Bab 1: Halaman Besi
Matahari sore di kediaman Jenderal Jiang tidak pernah benar-benar hangat. Sinarnya selalu terhalang oleh debu-debu yang beterbangan dari halaman latihan, menciptakan tirai kecokelatan yang membuat segalanya tampak seperti memori lama yang memudar. Di sana, di bawah bayang-bayang pohon murbai yang meranggas, seorang gadis kecil duduk bersila di atas tanah yang keras.
Jiang A-Ning.
Ia tidak sedang bermain boneka kain atau menyulam bunga seperti gadis-gadis bangsawan di Chang’an. Di jemari kecilnya yang berlumur debu, terdapat sepotong logam kasar berkarat—sisa zirah yang telah hancur dari medan perang. A-Ning mengetukkan logam itu ke lantai batu dengan ritme yang ganjil.
Ting. Ting-ting. Ting.
Suara itu menyatu dengan simfoni logam yang lebih besar di tengah lapangan. Di sana, Jiang Zhen berdiri tegap seperti menara batu yang tak tergoyahkan. Setiap kali pedang sang jenderal besar beradu dengan tombak para prajuritnya, suara denting yang dihasilkan bukan hanya sekadar bunyi senjata. Bagi A-Ning, itu adalah lagu. Sebuah ritme yang ia hafal lebih baik daripada detak jantungnya sendiri.
"A-Ning! Kenapa kau diam saja di sana? Ayo kemari, Kakak akan menunjukkanmu cara menjatuhkan lawan dengan satu sapuan kaki!"
Suara itu datang dari kakak laki-lakinya yang sedang bersemangat, rambutnya basah oleh keringat, wajahnya cerah penuh ambisi. A-Ning menoleh pelan, matanya yang tajam namun tampak kosong menatap sang kakak. Ia tidak bergerak. Ia hanya kembali mengetukkan kepingan zirahnya ke batu.
Jiang Zhen, sang Perisai Tang, menghentikan gerakannya. Ia menyadari sesuatu. Anaknya tidak sedang melamun. A-Ning sedang "mendengar".
Sang Jenderal memberi isyarat agar para prajuritnya mundur. Ia mendekat ke arah putrinya, langkah kakinya yang berat membuat tanah bergetar pelan. Ia tidak berbicara, hanya mengayunkan pedang beratnya di udara dengan gerakan yang diperlambat—sebuah tarian besi yang disesuaikan dengan tempo ketukan A-Ning.
Ting... ting... srek.
A-Ning mendongak. Untuk pertama kalinya di sore itu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia tidak takut pada kilatan logam yang hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya. Baginya, pedang itu bukan ancaman. Pedang itu adalah kawan bicara.
"Ayah," suara A-Ning kecil terdengar jernih, mengalahkan desau angin sore. "Pedang Ayah... hari ini terdengar lelah."
Jiang Zhen tertegun. Ia menatap pedangnya sendiri, lalu menatap mata putrinya yang seolah bisa melihat menembus besi. Ia terkekeh rendah, suara tawa yang berat dan parau seperti batu yang bergeser.
"Kau benar, A-Ning kecilku," gumam Jiang Zhen sambil berjongkok di depan putrinya, mengabaikan debu yang mengotori jubah kebesarannya. Ia menyentuh kepingan zirah di tangan A-Ning. "Besi tidak pernah berbohong. Ia mengingat setiap luka, setiap darah yang tumpah, dan setiap nyawa yang ia jaga."
A-Ning menggenggam kepingan zirah itu lebih erat. Tepiannya yang tajam mulai menggores telapak tangannya yang halus, namun ia tidak meringis. Ia justru menikmati sensasi perih yang samar itu—sebuah bukti bahwa ia bisa merasakan sesuatu di tengah dunia yang mulai terasa sunyi.
"Ini milik Ayah?" tanya A-Ning.
"Itu adalah bagian dari jantungku, Nak," jawab Jiang Zhen dengan nada yang mendadak serius. "Simpanlah. Selama besi itu ada padamu, kau tidak akan pernah sendirian."
Sore itu ditutup dengan tawa para prajurit yang kembali berlatih, suara benturan perisai, dan kepulan debu yang membubung ke langit. A-Ning tetap di sana, di dunianya yang terbuat dari logam dan ritme, tidak menyadari bahwa sebentar lagi, lagu besi yang ia cintai akan berubah menjadi jeritan api yang takkan pernah bisa ia lupakan.