagi. "Hei! Tunggu aku," kata Leonard yang sedang bersusah payah menyingkirkan tanaman yang menghalanginya. Eruza dan Darrel langsung membuang nafas lega, karena yang datang bukan binatang buas tetapi manusia. "Jika kamu tidak bersuara aku jamin lehermu sudah di penggal kak Eruza," kata Darrel menakut-nakuti Leonard. Dan benar saja wajah Leo langsung pucat tanpa ada warna kehidupan sama sekali. "Er ... kalian tidak akan membunuhku kan? Ka ... kalian tidak makan manusia kan? Tolong jawab aku!" kata Leo memasang muka ketakutan, kedua tangannya sibuk menutup-nutupi dirinya seperti hendak di aniyaya oleh preman. "Mana mungkin! Kami kan makan daging," kata Eruza sambil membawa daging hasil buruan ke sungai. Dia membalikkan punggungnya dan meninggalkan Leonard yang masih berada di dalam fantasi liarnya. "Leo, ayo cepat nanti kamu ketinggalan lagi," kata Darrel sambil menyusul Eruza yang lebih dulu berjalan membawa grobak yang berisikan hasil buruan selama perjalanan pulang tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN