Suara hiruk-pikuk kerumunan memenuhi daerah sekitar. Berbagai macam pedagang ada di daerah itu. Pasar Desa Ladi namanya. Tidak seperti namanya, Desa Ladi dipenuhi dengan pemburu, tentara bayaran dan murid dari Akademi Bulan.
Tidak jauh dari Desa Ladi terdapat Akademi Bulan untuk kalangan menengah dan bawah. Azareel sempat kaget dikarenakan dunia ini masih mementingkan strata sosial. Di Bumi tingkatan sosial sudah tidak ada lagi karena semuanya setara baik wanita maupun pria. Namun lain hal di Hidden World.
Azareel dan Reymond yang di tugaskan oleh Eruza untuk mencari informasi tentang keuangan Hidden World sudah tiba di kios mereka.
Berbeda dengan kios orang-orang di Desa Ladi, Kios yang dibuat oleh Leonard dan Tanner sangat mencolok dan mewah. Kios mini untuk berjualan di pinggir hutan, kios itu berwarna merah cerah di bawah sinar mentari yang tidak diketahui dimana letaknya tampak sangat mengkilat sedikit menyilaukan mata. Semua orang memandang kios mereka dengan penasaran. Eruza sedang membenarkan panggangan dan kadar api agar panggangan mereka tidak mudah gosong.
Sedangkan yang lainnya mulai mempersiapkan bumbu serta tempat untuk wadah makanan yang di bungkus.
Di sebelahnya ada kios yang khusus jualan daging. Daging yang sudah di potong rapi di taruh di dalam sebuah wadah agar terlihat rapi. Aza dan Reymond sudah memberitahukan kepada teman-temannya sistem uang di kota Ladi.
"Yakin lima puluh tembaga, satu potong daging?" tanya Eruza kepada teman-teman yang lainnya.
"Sepertinya itu harga yang tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah, tadi aku tanya harga satu potong daging seperti yang pengen kita jual seharga satu perak," jelas Aza kepada Eruza yang tampak kurang yakin dengan keputusan temannya itu. Namun di lain sisi dia juga tidak ingin mengambil keuntungan sedikit.
"Baiklah, harga daging yang kita jual lima puluh tembaga, gimana dengan harga satu tusuk berbeque?" tanya Eruza lagi.
"Gimana kita ambil sepuluh tembaga untuk satu tusuk berbeque," kata Reymond sambil mengemukakan pendapatnya.
"Apakah tidak terlalu mahal?" balas Leonard.
"Lima tembaga, berbeque kita kan bisa di makan dengan nasi juga, itu sudah cukup untuk mereka yang tidak memiliki cukup uang," kata Darrel, lelaki itu mulai membuka suara setelah dari tadi diam.
"Setuju berbeque lima tembaga?" tanya Eruza lagi kepada teman-temannya.
"Ok itu tidak terlalu mahal dan kita juga tidak keluar modal hanya tenaga, itu sudah cukup," kata Tanner..
Mereka pun mulai membakar dan menyusun daging yang sudah mereka potong.
Leonard dan Reymond mulai berteriak mempromosikan jualan mereka. Satu persatu orang-orang mulai tertarik dengan jualan mereka namun tidak ada yang membeli, mereka hanya memperhatikan saja.
Seorang anak perempuan berambut pendek sebahu dengan poni sealis mulai melangkah ke arah kios berbeque milik delapan pemuda.
"Berapa harga satu tusuk daging?" tanya anak perempuan itu, suaranya sangat lembut dan lucu, pipi gempilnya sedikit bergetar ketika dia berbicara. Azareel yang tidak tahan dengan sesuatu yang lucu mulai menjawab pertanyaan anak kecil itu.
"Harga satu tusuk berbeque seharga lima tembaga," jawab Azareel sambil tersenyum hangat. Lelaki itu tidak mengetahui bahwa ada beberapa kaum hawa yang mulai tersipu ketika melihat senyumnya.
"Bisakah aku membeli dua tusuk?" tanya anak perempuan tadi, bulu mata lentik itu berkedip bagaikan sayap kupu-kupu, mata hitam jernih itu terlihat sangat polos.
"Boleh, mau pedas atau manis?" tanya Aza lagi, senyumnya semakin merekah di wajahnya. Ketika tersenyum, matanya menyipit seperti bulan sabit dengan senyum manis yang merekah di bibirnya.
"Manis!" kata anak perempuan itu, matanya sekarang terlihat sangat berbinar-binar menantikan daging panggang yang dipanggang Darrel.
Di belakang kios Leonard sibuk membuat wadah untuk mereka jualan, tidak boleh terlalu tipis maupun tebal, permintaan temannya sangat membebaninya.
"Dua tusuk berbeque sudah matang!" kata Eruza yang mulai membungkus berbeque di dalam wadah. Senyumnya seperti seorang ayah ketika menatap wajah anak perempuan itu.
Ok sekarang kaum hawa semakin banyak berkumpul, ditambah bau panggangan berbeque yang semerbak memenuhi area sekitarnya. Panggangan Darrel memang membuat orang-orang ngiler. Itulah mengapa Eruza menugaskan Darrel untuk memanggang berbeque.
Aza memberikan berbeque yang sudah di bungkus rapi kepada anak perempuan itu. Kemudian anak perempuan itu memberikan sepuluh tembaga kepada Azareel dengan senyuman sambil mengatakan, "Terima kasih kakak ganteng."
Kemudian anak perempuan itu pergi dengan hati yang riang.
Satu persatu anak gadis datang menghampiri kios berbeque dan beberapa orang tua mulai menanyakan harga sepotong daging.
Semakin lama semakin banyak orang membeli, bahkan ada yang membeli dua puluh tusuk lebih. Mereka panen besar, hampir semua dagangan mereka laku keras.
Pasarpun mulai sepi seiring berjalannya waktu, kedelapan pemuda tampan itu mulai membereskan kios mereka, membersihkan sampah di sekitar kemudian membakarnya.
"Ayo pulang, kira-kita kita dapat berapa ya?" tanya Tanner yang tidak sabar.
"Bearti besok kita berburu lagi," kata Leonard, lelaki itu sangat menyukai berburu hewan di dalam hutan.
"Kita berburu bersama, tidak ada pembagian kelompok lagi," kata Eruza, dia tidak ingin seperti kemarin. Lebih baik bersama ketimbang bagi kelompok lagi.
"Bersama?" tanya Nelson, takut ada kesalahan dalam pendengarnya.
"Iya, bersama." kata Eruza final.
Kedelapan pemuda pulang kembali ke rumah pohon yang mereka buat.
"Berarti besok kita libur jualan?" tanya Wayne kepada Eruza
"Ya."
⚛⚛⚛
Delapan pemuda tampan mulai mempersiapkan barang bawaan untuk petualangan mereka, uang yang mereka dapatkan cukup untuk mereka berpergian ke kota besar. Namun mereka perlu uang cadangan.
"Kalian lihat? Mereka mengeluarkan uang dari angan-angan, seperti mereka memiliki ruang penyimpanan yang ada di fantasi-fantasi," kata Wayne.
"Benar juga," sahut Tanner.
"Kira-kira apa kita perlu beli benda itu?" tanya Eruza kepada teman-temannya.
"Susah juga membawa uang koin seperti itu, apalagi dalam jumlah banyak," sahut Azareel.
"Kira-kira berapa harganya?" tanya Eruza lagi. Matanya berkeliling melihat teman-temannya yang sedang bingung.
"Satu gold, kita coba patok harga itu," jawab Reymond yang mengemukakan pendapatnya.
"Tapi kita hanya memiliki enam gold," sahut Darrel.
"Gunakan satu gold, mungkin tidak apa-apa," sahut Nelson, mimik wajahnya tampak berpikir keras.
"Lagian, berat juga membawa uang perak dan tembaga," timpal Azareel.
Wayne datang menghampiri Darrel dan berkata, "Hei kawan, jangan terlalu pelit, kamu seperti ibu rumah tangga saja," Kata Wayne sambil menepuk pelan bahu Darrel.
"Wayne! Aku lelaki! Lelaki!" seru Darrel yang tidak terima diejek oleh Wayne.
"Iya! Iya! Iya! Ampun," kata Wayne menyerah, karena Darrel memukulnya bertubi-tubi.
"Kita kepasar dulu?" tanya Eruza lagi. Sedari tadi dia mengamati interaksi teman-temannya seperti seorang ayah yang sedang mengambil keputusan.
"Iya kita kepasar dulu, berat juga membawa barang-barang saat bertualang," jawab Aza kepada Eruza, yang lainnya hanya mengangguk setuju.